
Lita berjalan jalan di mal bersama dengan Fahri, yang menggandeng tangannya saat ini sambil menggendong Axel. Mereka bertiga menghabiskan waktu bersama, selagi Fahri tidak sibuk dengan pekerjaannya saat ini.
“Sayang ke tempat yang jual steak dulu ya?” ucap fahri melihat istrinya.
Lita sedikit mendongak melihat Fahri, dia menatap sang suami yang melihatnya penuh harap.
“kenapa? Kamu pengen makan steak?” tanya Lita.
“Iya, aku pengen makan itu, tapi dibawa pulang tidak di makan di tempat” pungkas Fahri.
“terserah kamu saja, ayo mau kemana terusan” ucap Lita menuruti saja kemauan Fahri yang sedang ngidam menggantikan dirinya.
“Ke Food court, mau kan?” ajak Fahri.
“ya sudah tidak pa-pa”
“Kak Fahri” Saat mereka berdua asik berjalan tiba-tiba saja terdengar sara seseorang yang memanggil Fahri saat ini membuat keduanya melihat kebelakang. Tepat dibelakang mereka seorang pemuda berdiri terpaku hingga capucino Cup-nya terjatuh ke lantai.
“Willy,” gumam Lita tertahan melihat pemuda di depannya adik dari Dira yang sudah ia anggap adiknya juga. kurang lebih setahunan dia tidak bertemu dengan pemuda itu.
“M..m.mbak, Mbak Lita” ucapnya gemetar. Dia antara percaya dan tidak percaya kalau perempuan didepannya adalah perempuan yang dia anggap kakak. Ia tidak percaya kalau Lita masih hidup.
“Dia pasti terkejut melihatmu, aku lupa tidak memberitahunya kalau kamu masih hidup dan kamu pasti lula juga kan soal keluarga Dira” bisik fahri di telinga sang istri.
Willy langsung berjalan cepat mendekati Lita dan juga Fahri, dia langsung menarik Lita kedalam pelukannya. Ia memeluk Lita begitu kuat melepas rindu yang selama ini dia pendam.
“Ini Mbak Lita kan? Kamu bener mbak Lita kan. Teman mbak Dira, kakakku” ucap Willy getir nada bicaranya bergetar.
Perlahan Lita mengusap lembut punggung Willy, memberi ketenangan pada pemuda itu yang sepertinya menangis di pelukannya.
“Iya ini benar aku, kamu apa kabar. Mama sama Papa juga sehatkan?” ucap Lita dengan lembut.
“Mbak masih hidup, kenapa mbak nggak bilang. Aku kangen sama mbak, kita sedih mbak nggak ada mbak. apalagi Mama mbak. Dia sakit-sakitan terus semenjak denger mbak Lita nggak ada” ucap willy sambil menangis didepan Lita. Pria jangkung dan putih itu berkali-kali mengusap air matanya haru. Masih tidak percaya kalau didepannya adalah Lita yang dia anggap kakaknya sendiri pengganti Dira.
“udah jangan nangis, mbak masih hidup. Maafin bak ya nggak bilang sama kalian kalau mbak masih hidup. Lalau kondisi Mama sekarang bagaimana? Kok kamu bisa di Indonesia?” Lita melepas pelukannya pada Willy dan mengusap air mata pria itu yang menetes diwajahnya.
__ADS_1
Fahri hanya melihatnya saja, ia tidka cemburu dengan hal itu. Karena ia tahu Lita dan juga Willy saling menyayangi layaknya adik kakak.
“Mbak Lita tahu nggak, hidup kami sekeluarga serasa hampa mbak. Tahu Mbak Lita nggak ada, Mama sama Papa seakan kehilangan dua anak perempuannya dan aku kehilangan kakak perempuanku yang kedua”jelas Willy diiringi isak tangis.
Lita yang melihat itu ikut merasa sedih dan juga merasa bersalah, karena dia lupa memberitahu ia masih hidup.
Willy yang tadi melihat kearah Lita kini beralih melihat kearah Fahri, mukanya berubah menjadi dingin dan terlihat begitu benci.
“Mbak Lita kembali dengan pria ini, dia yang..” ucapan Willy terhenti karena Lita memotongnya.
“Sudah Willy itu masa lalu, mbak sudah memaafkan Fahri dan mbak cinta sama suami mbak. Dia juga ayah dari anak-anak mbak” ucap Lita memotongnya.
Willy langsung terdiam, dia menunduk dan sesekali menengadahkan wajahnya keatas sambil matanya berkaca-kaca.
“terserah mbak deh, mbak bahagia aku juga ikut bahagia” ucapnya.
Mendengar perkataan itu Lita langsung memeluk Willy, mengusap punggungnya perlahan.
“Terimakasih ya, kamu memang adik Dira yang paling baik” ucap Lita.
Kini Lita duduk di sebuah cafe yang ada di mall bersama Fahri dan juga Willy yang duduk di sebuah kursi dengan mereka.
“Kamu sekarang sibuk apa?” tanya Fahri mencoba melakukan pembicaraannya yang pertama dengan Willy setelah waktu itu. Mungkin setahun lalu saat dia dihajar oleh pemuda didepannya.
Willy yang tadi diam melihat kearah Fahri yang mengajaknya bicara sekarang, dia menatap datar pria itu. Jujur dia masih sedikit enggan untuk sekedar bicara dengan Fahri tapi tidak mungkin juga dia diam dengan pria itu. Ia merasa tidak enak dengan Lita.
“Aku kerja di perusahaan Papa yang diberi oleh orang tua mbak Lita” jawab Willy dengan nada berat.
“Oh,” Fahri hanya mengangguk saja. Karena dia bingung harus bicara apalagi, situasi dia dan Willy dalam kecanggungan saat ini.
“Lalu kamu ada perlu apa di Indonesia? Mbak tadi kayaknya sudah tanya sama kamu tapi kamu nggak jawab?” ucap Lita yang penasaran dengan alasan Willy ke Indonesia.
“Aku kesini karena ingin melihat Mbak Dira dan kamu mbak. Aku datang berziarah ke makam mbak Dira dan juga dirimu. Aku luapkan segala kerinduan ku pada kalian dan satu doaku berharap untuk mengulang waktu andai dirimu masih hidup. Dan ternyata doa ku terwujud, kamu masih hidup” ucap Willy melihat Lita
Lita hanya bisa diam mendengarnya, dan suaminya menggenggam tangannya saat ini,
__ADS_1
Willy yang seakan tahu rasa sesal itu ada dalam diri Lita dan juga Fahri langsung berdiri dan menggendong Axel.
“Ini anak mbak Lita sama mas Fahri, lucu ya” ucapnya mengalihkan suasana
“Aku harap mbak Lita sama mas fahri bisa ke Belanda membawa Axel juga. Mama sama Papa pasti senang melihatnya” lanjut Willy sambil melihat Axel yang dia pangku saat ini. dia memainkan jari kecil bayi itu yang memegangi tangannya.
“Iya kita usahakan” jawab Fahri lirih, karena dia tidak bisa janji. Dia melihat Lita yang melihatnya. Alasannya tidak bisa janji karena Lita sedang hamil muda. Tadi mereka habis konsultasi dengan dokter untuk tidak berpergian jauh dulu.
“aku berharap banget sih, semoga kalian bisa ke Belanda” ucap Willy penuh harap.
.........................
Fahri baru selesai mandi dan dia melihat istrinya yang duduk dipinggir tempat tidur tampak sedang melamun kan sesuatu. Ia langsung mendekati Lita saat ini, dan duduk disebelahnya.
“Kamu mikirin apa?” tanya Fahri
“Aku merasa bersalah pada Willy dan juga kedua orang tuanya. Apalagi pada Mamanya Willy, dia sampai sakit karena diriku” lirih Lita
“Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Kalau kandungan mu sudah agak kuat kita ke Belanda temui mereka. Kamu mau kan?”
Lita langsung menatap Fahri,
“Kamu mau ke sana, kamu tidak masalah. Bukannya kamu melarang ku untuk pergi ke mana-mana?”
“Khusus ini aku tidak melarang mu, kamu pasti juga merindukan mereka kan?”
“Iya, aku merindukan mereka. Dan aku juga ingin meminta maaf pada mereka soal diriku yang masih hidup tidak memberitahu ada mereka semua”
“Sudah, itu kita bicarakan nanti lagi. Aku ganti baju dulu, habis itu kita turun kebawah makan. Willy pasti juga sudah menunggu kita dibawah” ucap Fahri memeluk singkat sang istri dan mengecup keningnya.
Willy memang malam ini tinggal di rumah Lita dan juga Fahri. Mereka berdua lah yang menyuruhnya daripada Willy harus tinggal di hotel, lebih baik di rumah mereka.
°°°
T.B.C
__ADS_1