
“Jaga mulutmu, jangan asal” Fahri langsung menatap Rendi dengan tatapan nyalang.
“Ya maaf, ayo pulang aku antar dirimu pulang. Kau mau pulang ke rumahmu atau ke Apartement?” lirih Rendi takut dapat menyinggung perasaan Fahri.
Fahri memang semenjak pulang dari Belanda juga dia tidak tinggal di rumah yang dulu ia tempati bersama Lita. Tinggal di rumah itu membuatnya tersiksa mengingat kenangan –kenangan pahit yang ia berikan pada perempuan baik seperti Lita.
“Ke Apartemen saja” ucap Fahri setelah sempat terdiam.
“Baiklah ayo, kau masih ingin muntah atau tidak,” Rendi membantu Fahri untuk berdiri.
“Sudah tidak lagi, tapi kepalaku masih pusing mungkin karena efek dari Alkohol” Fahri begitu lemas tak bertenaga pikirannya pun tidak fokus dia terus memikirkan Lita. Dua bulan sudah dia hidup tanpa Lita yang dia inginkan dari dulu. tapi saat Lita benar-benar pergi rasanya dia tidak bisa hidup tanpa perempuan itu.
Berkali-kali dia mencoba mengakhiri hidupnya tapi tak pernah bisa ia lakukan selalu saja gagal.
“Andai aku bisa memutar waktu Rendi, aku akan menghapus dendam ku dan mencintai Lita sebelum diriku menyesal seperti ini. Hatiku kosong, letih, tak bertenaga” Fahri duduk didalam mobil berbicara menatap Rendi yang akan menutup mobilnya.
Rendi hanya bisa diam melihat Fahri yang langsung tertidur, dia merasa kasihan pada Fahri saat ini. Fahri yang awal dulu ia kenal orang yang ceria tegas, tapi karena dendam dia menjadi kejam dan sekarang menderita karena penyesalan.
........................
“Kak rey kenapa sih sudah mau kembali ke Indonesia, kau baru datang kemarin sekarang sudah harus balik lagi” ucap Lita tidak terima saat Rey berpamitan padanya untuk kembali ke Indonesia.
“Maafkan aku, aku banyak pekerjaan jadi tidak bisa berlama-lama disini” tukas Rey sesekali menatap David.
Lita menyadari itu, dia menatap curiga kedua orang tersebut. Ia rasa Rey pulang ke Indonesia buru-buru karena di suruh oleh kakaknya David sebenarnya apa yang dilakukan kakaknya itu tanpa sepengetahuan dirinya.
“Kamu jangan marah ya? Kakak Janji kak Rey bakal kesini lagi demi kamu” ucap Rey mencubit hidung Lita.
“Arkh sakit kak” pungkas Lita memegangi hidungnya bekas di cubit Rey barusan.
“Makanya jangan cemberut begitu”
“Aku kemarin sudah senang kak Rey menemui ku dan aku ada temannya tapi sekarang malah buru-buru pulang.” Ucap Lita.
“Maaf ya” Rey mengusap kepala Lita lembut.
“Aku pergi dulu, David Naya. Aku pergi” ucap Rey menenteng tes coklat berjalan pergi keluar dari rumah yang ditempati Lita dan david serta Naya.
“Ya hati-hati” ucap David.
“hati-hati Rey” sahut Naya.
Rey hanya tersenyum, sambil berjalan kearah mobil jemputan yang telah menjemputnya saat saat ini.
__ADS_1
Lita memandang sedih mobil yang ditumpangi rey itu sudah berjalan pergi, padahal dia berharap bisa banyak bicara dengan Rey tapi pria itu sudah harus kembali.
“Kak David menyuruh kak Rey apa sehingga dia hari ini harus kembali ke Indonesia?” setelah mobil yang di tumpangi Rey menghilang tak terlihat Lita langsung menatap kakaknya yang sedari tadi ada disampingnya.
“Aku tidak menyuruhnya melakukan apapun, dia sendiri yang mau pulang sekarang karena sibuk. Sudah sana masuk” David melipat kedua tangannya di dada melihat Lita.
Lita hanya diam dan berjalan masuk mengikuti apa kata kakaknya barusan, dia saat ini malas berdebat hatinya begitu sedih nan kacau. Dia rindu pada Mamanya, Mama Nafa. Bagaimana mamanya itu saat ini, kalau dia menelpon mereka semua pasti tahu kalau dia masih hidup sedangkan dia harus menghilang dari hidup pria brengsek itu.
“kamu tidak ingin pulang ke Indonesia, ini sudah dua bulan berlalu dan kamu tidak pulang sama sekali. Keluargamu apa tidak merindukanmu, apalagi kamu berbohong pada mereka mengenai dirimu dimana saat ini” ucap Naya menatap David yang berdiri sedikit berjarak didepannya.
David melihat kerah kekasihnya tersebut,
“Aku tidak akan pernah pulang selama Papaku masih membela pria yang telah menyakiti adikku. Kau tahu sendiri bagaimana aku, aku tidak terima pada siapapun yang telah menyakiti adik-adikku. Aku tidak akan membiarkan orang berbuat jahat pada adik-adikku.” Tegas David dan menarik Naya dalam pelukannya.
“Kamu selalu memahami diriku, dan selalu bersabar menghadapi ku yang keras kepala ini.”Tambah David memeluk hangat Naya yang menerimanya begitu saja dalam diam.
..........................
Fahri bangun dari tidurnya yang hanya sebentar, semalam habis dia minum-minum di club dan dibawa pulang oleh Rendi dia masih tidak bisa tidur meskipun dia melihat foto Lita. Dia saat ini bangun dengan memegangi kepalanya, mendudukkan dirinya dengan lemah setiap kali dia bangun pasti rasa hampa yang menemaninya. Berat sekali hidupnya saat ini kosong tak ada harapan.
Dia melihat sekilas foto Lita yang ada di tempat tidurnya, ia mengambil foto itu. Memegangnya penuh kerinduan.
“Bagaimana caraku menyusul mu? Aku merindukanmu. Diriku tidak sanggup lagi” ucapnya menahan tangis melihat foto Lita yang tersenyum.
Huekk,
Ditengah kepedihan Fahri saat ini tiba-tiba saja dia langsung ingin muntah, membuatnya secara refleks menutup mulut dengan kedua tangannya dan menaruh begitu saja foto Lita. Ia langsung berlari kearah kamar mandi yang ada di dalam kamarnya saat ini.
Huek,.
Huek..
Dia hanya memuntahkan cairan bening saja, tidak ada makanan atau apapun keluar dari mulutnya. Berkali-kali dia muntah membuat badannya saat ini limbung perlahan. Fahri memegangi closet agar tubuhnya tidak terjatuh.
“Ada apa denganku, kenapa badanku sering lemas dan muntah beberapa hari ini” ucapnya lirih duduk begitu saja dikamar mandi.
“Fahri, fahri” terdengar suara seseorang yang memanggil-manggil Fahri dari luar kamar.
“Fahri kau kenapa?” kaget Rendi saat melihat Fahri yang duduk didalam kamar mandi.
“Biasa, bisa bantu aku berdiri” ucap Fahri yang tak bertenaga.
Rendi langsung membantu Fahri untuk berdiri,
__ADS_1
“Apa perlu aku antar ke dokter?” ucap Rendi menawarkan diri.
“Boleh, aku merasa ada yang aneh denganku beberapa hari ini. Mungkin kalau diperiksakan akan tahu apa penyebabnya” ucap Fahri yang berjalan pelan dibantu oleh Rendi.
“Baiklah, aku antar kau ke dokter”
...........................
“David, David” Naya berteriak cukup keras memanggil David dari kamar Lita dia begitu khawatir saat ini saat melihat Lita tidak sadarkan diri dilantai. Niatnya tadi akan mengajak Lita untuk pergi jalan-jalan tapi betapa terkejutnya dia saat melihat perempuan itu tidak sadarkan diri.
“Ada apa?” David yang datang masuk melihat kedalam kamar Lita juga ikut terkejut saat melihat kekasihnya itu memangku Lita sambil mencoba untuk membuat Lita tersadar.
“Lita kenapa?” ucapnya cemas berjalan mendekati Naya dan juga Lita.
“Aku juga tidak tahu, saat aku masuk dia sudah tidak sadar begini”
“Minggir,” David langsung menggendong Lita menaruh adiknya itu di tempat tidur.
Dia memeriksa nadi adiknya, dan masih berdetak. Berarti Lita saat ini hanya pingsan saja, kau jaga dia sebentar aku akan memanggil dokter” ucap David meminta pada Naya untuk menjaga Lita dia langsung berjalan keluar dari kamar tersebut.
“Lita bangun Lita,” ucap Naya berusaha membangunkan Lita. Tapi perempuan yang lebih muda dari dirinya itu tak kunjung bangun. Naya langsung berdiri mencari aromaterapi yang mungkin bisa membangunkan Lita.
Tapi baru beberapa langkah Lita sudah membuka matanya,
“Mbak Naya,.” Lirihnya memanggil Naya.
“Lita kau sudah sadar” Naya langsung bergegas menghampiri Lita.
“Kamu kenapa kenapa bisa tidak sadarkan diri begitu dilantai” ucap Naya membantu Lita untuk bersandar ditempat tidur.
“Aku tidak tahu mbak, tadi aku mau mengambil air di meja sambil memikirkan Mama tapi tiba-tiba aku tak sadarkan diri”ucap Lita bingung.
“Ya sudah kamu istirahat dulu saja, kakakmu sedang memanggil dokter.”
“Lita sudah sadar,” ucap David yang selesai menelpon dokter.
Dia langsung berjalan menghampiri adiknya,
“Kau membuatku takut saja” ucapnya sambil memeluk Lita.
°°°
T.B.C
__ADS_1