Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
antara atasan dan bawahan


__ADS_3

" AWW.... perutku " teriak Zahra dari dalam kamar mandi.


" Zahra hei kau kenapa sayang, Zahra buka pintunya " ucap Bima yang sangat khawatir saat ini dengan sang istri.


kemudian segera berlari menuju ke arah pintu kamar mandi, dan langsung menggedor pintunya.


JEDOR......


JEDOR......


JEDOR.......


bunyi pintu kamar mandi yang kini tengah di gedor gedor oleh Bima.


" aku tidak apa apa, pergilah " ucap Zahra dari dalam kamar mandi.


" tidak, aku tidak akan pergi sebelum kau membuka pintunya " jawab Bima di luar pintu kamar kamar mandi.


" aku tidak apa apa, anak ku saja di dalam perut sini yang sedang menendang nendang sedikit keras saat ini " teriak Zahra dari dalam kamar mandi.


" itu juga anakku Zahra, dan aku ingin melihatnya juga, ayo cepat buka sayang " jawab Bima kemudian yang seperti tidak mau kalah.


JEG GLEK.....


" hah... akhirnya kau buka juga pintunya, mana anakku bukankah tadi katamu dia menendang nendang bukan " ucap Bima.


saat ini yang sedikit menelan ludahnya kasar, melihat sang istri yang kini hanya memakai handuk putih sampai di dadanya itu membuatnya dirinya gemas melihatnya, meskipun perut Zahra kelihatan sangat membesar di dalam sana.


" tadi dia menendang nendang di dalam, sekarang mungkin dia sudah lelah menendangnya, ya sudah aku ingin melanjutkan mandi ku " ucap Zahra kemudian.


dan setelah itu dirinya yang masih kesal pada suaminya, kemudian perlahan Zahra akan menutup kembali pintu kamar mandinya, tetapi di hentikan oleh sang suami.


" sayang biar aku bantu ya " ucap Bima seperti tidak tega membiarkan sang istri untuk mandi sendiri di dalam sana, dan juga pikirannya saat ini seperti menuju ke arah lain sepertinya karena melihat sang istri yang hanya memakai handuk itu.


" tadi kau yang bilang sendiri padaku, menyuruhku untuk mandi sendiri, tapi kenapa sekarang jadi begini " ucap Zahra seperti mengejek sang suami.


" ah... itu kan tadi, sekarang berbeda sayang, boleh ya, maaf kan aku tentang yang tadi "


" emm... bagaimana ya "


" Zahra jangan terlalu lama berfikir, bilang iya saja kan sudah selesai "


" iya iya baiklah... "

__ADS_1


" ah... istri ku, baiklah ayo kita mandi bersama, sayang lepaskan handuk mu "


aku tau pikiran mesum mu suami ku, ya sudah lah terserah dia saja, aku sudah menduganya jika dia tidak akan betah berlama lama jauh dariku, apa saking dia cintanya padaku ya, memang benar-benar suami yang berbeda hehehe... gumam Zahra dalam hati.


" aku tidak mau melepasnya jika bukan kau yang melepaskan " goda Zahra,


dia tau kalau suaminya pasti akan semangat jika dirinya yang menyuruhnya apalagi hal yang sangat ingin seperti itu.


" Zahra kau berniat menggodaku ya " ucap Bima kemudian yang seperti sok polos saat ini di depan Zahra.


" hah... tidak usah pura pura, bukankah kau suka kan jika aku berbicara seperti tadi " jawab Zahra yang sudah mengetahui isi pikiran suaminya.


" hahaha... kau ini ya nakal sekali " sahut Bima sambil tertawa karena dirinya seperti nya sudah kepergok oleh Zahra.


kemudian dengan tiba tiba Bima melepas pengait handuk sang istri dan setelah itu membuangnya ke sembarang arah,


Dan perlahan Bima mulai mencium bibir indah itu dengan sangat lembut, sambil memeluk tubuh sang istri dengan posesif nya dan kemudian siang ini terjadilah adegan bla.. bla... bla.. antara suami istri itu di dalam kamar mandi mewah tersebut.


Berbeda di gedung pencakar langit milik Bima, SINAGA GROUP.


" Din.. persiapkan dirimu satu minggu lagi ulang tahun perusahaan, dan aku akan mengatur semuanya " jelas sekertaris Revan.


" iya tuan, apa saja yang harus saya persiapkan tuan " jawab Adinda kemudian.


" baik tuan " jawab Adinda setelah itu.


" Dan ya satu lagi, di sana pasti banyak petinggi petinggi perusahaan yang akan datang ke acara besar perusahaan dan kau jangan membuat malu nanti kau mengerti " jelas sekertaris Revan lagi kepada rekan barunya tersebut.


" siap tuan " jawab Adinda serius.


" kau jangan siap siap saja, jangan terlalu banyak senyum kau mengerti " ucap sekertaris Revan yang seperti ada maksud tertentu itu dalam hatinya, entah lah itu apaan.


" maaf tuan bukankah kita harus ramah pada para tamu tuan khusus nya para kolega kolega bisnis tuan Bima " jelas Adinda yang seperti membenarkan ucapan atasannya tersebut.


" ya kau benar tetapi jangan berlebihan " ucap sekertaris Revan seperti tidak mau kalah itu.


" ya baiklah kalau begitu tuan "


bagaimana sih lelaki tampan satu ini, membingungkan hah...


oh iya aku harus memakai baju yang bagaimana ya, sekarang kan aku seperti orang penting di perusahaan sebesar dan se keren ini aku takut nanti penampilanku membuat malu sekertaris bawel satu ini gumam Adinda dalam hati.


Adinda bergumam dengan ke-dua bola mata nya seperti memutar keatas mencari ide, sambil ujung tangannya yang memegang pulpen kemudian ia gigit di bibirnya saat ini.

__ADS_1


kemudian Dinda pun berniat mempertanyakan persoalan ini kepada atasannya tersebut.


" tuan " panggil Dinda yang seperti tidak ada takut takutnya itu.


" apalagi heh " jawab sekertaris Revan yang seperti tak peduli itu.


" tuan kau jangan begitu, itu bisa mengurangi ketampanan mu " goda Adinda saat ini, karena merasa atasannya itu terlalu cuek jadi pria.


" Dinda ini tempat kerja, kau bisa menghormati aku sebagai atasanmu bukan " jelas sekertaris Revan kemudian.


" ya tuan maaf aku hanya ingin kau jangan dingin seperti itu padaku, aku jadi takut melihatnya " ucap Adinda yang sedikit memanyunkan bibirnya.


" itu bukan urusanku, berbicaralah tentang permasalahan pekerjaan bukan untuk masalah pribadi " jelas sekertaris Revan lagi.


" ya baiklah " jawab Adinda singkat yang seperti terlihat malas mendengar perkataan atasannya itu.


" dasar atasan yang dingin " ucap Adinda dengan suara yang sangat pelan agar tidak terdengar oleh atasan nya tersebut.


" tidak usah mengatai ku Adinda, cepat bicaralah apa yang ingin kau tanyakan " sahut sekertaris Revan yang masih mendengar dengan apa yang di katakan jawaban itu.


apa dia mendengar suaraku padahal suaraku sangat pelan sekali bagaimana ini, hah... ya sudah biarkan saja namanya terlanjur gumam Adinda dalam hati.


" tuan tapi aku... emm.... .begini tuan aku tidak pernah ke acara seperti itu, terus aku harus memakai pakaian apa agar aku tidak membuatmu malu " ucap Adinda yang kini mulai mengutarakan maksudnya saat ini.


" hei... Dinda ternyata kepintaran mu tidak sama dengan pemikiran penampilan mu kenapa sangat jauh berbeda sekali, otakmu pintar tetapi jika masalah penampilan untuk acara perusahaan nanti kenapa kau seperti nya sangat bingung " ucap sekertaris Revan panjang lebar.


" Nanti jika aku tidak menanyakan ini dulu kepadamu aku takut salah, dan juga sebenarnya aku juga tidak punya uang sih untuk membeli pakaian mahal yang menurut anda harus mengimbangi tuan sebagai orang penting di perusahaan ini " jelas Adinda terang terangan.


" oh masalah itu,...itu urusan gampang, dan kau cukup memakai kepintaran otakmu saja di sana"


" maksud anda tuan " tanya Adinda yang memang tidak mengerti akan maksud atasannya.


" ya kau cukup memakai kepintaran mu saja di sana untuk meladeni para kolega kolega bisnis tuan Bima, urusan pakaian yang kau kenakan, itu urusanku " jelas sekertaris Revan.


" jadi gratis tuan " tanya Adinda


" he.. emm.. "


" tuan anda ternyata baik juga pada saya ya " ucap Adinda yang merasa tuanya itu ternyata sedikit baik kepadanya.


" biasa saja, kau jangan ke GR an " jawab sekertaris Revan yang sepertinya tak ingin membuat hati gadis di dekatnya itu ke GRan.


" iya iya " sahut Adinda yang kemudian seperti terlihat lesu saat ini.

__ADS_1


__ADS_2