
Sinar matahari mulai menembus tirai putih menyilaukan siapa saja yang melihat nya,
Begitu juga pasangan suami istri yang baru saja membuka kedua matanya perlahan, setelah tadi malam menghabiskan malam panjang nya.
Kedua mata bulat milik Sheina mulai sedikit mengerjap karena silau akan sinar matahari yang menyinari tepat di wajah cantik nya,
ia sedikit menutupi separuh wajah nya kemudian sedikit mengangkat bagian tubuh nya ke belakang untuk menyandarkan tubuh polos nya yang masih berbalut selimut tebal.
" Aw... essstttt..... sakit " pekiknya merasakan bagian inti miliknya serasa ngilu perih.
Sedangkan Barra langsung membuka kedua mata nya menatap sang istri yang tengah meringis kesakitan akibat ulah nya tadi malam di atas ranjang.
Dengan segera ia membantunya sedikit mendudukkan tubuh Sheina.
" Sayang kau tidak apa apa, milikmu pasti sangat sakit kan, kau mau kemana aku akan membantu mu " penuh dengan perhatian.
" ti.. tidak... tidak perlu aku bisa " tolak Sheina sedikit terbata bata.
" Sheina " sahut Barra dengan nada penekanan,
Sheina tau kalau suaminya kini tengah mode posesif pada dirinya.
Ia pun langsung mengiyakan karena menolaknya pun percuma, Barra akan menjadi pria dingin kalau sifat posesif nya sudah keluar seperti saat ini.
" iya. iya... mi... mi... it.. it.. itu sakit, aku mau mandi "
Barra tersenyum mendengar penjelasan gadis yang sudah mengambil hatinya selama ini di hidupnya tersebut.
Tanpa aba aba lagi tubuh berotot Barra yang tengah polos itu kini langsung mengangkat tubuh Sheina menuju kamar mandi.
Sontak saja membuat Sheina sedikit berteriak karena keterkejutan nya.
" AKKHH.... Sayang apa yang kau lakukan " tanya Sheina dengan raut wajah merah padam menahan malu karena tubuhnya terlihat polos tanpa sehelai benang pun di gendongan sang suami.
" Sudah diam, sebaiknya kita mandi bersama karena ini sudah siang aku bisa ketelatan nanti " sahut Barra begitu sangat santai.
" Ah tidak itu alasan mu saja kan "
" hehehe... sayang kenapa kau bisa tau, aku masih ingin bersama mu Sheina "
__ADS_1
" dasar kau ini ya " sahut Sheina sambil menyentil hidung mancung pria tampan yang kini tengah menggendong tubuh polos nya itu.
Barra tersenyum, kemudian melanjutkan langkah nya ke arah kamar mandi.
*
" Sayang aku mencintaimu " ucap Barra yang kini tengah memeluk tubuh sang istri dari belakang, ketika Sheina tengah menyisir rambutnya di depan meja rias.
Gadis itu tersenyum menatap pantulan wajah sang suami.
" aku juga mencintai mu sayang, maaf kan semua salah salah ku selama ini "
" hei... apa yang kau katakan sayang, anggap saja dulu kita belum menyadari perasaan kita masing masing "
" tapi aku yang paling merasa di dalam hubungan ini "
" Shutttt.... jangan katakan itu lagi, bukan kah aku dulu juga bersalah "
" tidak tapi ak... " sahut Sheina terhenti, ketika sebuah kecupan singkat di bibir nya mendarat sempurna.
...CUP...
Barra langsung kembali memeluk tubuh sang istri dari belakang setelah itu menatap wajah Sheina dari pantulan cermin yang kini tengah tersenyum padanya di sana.
" ya baiklah terimakasih suamiku " lagi lagi sambil mengembangkan senyum.
" ingat jangan nakal selama aku tidak ada, kau tidak boleh sampai... "
" kelelahan kan " lanjut Sheina.
" pintar sekali "
" Sayang " panggil Barra sambil menatap pantulan wajah Sheina di cermin.
" iya "
" Terima kasih untuk tadi malam "
Sheina mengangguk angguk mengiyakan, karena ia masih merasa malu untuk menjawab nya.
__ADS_1
" Ya sudah aku berangkat "
" ....da...da...honey " ucap nya lagi kemudian melenggang pergi dari kamar sambil meraih tas kerja nya di atas ranjang.
tak lupa ia mengecup singkat pipi Sheina.
*
Setelah kepergian Barra masih di dalam kamar.
Sheina baru saja selesai menyantap sarapan pagi nya, kemudian ia berniat akan ke kamar mandi dengan langkah nya yang begitu sangat pelan karena area inti miliknya masih terasa sangat ngilu dan perih.
" Ah, kenapa rasa perih nya belum hilang juga sih " ucap nya.
Ia terus berjalan sedikit tertatih, hingga tangan bagian siku nya menyenggol sebuah vas bunga di atas meja rias nya.
PYARRR......
Vas bunga kini sudah berserakan di lantai marmer nya.
" AKKHHH.... " teriaknya.
Astaga, kenapa kau tidak hati hati Sheina monolog nya seolah mengatai dirinya sendiri.
Sheina membiarkan pecahan tersebut dan melanjutkan langkah nya menuju kamar mandi.
Di depan kaca besar wastafel.
Sheina mulai menatap pantulan wajah nya yang kini terlihat pucat pasih, serta hidungnya yang mimisan terus menetes di sana.
Perlahan ia mengusapnya kemudian membasuh nya dengan air, setelah itu menatap kembali pantulan wajah nya di sana.
Kedua matanya kini mulai berkaca kaca seketika lelehan air mata nya menganak sungai jatuh luruh ke bawah membasahi kedua pipi mulus miliknya.
Ia beralih melihat ke arah sikunya yang sudah membiru di sana.
" kenapa tubuhku tambah rentan seperti ini, darah di hidung ku, memar di siku ku, apa waktu ku tak akan lama lagi, kenapa... bagaimana kalau Barra tau pasti dia akan curiga dengan keadaan ku " ucapnya dengan tatapan yang terlihat kosong.
Sheina termangu
__ADS_1
dan perlahan ia bersandar di dinding kamar mandi kemudian menarik punggung nya ke bawah duduk di lantai.
Gadis cantik itu kini terlihat seperti seseorang yang menyedihkan, tengah meratapi sebuah perjalanan hidup nya ke depan dan entah apa yang akan terjadi ke depan nya antara dirinya dan Barra.