
Pagi menjelang.
06.30 wib
Sekertaris Revan masih setia memejamkan kedua matanya, dirinya belum tersadar bahwa Adinda sang istri barunya tersebut telah meninggalkan dirinya sendirian di atas ranjang empuk nya itu.
Perlahan matanya mulai terbuka pandangan nya langsung beredar mengelilingi arah sekitar kamar luas nya tapi kedua matanya tak menemukan keberadaan Adinda di samping nya.
Sayang kau dimana ucap Revan.
Yang mulai terbangun dari tempat pembaringan ranjang empuk nya, dan mulai menyibak kan selimut tebal yang menyelimuti tubuh nya.
Pasti dia yang memasang selimut ini ucap nya lagi dengan senyuman yang mulai mengembang dari bibirnya.
Perlahan Revan mulai turun menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya di dalam sana.
Pasti Dinda tengah memasak di dapur, baiklah aku akan segera membersihkan tubuhku dan setelah itu aku akan segera menyusul nya ke lantai bawah, dan satu lagi aku akan segera memberi nya hukuman kenikmatan di pagi hari ini hahaha.... monolog sekertaris Revan.
*
*
Di dapur.
Adinda tengah sibuk berperang dengan peralatan masak nya, gadis yang kini berstatus sebagai istri tersebut dengan lihai nya memainkan alat tempur nya di dapur nan mewah nya itu sebagai seseorang layaknya perempuan yang tugas nya di dapur untuk mengolah masakan.
Dia sudah bangun apa belum ya, semoga saja pagi ini ia lupa dengan kemarahan nya tadi malam, aku sangat takut jika melihatnya sedang marah dengan raut wajah yang terlihat menyeramkan itu, hari ini aku kan membuat kan nya ayam geprek dan ayam kecap kesukaan nya mungkin rasa marah nya nanti akan berubah menjadi senyuman saat melihat masakan ini ahh... semoga saja monolog Adinda.
yang terus mengaduk aduk masakan nya di atas wajan.
Sesaat masakan nya satu persatu mulai matang dengan sempurna, tak lupa ia membuatkan susu hangat untuk Revan yang sudah ia taruh di atas meja makan mewahnya.
Dengan tiba tiba saat ia kembali sibuk dengan wajan panas di hadapannya sebuah tangan sedikit berotot mulai mengalung di perut rata nya.
Adinda sedikit terlonjak kaget atas kelakuan Revan.
" Akh.. kak kau mengagetkan ku saja sih " ucap Dinda sedikit mengelus dada.
" benar kah " bisik Revan
" ya kau mengagetkan ku kak " jawab Adinda
__ADS_1
kenapa nada bicaranya terdengar sedikit menakutkan ya, seperti sedikit berbeda gumam Dinda.
" apakah kau melupakan sesuatu hem " bisik nya lagi di telinga sang istri membuat Adinda sedikit begidik ngeri mendengar nya.
" tidak " jawab Dinda dengan sedikit menutupi rasa ketakutan nya.
" matikan kompor nya, aku akan menghukum mu pagi ini " ucap Revan yang tambah membuat nyali Adinda menciut.
" menghukum ku " tanya Adinda sedikit memperjelas.
Akhh... di sangat terdengar menakutkan sih, sepertinya ada sesuatu yang akan terjadi pagi ini gumam nya lagi.
" kau pura pura lupa atau bagaimana hah , kau ingat tadi malam sayang "
" ii.. ii... ingat ap.. ap.. apa ya kak " jawab Adinda sedikit terbatas bata.
" J O E "
" hehehe.... itu ya, tapi... tapi aku, kau kan tau sendiri kak bukan kah kau sudah mengenalkan dirimu padanya dan aku juga tidak bermacam macam bukan " jelas Dinda dengan sedikit tertawa.
" tidak ada alasan " ucap Revan yang memang tak menerima penolakan dari Adinda.
" kak kau ingin menghukum ku apa, mana ada suami menghukum istri itu namanya KD.... " tanya Adinda yang ucapan nya terhenti ketika sekertaris Revan tiba tiba langsung memikul tubuh nya bak karung beras tersebut.
" kak apa yang kau lakukan, turunkan aku, aku tidak mau di hukum, kau pria apa sih sebenarnya " ucap Dinda yang kini sudah bergelantung di pundak sang suami yang tengah melangkahkan kaki nya ke arah anak tangga.
" Dinda diam kalau kau tidak ingin jatuh terguling di anak tangga ini, kau mau hah "
" tapi kau mau menghukum ku apa sih, turun aku aku bukan karung beras "
" Diam aku bilang tubuhmu sangat berat Dinda "
" jawab aku kau mau menghukum ku apa "
" nanti kau akan tau sayang "
" kakak jangan menakuti ku "
" tidak, bahkan kau nanti akan menyukai nya "
Sedangkan kan Adinda mulai berfikir tentang ucapan sang istri barusan hukuman apa yang sebentar lagi akan ia dapatkan dari sang suami posesif nya tersebut.
__ADS_1
Sesaat sepasang suami istri yang lagi lagi tengah membicarakan perihal semalam itu kini mulai memasuki kamar pribadinya, setelah tadi sekertaris Revan memikul tubuh sang istri bak karung beras itu.
Perlahan sekertaris Revan mulai menurunkan tubuh Adinda setelah menutup pintu kamar nya tadi, Adinda mulai melangkah berniat menuju ranjang dan baru saja dua langkah tangan sebelah nya ditarik oleh Revan sehingga membuat tubuh bagian punggung Adinda menabrak dada bidang milik Revan dengan kedua tangan nya memeluk perut sang istri dari belakang.
" Dinda aku menginginkan mu " bisik nya di telinga Adinda.
Membuat gadis itu sedikit merinding dengan deru nafas sang suami masuk ke dalam telinganya.
" ka.. kak.. kakak, bukan kan kau akan menghukum ku " ucap Adinda terbata bata.
" dan aku menginginkan mu, itulah hukuman nya "
" aaa... kau membuat ku takut tadi "
Perlahan Revan melepaskan pelukan nya dari perut raya Adinda, kemudian membalikkan tubuh Adinda untuk menghadapnya.
" kak bukan kah ini masih pagi ya "
" memangnya kenapa apa masalah tidak kan kau istri ku Dinda "
" dasar suami mesum "
" hehehe... dasar ya kau ini menyebalkan sekaligus membuat ku selalu gemas dengan tingkah mu itu "
" kau juga emmm..... " ucap Adinda kembali terhenti karena kelakuan Revan yang dengan tiba tiba menyambar bibir tipis milik Adinda.
Sedangkan tangan pria tampan itu kini mulai menarik pinggang Adinda dengan posesif nya ke dalam dekapan nya, dengan kedua bibir yang sudah saling bertautan, dan juga kedua mata terpejam saling menikmati pangutan bibir tersebut.
Di rasa lama berciuman seperti nya ciuman hangat itu seolah olah meminta hal lebih dari sekedar ciuman biasa.
Ya keduanya di pagi ini benar-benar akan melakukan percintaan panas di atas ranjang empuk nya seperti keinginan sekertaris Revan, Adinda mulai mengeluarkan nada nada suara indah nan syahdunya sedangkan sekertaris Revan dengan gencarnya terus menerobos lipatan sempit milik Adinda dengan samurai panjang milik nya, yang sungguh membuat nya seperti ingin melakukan terus terus dan terus menerus.
satu jam...
dua jam....
tiga jam berlalu.
Keduanya baru saja selesai dengan adegan percintaan panas nya sampai tak terhitung berapa kali sekertaris tampan itu mendapat kan kenikmatan bersama sang istri yaitu Adinda.
Dan saat ini keduanya masih terkapar lemas tak berdaya di atas ranjang dengan seluruh pakaian milik keduanya yang masih berserakan di sembarang arah lantai marmer kamar mewah nya tersebut.
__ADS_1
Tubuh sepasang suami istri itu kini masih tertutupi selimut tebal berwarna putih, sedangkan sekertaris Revan kemudian berniat untuk memejamkan kedua matanya seperti Adinda yang memang sedari tadi sudah sangat kelelahan mengimbangi permintaan sang suami.