
Bali 🌴
Sheina dan Barra kini telah sampai di Vila mewah Bali milik Bima, vila yang sudah lengkap dengan fasilitas mewah nya di dalam sana, begitu juga mobil sport yang terparkir sempurna di garasi.
Ya itu adalah vila yang jarang sekali di kunjungi tentu nya, karena sedari dulu Bima sang Papa selalu di sibukkan dengan perusahaan yang lambat tahun semakin berkembang pesat.
Keduanya mulai masuk dengan raut wajah terlihat bahagia, sedangkan Barra sudah tak kaget dengan kemewahan Vila yang saat ini tengah ia masuki itu, karena ia sudah mengetahui akan kekayaan keluarga Sheina atasan dari Papa nya dulu.
" ahh.... sudah lama sekali sepertinya aku tak pernah kesini "
" memang jarang di tempati "
" Ya... kau tau sendiri Papa selalu sibuk dengan perusahaan nya, dan Mama tidak akan pergi kemana mana jika tanpa Papa "
Barra menyimak sambil mengangguk anggukkan kepala.
Keduanya mulai menaiki anak tangga.
Seketika terdengar suara ponsel berdering milik Barra.
tring...
tring....
Bunyi tanda pesan masuk di dalam sana.
Barra mulai mengambilnya di saku celana sebelah kiri.
Dan ia langsung melihat layar tipis ponsel miliknya.
Mama,.. tidak biasanya kirim pesan seperti ini gumam nya.
Kemudian Barra mulai membuka pesan tersebut.
**Bar, ingat buatkan mama cucu, mama sudah lama mendambakan seorang bayi dengan nyonya Zahra mertua kamu,
Mama tau kau dan Sheina belum pernah melakukan itu selama satu minggu kalian menikah, karena masih tahap pengenalan, dan kali ini Mama mohon kau harus bisa menjebol kan gawang Sheina**.
tulis Adinda di pesan nya.
Barra menjadi terkekeh geli sendiri membaca pesan dari sang Mama, menyuruhnya nya segera memberi momongan padahal hubungan nya dengan Sheina saja seperti bukan suami istri.
__ADS_1
" hah " Barra membuang nafas berat nya.
Kemudian memijit sedikit pelipisnya, merasa pusing sendiri atas pernikahan yang sudah satu minggu ini ia jalani bersama Sheina.
" Hei kau kenapa " tanya Sheina ketika melihat raut wajah Barra terlihat lesu sambil memijit pelipis nya itu.
Barra hanya menaik turun kan bahu nya, seolah malas menjawab perkataan gadis di dekat nya saat ini.
Sheina kemudian meraih ponsel Barra yang masih ia genggam, kemudian membaca pesan dari Mama mertua nya yang baru saja di baca oleh Barra.
Sesaat setelah membacanya.
Sheina mulai mendongakkan kepalanya menatap ke arah Barra yang kini tengah menaik turun kan kedua alis nya seolah meminta persetujuan atas pesan yang baru ia baca nya itu.
Seketika Sheina langsung menyilang kan kedua tangan di dadanya merasa takut sendiri dan mulai berteriak.
" AKKHHH..... " teriak nya dengan sangat keras.
Dengan segera gadis berparas ayu itu langsung berlari menaiki anak tangga untuk menuju kamar lantai atas.
Tak kalah Barra langsung mengejar langkah Sheina.
" Shei tunggu aku hei " teriak nya.
Kini Sheina sampai lah di kamar lantai atas dan mulai menutup pintu kamar, tapi sayang handel pintu kamar bagian luar sudah di raih oleh tangan berotot milik Barra sehingga membuat Sheina kesusahan untuk menutup nya dari dalam.
" AKHH.... mau kemana kau sekarang " ucapnya sambil menatap mimik wajah Sheina di balik pintu yang terlihat mulai ketakutan.
hahaha... dia sepertinya berpikir mesum padaku, lihat saja wajah nya sangat ketakutan, aku akan mengerjainya sepertinya seru gumam Barra.
sambil cekikikan di dalam hati.
" Dasar, pergi aku bilang " teriak Sheina dari balik pintu, yang terus berusaha menahan pintu agar tak bisa di buka oleh Barra.
" kalau aku tidak mau bagaimana " goda Barra.
Sheina membulatkan kedua matanya mendengar jawaban Barra, seolah menambah ketakutan nya saat ini.
" aku tidak menduga ternyata selama ini kau pria ... " ucap Sheina terhenti ketika tangan satunya lagi kesusahan memegang ponsel milik Barra, sehingga membuat nya tak begitu kuat menahan pintu.
" pria apa maksud mu hah "
__ADS_1
hahaha... dia semakin ketakutan jarang jarang aku melihat wajah nya seperti ini gumam nya lagi.
Sheina yang terlihat sedikit lengah, sehingga dengan mudah nya Barra berhasil mendorong pintu kamar terbuka lebar.
Berbeda dengan Sheina yang mulai memundurkan langkah sampai punggung milik nya menabrak tembok di belakang tubuh nya.
DUGGH...
Barra langsung mengembangkan senyum jahat nya untuk menakut nakuti Sheina yang perlahan menelan ludah nya kasar saat melihat dirinya mulai mendekat ke arah nya.
" berhenti aku bilang , ap.. ap.. apa yang ingin kau lakukan" tanya Sheina dengan raut wajah yang tak bisa di artikan.
" kenapa kau masih bertanya hah " goda Barra lagi dan lagi.
Antara Sheina dan Barra kini sangat dekat seperti tak ada sedikit pun jarak di antara keduanya, begitu dekat.
Sheina yang di landa ketakutan melihat Barra yang kini sudah berada pas di depan wajahnya itu segera menutup kedua matanya dengan sangat rapat.
Berbeda dengan Barra yang sedari tadi sudah tak tahan menahan tawa nya melihat tingkah Sheina.
Dengan segera Barra mengambil ponsel milik nya yang berada di tangan Sheina sebelah kiri.
Setelah itu kembali berucap.
" Sudah buka matamu aku hanya mengambil ponsel ku saja " ucap nya enteng
kemudian langsung membalikkan tubuh nya meninggalkan Sheina yang masih tetap mematung sendirian itu di pojok kamar dengan kedua matanya yang masih terpejam.
Perlahan Sheina mulai membuka kedua mata nya setelah itu melihat kepergian Barra yang mulai menjauh dari nya, meninggalkan tawa yang begitu nyaring ia dengar nya.
HAHAHA..... HAHAHA.... HAHA..
tawa Barra yang sudah menggema di seluruh ruangan kamar.
" Dasar pria gila " teriak Sheina sambil menghentak hentakkan kedua kakinya ke lantai, karena saking merasa sangat kesal nya sekaligus malu,
atas apa yang ia lakukan baru saja dengan pikiran nya yang sudah kemana mana menuduh Barra sebagai pria mesum.
Sedangkan tawa Barra tambah menggema mendengar teriakan Sheina yang terdengar kesal pada dirinya di dalam kamar sana.
Aku merasa senang sekali bisa membuat nya kesal seperti itu ucap nya.
__ADS_1
Dengan segera Barra masuk ke dalam kamar yang bersebelahan dengan kamar yang di tempati Sheina, kemudian langsung menghempaskan tubuh nya ke atas ranjang dengan senyuman yang masih menghiasi di kedua ujung bibir milik nya.