Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 78 (Season 2)


__ADS_3

Thalia baru saja bangun dari tidurnya, dia meraba-raba nakas meja yang ada di sebelahnya. Tubuhnya terasa berat untuk digerakkan sekarang membuat dia melihat sekilas apa yang membuatnya susah untuk bergerak saat ini. dan dia melihat Rendi yang tengah memeluk dirinya sekarang.


Thalia perlahan menyingkirkan tangan Rendi, dia mengambil ponsel miliknya yang berada di atas meja.


“Astaga sudah jam tiga sore, busyet. Gue tidurnya lama banget” ucap Thalia kaget melihat jam saat ini.


Dia langsung mendudukkan dirinya, dan melihat Rendi yang tidur dengan pulas.


“Dia kayaknya capek, gue keluar ah.” Pungkas Thalia dan dia mulai menguncir rambutnya yang sebahu itu. rambutnya saat ini berantakan karena habis bangun tidur jadi tidak mungkin dia keluar dengan seperti ini bagaimana kalau mertuanya melihat dirinya yang acak-acakan malu sekali bisa.


Baru saja dia akan melangkah turun dari tempat tidur, Rendi sudah mengerjapkan matanya dan melihat kearah Thalia.


“Mau kemana?” tanya Rendi pada Thalia.


“Mau keluar, kamu tidur saja” pungkas Thalia.


“kenapa keluar? Kalau kamu masih ngantuk atau pinggang kamu masih sakit di kamar saja” ucap rendi mendudukkan dirinya menatap istrinya tersebut.


“Aku pengen keluar-keluar, nggak mau di dalam terus” pungkas Thalia yang merasa jenuh di dalam kamar bukan itu saja dia juga belum banyak bicara dengan mertuanya. Dia tadi tidur hingga hampir sore seperti ini.


“Ya sudah yok, sama aku” ucap rendi penuh perhatian.


“Kamu capek tidur aja, ngapain sih pakai sama kamu jga. Aku bisa jalan-jalan sendiri” ucap Thalia.


“Disini banyak cowok keren-keren, nanti kamu tergoda sama mereka” canda Rendi pada Thalia.


“Wah serius, aku goda aja mereka sekalian. Dimana mereka?” tanya Thalia yang menanggapi godaan Rendi itu.


“Sayang, aku bercanda tapi kenapa kamu malah semangat begitu. Aku cemburu” tukas Rendi terang-terangan bilang cemburu.


“Salahmu sendiri bilang begitu, kau tadi bilang apa?” ucap Thalia dan sempat terdiam dan bertanya pada Rendi soal ucapan pria itu barusan.


“aku cemburu, dengar. Disini banyak tentara sama polisi, nanti kau tertarik dengan mereka” ucap Rendi mengulangnya lagi.


“Mau keluarkan ayo sama aku,” ucap Rendi lagi dan langsung mendekati Thalia tak lupa dia menggenggam tangan sang istri.


“Nyebelin, nggak bisa cuci mata kalau kamu ikut”


“belum puas cuci mata setiap hari sama aku”


“belum, nggak asik soalnya. Kaku jadi orang, kayak batu sama robot, nggak ada romantis-romantisnya.” Terang Thalia menatap rendi entah dia bercanda atau memang dia serius mengatakan itu pada Rendi.


“Aku romantis apa sama kamu, perasaan aku sudah romantis”


“Romantis kamu ke aku kayak masih belum sepenuhnya. Udah ah, nggak usah dibahas, ayo keluar. Kita dari tadi bahas soal masalah nggak penting” tukas Thalia mengajak rendi keluar.


Rendi yang sempat diam melihat Thalia yang sepertinya serius dengan ucapannya, apa benar dirinya kurang romantis dengan Thalia. Tapi baginya hal manis yang dia lakukan itu sudah cukup romantis.

__ADS_1


..............................................


“Ayo sayang kita duduk di kursi pinggir lapangan itu” tunjuk bunda dari Rendi.


Dia saat ini sedang bersama dengan Thalia berjalan-jalan disekitar rumah, rumah mereka memang tidak jauh dari lapangan yang baisa banyak orang-orang bermain di situ sehingga banyak kursi dan juga angkringan di pinggir lapangan.


“Iya tan” jawab Thalia, dia saat ini bersikap lebih lembut lagi. Yang membuatnya seperti ini tentu saja ajaran dari Lita siapa lagi, Lita memang cerewet padanya dia menyuruhnya untuk berbicara lembut dengan orang tua Rendi.


Bukan Lita saja sih, tapi rendi juga selama ini mengajarinya untuk bicara lebih halus lagi dengan orang lain. Pasti pria itu bilang, “kamu kan hamil bentar lagi jadi ibu dan jadi orang tua jadi kamu harus menghormati orang yang lebih tua, apalagi cara bicara harus di perbaiki” kata-kata itulah yang selalu di katakan Rendi setiap malam, mendengar itu membuat dirinya terdistrek sendiri.


“Loh kok manggil tante, panggi bunda sayang. Jangan-jangan kamu panggil Papanya Rendi Om ya tadi?” pungkas Bunda Rendi.


“heheh iya,” Thalia menunjukkan giginya, tanda bahwa yang di katakan bunda memang benar.


“Thalia, Thalia, kamu lucu ya. Pasti ini yang buat rendi jatuh cinta sama kamu” pungkas bunda.


Mendengar itu Thalia terdiam, jelas bukan karena itu. dia menjebak Rendi makanya pria itu menjadi suaminya.


“Ayo duduk Thalia, ibu hamil jangan berdiri lama-lama” ucap perempuan paruh baya itu.


“Iya bun,” thalia langsung duduk di kursi yang menghadap kearah lapangan tersebut. Di lapangan yang luar itu sendiri banyak orang yang bersiap untuk bermain sepak bola.


“Kamu selama hamil ini ada ngidam aneh-aneh nggak nak?” tanya perempuan itu pada Thalia.


“Nggak ada bun” jawab Thalia, dia memang kalau ngidam tidak ingin apa-apa selama ini. hanya mual-mual saja saat awal-awal kehamilan dulu.


“Iya bang, bunda minta maaf nggak bilang kamu. habisnya tadi kamu lagi mainan sama Raya, bunda panggil-panggil kamu lagi asik sama adik kamu”


“Kenapa sih nyariin tumben banget,” sungut Thalia menatap Rendi aneh.


“Kok tumben? Aku selama ini kan selalu cari kamu kalau nggak ada didepan mata aku” ucap rendi segera menarik kursi di sebelah istrinya duduk.


“Rendi sudah disini, kalau begtu bunda pulang dulu ya. Kalian nikmati waktu berdua” ucap bunda dan dia langsung berdiri dari duduknya.


“Loh kok pergi bun?” tanya Rendi dan Thalia bersamaan.


“Iya takut ganggu calon ayah sama ibu muda” jawab bunda sambil tersenyum menggoda dua orang tersebut.


“Nggaklah, aku nggak muda lagi” ucap Thalia


“masihlah, kan masih dua puluhan. Kecuali kalau bunda sama Papa nah itu baru nggak muda lagi.” Udah ya bunda pergi dulu. kamu tahu sendiri papa kamu Ren, kalau nggak di sediain cemilan ngomel terus.


“Ya udah kalau bunda ingin pergi” ucap Rendi pada akhirnya.


Bunda segera pergi meninggalkan sepasang suami istri itu di pinggir lapangan memperhatikan orang-orang yang akan bermain di lapangan itu.


“Suasananya enak ya disini” ucap Thalia tanpa melihat kearah Rendi.

__ADS_1


“Disini memang enak, namanya juga di pinggir kota. Dibilang desa bukan Desa di bilang kota juga bukan kota masih dekat dengan pegunungan” ucap rendi.


“kenapa diem, kamu mikirin apa?” tanya Rendi pada Thalia yang diam tidak bicara sama sekali malah melihat kosong ke depan.


“Nggak mikirin apa-apa?” jawab Thalia.


“Jangan bohong sama aku, kamu dengerin aku, ibu hamil nggak boleh banyak pikiran ngerti” ucap rendi memegang tangan Thalia.


“Iya, iya”


“Ya bilang, kamu mikirin apa?”


“Mikirin cowok itu, dia cocok nggak ya jadi pengganti kamu nanti kalau kamu ninggalin aku” ucap Thalia sambil memperhatikan seorang pria berbaju biru putih berbadan tegap tinggi dan putih.


“kamu ngomong apa? Buat apa aku ninggalin kamu. nggak usah aneh-aneh deh”


“Ya siapa tahu aja, kamu khilaf atau bagaimana terus pergi ninggalin aku. ya aku nggak mau sendiri dong. Siapa yang bantu ngurus bayi, eh iya kala bayinya kamu bawa aku bebas mungkin ya” ucap Thalia menatap Rendi.


“Ngaco kamu kalau ngomong, nggak usah mulai aneh-aneh deh, kita disini buat lihat orang tua aku sekaligus liburan. Kamu malah ngomong begini, aku kesal tahu nggak kalau kamu ngomong begini, aneh kamu.” tukas Rendi meluapkan kekesalannya.


“kenapa kamu marah, aku bercanda kok” ucap Thalia berusaha biasa saja.


“Ya habisnya kamu aneh, kamu mikir aku bakal milih Melody nantinya kan. dia aja nggak sadar. Kalau dia sadar juga aku ogah milih dia. nggak usah mikirin aneh-aneh deh.”


Thalia langsung diam mendengar ucapan Rendi itu, dia akui beberapa hari ini dia gelisah setelah mendengar penuturan Rey kalau Melody sebentar lagi sadar dan tinggal menunggu waktunya. Rasanya dia takut kehilangan Rendi. Meskipun Rendi sudah berkali-kali meyakinkan dirinya tapi rasa cemas itu masih ada, ia takut Rendi bakal memilih melody daripada dirinya.


“kalau kamu nggak hamil, aku bakal marah banget sama kamu soal ini. ini nunjukin kalau kamu nggak percaya sepenuhnya sama aku, kamu masih meragukan kata-kata cinta dan perbuatan yang sudah aku tunjukkan ke kamu. bisa nggak sih kamu nggak usah mikirin itu?” pinta Rendi menatap Thalia.


“Hemm,” jawab Thalia.


“Ayo pulang, aku mau pulang” pungkas Thalia langsung berdiri.


“gendong,” ucapnya manja, dan berusaha menghindari tatapan Rendi.


Rendi berdiri dari duduknya, dia menghela nafasnya menahan marah. Jujur dia kesal Thalia selalu tidak percaya dengannya.


“Sini, naik” ucap rendi dan langsung berjongkok didepan sang istri.


Thalia segera naik ke gendongan Rendi saat ini,


“Aku minta maaf” ucapnya saat sudah naik ke gendongan sang suami.


“Ya, aku maafkan.” Lirih Rendi berusaha untuk tidak emosi, dia harus memaklumi ibu hamil yang moodnya sering naik turun seperti Thalia ini. Dia langsung berjalan sambil menggendong istrinya pergi dari pinggir lapangan itu.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2