
" Hu.. Hu... huekkk.. huekk " rasa mual dalam perut seolah ingin keluar saat ini juga tetapi tak ada sedikit pun yang ia muntahkan.
Dan seketika membuat semua orang yang berada di ruangan serba putih itu menoleh ke arah yang punya suara.
" Sheina kau kenapa sayang " tanya Zahra khawatir dan langsung mendekat ke arah sang putri di ikuti Bima di belakang.
" Sheina tak tau Ma sejak kemarin kemarin perut Sheina tak enak rasanya mual mual " jelas Sheina.
Sedangkan Barra sedari tadi sudah ingin berlari ke arah Sheina tetapi hanya bisa menahan kedua kakinya agar terkendali dan tak merusak penyamaran nya.
" Saya akan mencoba memeriksanya " Sahut dokter perempuan itu tiba tiba.
Dokter pun mulai memeriksa keadaan Sheina menempelkan benda bulat seperti saluran selang itu di dada dan perut Sheina.
Dokter kemudian terdiam sedikit, setelah itu perlahan lengkungan senyum di kedua sudut bibir nya mulai terlihat mengembang.
Bima dan Zahra langsung melirik ekspresi dokter wanita tersebut.
Seolah tatapan kedua suami istri itu penuh pertanyaan.
Begitu juga Barra yang masih berpura-pura sibuk dengan pekerjaan di belakang punggung orang-orang yang tengah berada di dekat istrinya.
" Hei dokter ada apa dengan putriku " tanya Bima dengan raut wajah dingin nya.
" emm.. ah... iya tuan putri anda .. emm.... selamat putri anda kini tengah mengandung tuan " jelas dokter
" A P A " sahut Bima dengan nada terkejutnya, kedua matanya kini sudah membulat sempurna.
Sedangkan Sheina Zahra dan Barra masih menganga kan mulutnya seolah tak percaya.
" ya, nona Sheina tengah mengandung, usia kandungan nya kira kira masih menginjak dua mingguan, dan dengan keadaan nona yang sudah pulih seperti sekarang ini itu tidak masalah tuan "
Bima mengangguk angguk mengerti.
Ketiga nya terlihat tersenyum kecuali Bima masih dengan mode garang nya.
__ADS_1
Meskipun di dalam hati sebenarnya ia begitu sangat bahagia, apalah pada awal nya ia akan menentang hubungan sang anak tetapi jikalau sudah begini apa yang mau di kata.
" selamat sekali lagi " sahut dokter wanita tersebut kemudian segera keluar dari dalam. ruangan.
Sedangkan Barra kini langsung berlari kecil mendekati ranjang Sheina dan langsung memeluk istri itu.
Membuat kedua pasang suami istri patuh baya tersebut langsung terkejut dibuatnya.
" Hei siapa kau " ucap Bima kemudian langsung menarik lengan Barra dan memberikan bogeman mentah di perut nya.
BUGHH...
Seketika membuat Barra langsung memegangi perut yang sedikit terasa ngilu.
" Akkh... " pekik Barra, mungkin karena bogeman yang di berikan Bima terlalu keras.
Sedangkan Bima langsung menyeringai seram.
" Papa apa yang kau lakukan dia suami Sheina Pa Barra " Sahut Sheina khawatir menatap ke arah Barra kemudian beralih menatap ke arah sang Papa.
" Apa kau bilang, s u a m i " dengan kedua mata melotot.
" Shei apa yang kau katakan " tanya Zahra seolah ingin penjelasan.
Dengan tegas nya Barra langsung menyahuti sang mertua.
" Ya Ma Pa ini Barra " ucap nya tegas kemudian perlahan membuka rambut palsu beserta tahi lalat di dagu sebelah kiri nya.
" Permainan macam apalagi ini " tegas dengan rahang mengeras.
" Barra akan menjelaskan semuanya Ma Pa " jawab Barra.
" tidak biar aku saja yang menjelaskan ini semua pada Papa dan Mama karena ini salah ku Bar " kekeh Sheina.
Barra mengalah kemudian terdiam,
__ADS_1
Kini Sheina mulai menjelaskan semua sedetail nya, karena jika ia yang menjelaskan dan mencoba bernegosiasi dengan sang Papa pasti akan luluh meskipun sedikit, karena Sheina tau dirinya putri kesayangan Bima satu satunya.
Setelah beberapa saat menjelaskan.
" Dan sekarang Sheina mohon pada Papa restui kembali hubungan kami Pa " pinta nya.
" Yang Sheina bicarakan benar Pa, Barra mohon kali ini saja " tambah Barra.
Bima terdiam kemudian memunggungi keduanya, sedangkan Zahra perlahan meraih lengan sang suami dirinya ingin membantu sang putri untuk membujuk sang Papa, supaya hubungan kedua keluarga kembali seperti semula, toh juga kini sang putri tengah mengandung benih cucu nya yang selama ini mereka idam idam kan kehadiran nya.
Zahra sedikit mengoyak lengan Bima dengan menampilkan wajah memelas polosnya.
Bima sedikit melirik ke arah sang istri yang tengah terlihat merajuk itu padanya.
Heh,.. apa boleh buat, kau juga dari dulu selalu suka sekali merayuku dengan wajah memelas polosmu itu membuat ku tak bisa menolak nya,
lagi pula putri kini tengah mengandung cucu ku yang selama ini di impikan nya, padahal sebenarnya aku belum sepenuhnya memaafkan Barra gumam Barra panjang lebar.
" Pa jawab " ucap Zahra membuyarkan lamunan Bima.
Dengan gaya angkuhnya Bima perlahan menarik nafas berat, kemudian segera membalikkan tubuhnya menghadap kedua pasang antara Barra dan Sheina yang sedari tadi sudah menunggu jawabannya itu dengan was was.
" Baiklah Papa merestui hubungan kalian kembali, tetapi ingat jangan sekali kali kau membuat putri kesayangan terluka " ucapnya sambil menatap tajam ke arah Barra.
" iya Pa Barra berjanji untuk terakhir kalinya Barra tidak akan membuat Sheina terluka, dan Barra akan menjadi suami sekaligus ayah terbaik untuk anak Barra kelak Pa "
" Bagus, semoga saja kau bisa menepati janji"
" iya Pa terimakasih " sahut Barra sambil menggenggam erat tangan sang istri.
Kini di ruangan serba putih itu di penuhi dengan senyuman kebahagiaan, kebahagiaan akan hubungan yang kembali menyatu serta kebahagiaan akan kabar gembira yang baru saja mereka dengar akan penerus keluarga Sinaga.
Dan kisah pun selesai.
...TAMAT....
__ADS_1
MAAF SEBELUMNYA KALAU SELAMA INI CERITA AUTHOR NGEBOSENIN UNTUK KAKAK KAKAK SEMUA KARENA INI KARYA PERTAMA AUTHOR SEBAGAI PEMULA 🥰🥰