Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 117 (Season 2)


__ADS_3

“Nggak, Nggak akan” gumam Rendi dari dalam mobil menatap pintu masuk Cafe yang dimana dia dan Thalia akan menemui pria brengsek seperti Nicholas.


“Ren, kau kenapa? Ayo turun. Kau niat tidak sih mengantarku kesini. Atau kau tidak ingin masuk kedalam” ucap Thalia sambil memegang bahu Rendi yang diam melamun menatap pintu Cafe.


Rendi tampak tersentak kaget, dan dia langsung menatap Thalia yang berada di sampingnya penuh ketakutan.


“kau tidak apa-apa kan? kandungan mu juga tidak apa-apa kan?” ucap Rendi gelisah dan memegang perut Thalia dan dia bisa merasakan perut besar istrinya itu.


“Aku memang kenapa aneh, sedari tadi kita tidak turun dari mobil bagaimana bisa aku kenapa-kenapa” ucap Thalia menatap Rendi aneh.


Rendi langsung tersadar dari bayang-bayang lamunannya tadi, tapi hatinya masih merasa takut akan hal yang dia bayangan kan barusan.


“kau kenapa sih aneh begini?” tanya Thalia menatap aneh suaminya tersebut. Dimana Rendi saat ini bercucuran keringat.


“kamu serius nggak pa-pa kan sayang, anak kita juga nggak pa-pa kan. aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf sama kamu” ucap rendi memeriksa tubuh Thalia dan dia menciumi tangan sang istri memohon maaf sambil menangis.


Hal tersebut semakin membuat Thalia merasa aneh, dia menatap aneh dan bingung dnegan sikap Rendi yang sedari tadi diam melamun di mobil saat tersadar jadi seperti ini.


“kamu kerasukan? Kamu kenapa sih. Kenapa jadi nangis, Rendi, Rendi sadar” ucap Thalia pada Rendi yang berkali-kali mencium tangannya. Dia malah jadi khawatir sendiri dengan sikap Rendi yang aneh. Apa suaminya ini sedang kerasukan makhluk halus sekarang.


“Please deh jangan buat aku takut begini sayang” ucap Thalia memegang kepala Rendi yang mencium tangannya cukup lama.


“lepas, aku mau keluar minta bantuan. Kamu kemasukan mahluk halus sepertinya” lanjut Thalia dan akan melepaskan tangan Rendi tapi Rendi langsung menarik dirinya kedalam pelukannya saat ini.


“Jangan kemana-mana, disini saja denganku” ucap Rendi memeluk Thalia dengan begitu erat.


Thalia hanya bisa diam dengan sikap Rendi saat ini, dia bingung dengan Rendi.


“Kamu lamunin apa sih sampai ketakutan begini, padahal aku tadi ngajak kamu turun ketemu Nicholas. Udah ayo turun sama-sama kalau begitu, pria tengik itu sudah menunggu tiketnya” ucap Thalia pada Rendi.


“Suruh dia yang kesini saja, untuk mengambil tiketnya” ucap Rendi meminta Thalia menyuruh Nicholas yang menghampiri mereka.


Entah mengapa Thalia yang biasanya menolak soal ini, tapi dia menurut begitu saja apa yang diucapkan Redi barusan karena ia merasa tidak tega melihat Rendi yang tampak ketakutan saat ini.


Rendi melepaskan pelukannya pada Thalia dan dia menghela nafasnya, dia harus menyadarkan dirinya sendiri saat ini. itu hanya lamunannya saja dan tidak akan dan yang terjadi nantinya. Thalia dan calon anaknya akan baik-baik saja.


“Kamu sebenarnya dari tadi diam melamun dan saat sadar langsung seperti orang ketakutan kenapa? Kamu lamunin apa tadi.?” Tanya Thalia mencoba mencari jawaban dari keanehan Rendi.


“Nanti aku ceritakan” ucap Rendi yang berusaha mengatur nafasnya agar normal kembali.


“Kau sudah mengirim pesan pada nicholas, suruh dia kemari” tambah Rendi


“Sudah” jawab Thalia yang masih menatap aneh kearah suaminya itu.


“Itu dia,” tunjuk Thalia pada Nicholas yang berjalan dengan was-was memakai topi hitam mendekat kearah mobil mereka saat ini.


“Buka saja jendelanya jangan keluar, aku tidak akan melihat pembicaraan kalian” tukas Rendi dan langsung memiringkan tubuhnya membelakangi Thalia. Dia melakukan itu agar tidak terpancing emosi saat melihat Nicholas. Dia harus bisa menahannya saat ini. ia tidak ingin apa yang dia bayangkan tadi menjadi kenyataan.


“kau aneh hari ini, memangnya kenapa kalau mendengarnya. Nanti aku kau kira selingkuh dnegan pria brengsek itu” ucap Thalia aneh dengan sikap Rendi sekarang.


Rendi hanya diam saja, dan dalam posisi membelakangi Thalia. Thalia semakin dibuat penasaran dengan apa yang terjadi pada Rendi.


Tok


Tok

__ADS_1


Ketukan di jendela mobil membuat Thalia menatap keluar jendela, di sana ada Nicholas yang berdiri didepan pintu mobilnya.


Thalia langsung menurunkan kaca mobil miliknya saat ini mematuhi perkataan Rendi.


“Sombong sekali kau denganku, mana tiket ku. Kau tidak bilang pada kakakmu kan?” tukas Nicholas yang kesal karena di minta dia yang menghampiri.


“Untuk apa juga aku beramah tamah dnegan pria brengsek sepertimu. Ini ambil, memang aku pengkhianat sepertimu” ucap Thalia dengan pedas.


“Ciih,” sinis Nicholas mengambil kasar tiket itu. karena dia begitu membutuhkan tiket pesawat tersebut untuk keluar dari negara ini.


“Siapa itu? suamimu” ucap Nicholas menunjuk Rendi yang membelakangi mereka sekarang.


“Kau lihat sendiri itu siapa” ucap Thalia.


“Dia tidak berani menatapku, penakut. Seharusnya kau menikah denganku saja daripada dengan pria seperti itu. ce'mon Thalia, kau tidak capek mengejar laki-laki yang tidak mencintaimu. Lebih baik kau bersama ku. Aku men..”


“Tidak usah banyak omong bisa. Pergi sana, kau akan membangunkan singa jantan ku yang sedang tidur mengerti” tukas thalia mendorong Nicholas agar kepalanya keluar dari jendela mobilnya. Karena Nicholas memasukkan kepalanya kedalam mobil dan sepertinya berniat untuk memprovokasi Rendi.


Tentu saja Thalia tidak tinggal diam dengan hal itu, dia langsung mendorong Nicholas dan menutup jendela mobilnya sebelum pria gila itu berbicara yang aneh-aneh lagi.


Nicholas yang kesal memukul kaca jendela mobil dan langsung pergi begitu saja meninggalkan mobil Rendi.


“Pria itu,..” geram Rendi dia membalikkan tubuhnya spontan menatap Nicholas yang pergi.


Sedari tadi dia sudah geram sendiri dan tadi dia hampir tersulut emosi dnegan ucapan Nicholas tapi karena bayang-bayang tadi membuatnya berusaha untuk menahan emosi.


“Kau kenapa sebenarnya? Cerita padaku. Dia sudah pergi sekarang?” tanya Thalia menatap Rendi.


“nanti aku ceritakan di apartemen. Kita pulang saja sekarang” ucap rendi dan malah mengajak Thalia untuk pulang ke rumah.


“Bisa sayang, aku nggak kenapa-kenapa” jawab rendi sambil tersenyum dan mulai menyalakan mesin mobilnya saat ini.


Thalia hanya diam menatap rendi yang sudah menjalankan mobil yang mereka naiki saat ini.


...................................................


“diminum van tehnya, sama dimakan cemilannya” ucap istri dari Papanya.


“Iya bun, terimakasih” jawab Revan melihat sekilas kearah perempuan itu.


Saat ini dia tengah duduk berdua di ruang tamu asrama ayahnya, dan sang ibu sambung saat ini juga ikut bergabung dengan mereka.


“Akhirnya bunda bisa lihat kamu van, selama ini bunda penasaran sama kamu. batin bunda abangnya nak-anak pasti ganteng karena dia baik suka mengirimkan mainan untuk adik-adiknya” ucap istri dari papanya.


Revan hanya tersenyum mendengar ucapan yang terdengar seperti pujian tersebut,


“Aku minta maaf sama Papa sama bunda, karena selama ini aku tidak pernah kesini atau melihat kalian sama sekali” ucap Revan merasa bersalah.


“Udah nggak usah dibahas soal itu, kamu kesini sekarang aja Papa udah seneng banget van. Papa juga senang kamu selalu kirim mainan buat adik-adik kamu meskipun kamu nggak pernah kesini” ucap sang papa. Revan memang selama ini selalu mengirimkan mainan atau kadang dia selalu mengirimkan uang untuk adik-adiknya. Itu ia lakukan untuk menebus kesalahannya terhadap sang ayah.


“Kamu bakal disini lama kan? kalau kamu disini lama Papa sama bunda senang sekali van” ucap sang Papa lagi.


Revan langsung diam, dia bingung mau bicara bagaimana.


“Pa, sebenarnya aku disini bukan untuk liburan tapi menetap disini. Boleh aku tinggal disini bersama Papa sama bunda dan adik-adikku yang lain” ucap Revan lirih, dia merasa tidak enak sendiri.

__ADS_1


Kedua orang tua itu langsung saling lihat satu sama lain, dan mereka menatap Revan secar bersamaan dengan tersenyum.


“Boleh dong, tentu boleh. Bunda senang kalau kamu bakal tinggal disini sama kita” ucap sang bunda antusias dan tampak gembira mengatakannya.


“Serius bun, aku boleh tinggal disini” ucap revan tak menyangka ibu sambungnya itu tampak antusias dnegan niatannya.


“tentu boleh dong bang, kenapa harus tidak boleh. Kamu kan anak kita” ucap sang bunda.


Mata Revan langsung berkaca-kaca mendengar ucapan tersebut, selama ini mamanya tidak pernah mengatakan ucapan yang menghangatkan seperti itu. Mamanya dan ayah sambungnya di Amerika sana hanya memperlakukan dia bak budak saja menyuruhnya bekerja di perusahaan dan hanya memanfaatkan dirinya.


“Tapi kalau kamu tinggal disini, bagaimana Mamamu. Dia masalah atau tidak dnegan keputusanmu ini” ucap sang Papa yang tampak risau.


“Aku tidak perduli soal Mama pa, aku sudah dewasa. Aku berhak mengatur hidupku sendiri” jawab Revan yang begitu malas membahas mamanya.


Sang Papa hanya bisa diam saja saat mendengar ucapan revan barusan, dia bingung harus berkata apa. karena memang benar sih itu keinginan anaknya sendiri yang sudah dewasa berhak memilihnya.


“Ya sudah kalau itu keputusanmu” ucap sang Papa lagi.


“Kamu malam ini tidur disini saja, besok baru kamu tidur di rumah kita yang satunya. Kamu tinggallah disitu, itu rumah milik Papa yang sengaja Papa beli untuk kau dan Rendi” lanjutnya lagi.


“Papa ada rumah lagi?” heran Revan.


“Iya, rumah pribadi untuk jaga-jaga kalau kau dan Rendi kesini”


“Ya udah Pa, kalau gitu mama bereskan dulu kamar yang mau ditempati Revan malam ini ya. Van, bunda ke belakang dulu ya” ucap sang bunda pamit pergi.


“Iya bun” jawab Revan.


“diminum van” ucap Papa Revan.


“Iya,” Revan langsung minum teh yang sudah di suguhkan untuknya, semoga disini dia bisa damai dan melupakan segala tentang melody.


...........................................


Thalia masuk kedalam kamar setelah mengambil air hangat dari dapur dia berjalan mendekati Rendi yang hanya diam saja di tepi tempat tidur.


Thalia memegang bahu rendi dan langsung menyadarkan pria itu yang seketika langsung menoleh kearahnya.


“Ini minum” ucap Thalia menyerahkan segelas air putih itu pada Rendi.


Rendi menerimanya dan menarik Thalia untuk duduk di pangkuannya, dan dia bukannya meminum air putih itu malah menaruhnya di lantai.


“Aku tadi membayangkan hal aneh, aku takut-takut sekali akan bayangan itu” ucap rendi yang mulai bercerita sambil memeluk Thalia.


“Kapan? Pas di Cafe tadi?”


“hemm”


“Kamu bayangin apa, lamunan apa yang kau pikirkan?” ucap Thalia penasaran.


“hal menakutkan,” jawab rendi dia sesekali menghela nafas panjang saat ingin membuka mulutnya


Thalia terpaksa harus sedikit bersabar karena sepertinya lamunan Rendi itu adalah hal yang menakutkan untuk pria itu. dia juga merasa aneh padahal cuman lamunan saja tetapi kenapa Rendi seperti habis bermimpi buruk.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2