Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
Perasaan yang mulai berubah


__ADS_3

Sheina terlihat sedikit kaku akan ciuman yang di berikan oleh Barra, karena memang selama ini ia tak pernah melakukan nya dengan pria mana pun,


membuat Barra tersenyum di tengah ciuman bibir itu, dirinya sangat yakin bahwa ia adalah pria yang pertama yang mencium bibir tipis milik Sheina.


Hanya aku yang boleh mencium bibir mu Shei gumam nya.


Dengan hati yang seolah sudah menang akan sesuatu yang ia ingin kan selama ini,


ia begitu merasa sangat nyaman akan posisi nya yang tengah berdekatan dengan Sheina.


Perlahan Barra melepaskan pangutan bibir nya, kemudian menatap gadis yang tengah mengatur nafas akibat ciuman yang begitu lama ia lakukan tadi.


Seutas senyuman kembali terbit dari bibir nya.


Berbeda dengan Sheina yang kemudian langsung berlari menuju kamar tanpa sepatah kata pun ia ucap kan kepada Barra.


" Shei tunggu Shei " teriak Barra menatap punggung Sheina yang mulai menjauh.


Tapi tak di gubris sekali pun oleh Sheina, justru ia berlari kencang kemudian menutup pintu kamar nya dengan sangat keras.


BRAKKK.....


bunyi nya begitu nyaring.


Membuat Barra mengartikan tindakan Sheina seperti penolakan pada nya yang tak ia terima.


Dia marah akan ciuman itu, apa aku salah dia istri ku, aku merasa sangat emosi jika dia berdekatan dengan pria lain selain aku, bahkan berani menyentuh nya sedikitpun, perasaan macam apa ini,


sedangkan aku dan dia sudah membuat perjanjian yang mungkin tak lama lagi ada perceraian, AKKHHH sial... apa yang harus aku lakukan sekarang


monolog Barra panjang lebar.


Sesekali pria itu mengacak-acak kasar rambutnya, membuat penampilan nya jadi tak karuan.


Ya sifat dinginnya yang perlahan mulai mencair selama beberapa hari terakhir, kini seolah kembali kaku, setelah mendengar informasi dari orang suruhan nya untuk membuntuti Sheina, mendengar bahwa Sheina telah resmi berpacaran dengan Earth tadi malam,


apalagi di tambah informasi ciuman pipi itu, seolah menambah darah di otak nya mendidih serta emosi yang meluap luap seketika tak bisa ia cegah.


Waktu sudah larut malam, Barra berniat untuk menuju kamar Sheina yang bersebelahan dengan kamar yang ia tempati.


Untuk menyelesaikan masalah tadi.


Tapi sepertinya pintu kamar Sheina di kunci dari dalam, Barra kembali di buat kesal ia kembali ke dalam kamar nya barang kali ada kunci duplikat pikir nya.


Dengan segera pria tampan itu langsung mencari nya di lemari dan laci laci.

__ADS_1


Entahlah apa yang membuat Barra menjadi pria yang tak biasa nya yang selalu cuek akan sesuatu yang berhubungan dengan Sheina.


Tapi malam ini ia benar benar berbeda, sampai menyuruh orang suruhan untuk mengikuti kemana Sheina pergi.


Beberapa saat.


Seutas senyuman kembali mengembang, ketika tangan nya mendapatkan sebuah kunci di dalam laci yang sama persis seperti kunci kamar yang Sheina tempati.


" Sepertinya ini kunci yang sama " ucap nya.


Setelah itu dengan langkah cepatnya Barra kini sudah berada di depan pintu kamar Sheina dan mulai memasukkan gantungan kunci tersebut ke dalam handel pintu.


Dan memang benar itu kunci duplikat nya, lagi dan lagi Barra kembali tersenyum kemudian perlahan membuka pintu kamar Sheina dengan sangat pelan.


Di lihatnya dari ambang pintu Sheina sudah terlelap, memejamkan kedua matanya dengan posisi terlentang sedangkan gaun selutut bagian bawahnya sedikit terangkat ke atas.


Memperlihatkan jelas bagian yubuh Sheina yang putih mulus, membuat Barra menelan ludah nya kasar melihat pemandangan yang tak biasa itu.


Perlahan Barra mendekat ke arah ranjang, kemudian menarik bagian bawah gaun yang sedikit terangkat tadi agar menutupi lutut Sheina.


Kau memang ceroboh Shei, andai saja aku pria brengsek pasti aku sudah menerkam mu sekarang ucap Barra.


kemudian ia mulai duduk di samping ranjang sambil menatap wajah Sheina yang damai,


Tetapi sesaat kedua matanya beralih menatap sisa sisa lelehan cairan bening yang masih membasahi kedua pipi mulus Sheina.


Dengan segera Barra kemudian berdiri setelah itu menyelimuti tubuh Sheina.


Selamat malam ucap nya lagi.


CUP...


Satu kecupan mendarat di kening Sheina.


Setelah itu Barra segera pergi meninggalkan kamar Sheina dan menguncinya kembali seperti semula agar Sheina tak curiga dan memikirkan hal yang tidak tidak pada nya.


*


*


Pagi menjelang.


Sheina segera pergi dari vila entah itu kemana yang pasti bersama Earth.


Ia benar benar tak ingin memberi tahu Barra karena sejak kejadian tadi malam, dirinya merasa sangat benci sekaligus takut mengingat pemaksaan yang Barra lakukan padanya serta tatapan tajam nya yang membuat nyali Sheina seolah menciut.

__ADS_1


Kini Sheina mulai menuruni anak tangga dengan sangat pelat agar tak terdengar oleh pria yang masih tidur nyenyak nya di kamar nya.


" aku tidak akan meminta izin pada mu, aku sangat membenci mu " ucap nya terlihat begitu sangat kesal mengingat kejadian tadi malam saat Barra mengambil ciuman pertama nya.


pria gila... pria gila... pria gila gumam nya.


*


Kini matahari sudah meninggi dan jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah sembilan siang.


Barra baru saja membuka kedua matanya kemudian menoleh sedikit ke arah jam bulat kecil berwarna hitam yang berada di atas nakas


Ia sedikit terkejut karena tak biasa nya ia bangun se siang ini, mungkin karena tadi malam ia tak bisa tidur karena pikiran nya ke mana mana, memikirkan hal yang telah terjadi antara dirinya dan Sheina.


Barra bergegas turun dari ranjang untuk membersihkan tubuh nya,


Dan dua puluh menit kemudian ia telah selesai dengan semua ritualnya.


Masak apa dia pagi ini ya, ah iya setelah sarapan sebaiknya aku mengajak dia mengelilingi Bali, dan membicarakan pelan pelan hubungan ku dengannya, menerima perjodohan sebagai takdir,


Ya aku akui aku memang benar-benar kalah dengan perasaan ku sendiri kemarin aku bilang tak akan mungkin mencintai nya dan sekarang hehehe... entahlah kenapa aku bisa memiliki perasaan ini pada nya monolog Barra panjang lebar di depan cermin kamar nya.


Setelah berlama lama di depan cermin Barra segera keluar kamar nya, tetapi baru satu langkah saja sebuah ponsel miliknya berdering di atas nakas.


tring...


tring....


tring....


Barra langsung meraih ponsel nya dan menatap layar tipis itu, tertulis jelas disana sebuah nama yang beberapa hari ini sering menghiasi layar ponsel milik nya.


" Tasya " ucap nya kemudian membuang nafas beratnya, serasa malas mengangkat telepon.


Tetapi ujung-ujungnya ia angkat karena terus berdering.


" halo " ucap Barra dengan nada dingin


" halo Bar "


" ada apa lagi hah.. bukan kah kita sudah putus " jelas Barra.


" Barra aku tidak mau, bukan kah kita baru beberapa hari jadian kenapa kau meninggalkan aku, apa salah ku Bar " ucap Tasya seolah tak terima di sebrang telepon sana.


" kau tidak salah Sya tapi aku merasa tidak cocok dengan mu, aku tidak nyaman dengan mu jelas kan "

__ADS_1


" Bar pasti semua ini gara gara Sheina kan " tuduh Tasya sebal .


" tidak penting " sahut Barra kemudian mematikan sambungan telepon sepihak.


__ADS_2