
Thalia sedang berdiri di di dapur melihat beberapa sosis dan juga sayuran lain yang tersedia di situ, dia bingung harus membuat sarapan apa hari ini. memasak saja dia tidak bisa terakhir dua hari lalu dia masak dan itu rasanya tidak enak. Masa dia hari ini masak lagi, bagaimana kalau rasanya tidak enak.
“kenapa kamu diam saja, sedang memikirkan apa?” tanya Rendi yang tiba-tiba datang memeluk Thalia dari belakang.
“datang-datang main peluk saja, ngapain sih. Lepasin nggak aku mau masak” ucap Thalia berusaha melepaskan pelukan Rendi.
“Memang kenapa? Suami peluk istri memang tidak boleh” ucap Rendi menaruh kepalanya di ceruk leher Thalia meniup leher sang istri.
Hal itu membuat Thalia merinding, bulu romanya seakan berdiri karena apa yang dilakukan Rendi barusan.
“Kamu sebenarnya kenapa sih aneh sejak semalam. Kamu ditolak melody tidak diberi jatah olehnya makanya manis begini denganku” tukas Thalia berbalik melihat kearah Rendi menatap pria itu yang malah tersenyum padanya.
“Masih cemburu dnegan kata-kataku kemarin yang mengatakan Melody tunangan ku. Harus berapa kali aku bilang itu dulu dan sekarang kamu istriku” ucap Rendi meyakinkan Thalia yang menatapnya tak berekspresi.
Rendi menarik tangan Thalia membuat perempuan tersebut berada di dekapannya saat ini.
“Aku mencintaimu, tidak ada perempuan lain yang aku cintai selain dirimu” pungkas Rendi sembari memeluk erat Thalia.
Dan dia mengecup pipi Thalia dan beralih pada bibir manis sang istri,
Ciuman manis dariku, sudah sana kamu mandi saja. Aku yang masak, kamu bingung kan mau masak apa” ucap Rendi setelah mencium Thalia.
Thalia terpaku di tempatnya dnegan perlakuan manis Rendi di pagi hari, jantungnya begitu berdebar mendapat perlakuan seperti itu.
“Kenapa diam saja sayang, buruan mandi habis ini kita jalan-jalan berdua” ucap Rendi sembari menggeser Thalia agar dia bisa menyiapkan sarapan.
“kenapa jadi kamu yang masak, istrinya kan aku bukan kamu. Sudah sana kamu saja yang minggir aku mau masak. Nggak usah lontarin kata-kata manis deh” ucap Thalia dan sedikit mendorong Rendi.
“Udah kamu dengerin aku, biar akau yang masak. Kamu mandi sana,” perintah Rendi.
“Ya sudah, terserah dirimu. Tapi awas kalau kamu bilang sama orang-orang soal istrimu yang tidak bisa memasak” ancam Thalia sambil cemberut.
“Tidak akan, untuk apa aku menjelekkan perempuan yang aku cintai” ucap Rendi sambil tersenyum manis.
Thalia begitu terperangah dnegan Rendi, pria itu tersenyum lagi. Sepertinya sudah dua kali ini dia melihat pria itu tersenyum padanya berarti rendi mencintainya kan.
.............................
Revan berjalan di koridor rumah sakit, dia membawa bunga yang sama seperti yang Rendi bawa waktu itu. dia ingin menjenguk Melody di rumah sakit ini.
__ADS_1
Sebenarnya dia berarti untuk kesini, merasa tidak enak dnegan Rendi tapi pria itu sendiri yang memberitahukan padanya dimana Melody dirawat.
Revan masuk kedalam sebuah kamar dimana Melody di rawat, saat dia masuk sepasang suami istri langsung menatap kearahnya. Mereka tampak tak bingung melihat seorang pria yang masuk kedalam kamar perawatan anaknya.
“Maaf siapa ya?” tanya ayah dari melody yang langsung berdiri menghampiri Revan. Orang tua Melody memang tidak tahu siapa Revan karena Rendi tidak pernah mengenalkannya.
Rendi saat melamar Melody dulu hanya mengajak ayahnya saja dan juga teman-temannya, tidak ada orang lain selain mereka.
“Em..sa..saya temannya Melody” jawab Revan terbata dia terlihat gelisah menatap pria paruh baya tersebut.
“Teman?” sahut iu Melody.
“Iya saya temannya”
“Silahkan masuk,” ucap ayah Melody.
Revan berjalan dengan langkah berat, dia menatap nanar Melody yang terbaring di ranjang tempat tidur.
Dia berdiri di sebelah kasur Melody, matanya berkaca-kaca melihat perempuan itu.
“Apa ini Melody, kenapa kau malah berbaring disini. Kau bilang ingin memberitahu Rendi soal semuanya dan kau bilang ingin minta maaf padanya lalu apa ini” ucap Revan di dalam hatinya, dia menatap pilu perempuan yang dia cintai tersebut.
“Kenapa buru-buru?” ucap Ayah Melody dan juga ibunya. Mereka tampak terkejut.
“Aku ada urusan Om,” ucap revan dan langsung pergi dari ruangan melody setelah dia menaruh bunga di nakas meja.
Kedua orang tua Melody menatap aneh Revan yang buru-buru pergi, mereka bingung dnegan pria asing yang belum pernah mereka Lihat. Diantara temannya Melody juga mereka berdua tidak pernah melihat pria itu.
...........................
“Ayo pergi, tadi kamu bilang mau mengajakku pergi jalan-jalan maka ayo, aku bosan di rumah” ucap Thalia Menghampiri Rendi yang duduk di sofa.
Mereka baru saja selesai sarapan dan setelah sarapan Thalia langsung mengganti bajunya. Perempuan itu tadi mandi tapi masih memakai baju yang dia pakai tadi dan kini dia sudah berganti baju.
Rendi melihat pakaian yang dikenakan Thalia saat ini, pakaian itu cukup seksi dan terlalu pendek. Bahkan pendeknya saja di atas lutut membuat kaki jenjang nan mulus Thalia terlihat dan juga baju atasan perempuan itu yang begitu ketat membentuk lekuk tubuhnya.
“Ganti bajumu” perintah Rendi
“Apa? Kenapa aku harus ganti baju bukannya kita mau pergi” heran Thalia.
__ADS_1
“Aku bilang ganti, ayo masuk ke kamar ganti baju mu” ucap rendi langsung berdiri dan akan menarik Thalia untuk masuk kedalam kamar.
“Apaan sih, ayo. Perasaan tidak ada yang salah dengan bajuku” Thalia melepaskan paksa tangan rendi.
“Siapa bilang tidak salah dengan baju, baju begini kau pakai. Kau lupa sudah menikah siapa yang ingin kau pikat dengan penampilan seperti ini” tegas Rendi menarik paksa Thalia untuk masuk kedalam kamar.
“Asli lebay kamu, cemburu ya kalau aku dilirik pria lain” ucap Thalia menatap rendi yang berdiri di depannya. Mereka berdua saat ini sudah berada di dalam kamar.
“Suami mana yang tidka cemburu istrinya dilihat perempuan lain” jawab Rendi, dia berjalan kearah lemari saat ini membuat Thalia juga mengikutinya. Mendengar perkataan rendi membuat Thalia girang, Rendi barusan terang-terangan bilang cemburu.
Rendi memilih-milih baju untuk Thalia, dia akan memilihkan baju yang bagus untuk istrinya. Dan tentu saja yang sedikit tertutup, dia tidak suka melihat istrinya berpenampilan seksi apalagi itu dilihat oleh orang-orang.
Saat Rendi bingung memilih baju untuk Thalia, sebuah pelukan menghentikan dirinya saat ini.
“tidak usah kau pilihkan, kita tidak suah pergi saja. Kita di rumah, kamu tidak ingin aku dilihat orang lain kan. Maka kita di rumah saja habiskan waktu berdua” ucap Thalia memeluk Rendi dnegan erat.
“kamu serius tidak ingin keluar, bukannya tadi kamu begitu ingin keluar. Kalau kita hanya menghabiskan waktu berdua di dalam apartemen kamu bisa membuatku khilaf dan kamu tidak mau tanggung jawab” lirih Rendi.
“Aku bisa tanggung jawab dnegan cara ini, kamu begitu menginginkanku ya” ucap Thalia mencium Rendi dan dia langsung tersenyum.
“kamu serius saat ini sedang datang bulan, atau hanya membohongiku” ucap Rendi sambil melingkarkan tangannya di pinggang Thalia.
“Aku serius, kamu begitu ingin. Tunggu dua hari lagi, aku akan memberikan jatah mu lagi” seringai Thalia.
“Oke aku tunggu, kau tidak bohong kan. Kalau bohong, kamu habis di tanganku” canda Rendi, ria itu lagi-lagi tersenyum pada Thalia.
“Memang apa yang akan kamu lakukan padaku jika aku tidak menepatinya”
“Aku paksa dirimu hingga lelah dan tidka bisa melakukan apapun di esok harinya” ucap Rendi sambil menatap Thalia.
“Aku malah menyukainya,” ucap Thalia sambil memeluk Rendi
“Aku mencintaimu pria robot yang sombong diawal” ucap Thalia lagi memeluk erat Rendi.
“Aku juga mencintaimu” jawab Rendi, dia membalas pelukan sang istri.
°°°
T.B.C
__ADS_1