
" heh kau " ucap Revan kepada pelayan laki laki tersebut dengan tatapan membunuh.
" iya...ii..iya ...saya tuan " jawab pelayan laki laki itu gelagapan.
" kau masih ingin bekerja atau kau ingin bola matamu ingin aku colok hah " ucap Revan kemudian dengan nada menakutkan.
" ma... maaf tuan, saya tidak akan melakukan kesalahan lagi am...ampuni saya tuan Revan " jawab pelayan restoran sambil sedikit terbata bata karena ketakutan.
" pergi kau, cepat hidangkan pesanan ku dan ISTRIKU " jelas Revan sambil menekankan kata istri.
" ba.. ba.. baik tuan saya permisi "
teryata itu adalah istri tuan Revan, pantas saja cantik sekali, hampir saja aku gumam pelayan laki laki tersebut.
sambil mengelus dada.
Dan kini tinggal lah sepasang suami istri yang masih saling diam sedari tadi.
Sedangkan Adinda pikiran nya sudah travelling kemana mana memikirkan sesuatu hal tentang pria di samping nya saat ini itu, se pengaruh itu kah suami nya sebagai tangan kanan Sinaga group dalam kota nya itulah pikir Adinda.
Sesaat kedua nya bersamaan saling melirik.
" apa lirik lirik " ucap Dinda dengan nada ketus nya yang merasa mendapat lirikan dari sang suami.
" siapa yang melirik " jawab Revan yang juga ketus.
" itu apa tidak melirik namanya " ucap Dinda lagi.
" kau senang iya kan di tatap pria lain " ucap Revan kepada sang istri yang kembali merasa kesal mengingat pelayan lelaki tadi.
" apa sih maksudnya " Jawab Dinda.
" ah sudah lah lupakan, aku malas berdebat " ucap Revan kemudian.
" aku juga malas berdebat sedari pagi perut ku kosong, bagaimana kalau lambung ku kumat, dan kau terus membuat ku kesal, kau tidak menyayangiku " sahut Dinda dengan nada suara yang terdengar merajuk kepada Revan.
akkhh... kenapa jadi begini sih Din gumam Revan.
seolah merasa sangat bersalah kepada sang istri.
" Dinda... maaf aku tak berniat begitu padamu sayang " ucap Revan yang mulai melembut sambil memegang tangan Adinda di atas meja.
" lalu tadi kenapa menuduhku kesenangan di tatap pria lain segala " tanya Dinda.
" aku tidak iklas jika kecantikan mu di pandang pria lain selain diriku Din " jawab Revan dengan kesungguhan hati nya.
" ya sudah mulai besok kau perban saja semua wajah ku supaya tak terlihat " ucap Dinda
" kau masih bisa bercanda ya di saat aku serius Din " jawab Revan dengan raut wajah seserius mungkin.
" hehehe.... habis nya kau aneh aneh saja, apa kau melihat aku kesenangan tadi " jelas Dinda
" aku tak tau "
" hah... kau ini ya sudah diam lah "
" ya sudah maaf, kau memaafkan aku kan sayang hal yang tadi " ucap Revan.
__ADS_1
" iya aku sudah memaafkan mu " ucap Dinda sambil mengembangkan senyum menatap Revan.
" Terima kasih sayang " ucap Revan kemudian.
Lagi lagi gadis itu kembali mengembangkan senyumnya menatap sang suami yang juga menatap saat ini.
" kak apa aku boleh bertanya sesuatu " ucap Dinda setelah itu.
" apa sayang tanyakan saja apa yang ingin kau tanyakan hem " ucap Revan.
" kak " panggil Dinda.
" iya "
" hehehe... aku hanya ingin bertanya gajimu berapa sih sebagai tangan kanan tuan Bima " ucap Adinda dengan sedikit cengengesan.
Sekejap sekertaris Revan langsung menggeleng geleng kan kepala nya pelan sambil sedikit tertawa dengan pertanyaan yang di lontarkan Adinda padanya.
" kak kenapa kau tertawa sih, apa ada salah dengan pertanyaan ku " tanya gadis bermata bulat tersebut.
" hehehe.... kenapa kau bertanya hal itu sayang heh "
" sudah jawab saja kak aku kan hanya ingin tau"
" baiklah akan aku jawab "
" ya cepatlah ayo jawab aku sangat penasaran sekali, begitu saja susah sekali mengatakan nya "
" hehehe..... gaji ku sepuluh kali lipat lebih banyak dari pada gaji mu Adinda "
" Ap.. ap... apa... sepuluh "
" gajiku saja satu bulan sebanyak itu, apalagi dirimu kak, astaga kakak kau "
" kau apa hah "
" kau... "
" kau apa sih Din "
" hahahaha.... kau... kau pria kaya raya kak " ucap Dinda dengan nada suara sedikit keras sehingga membuat orang di sekitarnya menoleh ke arah keduanya.
" Dinda kecil kan suaramu " ucap Revan kemudian yang sesekali melirik ke arah samping kanan kirinya.
Dinda istriku astaga kenapa jadi norak seperti ini sih Din kau ini gumam Revan.
sambil memijit pelipis nya saat ini dengan dirinya yang merasa tak percaya akan jawaban gadis yang saat ini sudah berstatus istrinya tersebut.
" iya maaf maaf "
" hanya itu saja yang ingin kau tanyakan " ucap Revan.
" iya hehehe.... " jawab Adinda dengan sedikit tertawa sesekali menggaruk tengkuk leher nya yang tak gatal.
Sesaat pesanan datang.
" Tuan ini pesanan anda dan istri anda " ucap pelayan pria tadi dengan hati yang sedikit dag dig dug.
__ADS_1
" hem "
kemudian pelayan tersebut pun segera menatanya di atas meja.
Sedangkan Adinda sedikit melirik ke arah sang suami yang terlihat sangat menakutkan dengan pandangan tajam nya.
" sayang ayo cepat makan kau pasti lapar " ucap Dinda sambil membelai pipi milik Revan agar pria itu sedikit mencair dengan hawa panas di dalam dirinya sejak kedatangan pelayan pria yang tadi sempat memandangi dirinya itu.
" ah ia sayang ayo cepat makan " jawab Revan yang kini langsung mengembangkan senyum nya ketika mendapati tangan mulus Dinda menyentuh pipi nya.
Berbeda dengan pelayan laki-laki itu yang mulai kembali ke arah dapur restoran sambil mengelus dada nya berulang kali, karena merasa terselamatkan dari pandangan mematikan sekertaris Revan, pemilik dari restoran mewah tersebut,yang saat ini adalah tempat dirinya bekerja itulah kira kira pikir pelayan laki laki restoran tersebut.
sedangkan kedua pasang pengantin baru itu mulai menikmati makanan pesanan nya tadi.
sesekali Adinda kini memulai percakapan dengan dirinya yang sedikit kepo tentang pria yang sedikit misterius di samping nya saat ini alias Revan suaminya sendiri.
" kak "
" apalagi Dinda jangan banyak bicara jika sedang makan "
" iya kak aku hanya ingin bertanya sedikit saja "
" apa "
" hehehe.... "
" kenapa tertawa dulu Din bukan kah kau ingin bertanya tadi "
" iya aku hanya ingin bertanya em.... aa... em.. kak "
" apa sih sebenarnya yang ingin kau tanyakan "
" sebenarnya aku ingin bertanya, kenapa pelayan tadi bisa tahu namamu apa kau pelanggan setia di restoran ini "
" tidak juga "
" lalu "
" dia mengetahui namaku karena aku tangan kanan Sinaga group, sekaligus pemilik dari restoran mewah ini "
" ap... ap... apa.. kak tunggu kak, apa yang kau ucapkan bukan candaan "
" untuk apa bercanda "
" kau serius "
" ya "
" ja.. ja... jadi kau, astaga.. astaga... astaga jadi kau pria yang benar benar kaya ya kak "
ya Tuhan aku benar benar menjadi istri pria tampan nan kaya, aku merasa tak percaya akan semua ini , pantas saja ia mempunyai segala nya gajinya saja sepuluh kali lipat gumam Adinda.
" Dinda kau tidak ada pertanyaan lagi ya hah "
" hehehe... tidak ada, kau tau kak sedari dulu aku penasaran sekali gaji di perusahaan pencakar langit Sinaga group, apalagi dirimu sekertaris Revan "
" apa kau sudah lega sekarang mengetahuinya " tanya Revan "
__ADS_1
" sudah hehehe " jawab Adinda yang kembali sedikit tertawa.
Sedangkan Revan menggeleng gelengkan kepalanya pelan, sesekali mengacak kasar pucuk rambut milik Adinda.