
tepatnya di Mansion besar milik Bima.
" sayang kenapa kau senyum senyum sendiri " tanya Zahra ketika melihat sekilas suaminya yang tengah tersenyum setelah mematikan ponselnya tadi.
" sayang tadi aku menelfon sekertaris Revan dan aku menanyakan padanya apa dia sudah menemukan pegawai baru untuk di buat sebagai rekan kerja yang membantunya di perusahaan, dan dia sudah menemukan pegawai perempuannya " jelas Bima kepada sang istri yang tengah berada di ruang keluarga itu.
" terus " tanya Zahra lagi yang mulai penasaran saat ini.
" aku berniat menggodanya sayang,aku tanya dia cantik atau tidak, dan dia seperti nya sedang keceplosan,sekertaris Revan bilang rekan barunya itu cantik dan setelah itu dia bilang biasa saja padaku, sepertinya kalau ku dengar perkataannya tadi , dia seperti nya tertarik dengan pegawai baru yang ia pilih itu " jelas Bima panjang kali lebar.
" oh begitu,.. sayang aku jadi penasaran pada rekan baru sekertaris Revan yang dingin seperti dirimu dulu itu ya sebelas dua belas belas lah " ucap Zahra kemudian.
" sayang,.. itu kan dulu Zahra, sekarang aku adalah pria yang penuh kehangatan karena dirimu sayang " jelas Bima sambil tersenyum menatap sang istri.
" iya sayang aku tau, apa mungkin sekertaris Revan akan menghangat juga seperti mu ya jika dia sudah menikah dengan rekan barunya yang kau ceritakan itu " ucap Zahra sambil tersenyum kemudian sedikit bertanya kepada suaminya yang kini sudah duduk di sampingnya itu.
" hem... kita lihat saja nanti, sayang seperti nya ponselku berbunyi " ucap Bima,
dan setelah itu menoleh ke arah ponsel miliknya yang saat ini tengah berada di atas meja ruang keluarga tersebut.
tring
tring
tring
" angkatlah " ucap Zahra sambil menoleh ke arah Bima.
dan Bima pun akhirnya mengangkat ponsel pintarnya tersebut, yang tertulis di sana nama sekertaris Revan yang sedang memanggil.
" halo " ucap Bima kepada sekertaris Revan di sebrang sana.
" halo tuan, emm.....mengenai ulang tahun perusahaan yang kurang satu minggu lagi tuan, apa kita akan tetap merayakan ulang tahunnya di beberapa Vila besar milik anda yang berada di bali itu tuan " tanya sekertaris Revan kepada sang atasan.
" untuk tahun ini sepertinya tidak Van, karena kau tau sendiri perut istri ku sudah membesar dan aku tidak bisa pergi kemana mana untuk saat ini " jawab Bima yang memang keadaannya seperti tidak memungkinkan untuk mengajak istrinya pergi ke pulau Bali dengan perutnya yang sudah membesar itu.
" baiklah tuan kalau begitu " ucap sekertaris Revan kemudian.
" begini saja Van kau sewa gedung yang paling besar, mewah, dan luas Van agar bisa menampung semua para karyawan perusahaan utama di sini untuk merayakannya, dan separuh karyawan anak cabang perusahaan kita lain nya kau berangkatkan saja mereka untuk liburan ke Bali selama satu minggu beri mereka bonus kau mengerti,
beri mereka fasilitas VIP, dan masalah penginapan taruh mereka semua di hotel yang paling berkelas milik SINAGA.group, dan ya setelah di perusahaan utama ini selesai merayakannya berangkatkan juga semua karyawan kita ke Bali Van beri mereka semua kenyamanan kau sudah faham " jelas Bima lagi dengan panjang lebar.
" ya baiklah tuan kalau begitu,saya faham tuan, oh iya tuan satu lagi, apa anda dan nona akan menghadiri perayaan ulang tahun perusahaan tuan " tanya sekertaris Revan lagi.
" iya Van itu pasti, aku akan mengajaknya ke sana, dan aku akan memberi tahu semua orang bahwa Zahra adalah istri ku " jelas Bima yang kini tengah menggenggam tangan Zahra yang berada di sampingnya itu.
" baiklah tuan kalau begitu, saya akan mempersiapkan semuanya dari sekarang " jelas sekertaris Revan.
__ADS_1
" baiklah kalau begitu, aku percayakan semuanya padamu Van " ucap Bima kemudian kepada sang atasan.
" iya tuan " jawab sekertaris Revan.
dan panggilan pun terputus.
dan setelah panggilan terputus itu, Bima langsung meletakkan kembali ponselnya di atasan meja.
kemudian menoleh kepada sang istri sambil tersenyum.
" sayang aku tau pasti ada yang ingin kau tanyakan bukan kepada ku " ucap Bima kepada Zahra.
" iya,memang,... aku ingin menanyakan sesuatu padamu, sebenarnya apa yang kau bicarakan bersama sekertaris Revan sih tadi , kenapa kau juga bawa bawa namaku sayang hah, dan ke Bali segala, kemudian gedung " tanya Zahra saat ini yang merasa sangat penasaran itu.
Bima tersenyum mendengar perkataan istri nya tersebut.
" Zahra, seminggu lagi adalah ulang tahun perusahaan sayang dan aku akan mengajakmu ke sana, untuk memperkenalkan mu kepada semua orang bahwa kau adalah istri ku " jelas Bima sambil memegang kedua tangan sang istri.
" sayang sebaiknya aku tidak ikut, aku malu pasti banyak orang di sana yang ingin mengetahui diriku,kalau aku adalah istri mu " jawab Zahra yang memang dirinya sangat pemalu itu.
" sayang untuk apa kau malu, kau di sana tidak sendiri Zahra, mama, papa dan Hendra juga akan datang ke sana " jelas Bima
" benarkah " jawab Zahra yang kini hatinya sedikit merasa bahagia itu.
" ya,.....untuk apa aku bohong sayang, dan masalah Bali, aku memang menaruh separuh karyawan ku di gedung untuk perayaan ulang tahun perusahaan, dan separuh nya lagi aku berangkat kan mereka semua untuk berlibur seminggu di Bali " jelas Bima lagi.
" hehehe... sayang sekarang keadaan perutmu sudah membesar dan aku tidak akan mengajakmu jauh jauh, tetapi setelah melahirkan nanti aku berjanji akan sering-sering mengajakmu liburan kemana saja yang kau mau bersama anak kita " ucap Bima yang membuat hati gadis belia itu sangat bahagia.
" emmm... kau baik sekali suamiku, ternyata suamiku benar benar baik ya,oh iya sayang apa setiap tahun kau memberangkatkan semua pekerja mu untuk liburan " tanya Zahra lagi.
" iya sayang, ya...anggap saja itu sebagai imbalan yang pas untuk mereka semua, yang selama ini mengabdi kepada perusahaan " jelas Bima dengan santainya.
" apa kau juga memberikan bonus pada mereka" tanya Zahra yang sedari tadi seperti bertubi-tubi.
" kenapa banyak sekali yang kau tanyakan hah " ucap Bima yang merasa gemas kepada istri itu.
" sayang jawab saja aku kan hanya bertanya " jawab Zahra kemudian.
" ya baiklah akan aku jawab nyonya Bima " sahut Bima yang berniat mengajak istrinya bercanda saat ini.
" hahaha.... kau ini, apa sih,ayo jawab " ucap Zahra sambil sedikit menggoyang goyangkan tangan suaminya.
" iya sayang aku memberikan mereka bonus lebih, apa kau sudah puas nyonya " jawab Bima yang merasa istrinya saat ini sedikit cerewet.
" hehehe.... kau ini menyebalkan sekali ya " sahut Zahra yang sedikit tertawa setelah mendengar perkataan Bima.
" sayang... " ucap Zahra lagi
__ADS_1
" hem "
" seandainya dulu aku melamar pekerjaan di perusahaan mu bagaimana ya, dan setelah itu aku di terima "
" ya tetap saja sayang, kau adalah gadis incaran ku dulu, dan kau harus tetap menjadi milikku bagaimana pun caranya " jelas Bima yang sedari mendengar kan perkataan istrinya kemudian pandangannya kini tertuju pada Zahra.
" terus seandainya begitu, aku tidak mau menjadi istrimu bagaimana " jawab Zahra kemudian
" buktinya sekarang kau sudah menjadi milikku bukan " sahut Bima yang tak mau kalah itu.
" ya sudah lah terserah, pasti ujung ujungnya tetap kau yang menang iya kan " ucap Zahra yang sepertinya merasa malas untuk berdebat pada sang suami.
" ya iyalah itu pasti sayang dan itu harus " jawab Bima dengan sok nya.
" heh....bukan seperti itu tadi maksud ku sayang, seandainya dulu aku sempat bekerja pasti aku tau bagaimana caranya mencari uang sendiri untuk kedua orang tuaku " jelas Zahra kemudian yang sesekali seperti terlihat bersedih, karena dirinya merasa tak sempat membahagiakan kedua orang tuanya.
ya mau mencarikan uang bagaimana, sedangkan dirinya yang baru saja lulus sekolah itu langsung di jadikan menantu oleh seorang konglomerat.
" Zahra dengar aku, apa uang yang aku berikan masih kurang hem " tanya Bima pelan supaya sang istri mengerti lama maksud ucapannya itu.
" bukan seperti itu sayang maksud ku " jelas Zahra yang berusaha ingin menjelaskan saat ini.
" iya aku mengerti sekarang, tenanglah itu semua urusanku " jelas Bima sambil tersenyum kepada sang istri.
" sayang maksud ku bukan berniat meminta kepadamu agar kau.... "
ucap Zahra terhenti karena jari telunjuk sang suami yang saat ini telah menempel di bibirnya, sedangkan Zahra berusaha untuk melepaskannya, tetapi di hentikan oleh sang suami.
" shhhhttttt..... diam, bumil bisa diam kan " ucap Bima dengan kedua tangannya yang kini telah membungkam bibir sang istri.
sedangkan Zahra kemudian mengangguk sebagai jawaban untuk sang suami yang kini tengah berusaha mendiamkan dirinya itu.
" istri pintar " ucap Bima sambil tersenyum kemudian perlahan melepaskan tangannya yang masih menempel dari bibir Zahra.
Dan setelah itu Bima pun langsung mengambil ponselnya kembali dan mulai mengotak atik nya untuk segera menghubungi sekertaris Revan.
sesaat kemudian panggilan pun terhubung.
" halo " ucap Bima.
" halo tuan " ucap sekertaris Revan di sebrang sana.
" apa ada lagi yang bisa saya bantu tuan " ucap sekertaris Revan kemudian.
" hem,...kau benar Van,...kirim uang untuk kedua mertuaku setiap bulan kau mengerti " jelas Bima dengan nada serius.
" baik tuan " jawab sekertaris Revan.
__ADS_1
dan setelah itu panggilan pun terputus.