
sesampainya di ruang ganti Bima mendudukkan Zahra di sebuah meja yang terbuat dari kaca tebal, kemudian keduanya yang kini masih polos, Zahra menutup matanya karena melihat keadaan suaminya yang sama dengan dirinya tanpa sehelai benang pun.
Tapi nyatanya Bima tak pernah ada sedikit pun rasa malu kepada Zahra.
Setelah itu Bima mengambil handuk kecil yang berada di kamar mandi kemudian memakainya sampai sebatas pinggangnya, yang menampilkan dada bidangnya.
" sayang tunggu di sini aku akan mengambilkan mu salep pereda nyeri dan pakaian ganti untuk mu "
kemudian Bima keluar dari ruang ganti itu, setelah itu ia mengambil salep pereda nyeri untuk istrinya, dan setelahnya Bima kembali lagi ke ruang ganti.
" sayang ini aku sudah membawakan mu salep nya, dan sekarang diam lah aku akan mengoleskan salep ini ke milikmu " ucap Bima dengan entengnya.
sedangkan Zahra yang mendengar nya sudah tidak tahan dengan urat malunya yang mau putus.
" sayang aku bisa mengobatinya sendiri "
" sayang diam lah sebentar, ini tidak akan sakit sayang "
" iya sayang aku tau, ta. . ta. . tapi "
" tapi apalagi hah, kau ingin bilang, tapi aku malu begitu kan maksudmu, Zahra kenapa kau tetap seperti ini sih " ucapnya mulai dengan nada kesal kepada istrinya yang tidak menurut itu.
" sayang jangan marah seperti itu, iya aku menurut saja padamu "
" ya sudah diam lah sebentar "
" iya sayang "
kemudian Bima mulai mengobati bagian intim milik Zahra dengan lembut, sedangkan Zahra yang di obati di bagian intimnya hanya bisa diam menahan urat malunya yang sudah putus sedari tadi.
" aww... sayang pelan - pelan "
" iya sayang maaf, aku tidak tega melihat milikmu sayang " tanya Bima blak - blakan.
" memangnya tidak tega kenapa sayang " jawab Zahra yang sudah putus urat malunya sedari tadi alias sudah tidak ada kata malu lagi terhadap suaminya karena Bima yang membuat Zahra seperti itu.
" tidak tega membiarkannya membuatku ingin menikmatinya lagi sayang " ucapnya dengan tersenyum kemudian melirik ke arah Zahra.
" sa...ya...ng " rengek Zahra kepada Bima yang merasa suaminya itu segera ingin memintanya lagi.
" tidak sayang aku aku hanya bercanda "
sedangkan Zahra yang mendengarkan jawaban suaminya itu langsung memanyunkan bibirnya kemudian tersenyum kepada Bima.
" tidak tau kalau nanti malam mungkin beda lagi " ucapnya lagi - lagi melirik Zahra.
kemudian Zahra menggelitiki suaminya itu karena merasa di permainkan.
" sayang jangan seperti itu, itu sangat geli sayang " ucap Bima
" biarkan saja, kau sedari tadi menggoda terus suamiku "
" sayang berhentilah aku masih mengobati milikmu, atau kau jangan - jangan mau lagi ya, seperti tadi malam " goda Bima
sedangkan Zahra langsung meringsut kemudian menghentikan gelitikan nya itu kepada suaminya.
__ADS_1
" sayang kau selalu begitu "
" aku hanya bercanda sayang, habisnya kau menggelitiki aku terus sedari tadi "
" habisnya kau kan yang selalu menggodaku sayang "
" sayang sudah selesai, sebentar aku akan mengambilkan pakaian gantimu "
kemudian Bima mengambilkan pakaian ganti untuk Zahra.
" sayang ini pakaian gantimu dan ini dalaman milikmu "
" iya sayang terima kasih "
astaga aku sangat malu sekali setiap kali dia membicarakan sesuatu yang sangat sensitif, tetapi kenapa dia biasa saja ya, apa sangking dia cintanya padaku sampai dia segitu nya gumam Zahra dalam hatinya.
" sayang kenapa kau diam saja hah, apa kau ingin aku yang memakaikannya hem " ucap Bima lembut sambil melangkah ke arah Zahra dan mengelus rambut Zahra.
" tidak sayang aku bisa memakainya sendiri, sekarang kau ganti baju saja "
" baiklah kalau begitu "
jawab Bima kemudian mengambil baju gantinya setelah itu langsung memakainya di depan Zahra, sedangkan Zahra hanya menundukkan kepala.
setelah keduanya selesai dengan ritual ganti bajunya kemudian Bima menggendong Zahra untuk keluar dari ruang ganti itu, setelah itu menaruh tubuh Zahra di sofa mewah yang berada di depan televisi kamarnya
.
" sayang kenapa kau menaruh ku disini "
" itu darah siapa sayang, kenapa sampai berceceran seperti itu "
" itu darah perawan mu sayang yang keluar dari sini, tadi malam " bisik Bima kepada Zahra sambil menunjuk ke arah bawah gaun Zahra.
" sayang apa itu tidak apa - apa, kenapa aku tidak mengetahui nya " tanya Zahra dengan polosnya.
sedangkan Bima yang mendengarkan perkataan suaminya itu langsung tersenyum.
" sayang kenapa kau polos sekali hah, itu memang sudah biasa karena masih awal - awal saja, kalau sudah terbiasa tidak mungkin mengeluarkan darah lagi kau mengerti "
ucap Bima sambil memegang kedua tangan Zahra, kemudian beralih tangan satunya lagi memegang pipi istrinya itu dengan lembut.
Zahra hanya menganggukkan kepalanya saja, karena di rasa sudah mengerti.
kemudian Bima mengambil sprei yang sudah berlumuran darah itu, setelah itu Bima mengambil sprei di dalam ruang ganti dan menggantinya dengan yang baru.
setelah semuanya sudah selesai, kini Bima menggendong tubuh istrinya itu ke arah ranjang king size nya itu.
" sayang apa kau tidak lelah, dan apakah hari ini kau tidak bekerja sayang "
" aku tidak lelah sayang ini hanya hal sepele, aku lelah bekerja terus, aku kan baru sampai sayang kenapa kau menyuruh ku kerja terus, kau tidak suka aku ada di mansion bersamamu hem " ucapnya sedikit kesal kepada istrinya itu.
" bukan seperti itu sayang maksudku "
" lalu apa lagi hah "
__ADS_1
" kenapa kau selalu seperti itu sih, aku kan hanya bertanya saja padamu, kau tidak pernah menungguku untuk menjelaskannya " jawab Zahra, dengan kedua bola matanya yang kini sudah mulai menggenang air mata di kedua pelupuk matanya itu.
sedangkan Bima yang melihat Zahra seperti mau menangis itu, kini dirinya merasa bersalah kepada istrinya.
" sayang maafkan aku, aku tidak berniat seperti itu padamu "
kemudian Bima langsung memeluk erat tubuh Zahra sangat erat.
" sayang aku seperti tidak bisa bernafas, kau terlalu erat memelukku sayang ''
kemudian Bima melepaskan pelukannya itu dengan tersenyum mendengar perkataan Zahra.
" sayang aku akan menyuruh pak Tejo membawakan sarapan pagi ke kamar, kau pasti masih merasa sakit kan "
" tidak usah sayang aku bisa sendiri "
" diam lah sebentar sayang tidak ada penolakan kau mengerti "
" iya baiklah tuan muda " jawab Zahra dengan nada suara yang sudah begitu lelah, karena sudah menyerah kalau menyangkut tuan mudanya itu alias suami posesif nya saat ini.
kemudian Bima menghubungi pak Tejo lewat sambungan telfon di kamarnya.
dan tak beberapa lama kemudian pak Tejo pun datang dengan membawa nampan yang berisi nasi dan lauk pauknya dengan dua gelas susu.
" tuan ini sarapan anda dan nona Zahra "
" taruh di nakas saja, aku akan segera menyuapi istriku "
" baiklah tuan kalau begitu " kemudian pak Tejo langsung menaruh nampan tersebut di atas nakas.
" saya permisi tuan " pamit pak Tejo kepada tuan nya itu.
" hem " jawab singkat Bima
"Terima kasih pak Tejo " sahut Zahra kemudian tersenyum kepada kepala pelayan itu.
dan setelah itu pak Tejo berjalan keluar dari kamar atasannya itu.
" sayang aku tidak suka kau tersenyum kepada pria lain selain diriku, kau tau aku sangat cemburu "
" sayang kenapa kau se posesif itu hah " ucap Zahra sedikit menahan tawa karena melihat Bima begitu lucu sampai cemburu kepada pria paru baya seperti pak Tejo.
" kau tau aku tidak suka milikku di lihat oleh orang lain, kau milikku Zahra dan hanya aku yang boleh melihat senyummu dan segalanya tentangmu "
" iya iya sayang "
tanpa aba aba Zahra langsung mencium bibir Bima sekilas, karena memang Zahra sudah lelah menanggapi perkataan suaminya itu, dan itu satu satunya cara agar suaminya diam, karena saat ini perutnya sudah merasa sangat lapar.
" sayang kau.. . "
belum selesai Bima melanjutkan perkataannya Zahra langsung menempelkan jarinya di bibir Bima.
" sssstt diam, sekarang kita makan sarapannya, oke sayang "
ucap Zahra dengan senyuman manis yang ia buat buat.
__ADS_1
Bima kemudian menganggukkan kepalanya dan mulai menyuapi Zahra dengan pelan.