
sesaat kemudian.
perlahan sekertaris Revan melepaskan pelukan itu,
kemudian menatap kedua mata milik Adinda dengan intens, Adinda tetap terdiam membisu tak berniat mengeluarkan sepatah katapun.
Dinda belum sempat menjawab nya, bibir sekertaris Revan langsung menyergap bibir tipis milik Adinda dengan begitu lembutnya,
sedangkan Adinda langsung membelalak kan kedua matanya ketika hal tak di duga duga terjadi, melihat sekertaris tampan itu mulai mencium bibirnya saat ini.
apa ini, apa ini yang di maksud sebuah ciuman, sekertaris Revan kau, apa benar dia mencintaiku...... gumam Adinda dalam hati
perlahan Adinda juga memejamkan kedua matanya, seperti sekertaris Revan.
keduanya saling berciuman, sekertaris Revan sedikit tersenyum karena Adinda sedikit kaku.
karena sekertaris Revan tau bahwa gadis di hadapannya itu, adalah gadis yang masih polos, dan sekertaris Revan lah pria pertama yang mengambil ciuman pertamanya.
bibir keduanya saling terpaut sedangkan tangan sekertaris Revan kembali memeluk tubuh Adinda, dan tangan satunya lagi menekan sedikit tengkuk Adinda supaya ciuman itu semakin dalam.
keduanya saling menikmati seperti menyalurkan rasa sayang yang selama ini keduanya rasakan bersama, tapi tak berani mengungkapkan satu sama lain.
sesaat kemudian.
sekertaris Revan melepaskan pangutan bibirnya dari bibir tipis milik Adinda, karena sekertaris Revan tau gadis yang saat ini tengah ia cium itu seperti sedikit kehabisan nafas.
setelah ciuman itu terlepas sekertaris Revan memeluk erat tubuh Adinda,
sepersekian menit kemudian perlahan sekertaris Revan melepaskan pelukannya itu kepada tubuh Adinda.
sedangkan Adinda sedikit menunduk, tak tau dirinya harus bicara apa saat ini, dirinya bingung tak karuan, entah itu karena dirinya yang sangat bahagia atau kebingungan atas sesuatu hal yang baru saja sekertaris Revan lakukan pada dirinya tadi.
" Din kenapa kau menunduk, dongakkan kepalamu tatap aku " ucap sekertaris Revan kepada Adinda.
perlahan Adinda pun sedikit mendongakkan kepalanya ke atas menatap kedua mata sekertaris Revan.
sedangkan sekertaris Revan tersenyum melihat wajah Adinda yang sedikit memerah itu mungkin karena sedikit malu, kemudian melihat sudut bibir Adinda yang masih sedikit basah karena ciuman tadi.
perlahan tangan sekertaris Revan mengusap sudut bibir Adinda yang masih basah.
berbeda dengan Adinda yang masih tak bergeming seperti patung manekin.
dirinya seperti di buat membisu oleh kelakuan sekertaris Revan saat ini.
" Din, kau mau bukan menjadi kekasihku " ucap sekertaris Revan lagi, yang terlihat begitu serius.
" sa.. sa... saya.... saya " jawab Adinda ternyata bata.
__ADS_1
Dinda kenapa kau seperti gadis tolol sih, ayo jawab yang benar gumam Dinda dalam hati.
" saya bagaimana, Dinda aku serius padamu " ucap sekertaris Revan dengan kesungguhan.
" tuan apa secepat itu, sejak kapan anda menyukai saya " tanya Adinda.
" sejak aku pertama kali melihat mu Dinda, sejak kau datang di perusahaan " jelas sekertaris Revan.
apa jadi selama ini dia menyukai, apa ini mimpi,... astaga Dinda Dinda dinda... dia mencintai mu Din dan itu kenyataan bukan mimpi gumam Adinda dalam hati.
" ap... ap.... apa, tapi... tapi tuan saya dan Joe ak...... " ucap Adinda yang mulai menjelaskan dengan perkataan nya yang terus terbata bata, tetapi perkataan nya di sela sekertaris Revan.
" shhhtttt...... Dinda yang lebih dulu mengenalmu aku bukan dia, dan yang mencintaimu itu aku Din, jadi aku tidak bisa menerima penolakan " jelas sekertaris Revan yang seperti tak terima.
" bagaimana bisa seperti itu tu..... " jawab Adinda terhenti karena dengan tiba tiba sekertaris Revan langsung mencium nya.
cup
satu ciuman simpul mendarat di bibir Adinda.
" aku sangat mencintaimu Din, aku mohon " ucap sekertaris Revan penuh dengan ketulusan.
" iii.... iya baiklah aku menerima mu tuan " jawab Adinda dengan nada pelan sedikit tersenyum.
" benarkah, terima kasih Din " ucap sekertaris Revan kemudian kembali berhambur memeluk tubuh gadis yang saat ini ia cintai itu yang berada di hadapannya.
" aku juga mencintaimu tuan " jawab Adinda yang kini seperti berada di atas tumpukan bunga bunga bermekaran dimana mana.
keduanya saat ini begitu sangat bahagia, berpelukan yang seperti tak ingin terlepas satu sama lain.
HACIHHHH..........
Adinda yang mulai bersin, akibat bajunya yang basah kuyup sedari tadi tak kunjung ia ganti.
" Dinda kau bersin " ucap sekertaris Revan yang perlahan melepaskan pelukan itu dari tubuh Adinda.
Adinda mengangguk polos dengan dirinya yang menggosok gosok pelan hidung nya yang mulai memerah.
sekertaris Revan seperti gemas melihat anggukan polos pacar barunya itu.
sepertinya aku ingin sekali menggigit dirimu Din, kau terlihat menggemaskan sekali sih gumam sekertaris Revan dalam hati.
" ayo sekarang ganti bajumu, aku akan keluar, pakai yang tadi aku ambilkan " ucap sekertaris Revan pada gadis yang baru saja menjadi kekasihnya tersebut.
lagi lagi Dinda mengangguk polos, membuat sekertaris Revan kembali gemas melihat nya.
astaga Dinda dia bertambah menggemaskan seperti ini sejak jadi pacar baruku hehehe.... dasar kau Van, aku sangat bahagia hari ini karena dirimu Dinda gumam sekertaris Revan.
__ADS_1
kemudian sekertaris kembali mengecup sekilas bibir tipis itu.
cup
dengan segera setelah dirinya mencium Adinda, sekertaris Revan segera bergegas pergi meninggalkan kamar pacar barunya itu, agar Adinda cepat berganti baju.
sedangkan Adinda yang kini mulai berjalan ingin menutup pintu kamarnya itu seperti sedikit kesusahan untuk sekedar menutup pintu kamarnya saja, entah pikiran nya travelling kemana saat ini, sambil bibirnya yang sesekali tersenyum tak jelas itu.
sesaat setelah pintu kamar telah tertutup. Adinda mulai menghempaskan tubuhnya di kasur empuk tersebut kemudian menatap langit langit kamar,
dengan dirinya yang kembali senyum senyum tak jelas, setelah puas menatap langit langit kamar Adinda mengguling gulingkan tubuhnya di atas kasur sambil sedikit memegangi bibirnya yang baru saja di cium oleh pria yang selama ini ia cintai,dan juga pria yang selama ini ternyata juga mencintai nya.
sekarang sekertaris Revan pacar ku, dia pacarku, hatiku sebahagia ini... ingin sekali aku berteriak teriak kegirangan, tapi itu pasti terdengar dari kamarnya, ah.. sudah lah sebaiknya aku segera berganti baju dan setelah itu membuatkan nya makan malam,
perasaan mu sungguh tidak sia sia Dinda hehehe.... monolog Dinda di dalam kamarnya dengan suara yang tak begitu keras karena takut pacar barunya itu mendengar.
sesaat kemudian.
Adinda baru saja keluar dari dalam kamar dengan setelan jaket hoodie putih over size, dan celana pendek selutut berwarna cream, yang sempat di ambilkan sekertaris Revan tadi, dengan rambut nya yang sudah mulai mengering ia ikat ke atas sedikit di gulung, memperlihatkan leher putih jenjang nya saat ini.
Gadis yang baru saja resmi jadi pacar sekertaris Revan itu kini tengah menuju dapur untuk segera masak makan malam di sana, membuatkan beberapa olahan masakan untuk pria yang ia sayangi,
perlahan Adinda mulai memasak olahan capcay dan ayam kecap, untuk lauknya tak lupa ia membuatkan jahe hangat untuk pacar barunya itu karena tadi keduanya habis bermain hujan hujan nan akibat kelakuan Adinda.
Adinda dengan lihainya mengolah masakan di dapur,
sedangkan sekertaris Revan baru saja keluar dari dalam kamar, sambil mengembangkan senyum karena pandangannya saat ini langsung tertuju pada gadis yang tengah memakai jaket hoodie berwarna putih di dapur mewahnya tersebut.
perlahan sekertaris Revan melangkahkan kakinya menuju dapur dimana Adinda yang kini tengah sibuk memasak.
sesampainya di dapur sekertaris Revan langsung memeluk tubuh Adinda dari belakang.
sontak saja membuat tubuh Adinda sedikit kaget karena tiba tiba ada sebuah tangan yang memeluk nya dari belakang.
" akkh...... panas panas " ucap Adinda sambil sedikit mengibaskan tangan nya karena sedikit panas itu.
" Din maaf, tangan mu tidak apa apa kan " tanya sekertaris Revan yang kemudian melepaskan pelukan nya itu dan berusaha melihat tangan Adinda.
" tuan, kau mengagetkan ku saja " jawab Adinda dengan dirinya yang masih mengibas ngibaskan tangan nya saat ini.
" maaf Dinda, sini aku akan melihat tanganmu " ucap sekertaris Revan setelah itu yang coba meraih tangan Dinda, tapi Dinda sembunyikan.
" tidak usah tuan, ini tidak apa apa hanya sedikit memerah saja terkena pinggiran wajan " jelas Adinda.
" sini berikan tanganmu sayang " ucap sekertaris Revan dengan memakai sebutan sayang kepada pacar barunya tersebut.
sontak saja Dinda yang awalnya menundukkan kepala nya sambil meniupi tangan nya langsung mendongakkan kepalanya ke atas menatap sekertaris Revan.
__ADS_1
sedangkan sekertaris Revan tersenyum, kemudian langsung mengambil alih tangan Adinda yang memerah, dan berniat meniupnya saat ini.