Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 35 (Season 2)


__ADS_3

Rendi berjalan keluar dari kamarnya sambil menggandeng tangan Thalia. Thalia sendiri berjalan sambil menarik satu kopernya mereka berdua sama-sama melihat kearah sofa dimana Revan berbaring sambil menonton televisi.


Revan yang menyadari seseorang keluar dari kamar seketika langsung terkejut dimana kembarannya itu membawa koper dan menggandeng perempuan yang diakui sebagai istri.


“Kalian berdua mau kemana? Ingin pergi” tanya Revan berdiri untuk menghampiri keduanya.


“Bukan urusan,” jawab rendi datar,


“Ayo,” ucapnya lalu menarik Thalia untuk mengikutinya.


Revan langsung berdiri didepan Rendi yang akan pergi menghalangi langkah sepasang suami istri itu.


“jelas urusanku, kau adikku. Mau kemana kau?” tanya Revan menatap rendi yang langsung mendongak.


“Adik? Siapa? Aku.?” ucap rendi tersenyum sinis menatap Revan didepannya.


“Minggir deh lo, suami gue bilang lo minggir kan. Minggir sana” ketus Thalia pada Revan yang terus menghalau langkah mereka.


“Lo bisa diem nggak, bukan urusan lo buat ikut campur. Dia adik gue” bentak Revan pada Thalia.


Rendi langsung maju dan mendorong Revan,


“Siapa kau berani membentak istriku” ucap rendi menatap tajam Revan


Revan diam saja, menerawang wajah Rendi. Pria didepannya begitu marah saat dia membentak perempuan barusan. Apa benar Rendi mencintai perempuan itu lalu Melody kemana, batin Revan penasaran.


“Perempuan baru perasaan baru, Melody lo kemanain” tanya Revan sambil tersenyum sinis


“urusanku Melody aku ke manakan” jawab Rendi.


“Kau marah padaku soal aku memilih Mama dulu kan?” tanya revan pada Rendi.


“Seharusnya kau lebih mengerti kenapa aku memilih Mama” lanjut Revan.


“Aku tidak perduli kau memilih siapa. Yang jelas gara-gara kalian berempat hidupku hancur dan penuh penyesalan”


“Ayo,” Rendi kembali menarik tangan Thalia untuk pergi tak lupa dia juga mengambil koper miliknya lagi.


Revan terdiam di tempatnya, dia mencerna ucapan Rendi barusan. Kenapa Rendi menyebut berempat sedangkan yang salah hanya tiga orang. Kedua orang tua Mereka dan dirinya lalu siapa orang satu lagi yang Rendi bilang berempat.


“Kau mau kemana malam-malam begini mengajak istrimu?” tanya Revan berbalik melihat Rendi sebelum pria itu keluar dari apartemen.

__ADS_1


“berisik banget sih, dari tadi tanya terus. Urusi dirimu saja orang tukang ngaku-ngaku” ketus Thalia melihat tidak suka pada Revan. Sedangkan rendi hanya diam sambil membuka pintu


‘Sudah ayo pergi” ajak Rendi menarik Thalia.


Revan berdiri di tempatnya melihat pintu yang sudah tertutup rapat, matanya menatap nanar. Hubungannya dulu dnegan rendi tidak seperti ini tapi semenjak kedua orang tua mereka bercerai hubungan mereka jadi tidak bagus. Apalagi saat dia lebih memilih untuk ikut Mamanya ke luar Negeri. Mamanya sudah menikah dengan orang Luar jadi membuat dirinya tinggal di sana di negar papa tirinya.


Sedangkan rendi yang memilih ikut papa mereka, entah kehidupan keduanya bagaimana di Indonesia. Semua komunikasi terputus, hingga mereka bertemu kembali karena seorang perempuan masa lalunya. Tapi Kini setelah beberapa waktu tidka bertemu dnegan Rendi dan bertemu kembali kembarannya itu terlihat malah semakin membencinya padahal sekitar dua atau tiga tahun lalu saat dia bertemu rendi di Amerika saat pria itu ditugaskan di sana. Mereka baik-baik saja.


“Dia menikah dengan perempuan itu yang jelas-jelas bukan tipenya, lalu Melody kemana dia? Kenapa rendi bisa menikah dnegan perempuan lain” batin Revan bertanya-tanya.


“Aku harus mencari tahu soal ini” ucapnya lagi, dan dia bertekad untuk mencari tahu soal pernikahan rendi dengan perempuan bernama Thalia.


..............................


Rendi menyetir mobilnya dengan sedikit kencang. Beruntung jalanan saat ini tengah lengang karena sudah begitu malam. Tak banyak kendaraan yang berlalu lalang saat ini.


Thalia yang duduk disebelah Rendi sedari tadi melihat pria itu yang hanya diam tak bersuara, dia seakan di abaikan sedari tadi oleh Rendi.


“Bisa tolong hentikan mobilnya sebentar, aku ingin buang air kecil” ucap Thalia pada Rendi yang sekilas melihat kearahnya.


“Tahan saja, sebentar lagi sampai” Pinta rendi.


‘Aku sudah tidak bisa menahannya, sebentar bisa nggak. Mau aku ngompol di mobil” tukas Thalia memaksa.


“Sudah, buruan turun” perintahnya.


Thalia menarik kunci mobil Rendi, sehingga terlepas dari tempatnya membuat rendi menatap Thalia tak mengerti.


“kenapa kau malah mengambil kunci mobilnya, ke marikan? Kau mempermainkan ku. Kau berbohong?” sarkas Rendi.


“Ya aku mempermainkan mu. Makanya jangan jadi robot dan jangan jadikan aku boneka mu yang kau diamkan saja jika kau tidak mood” kesal Thalia menyembunyikan kunci di belakang tubuhnya saat Rendi akan mengambilnya.


“aku sedang tidak ingin bercanda atau berdebat denganmu. Ke marikan kuncinya, ini sudah malam dan aku capek ingin istirahat” ucap rendi sambil berusaha mengambil kunci dari Thalia.


“Nggak ya nggak, kau cerita dulu padaku soal keluargamu dan pria tidak jelas itu. Dan cerita apa masalahmu, gara-gara kau ada masalah kau jadi tidak asik dan hanya menganggap ku boneka” tutu Thalia


“Thalia aku mohon, kemari kan kuncinya. Nanti aku ceritakan padamu saat kita sudah sampai, jadi kemari kan kuncinya” pinta Rendi dnegan memohon, dia tampak begitu lelah saat ini.


Thalia bisa melihat hal tersebut, dia merasa hatinya terenyuh dnegan Rendi. Ia merasa kasihan dnegan pria didepannya karena seperti menanggung beben. Akhirnya hal itu membuatnya mengalah dan memberikan kunci tersebut pada Rendi.


“memangnya kau mau mengajakku kemana? Dan kita mau tidur dimana sekarang” lirih thalia memperhatikan Rendi yang sudah akan menyalakan mobilnya.

__ADS_1


“Ada suatu tempat yang ingin ku tunjukkan padamu” ucap rendi sambil memperhatikan wajah Thalia.


“tempat? Tempat apa yang akan kau tunjukkan padaku” tanya Thalia.


“rahasia, kau sebentar lagi pasti akan tahu” tukas Rendi


“Sekarang diam lah dulu, dan tidurlah. Nanti kalau sampai aku bangunkan dirimu” pinta Rendi pada Thalia, tangannya mengusap lembut kepala perempuan itu.


“Oke, aku tidur. Tapi tanganmu yang bebas ini aku genggam” ucap Thalia sambil memegang tangan kiri Rendi.


“jangan, aku kesusahan untuk menyetir, kau tidur saja” tolak rendi dan menyalakan mobilnya. Thalia cemberut dnegan penolakan itu dia langsung melipat tangannya di dada dan memalingkan wajah menatap keluar jendela tanpa menatap kearah rendi yang melihatnya sekilas.


..........................


Tak beberapa lama kemudian Rendi dan juga Thalia telah tiba di sebuah gedung yang begitu besar. Itu gedung Apartemen yang lebih besar dari apartemen Rendi yang sebelumnya. Bahkan ini tampak begitu mewah.


Mobil sendiri saat ini sudah terparkir di basemen, Rendi yang mematikan mesin mobil melihat sekilas kearah Thalia yang tengah tertidur lelap.


Tangan rendi perlahan terulur kearah Talia, dia mengusap kepala perempuannya, membenarkan rambut yang menutupi wajah Thalia.


Thalia perlahan membuka matanya karena merasa ada yang memegang wajahnya saat ini, dan dia menatap rendi yang menatapnya juga.


“Kita sudah sampai? Di mana ini?” tanya Thalia pada rendi.


“Tempat tinggal kita yang baru, ayo turun” ajak Rendi dan langsung akan turun dari mobil.


Thalia mengikuti ajakan Rendi dan dia langsung turun dari dalam mobil stelah melihat-lihat sekilas.


“Kita di basemen, ini dimana?” tanya Thalia saat dia sudah keluar dari dalam mobil.


“tempat tinggal kita yang baru” jawab Rendi sambil membuka pintu mobil belakang untuk mengambil koper mereka.


“Kita tinggal di apartemen lagi?” tanya Thalia.


“Iya, aku lebih suka tinggal di apartemen daripada rumah. Tapi kau tidak usah khawatir, apartemen ini lebih besar dari milikku yang sebelumnya” ucap rendi


“kamu bisa bawa koper mu sendiri kan?” tanya rendi.


Thalia mengangguk dan berjalan mendekati koper miliknya yang berada di sebelah sang suami. Entah mengapa dia tidak banyak bertanya saat ini karena dia mencoba memahami Rendi lebih dulu baru saat situasinya lebih baik maka dia akan banyak bertanya pada Rendi.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2