Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
menatapnya dari dekat


__ADS_3

kini Zahra tengah menunggu angkutan umum untuk pergi ke sekolah .


kemudian tak beberapa lama angkutan umum itu pun lewat,


Zahra melambaikan tangan ke depan agar angkot berhenti,


Dan memang benar angkot berhenti tepat di depannya, Zahra pun masuk dan memilih duduk di samping supir alias bang Udin namanya yang sudah akrab dengan nya karena langganan laundryan ibunya,


rumahnya tidak jauh dari rumah Zahra dan kebetulan pagi ini angkot memang sedang tak ada yang lewat.


" jalan bang " Ucap Zahra kepada bang Udin.


Bang Udin pun segara menarik pedal gas nya.


" tumben naik angkot Za " tanya bang Udin


" ya bang sepeda Zahra rusak " sahut Zahra sambil menatap ke arah depan.


" kok bisa rusak sih Za "


" Zahra juga tidak tau bang mungkin sudah umurnya kali bang kan sepedanya mulai Zahra SMP " jelas Zahra.


" iya juga sih Za " jawab bang Udin sambil manggut-manggut.


" berhenti di sekolahnya Zahra ya bang


tau kan sekolah Zahra " tanya zahra


" siap Za, tau lah kamu kan sekolah di Sekolahan elit itu, kamu keren Za sudah cantik lagi kurang apa coba pasti banyak yang naksir sama kamu ya " puji bang Udin.


" ah bang Udin bisa saja, Zahra tidak berniat pacaran dulu bang masih ingin tetap fokus sama sekolah Zahra "


Keduanya turus mengobrol di sepanjang jalan,


Sesekali bang Udin menggoda Zahra membuat keduanya tertawa bersamaan di dalam angkot tersebut,


Dan angkot pun kini berhenti di perempatan jalan, karena lampu lalu lintas sudah menunjukkan lampu berwarna merah yang baru saja menyala.


" bang lampu merah disini lama ya bang " tanya Zahra setelah angkot memang benar-benar berhenti.


" ya iyalah Za kan di pertengahan kota, pasti ramai sekali soalnya sepagi ini kita barengan sama para pekerja pabrik,mahasiswa, orang kantoran semuanya jadi satu ya kan, bagaimana tidak ramai coba " ucap bang Udin menjelaskan.


" iya juga ya bang " jawab Zahra


manggut-manggut memikirkan ucapan bang Udin yang ada benarnya juga pikir nya.


Di sebuah mobil mewah hitam yang tengah berjejer pas dengan angkot yang di tumpangi Zahra, ada sepasang mata yang sedari tadi memandangi nya dari dalam.


Sedangkan Zahra tak menyadari jika dia terus di pandangi oleh sosok pria tampan di balik kaca mobil mewah itu.

__ADS_1


Ya dia adalah tuan muda Bima Sinaga sosok laki laki yang sedang mengincarnya saat ini yang tak pernah Zahra sadari.


" Revan kau lihat gadis di samping mobil kita " ucap Bima.


kemudian revan mengikuti arah pandang sang tuan mudanya.


" bukanlah itu gadis yang kemarin tuan, mungkin ini yang dinamakan jodoh tuan muda " sahut sekertaris Revan.


" ya kau benar Van "


Zahra kau pasti jadi milikku ucap nya.


dengan seringai tipis yang menghiasi wajah tampannya.


*Mungkin saat ini aku tidak bisa berinteraksi sangat dekat denganmu, tapi lihatlah aku akan segera memilikimu Zahra, kau terlalu menggemaskan untukku.


Dan aku tidak rela jika melihat mu berdekatan sedikit saja seperti itu dengan sopir angkot itu,


apa salahnya sih kau bisa duduk di belakang tidak harus di depan kan gumam Bima dalam hatinya*.


seolah tak ihklas.


" sabar tuan sebentar lagi nona Zahra akan lulus sekolah " jelas sekertaris Revan kepada atasan nya.


Secepat itukah anda jatuh cinta tuan apalagi dengan gadis belia seperti nona Zahra, memang kalau di pandang dari dekat seperti ini nona Zahra memang sangat lah cantik dan menggemaskan pantas saja anda sangat menginginkannya.


Astaga apa yang aku katakan untung saja aku hanya bergumam dalam hatiku sendiri, seandainya saja aku berbicara dari mulutku seperti itu mungkin tuan Bima tidak akan mengampuniku dan akan memotong gaji ku, gumam Revan dalam hati.


Lampu merah pun kini telah berganti menjadi hijau dan waktunya semua kendaraan menancap pedal gasnya masing-masing.


Kendaraan yang di tumpangi Bima pun kini mulai melaju tapi sangat pelan,


sedangkan angkot yang ditumpangi Zahra kini melaju dengan sangat cepat karena sang supir angkot juga mengejar setorannya dan juga bang Udin takut Zahra ketelatan di sekolahnya.


Beberapa saat kemudian,


" sudah sampai nih Za " ucap bang Udin yang baru saja menepikan angkotnya.


" ya bang terima kasih ya, ini bang uangnya " Zahra sambil mengulurkan beberapa lembar kepada bang Udin.


" tidak usah Za kan kita satu jalur nih " sahut bang Udin yang merasa sedikit kasihan dan juga tak enak sendiri pikir nya.


" tidak papa bang ini uangnya "


" beneran Za tidak usah abang ikhlas kok " bang Udin tetap menolak uang pemberian Zahra.


" bukan begitu juga kali bang, abang kan cari nafkah juga buat anak istri, sudah abang ambil ini uangnya ya " kekeh Zahra


" ya sudah aku terima ya Za, terima kasih loh "

__ADS_1


sahut bang Udin


" ya bang, mulai besok Zahra naik angkot bang Udin terus sampai Zahra lulusan sekolah "


" Oke deh "


Bang Udin pun segera masuk ke dalam angkot, begitu juga Zahra yang langsung memasuki area sekolah elit nya.


Berbeda dengan mobil yang sedari tadi melaju lambat di belakang angkot bang Udin, yang ternyata berniat mengikuti nya dari belakang.


Yang sedari tadi sudah berhenti tak jauh dari tempat angkot yang mengantarkan Zahra.


Ya itu adalah mobil tuan muda Bima yang sedari tadi seorang pria tampan di dalamnya tengah sibuk memandangi Zahra,


yang tengah keluar dari angkot kemudian sempat mengobrol dengan sopirnya bernama bang Udin itu.


apa yang mereka bicarakan tadi ya gumam Bima


Bima terus memandangi punggung Zahra dari arah kejauhan yang mulai masuk area sekolahnya ,seolah jiwa penasarannya meronta ronta ingin menanyakan.


" tuan muda apakah kita akan terus disini sampai nona Zahra masuk ke dalam sekolahnya " ucap sekertaris Revan kepada Bima.


" jalankan mobilnya sekarang Van,dia sudah menyebrang dan masuk ke dalam " sahut Bima


" supir jalankan mobilnya " perintah sekertaris Revan kepada sang sopir,


dan sopir pun hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju kepada tuanya.


" selamat belajar Za " ucap Bima didalam mobil yang terus memandang ke luar jendela sambil menampakkan senyumnya yang tak pernah pudar.


Revan yang mendengarkan ucapan tuan mudanya itu pun ikut tersenyum karena sepertinya sang tuan benar-benar sangat ingin memiliki gadis pujaannya itu meskipun yang disukai seorang gadis belia yang masih SMA.


mobil mewah milik sang tuan itu pun melaju dengan cepat untuk segera sampai di perusahaan pencakar langit milik nya,


tak beberapa lama mobil mewah tersebut akhirnya telah sampai,


Revan segera turun dan membukakan pintu untuk Bima.


JEG... GLEK..


bunyi pintu mobil.


" silahkan tuan muda " ucap Revan mempersilahkan dengan sedikit menundukkan kepala.


" hem " jawabnya singkat


Setelah itu Bima pun keluar dari dalam mobilnya, berdiri tegap sambil membenarkan sedikit kancing jas hitam yang ia pakai, memperlihat kan jelas ketampanan serta kegagahannya sebagai seorang CEO yang memiliki kharisma tinggi.


di tambah dengan tatanan rambut yang rapi, setelan jas yang di padu padankan sangat pas di tubuhnya,

__ADS_1


dan satu lagi aroma parfum maskulin yang seolah olah menambah daya tarik nya sebagai CEO tampan di Sinaga. group.


bahkan yang melihat nya pun ikut terhanyut menatap pahatan sang pencipta.


__ADS_2