Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 140 (Season 2)


__ADS_3

Rendi tampak gundah, sesekali dia memijat keningnya, saat ini dia belum pulang ke rumah karena harus menggantikan rekannya dinas malam. Mau tidak mau ia melakukannya karena waktu dia cuti kemarin rekannya tersebut sudah menggantikan dirinya.


Thalia sendiri sudah ia kabari kalau dia kemungkinan akan pulang larut atau bahkan menjelang pagi karena ia harus ikut keliling untuk melihat masyarakat yang masih berkumpul dimalam hari.


Dan saat ini yang membuatnya pusing bukanlah dia yang harus menggantikan rekannya untuk dinas malam. Tapi masalah mamanya, dia bingung harus apa sekarang. Haruskah ia membebaskan sang Mama atas apa yang perempuan itu lakukan padanya.


Rendi langsung mengambil ponselnya yang ada di atas meja dan dia langsung berdiri untuk menelpon seseorang saat ini.


“Mau kemana Ren?” tanya Valdo pada Rendi yang akan berjalan pergi.


“Mau nelpon rumah” jawa Rendi dan langsung berlalu pergi dari situ.


Mereka memang tengah berkumpul di salah satu ruangan untuk menunggu anggota yang belum datang untuk mendengarkan arahan pimpinan mereka.


“Rendi masih ada masalah dirumahnya, ini hari pertama dia masuk tapi seperti banyak beban” tukas Faldo bertanya pada Hardi yang duduk didepannya.


“Mungkin khawatir dengan istrinya” balas Hardi tak terlalu menghiraukan ke kepoan Valdo.


“Istrinya memang kenapa?”


“Habis melahirkan dan satu anaknya tak tertolong” jawab Hardi singkat.


‘Wah, pasti depresi banget itu istrinya” pungkas Valdo yang langsung diam, karena dia tahu kehilangan itu menyakitkan.


Hardi hanya diam saja dan sesekali menulis sesuatu di buku kecilnya saat ini. dia sebenarnya tahu apa yang sedang di pikirakan Rendi tapi dia malas saja membicarakan orang lain. Cukuplah dia dan Andre saja yang tahu maslaah Rendi dan keluarganya.


...................................................


“kamu serius Revan pulang ke Padang malam ini, kenapa tidak pulang bersama Papa dan bunda kamu beberapa hari lagi?” tanya Aryo pada Revan yang akan berpamitan untuk pulang ke Padang.


“Aku ada kerjaan di Padang Om, dan dua hari lagi aku ke Kalimantan. Jadi maaf ya om nggak bisa lama-lama” ucap Revan yang duduk di meja makan saat ini.


Keluarga Thalia memang sedang makan malam di rumah, kecuali Rendi yang memang tidak bisa pulang saat ini.


“ya sudah nanti kamu hati-hati, kamu diantar sama siapa?” ucap Aryo berpesan pada Revan.


“Nanti Revan saya yang mengantarnya pak Aryo” sahut Rino pada besannya tersebut.


“Oh Pak Rino yang mengantarnya, kalau nggak pakai mobil saya saja pak ke bandaranya” ucap Aryo.


“Nggak usah pak, biar saya naik taksi saja dengan istri saya juga” tolak Rino yang merasa tak enak jika harus memakai mobil sang besan.

__ADS_1


“Udah nggak papa pak Rino pakai aja, kayak apa aja. Kita kan keluarga” pungkas Nafa.


“Iya pa, pakai mobil Papa Aryo aja. Atau pakai mobilku saja pa, itu tidak pernah aku pakai beberapa bulan ini” ucap Thalia meminta mertuanya memakai mobilnya saja kalau tidak enak dengan Papanya.


“Waduh nggak usah Thalia,”


“Udah nggak pa-pa pa, kenapa sih. menganggap aku mantu nggak sih pa. Bukannya Papa sama bunda bilang aku anak kalian juga, jadi pakai aja” tukas Thalia sedikit meninggikan suaranya.


“Ya udah pa, pakai aja mobilnya Thalia” ucap istri dari Rino.


“Iya pakai aja pak, nggak usah nggak enak gitu” ucap Nafa.


“Ya sudah Papa pakai mobilmu saja Thalia” ucap Rino sedikit merasa tak enak sebenarnya.


“Nah gitu dong pak, kita satu keluarga jadi jangan sungkan begitu” pungkas Aryo yang merasa lega karena besannya mau mengenakan mobil dari keluarganya.


“terimakasih ya Om, dan kau Thalia” ucap Revan mengucapkan rasa terimakasihnya.


“Hemmm,’ jawab Thalia.


“Maaf non Thalia, Relia di atas nangis. Kayaknya dia laper” ucap BI Jumi yang berjalan sedikit cepat kearah Thalia.


“Oh iya, tunggu sebentar” Thalia langsung berdiri dari duduknya saat ini saat mendengar anaknya menangis.


“Pak Rino tolong d maklumi sikap Thalia ya, memang sikapnya keras begitu” ucap Ary saat Thalia sudah pergi.


“Iya tidak apa-apa kok pak, saya sudah tahu menantu say seperti apa. dia meskipun begitu tapi baik kok” pungkas Aryo yang paham akan sifat Thalia. Dia tidak masalah menantunya seperti itu.


“Ya sudah kalau begitu mari kita lanjutkan makannya” ucap Aryo mengajaknya untuk makan kembali setelah perbincangan mereka.


..............................................


Saat ini Rino mengantarkan Revan ke bandara bersama dengan istrinya, dia tidak jadi menggunakan mobil milik Thalia. Karena mobil itu mobil sport dan dia tahu caranya.


Jadinya saat ini dia menggunakan mobil milik Aryo dan meminta sopir sang besan mengantar mereka ke bandara saat ini.


Sambil menunggu jam penerbangan Revan, Rino tampak berbicara sebentar dengan anaknya itu yang duduk di depannya saat ini.


“Kamu tadi jadi menemui Mamamu? Lalu gimana dia dan tanggapan Rendi?” tanya Rino yang penasaran dengan pertemuan Revan.


“Mama sudah dipindahkan ke lapas pa, karena keluarganya tidak ada yang menjamin dirinya”

__ADS_1


“Astaga, kamu serius Revan. Kalau begitu kamu saj yang menjadi penjamin untuk mamamu” ucap bunda Revan yang tampak terkejut mendengar hal itu.


“Aku nggak bisa bun, aku harus menghargai Rendi. Kalau aku jadi penjamin Mama sedangkan yang menjebloskannya ke penjara Rendi. Aku nggak enak sama dia” pungkas Revan mengutarakan kebingungannya saat ini. dia sebenarnya kasihan dnegan sang mama tapi mau bagaimana lagi.


“Lah Daddy Mu dan adikmu yang ada di Amerika sana . apa tidak mau menjadi penjamin bagi Mamamu”


“Aku kurang tahu pa soal itu, tapi Mama bilang kalau pria itu sibuk jadi tidak bisa. Sedangkan Jenifer entah kenapa dia tidak bisa menjadi penjamin Mama”


“Kalau Rendi sendiri bagaimana?” tanya bundanya yang penasaran.


“Rendi ya begit bun, dia tidak bicara apa-apa dan langsung pergi”


“terus bagaimana nasib mamamu nanti Revan, kasihan kalau dia lama-lama di penjara” ucap istri Rino mengungkapkan ketakutannya. Meskipun itu mantan istri suaminya dan dia belum pernah bertemu tapi rasanya dirinya yang sesama perempuan tak tega melihat mantan istri suaminya di penjara cukup lama diusianya yang paruh baya.


“Sudahlah bun kamu tidak usah memikirkan itu” ucap Rino menenangkan istrinya.


“Kamu tidak bisa membujuk Rendi lagi van?” lanjut Rino menatap sang anak penasaran.


“Bukannya aku tidak bisa pa, tapi aku tidak mau karena menghargainya. Dia pasti kecewa dengan Mama. Apalagi aku dengar Mama malah pergi begitu saja saat Thalia akan melahirkan”


“Ya sudah kalau begitu biarkan saja seperti ini, biarkan Rendi yang memutuskan nanti. Papa yakin Rendi pasti tidak akan setega itu dengan mamanya sendiri. pasti dia juga memikirkan hal lain saat ini” ucap Rino sambil menghela nafasnya.


“Mungkin pa” ucap Revan dan juga istri Rino.


......................................................


“Terserah dirimu jika kau tidak menuruti apa kataku, kau menyesal nantinya?” ucap Rendi di telpon. Entah dia sedang berbicara dengan siapa saat ini yang jelas raut wajahnya terlihat begitu serius.


“Soal itu kau tidak usah khawatir, aku yang akan membantumu. Yang jelas kau datang kemari temui Mamamu, bila perlu Papamu yang kaya itu ajaklah kemari” ucap Rendi lagi dengan bahasa inggris.


“Berapa kali aku bilang, tinggal ikuti saja apa kataku. Kau bukan bocah dibawah umur lagi, usiamu sudah di atas tujuh belas tahun mengerti” tukas Rendi masih berbicara dengan bahasa inggris.


“Hemm, aku kirimkan uang. Dan tiket yang kau mau” lanjutnya lagi.


“aku matikan” ucapnya selanjutnya saat mendengar perkataan dari seberang sana. Panggilan langsung terputus saat ini. dan Rendi kembali memasukkan ponselnya kedalam saku celananya.


Dia melihat kearah jam hampir tengah malam, dan saat ini dia harus apel dan harus ikut berkeliling mengendarai motor untuk mengecek masyarakat yang kemungkinan sedang berhuru hara di luar.


“Joe Houston pria pengecut seperti itu” gumamnya sambil tersenyum sinis berjalan keluar ke arah halaman depan kantor polisi.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2