
Beberapa saat tepat di depan pintu kamar Sheina.
Pria tampan itu tengah tersenyum sambil memegang sebuah ponsel pintar milik sang istri, dengan segera ia langsung menonaktifkan nya.
" Selesai " ucapnya dengan seringai tipis di kedua ujung bibir nya.
Kemudian bergegas pergi dari hadapan pintu kamar sambil mengantongi sebuah kunci kamar yang baru saja ia kuncinya, yaitu pintu kamar Sheina.
Langkah nya mulai menuruni anak tangga satu persatu.
Senyum nya kembali mengembang, ketika dirinya seolah memenangkan sesuatu atas gadis yang kini sudah berstatus istri nya itu.
Kita lihat saja hitungan ke tiga kau akan menggebrak gebrak pintu kamar mu hehehe...
kau hanya boleh keluar jika dengan ku bukan dengan pria lain,
monolog nya lagi lagi dengan seringai tipis yang kembali keluar di kedua ujung bibir milik nya sambil terus melangkah menuruni anak tangga.
Barra mulai menghitungnya, dan benar saja dalam hitungan ke tiga Sheina langsung menggebrak gebrak pintu kamar miliknya yang sudah terkunci dengan rapat itu, serta teriakan yang terus terdengar dari dalam sana.
BROKK.... BROKKK....
" Bar buka, buka pintu nya " teriak Sheina
gebrakan pintu kembali terdengar.
BROKK.... BROKKKK......
" Dasar pria gila " teriak Sheina lagi dari dalam.
Barra tetap tak menghiraukan nya.
Ia hanya tersenyum mendengar teriakan gadis yang baru beberapa hari ini itu mulai mengisi hati nya di dalam kamar sana, yang terus terdengar nyaring di kedua telinganya.
ya walaupun Sheina harus mencari kunci duplikat kamar nya sekalipun mungkin tak akan pernah menemukan nya karena Barra sudah mengambilnya, begitu juga ponsel pintar miliknya agar Sheina tak bisa menghubungi Earth kekasih nya itu.
Di garasi mobil sport yang masih terparkir sempurna itu kini mulai keluar di kendarai oleh Barra.
Ia berniat keluar membeli makanan untuk dirinya dan Sheina pagi ini.
Senyumnya terus mengembang di sepanjang jalan mengingat dirinya telah berhasil mengerjai Sheina di dalam vila sana.
Barra tau kalau akhirnya Sheina pasti akan marah padanya atas apa yang dia lakukan pagi ini, tapi sepertinya ia tak peduli semua itu.
__ADS_1
*
Di sebuah Restauran mewah.
Barra tengah duduk di sebuah kursi menunggu makanan yang ia pesan, beberapa saat tak ia sadari sebuah suara yang sedikit familiar di telinganya baru saja memanggil dari arah belakang.
" Barra "
Seketika panggilan itu membuat Barra menoleh ke arah yang punya suara.
" Tasya " ucap nya sambil menatap jengah.
Dengan segera Tasya berjalan menuju ke arah meja Barra dengan gaya lenggak lenggok nya seperti model, ya meskipun dia memang model.
Tasya langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan Barra.
" Barra aku merindukan mu "
" apa yang kau katakan bukan kah kita sudah putus "
" tapi aku masih sangat mencintaimu Bar "
" tapi aku tidak " balas nya dengan nada dingin.
" kenapa kau masih ada di sini "
" Bar kenapa kau mengalihkan pembicaraan, ya aku masih ada di sini karena ada pemotretan "
" oh "
Seorang pelayan pria baru saja sampai di depan meja sambil menaruh beberapa pesanan makanan yang Barra pesan.
" Silahkan tuan " ucap pelayan tersebut setelah menaruhnya.
" hem "
Barra pun mulai menikmati makanan yang ia pesan tanpa menghiraukan gadis cantik di depan nya itu.
" Bar kau tidak menawariku untuk makan "
" bukannya kau kesini untuk memesan makanan juga kan " jawab Barra lagi lagi ketus.
Kemudian mulai memasukkan satu suap makanan ke dalam mulutnya.
__ADS_1
Sedangkan Tasya hanya mengerucutkan bibir nya ke depan mendengar jawaban mantan kekasihnya itu.
Kau sungguh pria dingin Bar membuat ku jadi tertantang untuk bisa mendapatkan mu lagi, dan kau pria tampan satu satu nya yang membuatku ingin terus mengejarmu,
kau sungguh berbeda dengan pria di luaran sana yang mau dengan senang hati ingin menjadi kekasih ku, bagaimana pun caranya kau harus jadi milik ku gumam Tasya.
" Bar hari ini temani aku ya " pinta Tasya dengan nada manja nya.
" aku tidak mau " jawab Barra tetap dengan nada dingin.
" sehari ini saja " pinta nya lagi.
" apa kau tidak dengar yang aku katakan "
" Bar aku mohon terakhir kalinya, aku tidak akan mengganggu mu lagi setelah itu "
Barra seolah memikirkan sesuatu.
" ya baiklah kali ini saja kau mengerti ''
" Terima kasih kau baik sekali "
Selesai dengan makanan nya keduanya bergegas pergi meninggalkan restauran mewah tersebut bersamaan, entah Tasya mantan kekasih Barra itu akan mengajaknya kemana.
*
*
Di sebuah klub.
Sedangkan jam sudah menunjukkan sepuluh malam.
Tasya terus menuang minuman hitam pekat kedalam gelas kecil di hadapan nya, padahal dirinya sudah seperti tak kuat untuk meminumnya tetapi terus ia paksakan untuk menelan.
Barra yang sedari tadi cuek saja kini mulai khawatir melihat keadaan Tasya yang sudah mabuk berat itu, keadaan yang sudah acak acak kan tak karuan.
Barra baru tau bahwa wanita yang hanya beberapa hari pernah menjadi pacar nya itu ternyata punya kebiasaan buruk mabuk mabukkan dan berfoya foya.
Ia kini merasa sangat lelah hampir seharian penuh dirinya menemani Tasya, yang sebenarnya juga ia tak suka.
Menemani Tasya mulai berbelanja, jalan jalan, hingga kini yang terakhir ke sebuah klub.
Semua ini Barra lakukan agar mantan kekasih nya itu tak lagi mengganggu kehidupan nya.
__ADS_1
Dirinya sampai melupakan Sheina yang hampir seharian di dalam kamar tanpa makan dan minum sejak ia mengunci nya di dalam kamar pagi tadi.