Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
berduaan


__ADS_3

Satu jam berlalu...


Setelah pergulatan panas di antara keduanya, Sekertaris Revan masih setia memeluk tubuh Adinda yang masih polos berbalut selimut tebal putih nya.


Perlahan Revan melepaskan pelukan itu untuk segera membersihkan tubuh nya ke kamar mandi.


" kak kau mau kemana " tanya Dinda sambil meraih tangan sang suami yang hendak melangkah ke kamar mandi.


" aku akan membersihkan tubuh ku sebentar sayang, sebentar saja setelah itu kita segera makan malam bersama " jawab Revan lembut.


" ya sudah baiklah, aku juga sudah memasak kan banyak untuk mu "


" ya aku akan menghabiskan semuanya nanti " ucap nya dengan tersenyum lebar.


Adinda pun melepaskan tangan sang suami agar segera menuju kamar mandi.


Lima belas menit kemudian.


Revan telah selesai dengan ritual beberes nya.


Dirinya baru saja keluar dari dalam ruang ganti, kemudian pandangan nya langsung tertuju pada Adinda yang masih terlihat acak acakan di atas ranjang dengan selimut putih nya yang sedikit melorot memperlihatkan area dada mulus miliknya.


Seketika Revan kembali tak berkedip memandang bagian tubuh Adinda.


" Dinda kau jangan menggodaku lagi Din " ucap nya.


" memang nya siapa yang menggoda mu lagi sih, aku masih lelah dan malas untuk dari ranjang "


" ya sudah kau diam di sana biar aku saja yang membawakan makan malam nya ke sini "


" tidak biarkan aku saja kak, itu tugas ku bukan sebagai istri " sahut gadis bermata bulat tersebut.


" iya aku mengerti,...tapi kau kan juga masih kelelahan, apalagi dengan keadaan mu yang tengah hamil Dinda " jelas Revan begitu terdengar lembut.


" kau perhatian sekali suamiku, balik lah aku akan menunggu mu di sini " ucap Adinda sambil membenarkan selimut nya yang sedikit melorot tadi.


Revan mengembangkan senyuman kemudian dengan segera bergegas pergi menuju meja makan di lantai bawah untuk mengambil beberapa masakan yang sudah di masak oleh Adinda di sana.


*****


Di dalam kamar.


Revan baru saja kembali sambil membawa nampan yang berisi beberapa macam masakan sang istri yang sudah mulai dingin itu, menuju ke arah ranjang.


" Din aku datang, ayo kita segera makan sayang" ajak nya sambil menaruh nampan di atas ranjang tepatnya di dekat Dinda.


" kak masakan nya sudah mulai dingin ya "


" sedikit sih "

__ADS_1


" aku panaskan lagi ya pasti tak enak jika mulai dingin "


" sudah tidak apa apa, masakan mu tetap lah enak Dinda ayo kita makan bersama " ajak Revan


Keduanya pun kini mulai makan bersama sesekali Adinda lagi lagi mengembangkan senyum nya menatap pria di hadapan nya itu, karena merasa sekertaris Revan sosok suami yang sering marah marah pada nya dulu, kini serasa sudah hilang menurut Adinda meskipun keposesifan pada dirinya masih ada.


" sayang kenapa kau senyum senyum sendiri " tanya Revan


" aku tidak apa apa sudah ayo lanjutkan " jawab Dinda kemudian kembali menatap piring di hadapan nya tersebut. begitu juga Revan.


Beberapa saat keduanya telah selesai acara makan malam nya.


Adinda dan Revan berniat menonton televisi sambil duduk di sofa single mewah di hadapan televisi tersebut.


Kini keduanya duduk berdampingan, sedangkan kepala Adinda menyender di pundak milik sang suami dengan dirinya yang tengah memakai piyama tidur berwarna abu abu begitu juga Revan.


Sedangkan tangan Revan memeluk bagian belakang tubuh Adinda dan tangan satunya lagi sesekali mengelus perut Adinda yang sedikit membuncit itu.


Entah yang mereka tonton film apa saat ini, keduanya begitu serius sesekali Adinda yang melihat Revan seperti tak berkedip itu mulai mengajaknya mengobrol.


" kak " panggil Dinda sambil menatap wajah Revan.


" Hem "


" kenapa Hem saja " ucap Dinda sedikit memanyunkan bibir ke depan.


" hah kau ini tidak seru " jawab Dinda lagi lagi sambil memanyunkan bibir nya ke depan.


" Dinda " panggil Revan yang mulai menatap serius wajah Adinda yang mulai tak bersahabat.


" tanyakan lah apa yang ingin kau tanyakan "


" kak tebak lah nanti anak kita laki-laki atau perempuan "


" memangnya kenapa kau tanyakan itu, anak kita mulai bergerak ya hem mana coba aku ingin melihat nya Din " ucap Revan yang kemudian langsung mencoba menaikkan baju atasan milik Adinda agar dapat melihat perut sang istri yang mulai sedikit membuncit itu.


" hehehe... bukan seperti itu maksudnya " sahut Dinda yang merasa sedikit kegelian akan kelakuan sang suami.


" lalu apa "


" coba kau tebak saja kak "


" aku juga tidak tau Dinda emangnya kenapa sih"


" seandainya laki laki aku akan menjodohkan nya dengan putri nona Zahra " jelas Dinda sambil tersenyum.


" apa kau bilang, kenapa kau selalu membicarakan itu sih Dinda " sahut Revan sedikit ketus.


" memangnya kenapa nona biasa saja, kenapa kau selalu kesal sendiri sih " ucap Dinda yang kini juga ikut kesal atas jawaban Revan.

__ADS_1


" Dinda mengertilah nona Zahra dan tuan Bima itu adalah atasan kita, mana mungkin mereka akan menjodohkan dengan anak bawahan nya Din " jelas Revan seolah mengingatkan Adinda.


" astaga hanya itu jawaban mu, kak aku dan nona Zahra sudah menjadi teman dekat dan kami sering membicarakan itu " ucap Dinda yang mulai serius akan pembicaraan tersebut.


" terus bagaimana jawaban nona " tanya nya.


" ya jawaban nona mau, bahkan menurut nona itu hal gampang katanya " jawab Dinda santai.


" ah... kau ini Dinda kenapa kau ada ada saja sih yang di bica... emm... emm... " ucap Revan terhenti ketika kedua tangan Adinda mulai membungkam bibir nya.


" sudah diam....kau bisa diam kan sayang atau kalau kau tak mau diam aku akan menggoda mu di atas sofa ini agar kau tidak tahan sendiri melihat ku yang sudah berani menggoda mu terang terangan hemm bagaimana " ucap Dinda sambil menaik turunkan kedua alis nya di hadapan pria yang saat ini tengah ia bungkam tersebut.


Sedangkan Revan mengangguk pelan dengan bibir nya yang masih di bungkam rapat oleh kedua tangan milik Adinda,


tetapi terlihat jelas dari kedua sorot mata Revan yang seolah menahan tawa ketika mendengar perkataan Adinda yang akan menggoda dirinya itu, begitu terdengar lucu di telinga nya.


Dan memang kenyataannya seperti itu, Dinda yang dulu sedikit malu malu kini sudah berani menggoda Revan terang terangan seperti hal nya tadi dengan pakaian sexy nya di atas ranjang untuk menyambut Revan se pulang kantor.


Ya meskipun dengan keadaan hamil, entah itu kemauan sang jabang bayi atau memang benar-benar kemauan Adinda sendiri yang mulai suka menggoda Revan suami posesif nya itu.


Adinda pun mulai melepaskan kedua tangan nya, dan memang benar Revan benar-benar tertawa terbahak bahak setelah bungkaman di bibir nya itu terlepas.


..HAHAHA.... HAHAHA... HUWA.. HUWAHAHA..


tawa Revan mulai menggema di seluruh ruangan kamar.


sedangkan Adinda sedikit di buat kaget oleh tawanya.


" kak kau kenapa sih, kenapa tawamu keras sekali "


" HAHAHA..... HAHAHA... kau... kau... "


" kau kau kau apa sih "


" kau lucu Dinda "


" lucu apanya hah.. ayo cepat bilang " ucap Dinda tak sabaran.


" lucu.. lucu... karena tadi kau bilang akan menggodaku hehehe... wajahmu tidak ada pantas pantas nya bilang seperti itu Din hihi... hihihi... " jawab Revan yang lagi lagi tak kuasa menahan tawanya sedari tadi


" apa kau pikir lucu hah... kau mau lihat, kau meremehkan aku ya " jawab Adinda sambil berdiri dengan berkacak pinggang,dengan dirinya yang merasa di sepelekan oleh Revan, pria yang tengah berada di hadapan nya saat ini itu.


kenapa Dinda jadi seperti ini, apa ini sebagian dari ibu hamil gumam nya.


" hehehe.... iya iya aku percaya padamu, sudah sini duduk lah di pangkuan ku, aku tau kau sekarang mulai berani, tapi aku tak ingin membahayakan bayi kita sayang aku mengerti maksud mu " ucap Revan dengan dirinya yang masih sedikit menertawakan sang istri, kemudian perlahan tangan nya meraih pinggang Adinda dan mulai mendudukkan bokong sang istri di pangkuan nya.


" kenapa tidak sedari tadi saja bilang mengerti " jawab Adinda perlahan menaruh kepalanya di dada bidang milik Revan.


Sedangkan Revan pun mulai menghentikan tawanya tersebut dan mulai mengelus pelan ujung kepala Adinda yang berada di dekapan nya tersebut penuh kelembutan, sesekali pria itu mengecupnya sambil memejamkan kedua matanya begitu dalam.

__ADS_1


__ADS_2