Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
episode 71


__ADS_3

" ayo cepat ke rumah sakit Van "


" iya tuan "


kemudian mereka berbalik arah kembali memasuki mobil kemudian langsung menancapkan pedal gasnya meninggalkan pekarangan mansion.


" cepat Van apa kau tidak bisa menyetir hah "


" iya tuan sebentar, saya sudah menambah kecepatan nya tuan "


" jangan banyak bertele-tele "


" ya tuan "


astaga ada apa lagi ini, nona semoga kau tidak kenapa kenapa, supaya aku tak dapat lagi pekerjaan yang sangat menumpuk seperti saat kau kecelakaan dulu, amiin semoga saja gumam sekertaris Revan dalam hati.


beberapa saat kemudian mobil mereka telah sampai di depan rumah sakit milik keluarga Sinaga, yang tak lain adalah milik Bima sendiri.


Bima kemudian keluar setelah sekertaris Revan membukakan pintu untuknya.


kemudian Bima langsung berlari ke dalam rumah sakit tersebut.


" brankar nya mana cepat " ucap Bima seperti terlihat sangat menakutkan.


" iii.. iya tuan, ini " ucap ke tiga pelayan rumah sakit miliknya itu.


kemudian Bima langsung menaruh tubuh Zahra perlahan di atas brankar,


dan brankar pun langsung di dorong ke dalam ruangan.


Bima kemudian melihat lengan jas hitamnya yang memang sudah basah.


ini pasti darah Zahra, kau pasti akan baik baik saja sayang gumam nya


dan tepatnya dokter Toni yang saat ini yang menangani istri dari temannya itu.


" ada apa dengan istri mu Van "


" jangan banyak bertanya, cepat periksa istri ku dan segera obati dia sepertinya jahitan di belakang kepalanya robek"


" baiklah aku akan memeriksanya "


" cepat lakukan, jangan banyak buang waktu, aku tidak mau istriku kenapa kenapa kau mengerti "


" tenanglah sobat, istrimu tidak apa apa "


" tidak apa apa bagaimana, darahnya sedari tadi menetes terus " ucap Bima seperti tak sabaran.


" iya iya bersabarlah, aku akan menanganinya " jawab dokter Toni kepada temannya yang selalu tidak sabaran itu.


dan Bima pun menunggunya di dalam ruangan itu sambil mondar mandir di dekat ranjang pasien karena merasa tidak tega melihat Zahra di otak atik oleh para dokter itu,


dan saat ini karena luka Zahra tak separah waktu kecelakaan dulu maka dari itu Zahra tidak di taruh di ruang ICU, hanya di ruang perawatan dan saat ini dokter Toni dan satu lagi dokter perempuan bernama dokter Rani yang bersama sama menangani Zahra.


sedangkan sekertaris Revan menunggunya di luar ruangan sambil berjaga jaga di sana dan juga sesekali melihat benda pipih nya memantau keadaan saham perusahaan.


beberapa saat kemudian


dokter Toni dan dokter Rani pun kini telah selesai menangani Zahra.

__ADS_1


" bagaimana Ton " tanya Bima.


" bersabarlah, sebentar lagi istrimu akan sadar, istri mu tidak sadarkan diri karena dia terlalu menahan rasa nyeri sebelum dia kau bawa kesini, dan juga dia terlalu lelah sepertinya, dan jangan lupa satu lagi pesanku, kau ingat kan dulu bim " jelas dokter Toni.


" ya.. ya.. aku mengingatnya, pergilah sana " usir Bima setelah dokter Toni selesai memeriksa istrinya itu.


" dasar tidak tau berterima kasih " ucap dokter Toni kepada sahabatnya yang sedikit menyebalkan itu.


" apa kau bilang hah " ucap Bima lagi.


" ah.. tidak, tidak aku hanya bercanda sobat, tunggulah sebentar lagi istrimu segera siuman"


sahut dokter Toni yang merasa sedikit ketakutan gaji bulanannya di potong itu.


" permisi tuan " ucap kedua dokter itu kemudian meninggalkan kamar pasien.


tiga puluh menit kemudian.


Zahra perlahan membuka matanya melihat ke arah kanan kiri dan melihat ke atas langit langit kamar.


" sayang kau sudah sadar "


" ii.. iya, " ucap Zahra terbata bata.


" aku ingin pulang " ucapnya lagi dengan raut wajah begitu lemah kepada Bima dengan mencoba mendudukkan tubuhnya dari tempat pembaringan


" iya sayang tunggulah keadaan mu membaik Zahra " jelas Bima dengan nada lembut.


" aku akan membantumu duduk sayang " ucap Bima sangat lembut dan mencoba memegang tubuh Zahra.


" tidak perlu, aku bisa sendiri " ucap Zahra ketus


" tapi aku ingin pulang "


" iya aku mengerti sayang, diam lah sebentar "


" aku tidak apa apa, aku hanya ingin pulang, aku tidak ingin menambah hutangku kepadamu bertambah banyak "


ucap Zahra sesekali melihat ke arah Bima kemudian Zahra mencoba melepaskan selang infus yang masih menempel di tangan kirinya itu.


" Zahra, berhenti lah, jangan seperti ini aku mohon "


ucap Bima yang mencoba menahan tangan istrinya setelah itu langsung memeluk tubuh Zahra begitu erat, dan sedikit mengeluarkan cairan beningnya di kedua pelupuk matanya melihat keadaan istrinya yang seperti ini yang sepertinya Zahra tetap ingin sekali berpisah dengannya.


kemudian Bima melepaskan pelukannya dari tubuh Zahra perlahan.


" baiklah sayang kita sebentar lagi akan pulang"


Zahra hanya diam mendengar perkataan suaminya.


" sekertaris Revan " panggil Bima.


" ya tuan " jawab sekertaris Revan dari luar kamar pasien.


kemudian sekertaris Revan segara masuk ke dalam ruangan pasien yang begitu mewah itu yang di tempati istri dari tuan mudanya saat ini.


" ya tuan "


" panggil dokter Toni kemari, bilang kalau istriku ingin pulang, cepat "

__ADS_1


" baik tuan "


kemudian sekertaris Revan pun melangkahkan kakinya menuju ruang dokter Toni.


beberapa saat kemudian


sekertaris Revan kembali bersama dokter Toni, dan sekarang mulai memasuki ruangan mewah pasien yang di tempati istri tuan mudanya itu.


" ya ada apa Bima "


" istri ku ingin meminta pulang sekarang "


" ya baiklah kalau begitu aku akan mengizinkan pulang, tetapi kau nona Zahra harus lebih berhati-hati oke jangan sampai aku dengar luka mu robek lagi oke "


" baik dokter "


baiklah kalau begitu suster segera kemari untuk mencopot selang infus yang tinggal sedikit itu.


" iya dok " ucap Zahra pelan


" baiklah bim, aku akan kembali ke ruangan sekarang seperti nya tidak ada lagi yang di butuhkan.


" baiklah "


dan dokter Toni pun kini keluar dari dalam ruangan pasien istri temannya itu untuk kembali ke ruangannya, sedangkan sekertaris Revan kembali menunggunya di luar ruangan,


sedangkan perawat perempuan wanita yang baru saja datang ke ruangan Zahra, kini mulai mencopot perlahan selang infus yang masih menempel di pergelangan tangannya itu.


beberapa saat kemudian perawat wanita itu telah selesai dan segera keluar dari ruangan Zahra.


" ayo pelan pelan sayang aku akan menggendong mu sayang "


Zahra hanya diam mendengar perkataan suaminya itu.


dan Bima pun kini telah menggendong tubuh Zahra keluar dari dalam ruangan tersebut tanpa menggunakan kursi roda, sedangkan sekertaris Revan telah siap membukakan pintu mobil mewahnya yang berada tepat di depan pintu rumah sakit,


seketika para dokter dan juga perawat yang berada di sana membungkukkan badan ketika Bima yang sendang menggendong istrinya itu melewati segerombolan para dokter dan pegawai rumah sakit lainnya.


dan kini Bima telah sampai di depan rumah sakit dan sekertaris Revan dengan sigap membungkukkan badan mempersilahkan masuk tuan muda beserta istrinya itu.


" silahkan masuk tuan "


" hem "


Bima pun masuk bersama Zahra yang masih berada di dalam gendongannya tersebut.


sedangkan sekertaris Revan pun mulai masuk dalam mobil bagian kemudi, dan mulai menancapkan pedal gasnya meninggalkan area rumah sakit dan mobil mewah yang di tumpangi mereka saat ini mulai membela keramaian padatnya ibu kota.


lima belas menit kemudian


mobil mewah yang mereka tumpangi itu, kini mulai masuk kedalam pekarangan mansion besar dengan pintu gerbang yang menjulang tinggi itu.


dan mobil pun berhenti tepat di depan pintu mansion yang besar nanti tinggi itu.


sedangkan sekertaris Revan kini mulai keluar dari dalam mobil mewah tersebut kemudian segera membukakan pintu mobil untuk tuannya.


Bima mulai keluar bersama Zahra yang masih berada di dalam dekapan nya itu.


" kau tertidur sayang "

__ADS_1


ucap Bima tersenyum kepada Zahra yang ternyata sudah tertidur di dalam gendongannya saat ini


__ADS_2