Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
episode 103


__ADS_3

" Alhamdulillah kalau begitu yah " Ucap Zahra kepada pak Anwar yang berada di seberang telfon.


" Iya nak, oh iya usia kandungan kamu berapa Zahra " Tanya pak Anwar.


" Baru dua minggu ayah, ayah ingat jangan terlalu lelah ya yah, besok besok Zahra kesana, Zahra kangen sama ayah ibu dan adek "


" Iya baik lah nak, ayah dan ibu di sini juga kangen sama kamu "


" Zahra kamu harus hati hati nak kandunganmu masih muda " Ucap bu Fatma yang berada di sebelah sang suami di sebrang telfon itu.


" Ya ibu Zahra pasti hati hati, Zahra matikan telfon nya dulu ya bu "


" Baiklah nak "


" Asalamualaikum ayah ibu "


" Walaikum salam nak " ucap kedua orang tua Zahra bersamaan.


Dan panggilan pun terputus.


" Sudah selesai sayang " Tanya Bima.


" Iya sudah "


" Sayang ayo habiskan buburnya dulu " Ucap Bima kepada sang istri.


" Iya sayang suapi aku lagi " Ucap Zahra manja


" Sayang kau kenal manja sekali semenjak jadi bumil "


" Sayang, kan tadi kau sendiri yang akan menyuapiku "


" Astaga memang iya, maaf sayang tadi aku terlalu fokus menatapmu, jadi aku berbicara seperti orang bodoh "


" Hehehe.. Kenapa kau menatapku "


" Aku terlalu terpesona padamu Zahra "


" Sayang apa yang katakan sih, dari kemarin kau membuat ku terharu oleh kata katamu, dan sekarang kau membuatku malu sendiri oleh perkataan mu " Jelasnya kepada Bima.


" Untuk apa malu, aku memang selalu terpesona padamu Zahra, setiap kali aku bangun tidur dan melihat wajah bantal mu ini " Jelas Bima sambil mencubit hidung istrinya karena terlalu gemas melihatnya.

__ADS_1


" Sayang jangan mencubit hidungku seperti itu, sakit " Ucap Zahra sambil memegangi hidungnya saat ini sedangkan bibirnya sambil mengunyah bubur dari suapan suaminya tersebut.


" Iya iya maaf, ayo sayang satu sendok lagi" Ucapnya kepada Zahra sambil menyodorkan satu suap ke mulut istrinya.


Sedangkan Zahra langsung membuka mulutnya mengunyah kembali bubur tersebut sampai habis.


" Habis, bumil ku pintar sekali ya " Ucap Bima sambil mengacak-acak rambut istrinya.


" Sayang jangan begitu rambutku tambah berantakan "


" Biarkan saja, kita kan segera mandi sekarang, ayo sayang aku akan menggendong mu ke kamar mandi " ucap Bima kemudian mengulurkan kedua tangannya untuk menggendong sang istri.


" iya baiklah, hati hati sayang "


" iya sayang mana mungkin aku berniat menjatuhkan mu "


" iya sayang aku bercanda "


" ya sudah ayo gendong aku " ucap Zahra yang menyuruh suaminya agar cepat cepat menggendong tubuhnya saat ini.


" iya baiklah "


kemudian Bima mulai menggendong istrinya ke dalam kamar mandi mewah nya itu, dan perlahan lelaki tampan itu menurunkan sang istri ke dalam bathub yang berukuran besar di dalamnya.


dan perlahan keduanya kini mulai membuka pakaiannya masing masing, setelah keduanya polos tanpa sehelai benang pun, Bima mulai mendekat ke arah Zahra.


" sayang kau mau apa " ucap Zahra yang melihat ke arah suaminya yang mulai mendekat kepadanya saat ini.


" tidak ada, aku hanya ingin memangku mu di dalam bathub ini saja, tidak lebih " jelas bima


" untuk apa, ini bukan di kursi sayang "


" memangnya aku tidak boleh memangku istri ku sendiri meskipun di dalam sini hah " ucap Bima sedikit kesal.


" iya iya boleh, bibir mu tidak usah seperti itu sayang, nanti kau bertambah jelek " jawab Zahra sambil berniat mengajak suaminya itu bercanda.


" sayang kenapa sekarang kau sedikit menyebalkan sih " sahut Bima merasa kalau istrinya itu akhir akhir ini ucapannya sedikit menyebalkan.


" hahaha... itu karena aku ketularan dirimu sayang, apa kau tidak merasa dari dulu ucapan mu itu selalu menyebalkan " ucap Zahra seperti tidak ada takut takutnya kepada sang suami.


" memangnya iya, jadi dari dulu kau sering kesal ya padaku ya, ayo jujur Zahra " jawab Bima yang sedikit melirik ke arah gadis yang masih saja tertawa, yang berada di dekatnya itu.

__ADS_1


" iya sedikit sih, hahaha.... maaf sayang " jujur Zahra kemudian lagi dan lagi dirinya kembali tertawa.


" dasar bumil ku ini ya, mungkin jika kau belum hamil aku akan menggelitiki perut mu ini sayang, sampai kau meminta ampun padaku, sayang ampun.... sayang ampun... "


ucap Bima yang sangat gemas mendengar jawaban istrinya tersebut, kemudian sambil menirukan perkataan istrinya jika ia sedang menggelitiki Zahra sewaktu dulu sebelum istrinya hamil.


" hahaha.... sayang aku geli melihatmu menirukan diriku itu, sudah jangan teruskan aku sangat geli sekali " jawab Zahra yang seminar kali kembali mentertawakan suaminya itu.


" baiklah aku akan berhenti jika kau mau duduk di pangkuan ku sini, bagaimana " jelas Bima dengan raut wajah serius.


" memangnya untuk apa sayang, aku bisa duduk sendiri di sini, dan jika kau memangku diriku, kau tau sayang tubuhku sangat berat " jelas Fara yang justru membuat suaminya tertawa.


" hahaha.... berat dari mana hah, Zahra kenapa kau lucu sekali sayang, menggendong mu saja aku kuat, apalagi hanya memangku tubuh mu yang mungil ini sayang " ucap Bima yang masih tertawa saat ini.


" sayang kau mengejekku iya kan " ucap Zahra sambil menunjuk sangat suami tetapi sang suami masih tersenyum menatapnya.


" tidak, ya sudah kau duduk di pangkuan ku saja sayang apa susahnya sih " jawab Bima mulai serius.


" iya iya baiklah " ucap Zahra kemudian beralih di pangkuan Bima meskipun sekarang keduanya di dalam bathub.


" istri pintar "


" sayang sekarang kau sedang hamil, dan kau tidak boleh terlalu lelah, jika aku tidak ada di mansion, dan jika kau lapar suruh saja pak Tejo mengantarkannya ke kamar, agar kau tidak naik turun tangga sayang, itu berbahaya kau mengerti " ucap Bima yang mulai memberi perhatian kepada istrinya yang saat ini sedang mengandung itu.


" iya sayang aku mengerti, kau juga jika kau di kantor jangan suka menggoda perempuan di sana " jawab Zahra sambil mengingatkan sang suami.


" sayang apa yang kau katakan, kau takut kehilangan aku ya, Zahra ayo jawab aku cepat "


tanya Bima yang seperti antusias, karena dirinya merasa senang ini pertama kalinya istri kesayangannya itu mengingat kan dirinya apalagi tentang wanita, ya meskipun Bima memang tak pernah tergoda sama sekali dengan wanita di luaran sana satu sekalipun.


" iya aku takut kehilanganmu sayang, aku tidak tau akhir akhir ini aku selalu ingin menempel saja padamu dan selalu menginginkan dirimu di sampingku " jelas Zahra yang membuat Bima tersenyum bahagia.


" sayang itu tandanya anak kita yang berada di dalam sini, ingin dekat denganku " ucap Bima sambil mengelus perut Zahra yang masih rata.


" apa bisa begitu " tanya Zahra polos.


" bisa, buktinya saja kau selalu ingin berdekatan dengan ku bukan "


" iya juga ya, tapi kenapa bisa sayang " tanya Zahra lagi yang memang dirinya tak faham masalah seperti itu.


" sayang aku juga tidak tau, emmm...bagaimana kalau sekarang aku mengunjunginya di dalam sana apa boleh " tanya Bima yang juga berniat sedikit mengerjai istri polosnya itu.

__ADS_1


" maksudnya....mengunjugi bagaimana " tanya Zahra yang mulai terlihat bodoh jika mengenai hal yang sedikit sensitif.


__ADS_2