Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
perjanjian


__ADS_3

Lantai bawah.


Semua nya tengah berkumpul begitu juga keluarga sekertaris Revan yang kini sudah duduk di sofa mewah yang saling berhadapan itu di ruang tamu keluarga Sinaga.


Ketiga nya antara Revan, Adinda beserta Barra kini tengah mengobrol dengan kedua orang tua Sheina dan juga Fanya yang ikut berada di tengah tengah keduanya antara paman dan bibi yaitu Bima dan Zahra.


Sedangkan Barra masih tak mengetahui akan perihal dirinya di ajak bertamu ke kediaman mansion besar Sinaga, begitu juga Sheina yang mungkin sebentar lagi akan di buat terkejut oleh rencana perjodohan dirinya dan Barra sekertaris tampan nya itu.


Tap... tap... tap....


bunyi langkah Sheina yang mulai menuruni anak tangga.


Sontak membuat semua orang yang berada di ruang tamu mendongakkan kepala nya menatap penuh ke arah gadis yang terlihat sangat cantik tersebut, dengan balutan gaun pendek selutut nya berwarna putih motif bunga.


Sheina dia... gumam Barra


dengan tatapan yang seperti nya tak bisa di artikan sejak mendapati Sheina yang mulai menuruni anak tangga.


Berbeda dengan Sheina yang sedari tadi tak sedikitpun melirik ke arah ruang tamu, ia tak tau bahwa seluruh mata kini tertuju padanya.


Ya Sheina tak menyadarinya karena ia tengah sibuk dengan ponsel di kedua tangan nya.


" Sheina " panggil Bima dari arah ruang tamu.


" eh... iya Pap.... " sahut Sheina terhenti ketika pandangan nya menyapu seisi ruang tamu.


Kenapa dia ada di sini gumam nya.


" Sini sayang " tambah Zahra sambil melambaikan tangan ke arah sang putri.


" Wah... kak Shei kau cantik sekali persis seperti bibi "


Sheina tersenyum menatap saudari nya yang baru saja sampai itu, setelah itu pandangan nya tertuju tiga tamu yang berada di hadapan nya saat ini.


Sheina tersenyum pada keduanya tapi tidak pada Barra, ia menaik turunkan kedua alis nya seperti mengisyaratkan sesuatu.


Sedangkan Barra membalas nya dengan menaik turunkan bahunya.


Semua mata menangkap gelagat mereka berdua kemudian saling tersenyum.


" Shei duduk sini dekat mama " ucap Zahra mengalihkan kelakuan sang anak.


" ah iya Ma " jawab Sheina sedikit gelagapan.


Kini Sheina mulai duduk di dekat sang mama dan juga berada di dekat Fanya.


" kak Sheina dia sangat tampan ya " bisik Fanya di telinga Sheina.


" apa sih " jawab Sheina kemudian menjauhkan telinga nya dari Fanya saudara nya yang sedikit celamitan itu.


Beberapa saat.


Sekertaris Revan mulai berucap kepada Bima mantan atasan nya tersebut.


" maksud kedatangan kami kesini sebenarnya ingin membicarakan tentang perjodohan waktu itu tuan " jelas sekertaris Revan.


" ya.. ya.. ya.. " jawab Bima santai sambil mengangguk anggukkan kepalanya pelan.


Berbeda dengan Sheina dan Barra keduanya kini saling tatap.

__ADS_1


" A P A P E R J O D O H A N " ucap keduanya serentak dengan nada suara lantang nya, sedangkan kedua mata mereka kini sampai terlihat membulat sempurna.


" ya perjodohan iya kan sekertaris Revan " jelas Bima seolah ingin mendapatkan persetujuan Revan.


" ya benar tuan "


" dan ini keinginan mama kalian berdua " ucap Bima.


Kedua nya kini saling melirik ke arah wanita paruh baya nya masing masing, dengan tatapan memohon agar tak di jodohkan satu sama lain.


" Lebih cepat lebih baik tuan benarkan " ucap Revan


sontak perkataan Revan membuat Sheina dan Barra saling pandang


" ya.. ya... ya kau benar, lebih baik lagi kalau kita segera memiliki cucu "


Barra dan Sheina kembali saling pandang kali ini pandangan keduanya seperti mengartikan sesuatu.


" hahaha.... anda benar sekali tuan " jawab Revan sambil tertawa seolah membenarkan perkataan sang tuan.


" Kak Sheina dia tampan sangat pas sekali dengan mu " bisik Fanya menggoda


" shtt diam kau " jawab Sheina dengan nada pelan.


" Ma pa aku tidak mau di jodohkan seperti ini, dia bukan tipeku dia pria dingin, dan asal mama papa tau bicara dan tersenyum saja dia jarang apalagi tertawa, bagaimana bisa aku menikah dengan pria seperti dia "


" Asal anda tau nona aku juga tidak mau dengan perjodohan ini, dan anda juga bukan tipe saya anda terlalu cerewet dan manja , satu lagi anda suka sekali bermalas malasan dalam pekerjaan " balas Barra yang merasa tak terima akan penuturan Sheina.


" dasar pria menyebalkan "


" Sheina " sahut Zahra memperingati sang putri untuk menghentikan perkataan nya.


" Barra " sahut Revan yang ikut memperingatkan sang putra.


Barra kemudian langsung terdiam, begitu juga Sheina.


" tuan maafkan kan putra saya " ucap Revan yang merasa tak enak sendiri.


" tidak masalah mungkin karena mereka belum saling mengenal "


" Pa Sheina tidak mau "


" Sheina papa bilang Diam " ucap Bima


Sheina langsung terdiam merasa takut akan perkataan papa nya.


" Seminggu lagi kita gelar pernikahan mereka bagaimana sekertaris Revan " jelas Bima pada calon besan nya.


" saya sangat setuju tuan iya kan Ma " jawab Revan sambil melirik ke arah Adinda sang istri.


" iya tuan Bima dan nyonya Zahra kami sangat setuju " sahut Adinda mantap.


Zahra tersenyum menatap calon kedua besan nya itu begitu juga Bima.


Sedangkan Fanya gadis berumur 18 tahun itu sesekali tersenyum sendiri melihat ekspresi antara raut wajah Sheina saudaranya dan Barra yang sedari tadi sudah tak berniat mengeluarkan sepatah kata pun itu.


Keduanya terpaksa mengiyakan perjodohan yang sama sekali tak mereka ingin kan.


*

__ADS_1


*


********


Tiga hari berlalu sejak malam perjodohan itu.


di pagi ini.


Mobil mewah hitam baru saja masuk ke dalam pekarangan mansion besar Sinaga, sesaat kini mobil mulai berhenti tepat di depan pintu besar masuk ke mansion.


Sedangkan Sheina sedari tadi sudah bersiap menunggu jemputan sambil menenteng tas kerja nya.


JEG... GLEK...


bunyi pintu mobil bagian belakang yang baru saja dibuka oleh Barra.


" Silahkan nona " ucap Barra berusaha seprofesional mungkin dalam bekerja dan mengesampingkan urusan pribadinya dengan Sheina demi kepercayaan tuan Bima kepadanya.


Sheina tak menjawab hanya memasang wajah cuek nya pada Barra semenjak perjodohan keduanya di tetapkan dan beberapa hari mendatang keduanya akan resmi menjadi sepasang suami istri tentu nya.


Di perjalan keduanya hanya hening tak ada sedikit pun percakapan hingga beberapa saat mobil yang mereka tumpangi kini mulai masuk ke area parkir perusahaan.


*


Di dalam ruangan.


Sheina mulai membuka obrolan kepada pria tampan di samping nya.


" Sekertaris Barra apa kau akan tetap bersedia dengan perjodohan itu " tanya Sheina.


" ya nona bagaimana lagi, sepertinya dengan pengabdian itu kedua orang tua saya akan bahagia begitu juga keluarga anda bukan, apa anda tidak memikirkan mereka " jawab Barra begitu terlihat santai karena dirinya sudah pasrah menolak pun seperti nya tak bisa jika sang papa sudah berkehendak.


Begitu juga Sheina sepertinya sama saja, menolak pun seperti percuma ujung ujung nya ia harus mengiyakan walaupun bukan keinginan nya.


Kini gadis itu sedikit berfikir seolah di sekak mat oleh perkataan sekertaris tampan nya tersebut, yang memang benar kenyataan nya.


" pemikiran mu dewasa juga, tapi bagaimana bisa aku mempunyai suami seperti mu kau sangat lah menyebalkan " ucap Sheina tanpa merasa bersalah sedikit pun dengan ucapan nya.


" anda pikir anda tidak menyebalkan selama ini heh " ucap Barra seolah menantang sambil bersendekap dada, dengan kedua mata sedikit melotot keluar menatap Sheina.


" hei kau tidak usah melototi ku seperti itu membuatku ingin mencolok nya saja " ucap Sheina terlihat kesal


Barra tak menghiraukan ucapan itu.


" setujui saja takdir kita, setelah pernikahan kita pikir bersama " jelas Barra tetap santai.


" maksudmu kita membuat perjanjian begitu " tanya Sheina.


" ya seperti itu kira kira "


" baiklah, kau mengerjakan tugasmu sebagai suami dan aku mengerjakan tugasku sebagai seorang istri jika di depan kedua orang tua kita " jelas Sheina yang mulai mengiyakan rencana nya bersama Barra.


" ya baiklah D E A L " ucap Barra yang langsung berdiri dari kursi kerjanya menuju ke arah meja Sheina kemudian menjulur kan tangan nya ke arah Sheina.


" ok D E A L " jawab Sheina mengembangkan senyum


Setelah itu duanya kemudian berjabat tangan sambil mengembangkan senyum nya masing masing .


Entah apa nantinya yang akan mereka lakukan ke depan nya dengan ikatan pernikahan yang sangat sakral itu.

__ADS_1


Sedangkan kedua keluarga mereka berharap pernikahan anak anak nya menjadi pernikahan seumur hidup, mungkin kah berakhir penyesalan ataukah diantara Sheina dan barra nanti nya akan saling tumbuh rasa cinta dengan sendirinya seiring berjalan nya waktu.


__ADS_2