Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
09


__ADS_3

Malam sudah tiba, waktu magrib juga sudah terlewat beberapa menit. Lita sendiri saat ini baru pulang dari keluar bersama kakaknya David. Kakaknya itu mengajak dirinya untuk menghabiskan waktu bersama ke Mal dan kemanapun yang membuat hatinya saat ini lebih baik daripada pagi tadi saat dia bertemu dengan Mama kandungnya.


Benar kata Mama Nafa, kalau kakaknya David memang menyayangi dirinya. Dia selama ini bersikap begitu juga demi dirinya agar tidak tersakiti.


Lita turun dari mobilnya saat ini, setelah menghentikannya di depan rumah. Seorang sopir di rumahnya mendatangi dirinya segera saja Lia memberikan kunci mobilnya tersebut pada Mang dadang supir dirumahnya itu.


Lita segera berjalan menuju pintu rumahnya saat ini, magrib sudah berlalu kemungkinan Fahri sudah pulang kalau pria itu tidak minum-minuman seperti kemarin.


Lita membuka pintu rumahnya yang tertutup secara perlahan, matanya melihat ruang tamunya saat ini dia mendapati ada Fahri yang sedang duduk santai membaca koran.


“Malam-malam baca koran” batin Lita berjalan mengabaikan keberadaan Fahri disitu.


Fahri sendiri hanya diam, ia membaca korannya saja. Tapi pandangannya sesekali memperhatikan Lita yang terlihat sedih serta matanya yang sedikit bengkak.


“Perusahaan mu, diberikan padaku oleh Papamu yang bodoh itu” ucap Fahri saat Lita sudah melewati dirinya saat ini.


Lita yang tadinya sudah melewati Fahri segera menghentikan langkahnya dan berbalik sekilas menatap tajam Fahri yang menaruh korannya di meja dan menatap dirinya saat ini.


“Kenapa kau menatapku begitu? Kau tidak suka” ucap Fahri tersenyum sinis sambil berdiri mendekatkan dirinya pada Lita.


Lita menatapnya dingin,


“Aku tidak perduli dengan itu, kalau kau mau ambil saja. Sepertinya kau sangat membutuhkannya” ucap Lita tersenyum mengejek pada Fahri dan dia langsung memalingkan wajahnya pergi meniggalkan pria itu yang menatapnya tajam.


...................


Fahri berada didalam kamarnya menatap langit-langit kamarnya, dia memegangi sebuah foto wanita cantik dengan rambut sedikit kecoklatan. Tidak sendiri melainkan perempuan itu berfoto dengannya yang memeluk perempuan tersebut dari belakang dan mereka berdua tersenyum penuh kebahagian sambil menunjukkan cincin yang melingkar di jari manis mereka berdua.


“Kenapa kau harus mempunyai teman seperti dian Adira, temanmu pembunuh dirimu” ucap Fahri menatap foto itu yang ada di tangannya.


“Aku merindukan dirimu amat sangat,” lirihnya.


“Maafkan diriku karena belum menemukan keberadaan keluargamu, mungkin mereka menyembunyikan keluargamu sekarang. Agar aku tidak bisa menuntut tuan putri yang manja itu kedalam penjara” ucap Fahri dengan begitu pilu mengingat bagaimana kejadiannya dulu saat tunangannya dibawa masuk kedalam ambulan dengan perut yang berdarah-darah akibat tikaman seseorarang dan seorang wanita yang memegang pisau dengan panik menjatuhkannya begitu saja.


“Adira,..kenapa dan kenapa kau tinggalkan diriku sendiri” ucap Fahri meneteskan air matanya mengingat kembali wajah cantik tunangannya itu.


“Terasa sesak hatiku Dira,” ucapnya lagi sambil menangis memegangi dadanya. Sungguh menyakitkan sekali tunangannya itu kini tiada karena ulah seseorang yang sangat dia benci saat ini. Segera mungkin dia akan membuat orang tersebut menderita dan secara perlahan menyusul diri ke alam yang lain.


Jika orang lain tidak bisa menghukumnya maka ia yang akan menghukum perempuan itu, lihat dan tunggu saja apa yang akan dia lakukan terhadap orang yang telah membuat kekasihnya tiada. Hukum negara tidak bisa ditegakkan maka hukumannya aku yang akan menjalankan semua itu. Batin fahri, dia memiringkan tubuhnya memeluk foto tersebut dengan rasa pilu.

__ADS_1


...................................


Mentari telah bersinar, kesibukan didalam rumah pun juga sudah terasa. Para pelayan sudah sibuk menyiapkan makanan untuk tuannya. Fahri yang tuan sudah bangun, dia sudah rapi mengenakan kemeja biru, melinting nya sedikit keatas menuruni tangga dengan cepat. Di juga sesekali melihat jam ditangannya.


Dia berjalan kearah meja makan, yang sudah tersaji berbagai macam makanan di sana. Di meja makan sendiri juga sudah ada Lita yang sedang makan buah apel dan membaca buku, dia sama sekali tidak perduli dengan kedatangan Fahri yang melihatnya dingin.


“Buatkan aku minum?” ucap Fahri melhat Lita yang tidak melihatnya sama sekali.


Tidak dijawab oleh Lita, perempuan itu hanya diam melakukan kegiatannya saat ini.


“Kau tuli,” ucap Fahri mendekati Lita. Dia berdiri dengan satu tangannya di pinggang dan melihat Lita.


“Kau bicara denganku?” Lita mendongak menatap tajam Fahri.


“Dengan siapa lagi aku bicara”


“Mbok Jum, buatkan dia minum” teriak Lita meminta mbok Jum yang membuatkan minum untuk Fahri.


“Aku tidak menyuruh mbok Jum yang membuatkannya tapi dirimu mengerti” ucap Fahri sambil mengambil paksa buku yang dibaca Lita.


“Kenapa kau menyuruhku, aku bukan siapa-siapa mu mengerti. Jangan pernah memerintah diriku, bukannya kau sendiri yang bilang untuk menjalani kehidupan sendiri-sendiri” pungkas Lita kesal, dia mendorong kursinya kebelakang menatap Fahri.


Fahri yang merasa tidak suka dengan Lita mencengkram kuat lengannya,


“Menumpang? Tidak kebalik. Kau yang menumpang di rumahku” ucap Lita


“Haha, lucu sekali. Dan kasihan sekali dirimu. Sudah menjadi anak haram, tidak dipercaya Papanya sendiri sampai semua milikmu diberikan padaku dan atas namaku termasuk rumah ini” ucap Fahri sambil disertai seringai dia menghempas Lita yang terdorong kebelakang.


Lita menatap fahri, dia tidak percaya dengan ucapan pria tersebut.


“Jangan berbohong, ini rumahku bukan rumahmu mengerti” tukas Lita berjalan mendekat kearah Fahri.


“Kasihan sekali dirimu” desis Fahri.


“Kau memang pria menjijikkan, pria yang tidak tahu diri”


“Terserah dirimu mau bilang apa tentangku, salahmu sendiri telah membunuh seseorang”


Mata Lita yang mendengar hal tersebut langsung melebar, perkataan Fahri itu sama saja mengatakan dirinya seorang pembunuh. Siapa yang dia bunuh.

__ADS_1


“Apa maksud mu?”


“Maksudku? Kau bodoh atau memang pura-pura bodoh sehingga menjadi seorang yang tidak berdosa”


“AKU BENAR-BENAR TIDAK TAHU APA MAKSUDMU” bentak Lita yang merasa tidak terima.


“Mungkin itulah yang dilakukan orang kaya yang telah membunuh seseorang. Mereka lepas dari segala hukuman” ucap Fahri menatap tajam Lita tangannya mengepal dan dia mendekati perempuan itu rasanya ia ingin membunuh perempuan didepannya saat ini yang pura-pura bodoh tidak mengetahui apapun.


Dengan cepat Fahri menampar Lita yang menatapnya tak mengerti.


Plakk


Tamparan keras mendarat di wajah Lita membuat perempuan itu tersungkur ke lantai.


“Jangan memasang wajah polos tak berdosa mu itu di depanku mengerti” ucap Fahri menatap Lita yang memegangi wajah bekas tamparan darinya.


“Kau pria gila, kau kira aku akan takut dengan tamparan mu ini” Lita langsung bangkit dia berjalan mendekat pada Fahri dan akan menampar balik pria itu tapi tangannya sudah terlebih dahulu dihentikan oleh Fahri.


“Kau mau melawanku, tidak akan bisa.”


“Lepas,.”


“Tidak, akan” Fahri mencengkram kuat tangan Lita membuat perempuan itu kesakitan saat ini.


Dengan kuat Lita menendang bagian intim dari Fahri membuat pria itu kesakitan dan melepaskan tangannya.


“Aku tidak akan pernah takut denganmu, lihat bagaimana caraku melepaskan diri darimu nanti Fahri”


“Silahkan saja, tapi ku pastikan kau tidak akan bisa lepas dariku sebelum kau menderita mengerti.”


“Kau membenciku kan? Kenapa tidak kau habisi diriku sekalian hah” ucap lita begitu emosi menahan tangas, matanya berkaca-kaca tapi dia tidak ingin terlihat lemah di depan pria gila didepannya.


“Tidak semudah itu untuk mati, aku akan membuatmu menderita dulu mengerti. Itu pasta kau rasakan” setelah mengatakan hal itu Fahri langsung pergi percuma dia bicara dengan seorang pembunuh.


Lita sendiri terkejut mendengar perkataan orang yang masih dia cintai dan masih ada didalam hatinya itu. Kenapa susah sekali untuk tidak menaruh rasa pada Fahri padahal pria itu jelas-jelas menunjukkan sifa benci pada dirinya saat ini.


Lita langsung terperosok di lantai, dia meratapi dirinya saat ini menangis mengeluarkan segala emosi dirinya.


Kenapa Fahri bisa menyebutnya pembunuh, siapa yang dia bunuh. Dia tidak pernah membunuh siapapun tapi kenapa Fahri mengatainya sebagai seorang pembunuh.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2