Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 155 (Season 2)


__ADS_3

Ada dua koper besar di depan rumah Rendi dan juga Thalia saat ini dan disitu juga ada Aryo beserta Nafa yang tengah menggendong Relia saat ini. mereka berdua menunggu Thalia dan juga Rendi yang belum keluar juga dari rumah padahal mereka bilang hanya sebentar saja di dalam karena mengambil Charger mereka yang tertinggal di dalam.


Sepasang suami istri itu sendiri hari ini akan berangkat ke Padang menghadiri acara pernikahan Revan sekaligus mereka di sana untuk berlibur juga.


“Thalia sama Rendi mana sih pa, katanya pesawat mereka berangkatnya pagi tapi mereka cuman nyari charger lama banget” gerutu Nafa sambil sesekali melihat kearah pintu melihat sudah terlihat atau belum Rendi dan Thalia.


“Sabar ma, mungkin belum ketemu charger hp mereka” Aryo berusaha membuat istrinya untu tetap sabar menunggu.


“Mama sama Papa kamu lama ya, Relia nanti kangen sama Oma nggak?” ucap Wulan mengajak bicara bayi itu.


“Siapa yang lama ma, aku sama Rendi ini sudah ada disini” ucap Thalia yang tiba-iba saja muncul di belakang mamanya membuat Nafa sedikit terkejut.


“Kamu ini dateng nggak ada suaranya” ucap Nafa yang melihat kearah Thalia.


“sini ma, Relia aku gendong aja” ucap Thalia dan akan mengambil alih anaknya.


“Udah mama aja” tolak Nafa yang masih ingin menggendong cucunya.


“Ya udah sayang kamu bantu aku masukin koper ke mobil, biar mama aja yang gendong Relia” tukas Rendi


“Itu Thalia bantu suami kamu masukin koper” pinta Aryo pada anaknya.


“Iya,” jawab Thalia dan langsung membantu Rendi memasukkan kedua koper itu kedalam mobil orang tuanya. Kedua orang tuanya yang kan mengantar mereka bertiga ke bandara.


“Relia kenapa nggak di tinggal aja sih Thalia, biar mama yang ngurus” ucap Nafa yang berjalan menyusul Thalia yang berjalan ke mobil.


“Mama gimana mau ngurus, mau ngurus tiga cucu sekaligus gitu” ucap Aryo yang tak habis pikir dengan istrinya. Di rumah saja sudah ada dua cucu mereka, anak David dan juga Lita.


“Ya nggak pa-pa pa, biar rame rumah sama cucu” ucap Nafa, Nafa memang suka dnegan anak kecil jadi dia menyuruh semua anaknya menitipkan anak-anak mereka dirumahnya. Lagi pula anak Lita Axel sudah dari bayi sering dirumahnya.


“Kalau relia udah seumuran Axel atau Darren aku iya-iya aja ma kalau taruh rumah mama, dia masih satu bulan butuh asi aku jadi nggak bisalah. Sakit tahu mah kalau nggak ngasih asi” ucap Thalia yang sudah memasukkan koper kedalam mobil.


“Iya ma, aku juga nggak bisa jauh dari anak ku” sahut Rendi yang berdiri di sebelah istrinya.


“Mama nih memang gitu, udah nggak usah dipikirin.” Ucap Aryo yang melihat Thalia dan juga Rendi yang merasa tak enak pada Nafa.


“Huh, ya udah deh. Kalau mau kalian bawa ke Padang, ke sana berapa hari kalian?” tanya Nafa.


“Kemungkinan seminggu ma” jawab Rendi.


“Oh, ya udah hati-hati kalau di sana ya”


“hemm” jawab Thalia.


“Ya udah ayok masuk, barang-barangnya sudah dimasukkan semua ke mobilkan. Ada yang ketinggalan nggak diinget lagi” ucap Aryo pada anak dan menantunya untuk memastikan adakah barang yang tertinggal.


“Nggak ada kayaknya” jawab Thalia.


“Perlengkapan relia sayang?” tanya Rendi pada sang istri.


“udah dimasukin mobil sama Bi warsih” jawab Thalia.


“Oh”


“Ayo masuk,” ucap Aryo dan juga Nafa meminta keduanya untuk masuk.


“Mama serius mau gendong Relia sampai bandara?” tanya Thalia memastikan lagi sang mama.

__ADS_1


“Iya” jawab Nafa yakin dan dia masuk kedalam mobil sambil menggendong cucunya tersebut.


Diikuti oleh Aryo dan sepasang suami istri muda itu.


..........................................................


Jalanan kota Padang saat ini macet banyak kendaraan yang berjalan pelan ditengah kemacetan. Hal itu juga di alami oleh Revan yang mengemudikan mobilnya secara perlahan. Dia di dalam mobil bersama Chaca yang duduk di sebelahnya saat ini. meskipun sudah hampir setengah jam mereka di dalam mobil tak ada yang berbicara keduanya hanya saling diam satu sama lain.


Mereka berdua saat ini karena diminta Rino menjemput Thalia dan juga Rendi yang hari ini datang ke Padang untuk menghadiri pernikahan mereka berdua.


Chaca sendiri sebenarnya merasa canggung dan tak nyaman satu mobil dengan Revan yang tampak tak suka padanya. Sesekali dia melihat kearah Revan yang fokus menyetir saat ini. ia ingin mencarikan suasana tapi bingung harus membicarakan apa di mobil.


“Bang..” panggil Chaca lirih, dia terpaksa membuka suaranya lebih dulu saat ini.


“ya,” jawab revan singkat dan hanya melihat sekilas kearah Chaca.


“Kalau boleh tahu yang namanya bang Rendi ini adiknya bang Revan atau kakaknya bang revan?” tanya Chaca yang menanyakan hal tersebut padahal dia sudah tahu kalau Rendi adalah adik Revan dan kedua pria itu kembar tak identik.


“Adik” jawab Revan singkat, dia seakan tak ingin berbicara lama-lama dengan Chaca.


“Berarti bang Revan hanya dua bersaudara?” Chaca kembali bertanya agar suasana di dalam mobil tidak begitu dingin.


“kenapa kau banyak tanya tentang keluargaku, kau sendiri saja tidak memberitahu keluargamu seperti apa?” tukas Revan terdengar ketus dan melihat wajah Chaca yang langsung terdiam dengan perkataannya itu.


“Maaf bang, kalau saya banyak tanya” lirih Chaca dan sedikit menunduk karena Revan menatapnya tajam.


“Aku dua bersaudara bang, aku punya adik cowok dia juga tentara seperti aku bang. Tapi dia nggak Dinas disini tapi di Sulawesi makanya aku cuman berdua sama ibu di rumah” Chaca memberanikan diri untuk menceritakan soal keluarganya pada revan bagaimanapun dia harus terbuka soal hal ini.


Revan hanya diam saja mendengarkan apa yang diceritakan Chaca barusan, tapi dia walupun diam sesekali melihat kearah Chaca yang diam sambil melihatnya. Dia tahu perempuan itu pasti sedikit kecewa karena dia tak terlalu menanggapi hal itu.


“Aku tahu bang revan masih kecewa dan marah padaku bang, tapi aku harap saat kita menikah nanti bang Revan bisa bersikap lebih baik lagi bang. Karena aku nggak ingin mempermainkan sebuah pernikahan” ucap Chaca berbicara dnegan tegas di hadapan revan.


“Iya aku tahu aku salah bang, makanya aku..”


“Bisa diem nggak, nggak usah dibahas. Bentar lagi sampai, dan bersikaplah biasa di depan rendi dan istrinya. Jangan tunjukkan kalau kita tidak cocok atau apa” pungkas Revan memperingatkan Chaca, Revan sesekali melihat kearah spion untuk melihat ada mobil atau tidak di belakangnya karena dia harus belok ke are bandara.


Chaca hanay menghela nafasnya mendapat perlakuan itu dari Revan, dia tak tersinggung atau sakit hati mungkin ini yang pantas dia dapat karena membuat revan kecewa padanya.


......................................................


Pesawat yang dinaiki Rendi dan juga Thalia baru saja mendarat di bandara, mereka sendiri saat ini sudah berjalan keluar menuju ruang tunggu untuk menunggu Revan yang katanya menjemput mereka.


“Revan belum dateng ya?” tanya Thalia yang berdiri disebelah Rendi saat ini, dia sesekali menggoyangkan tubuhnya agar anaknya tidur lelap.


“bentar lagi dia dateng sayang, katanya kejebak macet” jawab Rendi pada istrinya.


“Relia tidur ya, kalau nggak kamu duduk dulu aja” lanjut rendi sambil melihat anaknya yang tidur di gendongan sang istri.


“Iya, kamu juga duduk deh, aku mau tidur juga di bahu kamu” pungkas Thalia menyuruh suaminya untuk duduknya juga.


Rendi hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya itu, dia langsung menuruti apa yang dikatakan Thalia padanya. Dia langsung duduk di bangku besi itu lebih dulu baru Thalia yang tersenyum puas dengan suaminya yang menuruti dirinya.


“Sini” ucap Rendi sambil menepuk bahunya seakan memberi kode pada istrinya untuk tidur di bahunya.


Thalia sendiri langsung duduk dan menyenderkan kepalanya di bahu sang suami,


“Kamu nggak capek gendong Relia? Kalau capek biar aku aja yang gendong” pungkas Rendi sambil melihat sekilas Thalia.

__ADS_1


“capek sih pegel bahuku” jawab Thalia.


“Ya udah sini, aku aja yang gendong” ucap Rendi yang langsung menegakkan tubuhnya.


“Nanti ajalah kalau dia bangun, nanti takutnya dia malah kebangun kalau aku kasih ke kamu” tukas Thalia.


“Ya udah, sini kamu nyender lagi” pungkas Rendi yang menepuk bahunya agar sang istri tidur di pundaknya lagi.


Baru saja Thalia akan menyenderkan kepalanya lagi ada sebuah tepukan dia bahu sebelah kanan Rendi membuat Rendi berbalik melihat siapa yang menepuk bahunya saat ini.


Siapa lagi kalau bukan revan yang sudah datang menjemput mereka sekarang.


“Oh kau,” ucap Rendi saat melihat kakaknya itu.


Begitu juga Thalia yang langsung melihat kearah Revan saat ini, pria itu tak datang sendiri melainkan dengan seorang perempuan yang mengenakan seragam lorengnya.


“Hai adik ipar, kita ketemu lagi” sapa revan pada Thalia yang berdiri bersama dengan Rendi.


“Hemm,” jawab Thalia.


“Kalian lama ya nunggu kita, maaf ya macet soalnya” ucap revan yang meminta maaf karena dia sedikit terlambat.


“Nggak kok, kita juga baru mendarat” jawab Rendi tak masalah.


“Oh,”


“Nggak ada niat mau ngenalin cewek disebelah kamu gitu” ucap Thalia menatap Rendi dan Chaca bergantian.


Revan yang baru saja sadar kalau dia datang tak sendiri langsung melihat kearah Chaca yang melempar senyum pada Thalia.


“Ini Chaca, calon istriku” ucap Revan yang langsung mengenalkan Chaca pada keduanya.


“Keren istrimu, hai salam kenal aku Thalia. Adik iparnya “ ucap Thalia yang memperkenalkan lebih dulu siapa dirinya.


Dia senang saja melihat calon dari revan karena sepertinya perempuan yang tak manja, dan itu sesuai dengan dirinya.


“Cha, ini Rendi adikku dan disebelahnya istrinya yang di gendong itu anak mereka yang bau berusia satu bulan” ucap revan yang memperkenalkan Chaca pada suami istri didepannya.


“Chaca bang, kak” ucap Chaca yang langsung memperkenalkan dirinya pada Thalia dan juga Rendi.


“Rendi,” jawab Rendi yang balik mengulurkan tangannya.


“Jangan panggil aku kak, panggil aja Thalia. Nggak enak didenger kalau kak. Aku juga masih muda kok, aku panggil dirimu dengan nama juga nggak pa-pa kan?” ucap Thalia pada Chaca.


“Iya nggak pa-pa kok, serius nggak pa-pa saya panggil dengan nama saja?” tanya Chaca memastikan.


“Iya, slow aja” pungkas Thalia.


“Ya udah ayok ke mobil” ajak Revan pada semuanya.


“Sini sayang aku aja yang gendong Relia” ucap Rendi pada istrinya.


“Udah nggak usah aku aja’ tolak Thalia.


“Ya udah, tapi nanti kalau pengen tukeran gendong” ucap Rendi dan langsung merengkuh pinggang istrinya mengajak berjalan.


Revan dan Chaca juga langsung berjalan lebih dulu menuju mobil mereka saat ini. koper Rendi dan juga Thalia sendiri di bawakan oleh orang yang bekerja di bandara.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2