
“Ini apartemen siapa?” tanya Thalia saat sudah masuk kedalam unit apartemen. Dia menatap rendi yang membukakan pintu untuk dirinya.
“Ini apartemen yang baru saja aku beli, untuk kita tinggali berdua” jelas Rendi.
Mereka berdua saat ini berada di dalam apartemen yang cukup besar bahkan seperti rumah apartemen tersebut yang memiliki ruang tamu, ruang tengah yang langsung terhubung dnegan dapur. Bahkan di apartemen yang baru ini terdapat dua kamar tidur dan satu kamar mandi yang berada di luar kamar. Jadi total apartemen ini memiliki tiga kamar mandi.
Apartemen baru ini termasuk apartemen mewah, bukan apartemen yang sembarangan seperti milik Rendi sebelumnya.
“kau serius membeli apartemen ini” ucap Thalia cukup terkejut, dia menatap tak yakin pada Rendi.
“aku serius, kau tidak percaya kalau aku mampu membeli apartemen yang bagus seperti ini” tukas Rendi.
“Bukannya begitu” lirih Thalia yang sedikit merasa bersalah.
“kenapa kau tidak membeli rumah saja, kenapa harus apartemen” tanyanya.
“aku tidak suka rumah, aku lebih suka apartemen. Kau tidak masalahkan jika harus tinggal di sini” ucap Rendi, dia menilai wajah Thalia.
“Tidak, kalau kamu ada bersamaku aku tidak masalah di manapun aku tinggal” ucap Thalia langsung memeluk Rendi dia mendongak melihat wajah dingin sang suami.
Rendi yang dipeluk Thalia perlahan menutup pintu apartemen,
“Bisa lepaskan aku sebentar, kita harus memberesi pakaian lebih dulu” pinta Rendi sambil melihat Thalia yang langsung mendongak.
“Oke, aku menurutimu” Thalia tidak menolak dia langsung melepaskan pelukannya pada Rendi.
Mereka berdua langsung berjalan kearah kamar mereka saat ini, tentu saja Rendi tidak lupa menggandeng tangan Thalia. Entah mengapa dia terus ingin menggandeng perempuan itu seakan tidak ingin sekedar berjauhan. Dikala pikirannya tengah berkecamuk saat ini rasanya menggandeng tangan Thalia bisa meredakan sedikit pusing di kepalanya.
............................
Revan berjalan di dalam apartemen milik rendi dia melihat apartemen itu yang tidak menarik menurutnya. Bagaimana bisa menarik tidak ada foto atau apapun di dinding dan apartemennya yang cukup kecil menurutnya.
Dia berjalan kearah kamar Rendi sebelumnya membuka pintu kamar itu,
“Dia lebih memilih meninggalkan tempat ini gara-gara diriku?” ucap Revan sambil berjalan masuk kedalam kamar.
“Aku harus mencari tahu soal rendi, apa benar dia sudah menikah dengan perempuan tadi” ucapnya berjalan kearah nakas meja yang berada di samping tempat tidur.
“kenapa tidak ada apa-apa disini” ucapnya lagi saat tidka mendapati apapun di laci meja tersebut membuatnya menyerah sendiri dan duduk di tempat tidur.
__ADS_1
Baru saja revan duduk, ponsel di saku celananya berbunyi membuat dia langsung mengambil ponsel miliknya tersebut. Dia melihat laya ponsel itu,
“Kenapa Mama menelpon ku?” gumamnya.
“Ada apa Ma?” tanya revan langsung
“Bagaimana adikmu kamu sudah bertemu dengannya, Mama mau bicara dnegan Rendi” terdengar suara perempuan di seberang sana.
“Mama pikir dia mau bicara denganmu, denganku saja dia tidak mau apalagi dnegan Mama. Asal mama tahu dia langsung pergi saat dia tahu aku di apartemennya” tukas Revan.
“kenapa dia tidak mau bicara denganmu? Dan kenapa tidak mau bicara dnegan Mama?”
“Mama lupa apa yang Mama lakukan padanya dulu. kau pergi meninggalkan papa dan dia”
“Tapi kau tahu sendiri alasan mama meninggalkan Papamu, Rendi sendiri yang tidak mau ikut dnegan kita dia malah memilih dnegan Papamu. Siapa yang salah disini?”
“Terserahlah Ma, aku sibuk. Aku tutup dulu” Revan langsung sepihak mematikan panggilan tersebut.
“Maaf Ma, bukannya aku tidak mau bicara denganmu. Tapi aku harus dekat dengan adikku yang telah jauh dariku” lirih revan menatap ponselnya dengan sedih.
“Rendi menikah dnegan perempuan lain, lalu Melody dimana? Bukannya waktu itu dia bilang ingin menjemput Rendi di bandara bahkan dia antusias ingin segera bertemu Rendi. Lalu kenapa sekarang bukan dia yang menikah dengan Rendi” Revan begitu bingung dnegan semua ini. karena dia berkomunikasi dengan Melody sekitar dua tahun lalu dan perempuan itu bilang ingin menjemput Rendi di bandara.
“Sudahlah, aku pikirkan besok saja. Aku lelah” ucapnya langsung berbaring di tempat itu tanpa memikirkan itu kamar siapa.
.........................
Rendi baru selesai mandi, dia keluar dari kamar mandi sambil membawa baju dinas yang ia pakai sedari tadi. Dia melihat Thalia yang tengah memasukkan koper ke dalam lemari tapi sedikit kesusahan membuat Rendi langsung berjalan menghampiri sang istri.
“Biar aku saja yang memasukkannya” ucap Rendi meminta Thalia untuk tidak melakukan hal itu.
“ ya sudah kau saja, kau kan memang jago memasukkan apapun. Memasukkan milikmu kedalam diriku saja kamu hebat. Apalagi cuman memasukkan ini” goda Thalia pada Rendi membuat rendi melihatnya sekilas dan pria itu tampak terdiam dengan kalimat vulgar istrinya.
Thalia memundurkan dirinya duduk di tepi tempat tidur sambil melihat kearah Rendi yang memasukkan koper ke dalam lemari menggantikan dirinya.
“kamu tadi bilang ingin cerita denganku, tapi kenapa sampai sekarang kamu belum cerita juga” tanya Thalia
Rendi sudah selesai memasukkan koper kedalam lemari dan dia menutup pintu lemari itu. Sesudah itu dia langsung mengambil baju dinas yang sempat ia taruh di pinggir ranjang. Dia akan memasukkan ke keranjang baju kotor.
“kamu masih nyebelin juga ya, aku bertanya baik-baik loh padamu. Tapi kamu diem aja, aku bukan tipe orang yang di diemin begini” Thalia langsung berdiri menghentakkan kakinya kelantai menyusul Rendi yang berjalan kearah keranjang baju kotor yang ada di dekat kamar mandi.
__ADS_1
“Sabar, aku taruh baju dulu” tukas Rendi pelan.
Thalia langsung diam dan kembali ketempat nya lagi, dia duduk di pinggir tempat tidur sambil memperhatikan rendi yang sudah berjalan kearahnya.
Rendi duduk di sebelah Thalia, dia melihat perempuan itu yang terlihat begitu penasaran dnegan menghadap kearahnya.
“Silahkan kamu tanya padaku, aku usahakan untuk menjawabnya” ucap rendi dnegan begitu lembut.
“Siapa pria yang mengaku kembaran mu tadi, kau bilang dia kembaran mu aku masih tidka percaya. Kalian benar-benar tidak mirip dari wajah ataupun dari sifat”
“Kita Memang kembar, kamu pasti tahu kembar tidak identik. Kita seperti itu makanya tidka mirip” jelas Rendi.
“apalagi yang ingin kamu tanyakan padaku? Jika tidak ada kita tidur. Ini sudah cukup malam” lanjut rendi.
“Aku ingin bertemu dnegan keluargamu, keluarga asli tapi bukan orang tua si Fahri yang nyebelin itu”
“untuk apa kamu ingin bertemu dnegan orang tuaku?”
“Aneh ya kamu, kamu nggak niat ya jalin pernikahan ini. kamu pembohong berarti, kan aku sudah jadi istrimu ya aku ingin tahu orang tuamu dan keluargamu.” Ucap Thalia merasa jengah dengan rendi yang aneh.
Rendi mengehela nafasnya pendek, dia memperhatikan Thalia.
“Orang tuaku bercerai saat aku masih sekolah dasar kalau tidak salah. Mama meninggalkan aku dengan Papa di Bali. Dulu kita sekeluarga tinggal di sana. Dia terpincut oleh pria bule dan selingkuh dari Papa, selain karena dia jatuh cinta dengan pria lain dia memandang harta dari pria itu. Dimana saat itu ayahku sangat terpuruk karena usahanya bangkrut, dan yang kamu tahu aku dan kakakku terpisah” jelas Rendi berusaha untuk tidak emosional.
Sebenarnya masih ada banyak lagi soal dia dan keluarganya tapi cukup ini saja yang dia ceritakan pada Thalia. Dia memang ingin serius dnegan perempuan di depannya tapi dia tidak tahu kehidupan kedepannya bagaimana jadi cukup ini saja yang bisa dia ceritakan.
“Sudah ku duga, kisah mu hampir sama denganku dulu” ucap Thalia dnegan percaya dirinya mengatakan hal itu.
Rendi terpaku, benarkah apa yang dikatakan Thalia barusan soal kisah mereka yang hampir sama. Mana mungkin kisah mereka hampir sama, Batin Rendi.
“sudahkan tidak ada yang dibicarakan lagi. Kalau tidak ada ayo kita tidur, ini sudah begitu malam dan aku lelah” ucap Rendi
“ayo tidur, aku juga ngantuk badanku rasanya cepek semua” ucap Thalia,
Mereka berdua langsung merebahkan dirinya di tempat tidur, mengistirahatkan sendi-sendi mereka yang telah banyak digerakkan.
°°°
T.B.C
__ADS_1