Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
31


__ADS_3

Sudah hampir seminggu sejak kejadian waktu itu, Lita saat ini sudah mau keluar dari kamar. Bahkan dia kembali ke kamarnya yang dulu dulu sebelum orang tua Fahri bertamu ke rumah ini. Sudah hampir seminggu juga Lita tidak berbicara dengan Fahri, ia mengabaikan pria itu menganggap seakan Fahri tidak ada.


Disaat dia menghindar dan tidak ingin bicara dengan Fahri sama sekali. Pria itu justru menurutnya sedikit berubah. Fahri berkali-kali mengajaknya bicara, dan mengantar makan untuknya saat dia tidak ke meja makan bahkan pria itu berbicara lembut padanya.


Meskipun sikap Fahri menurutnya berubah, dia tidak akan percaya. Karena dia saat ini benar-benar membenci Fahri, ia sedang mencari ide untuk menghilang dari hidup Fahri. Dia sudah tidak tahan lagi dengan Fahri yang menurutnya hanya bermuka dua, entah ada rencana apa sehingga Fahri baik padanya.


Lita berjalan perlahan kelar dari kamarnya, dia akan makan sekarang tidak mungkin dia tidak mengisi perutnya. Dia harus sehat untuk mencari ide kabur dari hidup Fahri. Bertepatan dengan langkahnya yang akan keluar dari kamar, Fahri baru saja akan pergi ke kantor.


Pria itu menghentikan langkahnya saat berpapasan dengan Lita,


“Itu ada nasi goreng sama teh manis buatan ku, dimakan dan diminum” singkatnya terlihat sungkan untuk mengatakan.


Lita tidak menanggapi, ia malah melenggang pergi seakan tidak ada Fahri didepannya.


“Jangan lupa besok kita bertemu Papa dan Mamaku serta keluargaku yang lain” ucap Fahri dengan sedikit keras agar Lita yang berjalan pergi mendengarnya.


Lita memang mendengarnya tapi dia pura-pura tidak mendengar, dia terus berjalan tanpa memperdulikan Fahri.


“Dugaan Ku benar, dia baik padaku pasti karena ada maunya. Dan ini maunya, agar aku lembut padanya dihadapan keluarganya nanti” gumam Lita tersenyum sinis seakan dia sudah tahu alasan Fahri baik padanya beberapa hari ini. Pria itu mana ada rasa penyesalan, laki-laki bejat seperti dia tidak mungkin memilikinya.


........................


Fahri duduk di meja kerjanya, memegang Hp seperti menunggu sesuatu. Dia seperti tidak tenang memikirkan suatu hal yang mengusiknya, apalagi yang ia pikirkan kalau bukan Lita. Sudah hampir seminggu perempuan itu masih mendiami dirinya menganggap dirinya tak ada, sebegitu marahnya kah perempuan itu.


Saat ini dia sendiri tengah menunggu telpon dari mbok Jum yang akan memberi kabar, dia memang seminggu ini menyuruh mbok Jum untuk terus mengabari dirinya soal Lita. Disaat dia tengah menunggu kabar Hpnya bergetar singkat menandakan pesan masuk di Hp tersebut. Buru-buru dia melihatnya siapa tahu itu mbok Jum.


Harapannya hanya sebuah harapan, bukan dari mbok Jum tapi dari nomer yang tidak ia kenal sama sekali. Tapi nomor ini begitu familiar di kepalanya.


Dia membuka pesan itu, sebuah foto yang nomer itu kirimkan padanya. Fahri melihat foto itu, sekilas dari belakang itu tampak seperti Lita sedang memeluk seorang pria yang menunduk menenggelamkan wajahnya di bahu Lita sehingga dia tidak bisa melihat wajah pria itu.


Ini bukan pertama kalinya nomer itu mengirimkan foto Lita dengan pria lain tapi ini sudah kesekian kalinya. Dan lagi walaupun bukan pertama kalinya tapi mampu membuatnya naik pitam entah kenapa dia menjadi emosi saat ini. Padahal berkali-kali ia tegaskan ia tidak mencintai Lita.


“Siapa sebenarnya pengirim ini, kenapa dia terus mengirimkannya padaku” emosi Fahri mencengkram kuat Hpnya.


Segera saja dia menelpon mbok Jum, apa yang dilakukan pembantu itu sampai tidak mengabarinya. Apa karena Lita sedang dengan pria lain makanya dia tidak mengabari. Batin Fahri marah.


“Halo, kemana saja kau hah.” Sentak Fahri saat panggilan telpon di angkat.


“Maa..maaf den, mbok masih sibuk memasak” ucap Mbok Jum.


“Alasan,Lita dimana sekarang? Dia bertemu siapa di rumah?”

__ADS_1


“Lita ada di kolam renang den, dia tidak bertemu siapa-siapa”


“Jangan bohong”


“mbok tidak bohong den, mbok berkata jujur”


“Awas kalau saya tahu kamu berbohong mbok” ucap Fahri dengan nada mengancam, dia benar-benar tidak percaya.


Dia langsung mematikan panggilannya begitu saja, dia harus membuktikannya sendiri. Fahri bangkit dari duduknya dan berjalan dengan cepat keluar dari ruangannya saat ini.


........................


David melempar Hpnya ke tempat tidur, dia tersenyum miring. Dan perlahan dia menuju Balkon saat ini dimana Hpnya yang satunya ada di meja balkon kamarnya. Di situ dia tidak sendiri melainkan bersama dengan Thalia adiknya yang jarang di rumah.


“Kak David memang Parah,” ucapnya menyesap teh di cangkir mewah depannya.


“Kalau aku tidak begini, dia tidak akan lepas dari sangkar burung Lia” ucap David.


“Tapi caramu salah kak, dia bisa terluka atau lebih parah lagi. Mungkin bisa tidak ada,” pungkas Thalia menatap kakaknya tak percaya.


David terdiam, mencerna lagi perkataan adik bungsunya tersebut.


“Kalau sampai dia terluka, aku akan memberi pelajaran pada orang itu” ucap David.


“Apa kenapa?” David terkejut dengan Fakta itu.


“Aku sudah bosan dengannya, aku sudah ada gebetan lain” ucap Thalia.


“Kau mencampakkannya, dia mencintaimu Thalia..” ucap David sedikit menaikkan nada bicaranya.


“Apa kakak yakin Rey mencintaiku, aku tidak yakin..” sinis Thalia.


“Sudahlah tidak usah bahas dia, aku sudah putus mau bagaimana lagi aku sudah tidak mencintainya” tukas Thalia.


“Aku mau pergi dulu, selagi di Indonesia aku ingin menemui teman-temanku. Kabari aku kalau butuh bantuan lagi” ucap Thalia meminum tehnya sebentar dan langsung pergi dari balkon itu.


“Iya, terimakasih” ucap David melihat kepergian adiknya yang selalu berpakaian seksi itu.


..........................


Fahri masuk kedalam rumahnya dengan membanting pintu dia berjalan cepat kearah dapur menemui mbok Jum untuk menanyakan dimana Lita. Namun belum sempat dia ke dapur tatapannya sudah teralihkan pada Lita yang duduk di sofa ruang tengah sedang menonton siaran televisi.

__ADS_1


Dia terdiam di tempatnya saat ini,


“Itu dia, dia ada di rumah lalu foto itu” gumamnya memperhatikan Lita yang duduk tidak melihatnya.


“Tapi bisa jadi dia baru saja pulang dari menemui pria itu” ucap fahri menepis itu.


Dia segera berjalan menghampiri Lita yang belum menyadari kehadirannya.


“Kau darimana saja hah?” Fahri datang-datang langsung menarik tangan Lita mau tidak mau membuat Lita berdiri dan menatap Fahri tak mengerti.


“Apa maksudmu?”


“Jangan pura-pura bodoh, darimana saja kau tadi” bentak Fahri.


“Kau gila, aku sedari tadi di rumah” sinis Lita menghempas tangan Fahri yang mencengkeramnya.


“Jangan membohongiku mengerti” Fahri mencengkram kuat dagu Lita.


Lita menatap tajam Fahri, dan dia tidak merasa takut.


“Cihh,” Lita meludah tepat di wajah Fahri, dia semakin tajam menatap suaminya itu.


Fahri sendiri dibuat tak percaya Lita berani padanya,


“Tanya mbok Jum, aku tidak kemana-mana” sinis Lita.


“Be..benar den, Lita tidak kemana-mana tadi” ucap Mbok Jum taku.


Fahri langsung melepas cengkeramannya pada dagu Lita, dia menatap Mbok Jum.


“Jangan membohongiku mbok” ucapnya.


“Aku tidak bohong den, mbok memang berkata benar. Lita tidak kemana-mana, den Fahri bisa cek CCTV rumah ini” ucap Mbok Jum takut.


“Mantan Polisi tapi bodoh, kau lihat saja CCTV di rumah ini” sinis Lita dan langsung melenggang pergi dari hadapan Fahri.


Fahri langsung terdiam berdiri mematung sambil melihat kepergian Lita. Benar sekali dia kenapa bisa bodoh begini, di rumah ini kan ada CCTV kenapa dia tidak melihatnya dari situ.


“Apa ada seseorang yang memanas-manasi ku dan membuat aku tidak percaya pada Lita? Tapi kenapa orang itu melakukan ini. Ja..jangan-jangan foto itu juga rekayasa” Fahri langsung tertegun mengingat semua yang nomor itu kirimkan padanya.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2