
tak terasa hari ini Zahra sudah di perbolehkan untuk pulang, karena keadaannya sudah sangat membaik.
dan saat ini tepatnya di ruangan pasien yang sangat mewah itu, Zahra tengah mempersiapkan kepulangannya ke mansion.
" sayang ayo cepatlah kita segera pulang " ucap Zahra.
" iya sayang sebentar, sekertaris Revan dan dokter Toni segara kesini.
" ya baiklah " jawab Zahra singkat.
" sepertinya kau tidak sabar sekali untuk pulang sayang " tanya Bima.
" iya sayang aku bosan di sini, aku merindukan kucing ku di sana, bagaimana ya dia sekarang "
"sayang apa sebegitu berharga nya kucing itu bagimu? "
" sangat berharga suamiku, karena itu pertama kali hadiah pemberian darimu, dan juga aku memang sangat menyukainya " ucapnya dengan hati yang sangat bahagia mengingat pertama kali dia membuka kotak kayu yang berisi anak kucing pemberian dari suaminya itu.
" benarkah" jawab Bima merasa bahagia.
Zahra menganggukkan kepalanya dan di iringi dengan senyum manisnya kepada Bima.
Bima melihat istrinya tersenyum seperti itu, kini dirinya juga ikut tersenyum, merasa bahagia karena istrinya itu sangat menyukai hadiah darinya, yang saat ini telah ia buang sendiri karena rasa cemburu berlebihan kepada istri kesayangan nya, dan tak tau di mana keberadaan kucing itu berada saat ini.
Astaga bagaimana ini Zahra sangat menyukai kucing itu dan aku membuangnya aku harus segara menghubungi sekertaris Revan sekarang gumam Bima dalam hati.
" sayang aku keluar sebentar " ucapnya kepada Zahra.
" ya baiklah sayang "
Bima pun mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruangan yang di tempati istrinya itu.
Dan Bima pun sekarang mulai menghubungi bawahannya itu yang tak lain adalah sekertaris Revan melalui ponsel pintarnya.
beberapa saat kemudian panggilan pun terhubung.
" halo " ucap Bima setelah panggilan terhubung.
" halo tuan " jawab sekertaris Revan dari sebrang sana.
" cepat kau cari anak kucing itu, aku tidak mau tau aku ingin cepat kucing itu di dapatkan, karena sebentar lagi istri ku akan pulang Van, kalau perlu beli dengan harga yang sangat fantastis supaya kucing itu kembali pada istri ku " ucap Bima menggebu gebu.
" baik tuan, kalau begitu saya akan segera mencarinya "
" jangan lupa setelah kau menemukannya bawa langsung ke mansion, dan masukkan ke kamar, supaya istri ku tidak curiga kau mengerti Van "
" baik tuan "
dan panggilan pun terputus.
setelah itu Bima kembali ke dalam ruangan tersebut dan melangkahkan kakinya ke arah Zahra, kemudian duduk di kursi kecil yang berada di dekat ranjang pasien yang di tempati istrinya itu.
" sayang kata sekertaris Revan, dia masih terjebak macet " ucap Bima yang sebenarnya tak ingin membohongi istrinya itu, tetapi keadaan yang memaksanya.
" ya sudah tidak apa apa sayang " jawab Zahra santai
" sayang apa kau tidak lelah menemaniku di sini " tanya Zahra
" sayang apa yang kau katakan, kau segalanya bagiku Zahra, aku tidak akan merasa lelah jika itu semua menyangkut dirimu "
jawab Bima yang membuat hati Zahra merasa tersentuh.
__ADS_1
" sayang "
rengek Zahra yang seperti meleleh mendengar penurunan suaminya itu kepadanya.
" apa kau akan selalu mencintai ku yang selalu sederhana ini " tanyanya lagi kepada suaminya.
" hem... " Bima tersenyum sambil men geleng gelengkan kepala mendengar perkataan istrinya.
" itulah daya tarik mu padaku selama ini sayang, kau selalu tampil sederhana, dan selalu tampil natural di depanku dengan wajah cantikmu itu yang selalu membuatku merasa gemas sekali padamu " ucap Bima dengan memegang kedua tangan milik Zahra.
" memangnya aku cantik menurut mu " tanya Zahra yang kesekian kali.
" sedikit sih " jawab Bima berniat sedikit menggoda istrinya yang polos itu.
" ahh.. sayang " rengek Zahra lagi.
" iya, iya, sayang kau sangat cantik istri ku " jawab Bima dengan wajah yang begitu bahagia bisa bercanda dengan Zahra sesekali mengelus pipi mulus istrinya.
" iya kan benar hahaha..." ucap Zahra seperti merasa menang itu.
" dasar ABG labil " ucap Bima tetapi dengan nada yang sangat pelan tetapi masih terdengar samar di telinga Zahra.
" apa tadi yang kau katakan " tanya Zahra yang seperti mendengar sesuatu itu.
" ah, tidak ada sayang tadi aku tidak berbicara "
untung saja dia tidak mendengar, pasti kalau dia mendengar nya pasti akan cemberut kepadaku gumam Bima dalam hati.
" apalagi yang ingin kau tanyakan hah " ucap Bima lagi.
" apa kau akan memaafkan aku, jika aku mempunyai salah yang sangat besar misalnya padamu "
" itu tergantung " ucap Bima membuat Zahra seperti penasaran.
" memangnya kenapa kau menanyakan seperti itu sayang " tanya Bima yang seperti penasaran juga dengan pertanyaan istrinya itu.
" sudah jawab saja sayang ini kan hanya pertanyaan " ucap Zahra seperti tidak apa apa.
" baiklah akan aku jawab, jika itu sangat menyakiti hatiku aku tidak akan pernah memaafkan mu, sebaliknya jika hanya masalah sepele saja aku akan selalu memaafkan mu sepenuh hatiku "
tutur Bima kepada Zahra yang seperti nya membuat hati Zahra sedikit ketakutan, tetapi Zahra seolah olah menutupinya
" Dan sekarang aku yang akan bertanya pada.. "
cek klek
bunyi suara pintu yang di buka dari luar yang di buka oleh sekertaris Revan.
" selamat siang tuan " ucap sekertaris Revan.
" hem " jawab singkat Bima
" maaf tuan saya terlambat "
" ya tidak apa apa, apa semua nya sudah kau siapkan Van " tanya Bima
" sudah tuan, dan ini kursi roda untuk nona " ucap sekertaris Revan sambil menyerahkan kursi roda yang ia pegang itu.
" sayang aku bisa mencoba berjalan saja, aku tidak membutuhkan itu " ucap Zahra di sela sela percakapan kedua lelaki tampan itu.
" sayang diam lah, jika kau terlalu banyak gerak luka di lutut mu tidak akan cepat sembuh sayang "
__ADS_1
" tapi sayang aku tidak apa apa "
" apa kau mau aku membopong tubuhmu dan di lihat semua orang di rumah sakit ini hah "
ucap Bima berniat menjahili istrinya itu, karena Bima sudah tau jika istrinya tidak akan mau di gendongnya karena takut bertambah malu jika di lihat semua orang, karena istrinya memang sangat pemalu.
" iya,iya baiklah terserah kau saja " jawab Zahra yang sudah menyerah karena kelakuan suami posesif nya itu.
kemudian Bima tersenyum mendengar perkataan istrinya itu.
beberapa saat kemudian dokter Toni membuka pintu ruangan tersebut.
cek klek
suara pintu yang di buka dokter Toni.
" selamat siang semuanya "
" siang dok "
" nona Zahra anda sudah boleh pulang sekarang, dan masalah perban di kening anda ini jangan di buka dulu karena masih belum sangat kering saat ini, dan semuanya baik baik saja, selamat beraktivitas lagi nona "
jelas dokter Toni kepada Zahra
" dan kau Bima jaga pola makan istri mu, jangan sampai lengah supaya luka lukanya dalam waktu dekat cepat mengering dengan sempurna "
ucapnya kepada bima yang tak lain adalah teman dekatnya sendiri.
" baiklah tidak ada lagi karena sudah aku sampaikan, kalau begitu aku akan melihat pasienku yang lain "
" baiklah terimakasih Ton "
" Sekertaris Revan naikan gaji dokter Toni dua kali lipat " ucapnya kepada sekertaris Revan.
" baik tuan " jawab sekertaris Revan.
" Terima kasih sobat " jawab dokter Toni.
" baiklah aku keluar dulu " ucapnya kepada seluruh orang yang ada di ruangan itu.
kemudian dokter Toni melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan itu, tetapi di tengah langkahnya dokter Toni terhenti.
" Bima " panggil dokter Toni kepada Bima.
" ada apa lagi hah " jawab Bima dingin
" jaga istri mu baik - baik, karena di luaran sana masih banyak yang mengantri padanya " ucap dokter Toni yang berniat menggoda temannya itu.
" apa kau bilang hah " jawab Bima dengan nada yang mulai kesal.
" sekertaris Revan, aku tidak jadi menaikan gajinya dua kali lipat catat itu " ucapnya kepada sekertaris Revan.
" ah, tidak.. tidak.. tidak.. aku hanya bercanda bim, kau ini seperti tidak mengenalku saja "
jawab dokter Toni yang mulai takut gajinya tak di naikan dua kali lipat itu
" dasar mata duitan " ucap Bima kepada Toni
sedangkan dokter Toni
kini pergi dengan cengengesan dari ruang istri sahabatnya itu.
__ADS_1