Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 82


__ADS_3

Fahri mengeluarkan koper-koper milik mereka dan juga keperluan mereka yang lainnya. Sepasang suami istri itu saat ini telah siap untuk pindah ke rumah baru mereka.


“Sudah selesai atau belum, kalau masih banyak yang harus di keluarkan biar aku bantu” ucap Lita menawarkan bantuan pada Fahri.


“tidak usah, ini saja yang akan kita bawa. Sisanya kita ambil kapan-kapan lagi atau tidak nanti aku suruh orang untuk yang membawanya” pungkas Fahri menatap Lita dan dia menunduk sambil mencium kening Axel yang ada di gendongan istrinya tersebut.


Fahri sendiri saat ini hanya mengeluarkan dua koper besar dan satu koper kecil.


“Mana koperku biar aku saja yang bawa” ucap Lita meminta Fahri mendekatkan koper miliknya padanya.


“tidak usah biar aku saja, kamu gendong Axel saja. Kamu juga sudah membawa Ransel di punggungmu” pungkas Fahri melarang Lita untuk membawa kopernya.


“Memang kamu bisa membawa itu semua sendiri, sudahlah aku bisa membawanya sambil menggendong Axel. “ tukas Lita tetap bersi kukuh, dia beralih mengambil kopernya sendiri tanpa menyuruh Fahri.


“Sayang sudahlah, aku saja” ucap fahri akan mengambilnya lagi dari tangan Lita.


“Nggak, pokonya aku bawa sendiri. Aku bisa, sudah ayo” ucap Lita terus bersi keras dengan pendiriannya.


“ya sudah kalau itu mau mu” Fahri akhirnya mengiyakannya saja. Dia segera memegang kedua koper yang lain menariknya di lantai sambil berjalan mengikuti Lita yang sedikit berada di depannya saat ini.


....................


Di dalam mobil fahri sesekali melihat kearah Lita yang mengajak bicara anaknya, Fahri tersenyum melihat hal itu.


“Axel masih bayi sayang, dia tidak akan menjawabmu” lirih Fahri menatap senang istri.


“ya justru itu, aku melatihnya untuk lebih aktif nantinya saat dewasa” pungkas Lita pada Fahri.


Sebenarnya Fahri bingung melatih apanya, mana bisa itu mempengaruhi seorang bayi di usia dewasanya nanti.


“Kamu sudah bilang dengan kak David kalau kita pindah bukan di apartemen lagi” tanya Fahri pad istrinya itu.


“belum, kenapa harus bilang padanya.?” Heran Lita menatap aneh Fahri kenapa juga mereka harus bilang pada David kalau mereka pindah ke rumah baru.

__ADS_1


“ya aku takutnya dia menuduh ku aneh-aneh, nanti aku dikira membawa mu pergi atau menghabisi dirimu” tukas Fahri dengan jujur mengungkapkan dugaannya soal David yang akan menuduh dirinya nantinya. Karena dia masih melihat keraguan David akan dirinya.


“tidak, dia tidak akan seperti itu padamu.” Ucap Lita menenangkan Fahri.


“bagaimana bisa dia tidak berpikir begitu, dia saja berpikir untuk membuatku marah denganmu” gumam Fahri sambil menatap jalanan di depannya.


“kamu bilang apa barusan?” Lita langsung melihat ke arah Fahri yang sedang fokus menyetir.


Fahri melihat sekilas kearah Lita, dia menggeleng.


“tidak, aku tidak bilang apa-apa” bohongnya karena tidak mungkin dia bilang soal masalah dulu. lagipula David juga sudah sedikit menerima dirinya tapi masih belum sepenuhnya.


“kau tadi serius tidak bilang apa-apa?” tanya Lita penasaran dan dia sedikit menaruh curiga pada Fahri.


“nggak sayang, udah kamu tidurkan saja Axel. Dia haus sepertinya” ucap Fahri sembari mengusap lembut kepala Lita dan dia kembali fokus menyetir mobil miliknya menuju ke rumah baru mereka yang sebentar lagi sampai ditempat itu.


Rumah yang sudah berbulan-bulan dia bangun untuk istri dan juga anaknya, rumah idaman bagi keluarga mereka kedepannya.


Naya baru saja selesai menelpon seseorang di luar resort yang dirinya dan David tempati di Bali saat ini. David berdiri di tengah pintu bersandar di pintu itu sambil memperhatikan Naya yang selesai menelpon dan saat ini berbalik untuk masuk kedalam.


Naya sedikit terkejut saat melihat David yang bersedekap sambil menatap dirinya dengan taja dan dingin.


“ka..kamu disini?” ucapnya gugup saat melihat David.


“Siapa yang kau telpon?” tanya David.


“i..itu, te..temanku saat di Amerika dulu” Naya tergagap menjawab pertanyaan David. Pria berstatus suaminya tersebut seperti menaruh curiga padanya saat ini.


“jangan bohong padaku, siapa?” ucap David langsung menarik lengan Naya mendekat padanya.


“arggh sakit David” rintih Naya kesakitan sambil menatap David.


“Bilang padaku siapa yang menelpon mu?” pungkas David dengan paksa.

__ADS_1


“Kan aku sudah bilang temanku di Amerika” tegas Naya mencoba melepas tangan David dari lengannya.


“Mana ponselmu,” David merebut paksa ponsel milik Naya padahal Naya sudah melarangnya dan bersikeras memberontak.


“david, aku tidak suka ya. Kamu mencampuri urusanku” tegas Naya menaikan nada bicaranya.


“Aku suamimu, aku berhak atas itu” sinis David sambil melihat ponsel milik Naya.


“David kembalikan ponselku” tukas Naya memaksa mengambil ponsel miliknya.


David menaikan itu ke udara, dengan tangannya yang aktif bergerak memeriksa ponsel milik Naya itu. Dia masuk kedalam kamarnya saat ini begitu juga Naya yang menyusul dirinya.


“Thalia,..” ucap David heran saat dia melihat panggilan terakhir di ponsel milik istrinya.


“Kenapa thalia menelpon mu? dan kenapa kau harus berbohong padaku?” tukas David sambil menatap Naya mengintrogasi.


“bukan urusanmu David, ini urusan sesama perempuan” pungkas naya dan mengambil kembali ponsel miliknya dari tangan David dengan paksa. Dia langsung pergi ke arah tempat tidur membaringkan tubuhnya disitu membelakangi David.


David melihat sebentar pada istrinya itu, dia menghela nafas panjang sebelum melangkah mendekat ke arah perempuan itu. Dia berjalan kehadapan naya dan melipat kedua kakinya didepan perempuan itu yang berbaring.


“Urusan apa yang membuatmu menyembunyikan hal itu padaku, sampai kau bilang itu temanmu dari Amerika. Kau membuatku berpikir yang tidak-tidak saja? Dan membuatmu terluka seperti ini” ucapnya sambil meraih tangan Naya melihat bekas cengkraman yang terbentuk dengan jelas di pergelangan tangan putih perempuan itu.


“Aku bilang urusan antar perempuan, kau tidak usah ingin tahu. Dan bisa tidka kau tidak berpikir negatif terhadap. Kau tadi seakan tidak mempercayaiku?” lirih Naya sambil mendudukkan dirinya melihat david dengan kecewa. Pria itu dari dulu sampai sekarang selalu saja keras dan selalu berpikir aneh-aneh dengannya.


“Aku minta maaf, aku..aku hanya penasaran dengan siapa kau bicara sampai diluar begitu seakan tidak ingin didengar olehku” ucap David merasa bersalah dia menggenggam tangan Naya mencium pergelangan tangan itu.


“Kalau selalu saja bilang maaf, tapi terus kau ulangi lagi setiap saat David. Kalau kamu seperti ini jujur aku tidak sanggup untuk terus bera...” belum juga Naya menyelesaikan ucapannya David terlebih dahulu membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman yang terkesan menuntut. Dia berusaha melepaskan ciuman itu dan ingin bicara lagi tapi tidak bisa David terus menciumnya bahkan saat ini pria itu sudah berada di atasnya menatap dirinya dengan nanar. Tatapan sedih begitu terlihat di matanya.


“Aku minta, sungguh. Jangan pernah berkata begitu lagi dan tolong jangan tinggalkan aku” ucap David sedikit bergetar. Dan dia kembali mencium Naya dengan lembut, ciuman itu perlahan-lahan menjadi panas dengan tangan david yang terus aktif bergerak menelusuri setiap inci tubuh Naya bahkan tangannya bergerak masuk kedalam baju yang dikenakan Naya saat ini.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2