Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 06 (Season 2)


__ADS_3

Cupp,


Thalia mencium Rendi, membuat Rendi terdiam dan terpaku karena ciuman yang mendadak tersebut. Seketika dia langsung memundurkan dirinya melihat Thalia yang tersenyum kearahnya.


“Sorry, gue sengaja ngelakuin itu” ucapnya tak merasa bersalah sama sekali.


“Kau memang perempuan gila,” desis Rendi dan langsung pergi dari hadapan Thalia.


“terserah kau menyebutku apa, itu aku lakukan agar kamu tidak cemburu soal semalam. Karena aku menyebut mantanku yang menyebalkan itu” ucap Thalia yang berjalan mengikuti Rendi yang tampak tak perduli sama sekali.


“Sudahlah, kau tidak usah pergi. Aku saja yang pergi” ucap Thalia lebih mendahului Rendi yang keluar dari Apartemen. Thalia langsung keluar saat rendi membuka pintunya.


“Da, Polisi sombong” seru Thalia melambaikan tangan pada rendi yang diam sambil memegang gagang pintunya.


“Perempuan murahan,” sinis Rendi sambil melihat kearah Thalia yang sudah berjalan melenggok pergi.


Blamm


Rendi menutup pintu apartemennya dengan cukup keras. Entah mengapa dia malah kesal sendiri dengan hal ini.


“Perempuan itu membuang waktuku saja” lagi dia berbicara seperti itu tapi pandangannya masih sesekali melihat kearah kepergian Thalia yang sudah tidak nampak karena sudah menghilang dibelokkan.


“Dia masih mengingat mantan pacarnya tapi kenapa mengejar ku terus” geramnya yang tampak kesal dengan hal tersebut. Dia mengingat semalam Thalia saat menciumnya sambil menyebut pria bernama Rey, dan perempuan itu terus mengoceh soal Rey.


Setelah mengingat apa yang Thalia ucapkan semalam padanya, dia langsung pergi karena harus segera ke kantor polisi. Dan melakukan tugasnya menggerebek pelaku narkoba.


...........................


Thalia berjalan masuk kedalam rumahnya dnegan gembira, langkah ringan begitu terasa di kakinya. Sangking senangnya sampai dia tidak tahu kalau ada orang yang duduk di sofa ruang tamu saat ini melihat kearahnya.


“semalaman darimana saja kamu?” nada tegas begitu terdengar dengan jelas.


Thalia langsung berhenti melangkah melihat siapa yang berbicara padanya tersebut. Dia hanya membuang muka malas setelah melihat siapa orangnya.


Itu David yang berdiri menatap Thalia sekarang, dia seakan mengintrogasi sang adik yang semalaman tidak pulang.


“bukan urusan kak David,” ucap Thalia terdengar cuek dan dia akan melangkah lagi tapi tangannya sudah dicekal lebih dulu oleh David.


“Augh sakit kak” rintih Thalia kesakitan

__ADS_1


“lepasin nggak,” ucapnya lagi.


“Jangan pikir karena Papa dan Mama tidak di rumah kamu bisa bebas begitu, kau darimana saja semalaman ini” ucap David dengan cukup tegas.


“Kau clabing lagi, kau mau aku siksa baru berhenti seperti ini” lanjut David pada adiknya.


“lepasin nggak kak, kakak bodoh atau apa sakit” ketus Thalia dengan kata cukup kasar.


“kau,.” David sudah akan melayangkan tamparannya.


“David,.” Seru perempuan dengan perutnya yang sedikit buncit. Siapa lagi itu kalau bukan Naya.


David langsung melepaskan tangan Thalia,


“kau bisa lolos dari kakak sekarang, tapi tidak selanjutnya. Awas sampai kau mengulangi lagi perbuatan mu ini” bisik David dengan nada mengancam.


“Huuh, suami taku istri menggelikan. Kau pikir aku takut” sinis Thalia dan langsung pergi dari hadapan sang kakak dan kakak iparnya.


Naya berjalan menghampiri David yang masih melihat kearah Thalia yang tengah mengejek dirinya sekarang. Perempuan itu naik keatas sambil menjulurkan lidahnya.


“kenapa kau tiba-tiba saja muncul, bukannya aku menyuruhmu untuk dikamar saja” ucap David.


“Kamu jangan memukul adikmu sendiri, jika kamu seperti itu maka dia tidak akan pernah mengalah” ucap naya menasehati sang suami.


“Tapi dia kurang ajar, kau tahu sendiri dia bagaimana. Dia sudah salah pergaulan, sekasarnya Lita dulu tidak seperti dia yang terlalu tidak sopan”


“Berhenti membandingkan adikmu yang satu dan yang lainnya. Itu tidak baik malah akan membuat perdebatan diantara mereka” Naya berusaha sabar untuk menasehati senang suami yang sedang emosi karena Thalia.


“Sudahlah, ayo temani aku di meja makan. Aku belum minum susu” ajak Naya. Naya menarik pelan tangan David mengajak suaminya tersebut ke meja makan untuk menemani dirinya.


David diam saja, dia megikuti langkah sang istri yang sudah menariknya menuju dapur.


“Kau boleh menasehati adikmu tapi jangan sampai kamu main tangan dengannya, papa dan mama saja tidak pernah melakukan itu padamu dan yang lainnya kan” ucap naya sambil berjalan sesekali dia terus menasehati David.


“tapi dia sudah kelewatan, kamu tahu sendiri bagaimana Thalia”


“Iya aku tahu, tapi biarkan saja. Dia nanti sadar sendiri” ucap Naya.


David hanya diam seterusnya, karena pendapatnya dan istrinya berbeda dalam hal ini. dia tidak bisa membiarkan orang yang tidak punya sopan satun. Tidak ada pengecualian dalam keteguhannya tersebut. Dia juga bisa kasar dengan Lita bukan hanya dengan Thalia saja. Tapi Lita jarang membuat masalah seperti Thalia saat ini.

__ADS_1


........................


Rendi habis saja melakukan absen dengan sensor wajah yang tertempel di tembok. Dia langsung berjalan kearah mejanya saat ini dia memang memiliki meja di kantor polisi. Dia duduk sebentar sambil sekilas melihat foto seorang perempuan yang terbingkai di atas mejanya.


Perempuan dengan jilbab putih dan juga jas dokter yang dia kenakan, itu Melody pacar dari Rendi yang hampir menjadi tunangannya tapi gara-gara hal tidak ia inginkan Melody saat ini terbaring tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit hampir dua tahun berlalu. Dan perempuan itu masih bertahan dalam kondisinya sekarang.


Sebenarnya dokter sudah menyarankan mereka untuk menyerah soal melody tapi Rendi dan juga Mama dari Melody masih bersih keras kalau Melody akan sadar dari komanya.


“Seharusnya bukan kau yang begini, tapi aku” gumam Rendy sambil mengusap foto itu lembut.


“Aku minta maaf, gara-gara aku dirimu seperti ini, bangunlah segera” ucap rendy melihat foto tersebut. Tak terasa setetes air mata jatuh membuatnya seketika langsung mengusapnya.


Rendi berdiri saat dia sudah mengusap air matanya, dia tidak bisa berleha-leha atau melow sekarang. Ada tugas di depan yang sudah menunggu.


“Kalian semua, ayo berangkat” seru Rendi pada Lima orang polisi yang berseragam bebas. Bahkan terkesan bak preman diantara polis-polisi tersebut.


“Siap Ndan,” kelimanya langsung berdiri menjawabnya dengan lantang.


“Motornya sudah siap didepan kan?” tanya Rendi mendekati kelimanya.


“Sudah Ndan”


“Terus mobil sudah berangkat dulu atau belum”


“Mobil milik kita belum berangkat ndan, menunggu arahan dari komandan rendi” jawab salah satu polisi di situ.


“baiklah kalau begitu ayo keluar.” Ajak rendi pada kelimanya.


“maaf ndan sebelumnya,” ucap salah satunya, dia berbicara dengan sedikit tidak enak.


“Iya ada apa?” heran Rendi yang tadi sudah akan melangkah langsung menghentikan langkahnya dan melihat salah satu anak buahnya itu.


“Komandan akan mengenakan baju dinas tersebut, bukannya sedikit mencolok ndan. Anda kan yanga akan masuk kedalam, bagaimana kalau mereka sudah menyadarinya dulu kalau ada polisi yang sudah mengintai mereka”


Rendi langsung melihat dirinya sendiri, benar saja dia belum mengganti bajunya dnegan baju bebas sekarang. Membuat dia menghela nafas panjang, hari ini dia sungguh tidak fokus banyak pikiran dalam benaknya. Penyebabnya tentu saja salah satunya dari perempuan yang selama ini mengejar dirinya dengan tidak jelas, siapa lagi kalau bukan adik ipar Fahri.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2