Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
rumah sakit


__ADS_3

sedangkan dari arah kejauhan, mama Alisya, papa Brandon, sekertaris Revan dan juga kedua orang tua Zahra pak Anwar dan bu Fatma, kini segera menuju ke arah dimana Bima tengah duduk di kursi tunggu tepatnya berada di depan ruangan ICU.


sesaat kemudian.


semua keluarga dan juga sekertaris Revan kini telah sampai di depan ruang ICU.


" Bima " panggil mama Alisya kepada anak putra pertamanya itu.


" mama " jawab Bima yang yang kemudian mendongakkan kepalanya.


karena sedari tadi Bima hanya menundukkan kepala, mengingat semuanya yang menurutnya itu adalah kesalahannya.


" bagaimana keadaan Zahra " tanya mama Alisya.


" Bima juga belum tau ma, Zahra masih ada di dalam " jawab Bima dengan keadaan nya terlihat sangat kacau.


" bagaimana ini bisa terjadi " tanya mama Alisya dengan ke kekhawatiran nya.


" panjang cerita nya ma " jawab Bima setelah itu.


kemudian dengan tiba tiba pintu ruang ICU pun di buka dari dalam.


" tuan nyonya " ucap dokter Toni yang baru saja keluar dari dalam ruang yang membuat dag dig dug.


" bagaimana keadaan istri ku Ton, cepat katakan " ucap Bima yang seperti ingin segera mendapatkan jawaban itu.


" begini, keadaan istri mu kritis, dia mengalami pendarahan yang begitu hebat, dan kita harus ambil tindakan cepat, ini mengenai nyawa kedua nya "


DEG.........


Zahra anakku batin Bima.


" apa, cepat lakukan yang terbaik, mereka sangat berharga di hidupku Ton, aku mohon selamat kan anak dan istriku " ucap Bima yang begitu takut akan terjadi sesuatu yang menimpa seorang gadis yang begitu ia cintai nya tersebut.


" aku akan berusaha, dan istri mu sekarang harus segera di operasi kita akan mengeluarkan bayinya " jawab dokter Toni.


" jadi cucu ku akan keluar secara prematur dokter Toni " tanya mama Alisya


" benar nyonya "


" lakukan yang menurut mu bisa menyelamatkan mereka berdua, aku percaya padamu Ton " ucap Bima


" baiklah kalau begitu, kami para tim dokter akan berusaha " jawab dokter Toni.


kemudian segera masuk ke dalam ruang ICU lagi, dan setelah itu kini para dokter mulai mendorong brankar yang ada tubuh Zahra di atasnya menuju ruang operasi, dengan cepat tim dokter dan juga di ikuti suster kini langsung menuju ruang operasi.


sedangkan para keluarga kini harap cemas dengan keadaan gadis delapan belas tahun tersebut yang sebentar lagi menjadi ibu itu.


" ayah ibu takut terjadi sesuatu pada anak kita " ucap bu Fatma yang kini mulai bersuara, karena sedari tadi hanya menyimak dengan dirinya yang di selimuti kekhawatiran kepada putri pertamanya tersebut.


" kita berdoa saja bu, semoga Zahra bisa melewati ini semua " Jawa pak Anwar.


" bu Fatma kita berdoa saja semoga Zahra baik baik saja ya bu " ucap mama Alisya kepada besan nya tersebut yang tak lain bu Fatma.


" iya nyonya Alisya " jawab bu Fatma.


" iya benar kita berdoa saja supaya Zahra dan calon cucu kita baik baik saja " ucap papa Brandon yang mulai menyahut kepada semuanya.


" sebaiknya kita duduk di sana saja ayo bu " ucap mama Alisya lagi kepada besannya tersebut.


" ayo nyonya " jawab bu Fatma kemudian.


kini kedua keluarga tengah melangkah menuju kursi tunggu di depan ruang operasi.

__ADS_1


sedangkan di depan ruang ICU tinggal Bima dan sekertaris Revan.


" kenapa kau bisa tau aku disini Van "


" saya di hubungi dokter Toni tuan, boleh saya tahu tuan, sebenarnya yang terjadi sehingga nona bisa pendarahan hebat tuan "


" cerita nya panjang Van "


" saya siap mendengar nya tuan "


" baiklah aku akan menceritakan semuanya padamu "


Kemudian Bima pun mulai menceritakan awal mula dirinya dan Zahra sedikit bertengkar kecil di taman belakang, mulai dari masalah kuliah yang ia jawab dengan nada suara yang sedikit dingin kepada sang istri, setelah itu dengan dirinya yang mulai meninggalkan Zahra sendirian di sana.


kemudian karena tidak tega dirinya kembali ke taman untuk mengajak istrinya masuk kedalam,karena mendengar sesuatu yang istrinya bicarakan sendiri di taman sambil membanding kan dirinya dan adik kandung nya yaitu Hendra itu, dirinya yang mulai merasa kesal lagi dan berniat meninggal kan istrinya untuk yang kedua kalinya menuju kamar pribadi miliknya bersama Zahra.


setelahnya sampai dikamar Bima juga menceritakan kepada sekertaris Revan tentang dirinya yang bersikap dingin kepada Zahra, dan setelah itu berniat mendiamkan sangat istri sebagai hukuman meninggalkan Zahra ke ruang kerjanya.


beberapa saat kemudian Bima juga menceritakan kalau dirinya begitu sedikit kepikiran kepada sang istri yang saat itu ia diamkan di kamar, setelah sedikit lama di ruang kerja dirinya berniat kembali ke kamar untuk melihat keadaan sang istri, dan ternyata ketika setelah dia masuk, keadaan kamarnya sudah kosong,


kamar ganti pun kosong dan akhirnya bima juga menceritakan tentang dirinya yang menunggu sang istri yang tengah berada di dalam kamar mandi pikirnya, karena dirasa begitu sangat lama dirinya menggedor pintu sampai yang kedua kalinya tetap tak ada sahutan dari dalam,


dengan dirinya yang kemudian mencoba membuka pintu yang ternyata tak di kunci itu, dan dirinya yang perlahan masuk sudah mendapati istri nya tergeletak lemas dengan wajah pucat di lantai dengan kedua kakinya berlumuran darah tak henti henti nya menetes.


" Begitulah ceritanya Van, dan setelah itu karena keadaan mansion sepi aku langsung membawanya ke rumah sakit, mama dan papa ke panti waktu itu, jadi aku menggunakan sopir pribadi dan tak menghubungi mu, dan semua ini salahku ini gara gara diriku, seandainya aku tetap bersama nya di kamar mungkin keadaannya saat ini Zahra tidak akan ada di sini Van "


" tuan tenang kan hati anda "


aku harus nasehati bagaimana sekarang, sedangkan kau tuan, posesif mu susah di hilangkan meskipun kau tak se posesif dulu kepada nona gumam sekertaris Revan dalam hati.


" aku harus bagaimana sekarang seandainya terjadi sesuatu padanya aku tidak akan memaafkan diri ku sendiri Van "


" tuan tenang, pasti nona bisa melewati ini, dan satu hal lagi menurut saya anda jang mendiamkan nona tuan " ucap sekertaris Revan yang sedikit mencoba menenangkan hati tuan nya saat ini.


" saya lihat nona tak berniat begitu tuan, saya melihat nona yang sekarang begitu menyayangi anda " ucap sekertaris Revan kemudian.


" iya Van kau benar, di memang sangat menyayangi ku sekarang,aku berhasil membuatnya jatuh cinta padaku, bahkan dia sering sekali membuat ku tertawa dengan candaannya, dia juga sering menggodaku dengan tingkahnya karena dia tau kalau aku pasti tergoda,dan setelah aku tergoda di meninggalkan aku sendirian hehehe....... sungguh menggemaskan, aku jadi merasa sangat sangat bersalah jika mengingat dirinya yang selalu membuat tertawa dengan semua tingkah nya "


jawab Bima sambil mengusap kasar air matanya yang tak terasa keluar dari ujung kedua matanya yang tak ia sadari sedari tadi, sesekali pria tampan bertubuh atletis itu sedikit tertawa mengingat istrinya yang sering membuat nya tertawa itu.


sekertaris Revan ikut tersenyum mendengar cerita tuan mudanya itu, betapa keduanya sangat saling mencintai, tetapi karena sifat keposesifan tuannya menjadi hubungan nya sering bermasalah karena ulahnya sendiri pikir sekertaris Revan.


" setelah itu anda meminta maaflah kepada nona setelah nona sadar tuan "


" iya Van kau benar "


obrolan pun selesai di antara keduanya.


satu jam kemudian.


Ruang operasi telah di buka, para dokter mulai keluar satu persatu dari dalam.


sedangkan Bima yang melihat pintu operasi terbuka, langsung berlari menuju ke sana dan langsung menanyakan keadaan gadis yang sangat ia cintai tersebut.


" Ton katakan bagaimana keadaan istri ku " tanya Bima kepada dokter Toni.


" Keadaan istri mu...... " ucap dokter Toni terhenti.


" katakan dengan jelas "


" istri mu kritis Bim, berdoalah semoga ada keajaiban untuk nona Zahra bisa sepenuhnya bisa segera sadar, dan sebelum nya selamat anak mu perempuan sobat, dia prematur jadi harus berada di dalam kotak inkubator "


DEG..........

__ADS_1


Zahra.....


jantungnya kembali berdetak mengejutkan mengingat sesuatu hal tentang keadaan istrinya saat ini


sekilas Bima tersenyum kemudian kembali terlihat sangat bersedih dengan keadaan mengingat keadaan yang saat ini berjuang di dalam sana.


" cucu ku perempuan " ucap mama Alisya menyahut.


" benar nyonya "


sedangkan bu Fatma dan Anwar ikut tersenyum mendengar cucunya yang sudah keluar, dan juga kini raut wajah bahagianya kembali meredup, mengingat anak gadis satu satunya itu terbaring lemah memperjuangkan hidupnya


" boleh aku masuk kan melihat mereka di dalam sana " ucap Bima kemudian.


" sebentar lagi istri mu akan di pindahkan ke ruang pasien tunggulah sebentar "


" baik lah cepat "


semua keluarga terlihat bahagia sekaligus terlihat sedih mengingat gadis belia yang mereka sayang kini tengah terbaring kritis di dalam sana.


sedangkan di dalam ruang operasi bagian suster yang ikut membantu kini mulai memindahkan brankar yang masih berisi tubuh Zahra, untuk di pindahkan ke ruang khusus pasien,


tetapi ruangannya yang berbeda ruangan khusus keluarga Sinaga, ruangan yang dulu pernah di tempati Zahra sewaktu kecelakaan yang membuatnya harus di inapkan di dalamnya.


beberapa saat kemudian.


kini Zahra telah di pindahkan ke ruangan pasien, seluruh anggota keluarga kini mulai masuk satu persatu ke ruangan tersebut, karena mengingat keadaan Zahra yang memang benar-benar sangat kritis saat ini.


dan orang pertama yang masuk ke dalam adalah Bima suaminya, dengan memakai perlengkapan medis serba biru muda itu yang saat ini yang ia kenakan.


sedangkan kan yang lainnya menunggunya di luar.


perlahan Bima masuk ke dalam ruangan yang di tempati Zahra saat ini.


di lihat nya dari arah kejauhan, wajah istrinya yang sangat terlihat pucat di sana, dengan perlengkapan medis yang menempel di tubuh mulus nya saat ini.


Bima melangkah sambil kedua matanya yang kini mulai berkaca kaca, dia begitu merasa iba dan bersalah kepada Zahra, gadis yang sangat ia cintai itu.


perlahan Bima mulai mendekat dan duduk di kursi kecil di dekat ranjang Zahra.


kedua mata gadis itu terlihat terpejam dengan sangat rapat, dan dengan alat bantuan oksigen yang kini menempel di bagian hidungnya.


Akhirnya lelehan air mata Bima jatuh juga di kedua pipinya.


Sayang ini aku, kita sudah mempunyai bayi sekarang, dan saat ini dia berada di ruangan khusus sayang, Zahra maaf kan aku, ayo cepatlah sadar, bayi kita ingin segera menyusu kepadamu sayang monolog Bima


sesekali pria tampan itu menciumi tangan Zahra dengan penuh kelembutan, kemudian kembali beralih ke kening istrinya.


dan Bima kembali bermonolog.


Aku mencintaimu Zahra dan setelah sadar nanti aku akan merawat mu dan anak kita bersama sama, emm... kau ingin memberinya nama apa yang pantas untuknya, pasti dia sangat cantik dan menggemaskan seperti dirimu, aku juga belum melihat nya monolognya lagi.


sesekali Bima kembali mengusap kasar kedua matanya yang di penuhi air matanya yang merembes ke mana mana.


baiklah aku akan keluar untuk melihat dan meng adzani bayi kita, dan setelah itu nanti aku akan kesini lagi, aku mencintaimu... cup..


satu kecupan mendarat di kening untuk kesekian kalinya.


KAK JANGAN LUPA BACA NOVEL AKU LAINYA :


- PERBUDAKAN KU BERAKHIR DI PELAMINAN.


- DUNIAKU TAK SELEBAR DAUN KELOR.

__ADS_1


KAK JANGAN LUPA LIKE, VOTE, SAMA KOMENTAR NYA ☺☺😊😘😍😍


__ADS_2