Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
Keadaan yang mulai membaik


__ADS_3

Satu minggu berlalu di sana.


Keadaan Sheina perlahan mulai membaik sedikit demi sedikit meskipun belum sepenuhnya pulih dan masih sangat lemah.


Mengharuskan ia untuk terus mendapat perawatan extra, karena sampai saat ini Sheina belum di nyatakan sadar sepenuh nya.


Sedangkan Barra yang mengetahui keberadaan sang istri.


Setiap hari nya ia selalu menemui nya dengan menyamar sebagai dokter gadungan tanpa sepengetahuan Bima dan Zahra mertuanya.


Memakai seragam dokter dengan kumis tipis palsu yang menempel di atas bibir nya.


Membuat dua bodyguard di depan pintu kamar Sheina tak mengenali penyamaran nya melainkan kedua nya mengira dokter sungguhan.


Seperti pagi ini,


Barra mulai bersiap dengan penyamaran nya, kemudian ia segera menuju kamar rawat di mana Sheina tempati.


Barra berlagak seperti seseorang dokter yang akan memeriksa pasien nya.


" excuse me " ucap Barra menirukan gaya dokter luar negri yang akan memasuki ruangan pasien.


Kedua body hanya sedikit mengangguk kan kepala setelah itu mempersilahkan masuk pada Barra.


JEG... GLEK....


Pintu pun terbuka.


Tatapan nya langsung tertuju ke arah ranjang pasien, dimana seorang wanita berparas ayu milik nya masih setia memejamkan kedua mata nya disana.


Dengan wajah nya yang masih terlihat sedikit pucat.


Barra kembali menutup pintu nya, dan mulai duduk di kursi kecil di samping ranjang.


Kedua tangan nya mulai meraih tangan Sheina dan menggenggam erat, kemudian ia tempelkan pada rahang tegas nya yang sedikit di tumbuhi bulu bulu halus itu.


" Sayang aku datang lagi " sambil menatap lekat wajah sang istri.


" sampai kapan kau tak membuka kedua matamu Shei, aku sangat merindukan mu sayang cepatlah bangun " ucap nya lagi.


Tak terasa tiba tiba perlahan buliran bening mengalir dari ujung kedua mata Sheina.


Barra yang menyadarinya langsung terkejut, kemudian membelai pipi sang istri.


" sayang kau menangis,... kau mendengar ku Sheina, sayang ini aku Barra suami mu " tambah nya berharap Sheina membalas perkataan nya.


Tetapi Sheina tetap tak membuka kedua mata nya.


Di rasa ada seseorang yang ingin masuk di balik luar pintu, Barra segera menaruh tangan Sheina di tempat nya semula.

__ADS_1


Kemudian ia segera bergegas keluar kamar tersebut.


Sialan, siapa ini pagi pagi sudah datang, padahal aku baru saja ingin menemani Sheina gumam nya dalam hati.


Papa Bima, Mama gumam nya lagi.


" how is my daughter doctor " tanya Bima dengan raut wajah serius nya.


" the situation is getting better every day sir, well iam sorry because there are still many patients that i have to treat " jelas Barra seolah mengetahui perkembangan istri yang sebenarnya.


" okay " Sahut Bima terlihat santai.


Sambil mengangguk anggukkan kepala begitu juga Zahra yang merasa sedikit lega akan penuturan dokter yang putri nya di nyatakan benar benar mengalami peningkatan.


Sedangkan Barra kemudian segera melenggang pergi,


Bima dan sang istri segera mendekat ke arah sang putri.


*


Satu bulan kemudian.


Semenjak pertemuan nya dengan kedua sang mertua saat berpapasan di dalam ruangan Sheina waktu itu,


kini seolah membuat Barra bertambah semangat karena semenjak saat itu pula Sheina mulai tersadar.


Dengan langkah lebar nya ia segera menuju ruang sang istri sambil membawa alat pel, tanpa permisi masuk kepada dua bodyguard di hadapan pintu kamar.


JEG... GLEK....


Pandangan nya langsung terarah ke ranjang pasien.


Di lihat nya Sheina kini tengah tersenyum padanya.


Barra membalas senyuman itu, dan perlahan duduk di sisi ranjang.


Tak lupa ia mencium sekilas kening Sheina.


CUP...


" selamat pagi sayang " ucap nya.


Sheina tersenyum.


" bagaimana keadaan mu " tanya Barra antusias.


" sudah membaik, tetapi akhir akhir ini aku sedikit merasa mual "


" benarkah kau sudah minum obatnya " tanya Barra.

__ADS_1


Sheina menggeleng pelan.


" baiklah kau harus meminumnya sekarang, aku ingin segera kau pulih Sheina dan kita kembali seperti dulu, dan jangan sembunyikan apapun lagi dariku kau mengerti " tutur Barra seperti mengomeli bayi kecil.


Sheina mengangguk polos.


" sayang jangan lakukan lagi ini kepadaku, Sheina kau separuh nyawa ku kemana pun kau pergi aku akan mengejar mu dan tak akan membiarkan mu pergi dari kehidupan ku " ucap nya sambil mengelus pipi mulus sang istri.


" sayang aku melakukan itu karena ak " kelasnya Sheina terhenti ketika jari telunjuk Barra menempel di bibir nya.


Sheina pun langsung terdiam menatap wajah tampan di hadapan nya tersebut.


" aku tak ingin mendengar penjelasan mu lagi, dan asal kau tau kau tak pernah menyusahkan aku sama sekali kau segalanya bagiku" dengan tatapan penuh ketulusan.


Kilas cerita.


Semenjak tersadar Sheina dan Barra memang sudah saling menjelaskan semuanya satu persatu sama lain, sekaligus menjelaskan kesalahpahaman antara dirinya dan Earth waktu itu yang sebenarnya Barra telah mengetahuinya, bahwa selama ini Sheina tak pernah mengkhianati nya sedikitpun.


Keadaan seketika hening.


Tatapan keduanya kini masih saling terpaut.


Perlahan Barra mulai mendekatkan wajah nya tepat di depan wajah Sheina, Bibirnya mulai mencium bibir tipis milik sang istri.


Kini keduanya saling terhanyut dalam ciuman bibir itu, ciuman yang begitu mereka rindukan selama ini.


Di rasa lama berciuman perlahan Barra mulai menghentikan ******* bibir nya pada bibir Sheina.


" aku mencintaimu "


Sheina tersenyum.


" aku juga mencintai mu suamiku " balas Sheina.


JEG... GLEK...


Bunyi pintu tiba tiba terdengar nyaring.


Barra langsung menoleh dan membenarkan posisinya dan kembali memegang alat pel di samping nya.


Sedangkan Bima dan Zahra yang baru masuk bersama dokter wanita itu tak merasa curiga sedikitpun pada penyamaran Barra.


Bima kembali melanjutkan perkataannya.


" putri anda sudah boleh di perbolehkan pulang tuan karena penyakitnya sudah di nyatakan sembuh total, hanya saja keadaan nya yang masih sedikit lemah " terang dokter wanita itu yang mengerti akan perkataan Bima yang memang dokter wanita itu orang Indonesia.


" benarkah dok " Bima dengan raut wajah bahagianya begitu juga Zahra yang sedari tadi menyimak.


Sedangkan Barra masih berpura pura mengepel lantai padahal telinganya juga ikut menyimak.

__ADS_1


__ADS_2