
Revan tidur di apartemen Rendi hingga siang, dia saat ini baru bangun dan melihat sekitarnya yang sepi.
“kemana mereka semua?” ucapnya heran saat melihat kondisi apartemen adiknya tersebut yang sudah sepi. Dia tertidur di sofa sedari pagi tadi hingga siang begini kemungkinan malah saat ini hampir sore.
“enak baru bangun” tukas Thalia yang datang mendekati revan.
“kau di rumah, aku kira kalian tidak di rumah. Mana Rendi?” Tanya Revan menanyakan adiknya pada Thalia.
“Dia pergi ke kantornya, kenapa?” ucap Thalia pada sang kakak ipar.
“aku tidur disini malam ini ya, besok aku pergi.” Ucap Revan meminta ijin pada Thalia untuk menginap di apartemen mereka berdua hanya untuk malam ini saja.
“Kau punya apartemen sendiri kan. tinggal saja di apartemen mu” ucap Thalia.
“Itu bukan apartemenku, itu milik Rendi dan melody. Tapi sekarang karena Rendi sudah menikah denganmu jadi apartemen itu hanya milik Melody. Boleh ya aku tinggal disini” ucap Revan merengek agar di ijinkan.
“Boleh tapi kau harus bayar disini, tidak gratis.”
“Gila pelit banget, lo udah banyak duit buat apalagi duit dari gue” ucap Revan terbelalak mendengar ucapan Thalia tersebut.
“bercanda kali,” sungut Thalia.
“Bercanda Mu nggak lucu, parah lo memang sama kakak ipar” tukas Revan.
“Bodo, gue memang begini” ucap Thalia merasa bodo amat.
“Kenapa kita ngomong jadi lo gue ya,” heran Revan dengan panggilan mereka saat kesal tadi.
“Ya situ yang mulai duluan,”
“Bentar deh, aku tanya padamu. Kau serius sudah menyerah dnegan Melody, kau tidak memperjuangkan perempuan itu lagi” ucap Thalia yang masih merasa penasaran. Dan dia juga jadi khawatir kalau Revan menyerah soal Melody maka tidak ada yang menghalangi Melody untuk kembali pada Rendi.
“Iya, aku sadar kenapa aku harus memperjuangkan perempuan yang tidak mencintaiku” pungkas Revan.
“Kalau kau menyerah nasibku bagaimana, bagaimana kalau dia bersikeras untuk kembali pada Rendi. Kau tidak kasihan denganku atau dnegan bayi yang aku kandung” ucap Thalia yang mulai terbawa suasana.
“kau tidak usah khawatir soal itu, Rendi tidak akan meninggalkanmu. Aku bisa melihat cintanya yang dalam padamu. Bahkan aku belum pernah melihat dia begitu mencintai Melody, dia hanya sekedar cinta saja dengan melody dulu. mungkin karena dia nyaman dengan Melody saat itu yang begitu mengayomi dirinya” ucap Revan menenangkan Thalia agar tidak khawatir.
“Kau serius soal itu”
“Iya aku serius, adikku itu begitu mencintaimu. Jadi kau tidak perlu khawatir,” ucap Revan pada Thalia.
Thalia hanya diam saja mencoba percaya apa yang dikatakan Revan padanya soal Rendi, semoga saja memang begitu.
..................................................
__ADS_1
Rendi sebenarnya tidak ke kantornya, karena dia saat ini masih cuti. dia tadi memang berbohong pada Thalia kalau dirinya berangkat ke kantor. Karena kalau dia bilang untuk bertemu seseorang yang memang ingin dia temui istrinya itu pasti kepikiran dan menuduhnya aneh-aneh.
Dia sebenarnya tidak ingin berbohong tapi mau bagaimana lagi, karena ini juga demi kakaknya, dia harus turun tangan agar Revan juga bahagia.
Bagaimanapun revan tetap kakaknya, dan dia kasihan dengan pria itu yang begitu menyedihkan hidupnya.
“Rendi,” panggil seseorang dnegan begitu riangnya melihat rendi sudah menunggunya di salah satu kursi di sebuah cafe tempat mereka bertemu biasanya.
“kamu serius ingin menemui ku sekarang. Aku senang sekali kau mau bertemu denganku begini” ucap Melody dengan wajah bahagianya.
“Bisa tidak jangan banyak bicara, cepat duduk. Aku tidak bisa-lama-la disini, istriku sedang menunggu diriku” ketus Rendi
Wajah gembira melody berubah menjadi dingin, dia menatap Rendi sambil menarik kursi didepan pria itu.
“Sebegitu cintanya dirimu pada istrimu itu, kau benar sudah melupakanku. Tidak ada lagi cinta di hatimu ren?” ucap Melody masih begitu berharap kalau rendi masih mencintainya.
“Aku kesini bukan untuk membahas dirimu, diriku atau istriku mengerti” ucap Rendi.
“Aku kesini untuk membahas Revan, kau perempuan tidak tahu diri ternyata. Kakakku selama ini sudah memberikan semuanya untukmu tapi balasan mu apa? kau hanya seorang penipu yang pura-pura mencintainya. Wanita licik, tak ku sangka kau yang dulunya lembut dan tidak egois ternyata begini” ucap Rendi mencerca Melody yang duduk didepannya.
“Kamu mengatakan itu semua padaku Ren, hatiku sakit mendengar ucapan mu yang begitu. Soal revan aku dulu memang mencintainya tapi dia malah menganggap ku teman dan menyuruhku pacaran denganmu dan saat aku pacaran denganmu dia mendekatiku. Jadi itu salahnya sendiri kalau tersakiti sekarang, karena aku sudah jatuh cinta padamu Rendi.” Ucap Melody yang tak merasa bersalah sama sekali.
“Omongan bulshit, dan sayang aku tidak mencintaimu sekarang mengerti.” Ucap Rendi.
“Aku kesini hanya bilang, Revan akan pergi dari negara ini untuk selamanya. Dan tidak mau lagi berurusan denganmu. Jadi aku sarankan padamu temui dia, bilang kalau kau mencintai dia, katakan sebelum kau menyesal telah membuang pria baik seperti kakakku.” Ucap Rendi meminta Melody menemui Revan.
“Kau yakin tidak mencintainya, tidak mungkin kau tidak mencintainya. Kalau kau masih memakai pasword perpaduan tanggal lahir kalian dia akun sosmed mu” ucap rendi sambil tersenyum sinis.
“Stop, jangan bicara lagi. Kau pikir aku bodoh, kau beberapa hari lalu membuka akun sosmed mu kan” ucap rendi sambil mengangkat tangannya di depan wajah Melody.
“Ka..kamu tahu darimana?” ucap Melody yang gugup sendiri.
‘Aku rasa kau tidak bodoh Melody, aku seroang polisi dan bagian Intel. Jadi jangan mencoba berbohong padaku soal masalah digital” ucap Rendi.
Melody langsung terdiam di tempatnya, dia tak bisa berkata lagi. Jujur dia memang bisa di bilang egois sih. Dia mencintai dua orang yang berbeda. Dia akui masih ada rasa untuk revan dan juga Rendi, dia tidak ingin salah satu dari mereka pergi dari hidupnya.
“temui dia sebelum kau terlambat, kau tahu sendiri dia seperti apa. kalau dia sudah bilang A ya A tidak ada yang bisa mengubahnya” ucap Rendi sambil berdiri dari duduknya.
“Aku pergi, istriku pasti sudah menungguku sekarang” lanjutnya dan akan pergi tetapi Melody juga ikut berdiri dan menghadang langkah Rendi.
“Oke, aku memang egois, aku memang masih mencintai Revan. Dan aku juga mencintaimu ren” ucap melody sambil menangis.
“hidup itu harus ada pilihan tidak mungkin kau bisa memiliki keduanya, percuma juga kalau kau memilikiku. Kau tidak akan bisa mendapatkan diriku. Tapi kalau kau memilih kakakku, kau bisa mendapatkannya dan bisa berteman denganku, bagaimanapun dulu kau temanku” ucap Rendi pada Melody.
“Semoga kau memikirkan apa yang aku ucapkan, aku pergi” ucap rendi dan mengusap rambut Melody lembut. Meskipun dia tidak mencintai Melody lagi tetapi bagaimanapun juga Melody dulu yang selalu ada untuknya jadi bisa dibilang temannya.
__ADS_1
Rendi langsung pergi begitu saja meninggalkan Melody yang menangis, entah perempuan itu mendengarkan ucapannya atau tidak yang jelas dia sudah mengatakan semua itu dan dia berharap semoga Revan menemukan kebahagiannya apabila tidak dengan Melody.
........................................................
Ting
Tong
Pintu apartemen Thalia berbunyi, dia yangs edang asik menonton tv dan juga revan yang ada disitu juga langsung melihat kearah pintu.
“Ada tamu tuh,” ucap revan pada adik iparnya.
“Ya tolong bukain kenapa, kau tidak lihat aku hamil begini. kau menumpang kan disini, bukain pintunya” ucap Thalia pada Revan.
Revan langsung berdiri dari duduknya saat ini, dia dengan berat hati langsung menuju ke pintu apartemen untuk membukanya.
Revan membuka pintu apartemen saat ini, dan dia hanya diam melihat orang didepannya begitu juga orang tersebut.
“Maaf siapa ya?” tanyanya pada tamu pria yang tidak ia kenal tersebut.
“Kau yang siapa? Kenapa ada di apartemen adikku” tukas David yang bertamu ke apartemen Thalia dan juga Rendi.
“Adik, adikmu siapa. Rendi atau Thalia, eh jelas Thalia kan. Rendi kan adik gue” ucap Revan merasa bodoh sendiri sudah jelas pria didepannya bilang adik ya tentu saja yang dimaksud Thalia tidak mungkin Rendi. Rendi adiknya.
“Adik ipar, ada kakakmu” seru Revan memanggil Thalia yang ada di dalam.
Belum di suruh masuk david langsung menggeser Revan, dia masuk kedalam tanpa di persilahkan lebih dulu.
“Wah nyelonong begitu, satu keluarga kayaknya sifatnya sama saja” gerutu revan dan menutup kembali pintu apartemen dan menyusul David yang sudah masuk.
“Oh kak, ada apa kak?” ucap Thalia yang berhadapan dengan David.
“mampir saja, pria itu siapa?” ucap David dan berjalan untuk duduk di sofa.
“Aku kakak dari rendi, maksudku kembaran rendi” sahut Revan yang sudah berada di ruang tengah.
“kembaran?” heran David dan menatap Thalia meminta penjelasan.
“Iya dia kembarannya, nggak mirip ya” pungkas Thalia sambil duduk di sofa dengan hati-hati.
“Salam kenal Revan,” ucap Revan mengulurkan tangannya lebih dulu pada David.
“David” ucap David tanpa menjabat balik tangan Revan.
“Astaga, dua orang ini kenapa menyebalkan. Kasihan adikku di tengah-tengah orang begitu, tekanan batin nggak ya dia” batin Revan sambil melihat kearah Thalia dan David bergantian.
__ADS_1
°°°
T.B.C