
Di ruang tamu Adinda yang melihat kedatangan sang putra langsung berteriak kemudian segera berlari ke arah Barra begitu juga sekertaris Revan.
" Barra kau sudah sampai nak " teriak Adinda dari arah sofa yang tengah duduk bersama sang suami.
" iya ma " jawab Barra dengan raut wajah tampan nya yang terkesan dingin itu.
" watak putra ku benar-benar persis menurun darimu pa, s a n g a t k a k u " ucap Adinda dengan nada terakhirnya pelan tapi penuh penekanan pada sang suami.
Kemudian Adinda bergegas menuju ke arah sang putra yang mulai mendekat ke arah itu.
Sedang kan Revan hanya memutar kedua bola matanya malas ketika mendengar ucapan Adinda, kemudian dirinya mulai berdiri kemudian melangkah mengikuti langkah sang istri untuk menyambut kedatangan putra satu satu nya tersebut.
" Selamat datang putra mama, bagaimana kabar mu sayang, kau sangat tampan sekali " ucap Adinda yang merasa bangga pada putra satu satu nya itu.
" seperti yang mama lihat kabar Barra baik baik saja bukan, apa mama baru tau kalau Barra sangat lah tampan "
" ya maksud mama kamu mirip seperti papa "
Adinda sedikit mencebikkan bibir nya mendengar perkataan sang suami.
" bilang saja iya ma susah sekali sih " ucap Revan pada sang istri.
" iya iya kalian sama persis bahkan hampir sama puas "
bapak dan anak sama saja wajah sama, watak nya juga sama gumam Adinda.
Sedangkan Revan dan Barra langsung saling pandang kemudian kedua nya langsung saling memeluk wanita yang begitu berharga bagi hidup nya tersebut yaitu Adinda, istri sekaligus ibu.
*
*
Di meja makan ketiga nya mulai menikmati acara makan bersama nya penuh keheningan, sesekali Revan mulai melirik ke arah Barra putra nya yang baru saja datang itu kemudian mulai berucap sesuatu.
" bagaimana apa kau benar benar sudah siap menjadi pengganti papa sebagai sekretaris tuan Bima " tanya Revan dengan raut wajah serius nya.
" iya pa Barra sudah siap " jawab Barra tegas yang juga memasang wajah serius nya di hadapan sang papa.
" bagus, kau tau tuan Bima sangat berjasa pada kehidupan keluarga kita, jadi kau tak boleh sampai mengecewakan dia " jelas Revan lagi.
" iya pa Barra ngerti " memasang ekspresi datar nya.
" bagus... ada guna nya papa menyekolahkan mu tinggi tinggi, lanjutkan makan mu "
__ADS_1
dia benar benar mirip dengan ku, benar kata Adinda Bara seperti pria kaku seperti ku gumam Revan.
" iya pa "
Sedangkan Adinda yang melihat keduanya saling serius itu kini diri nya juga mulai berucap.
" Barra kau jangan sampai membuat ulah jika kau menggantikan posisi papa di perusahaan tuan Bima "
" iya ma iya "
**********
Di Mansion Sinaga.
Ruang tamu.
Sheina, Zahra dan Bima ketiga nya kini mulai duduk berhadapan, ketiga nya juga mulai mengobrol serta bercanda seperti layak nya orang tua dan anak mereka.
Tetapi sepertinya obrolan mereka mulai mengarah ke arah yang serius.
" Sheina " panggil Bima pada sang putri dengan raut wajah serius nya menatap sang putri kesayangan nya itu.
" iya pa "
" apa secepat itu pa, Sheina masih ingin bermain main pa " jawab Sheina yang terdengar manja.
" Sheina, bukankah kau di sana cukup bermain bersama teman teman mu bahkan kau sering pulang malam "
" papa tau dari mana " ucap Sheina sedikit terkejut.
kenapa papa bisa tau ya gumam nya.
" papa selama ini menyewa seseorang untuk memantau keseharian mu, pergaulan mu, selama kau kuliah di luar negri sana Sheina " jelas Bima.
" tapi Sheina tidak macam macam pa, hanya saja Sheina merasa kesepian di sana, jadi Sheina di sini masih ingin bermain main " jelas Sheina yang masih dengan manja nya.
" Sheina cukup, papa tidak ingin mendengar alasan mu lagi " sentak Bima.
" pa sudah " sahut Zahra sambil memegang lengan sang suami.
" papa jahat, ma tolong Sheina " ucap nya sambil memasang wajah melas nya di hadapan Zahra sang mama.
Sedangkan Zahra tak berniat membela sang putri karena bagi nya sang putri sudah cukup untuk bermanja manja selama ini pada diri nya dan sang suami,
__ADS_1
dengan semua nya yang mereka berikan pada Sheina putri kecil nya yang kini sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang begitu sangat cantik tersebut.
" maaf sayang kali ini mama tak bisa membela kamu, papa kamu serius dalam hal ini kamu sudah dewasa Shei waktunya kamu meneruskan perusahaan raksasa keluarga "
" papa dan mama sama saja, Sheina lelah ingin tidur " ucap Sheina dengan raut wajah cemberut nya.
Kemudian segera bergegas pergi meninggalkan keduanya menuju lantai atas kamar nya.
Sepeninggalnya Sheina sang putri.
Masih di ruang tamu keduanya masih saling menyalahkan.
" ini gara gara mama dulu terlalu memanjakan Sheina ma " ucap Bima menatap sang istri.
" apa maksud papa sih bukan kah papa yang selalu berlebihan mendidik Sheina, memanjakan dia dengan semua fasilitas yang papa berikan padanya " jelas Zahra yang mulai kesal atas perkataan sang suami.
" iya tapi sedikit kan " jawab Bima seperti tak ingin di salahkan sepenuh nya.
" sedikit apa nya, ah sudah lah mama malas bicara mama mau tidur, tidak ada jatah nanti malam " ucap Zahra kemudian berniat pergi dari hadapan Bima yang sedari tadi masih setia duduk di samping nya itu.
" ma tunggu ma jangan marah, hei... sayang " ucap Bima yang langsung menggapai tangan sang istri.
Ya Bima memang langsung meringsut ketika sudah melihat sang istri marah pada dirinya, mungkin karena dirinya yang begitu sangat bucin pada sang istri sampai saat ini.
" apa sih pa, tidak usah pegang pegang " ucap Zahra yang masih sedikit kesal.
iya kan nyalinya langsung menciut kalau sudah membahas jatah malam, mudah sekali membuat nya seperti anak kucing yang terlihat imut gumam Zahra.
" iya iya ini semua salah papa, papa minta maaf ma, ya sudah ayo kita tidur sayang " ucap nya sambil menarik Zahra ke dalam dekapan nya.
" tidak tidur sendiri saja " sahut sang istri.
" ah tidak tidak papa tidak mau, sekarang kan waktu nya mama berada di atas hehehe... " ucap Bima yang masih mengingat percintaan panas nya.
" apasih papa ini "
kenapa dia masih ingat ya astaga kalau masalah begituan saja dia seperti pengantin baru saja gumam Zahra lagi.
merutuki sang suami.
Sedangkan Sheina yang tadi berniat menuju lantai atas itu masih mendengar jelas dari anak tangga, percakapan antara kedua orang tuanya apalagi sang papa yang masih bucin pada sang istri.
astaga... susah memang kalau sudah ketemu pawang nya, papa tak berani berkutik mama kau pantas aku acungi jempol, papa benar-benar bucin tingkat dewa padahal anak sudah se gede ini monolog nya.
__ADS_1
Sesekali Sheina tersenyum sendiri melihat kebucinan sang papa pada wanita yang sangat ia sayangi itu yaitu Zahra mama nya sendiri.