Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
Dan terjadi lagi


__ADS_3

Ke esokan pagi.


Barra yang sedari tadi berada di bibir pantai kini kembali melangkah masuk menuju ke dalam vila, ia berjalan begitu sangat santai sambil membayangkan senyum Sheina tadi malam padanya saat dirinya menyuapi sang istri.


Kakinya kini mulai memasuki dalam vila tepatnya di ruang tamu, langkah nya terhenti ketika mendapati Sheina tengah menuruni anak tangga sambil menyeret sebuah koper hitam miliknya.


" Sheina kau mau kemana " pertanyaan Barra begitu terdengar nyaring si telinga Sheina.


Seketika Sheina langsung menyadari keberadaan Barra di lantai bawah.


Sheina tersenyum simpul, kemudian melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga untuk segera sampai di lantai bawah dimana Barra berdiri tegap saat ini.


" Aku akan pulang " ucap Sheina dengan raut wajah serius nya menatap Barra yang kini sudah berada pas di hadapan nya itu.


" Sheina bukan kah tinggal dua hari lagi bulan madu kita "


" hehehe.... bulan madu kau bilang, kembalikan ponselku kemarin yang kau ambil"


" aku tidak mau "


" Bar kau apa apaan sih, Earth pasti kebingungan karena aku tak ada kabar "


" Sheina,.. kau lupa bukankah aku sudah menjelaskan semuanya padamu tinggalkan dia dan kita mulai semuanya dari awal, aku menyayangimu Shei " jelas Barra sambil menatap lekat kedua netra hitam Sheina.


" Barra apa kau juga lupa bahwa di antara kita ada sebuah perjanjian heh "


Barra terdiam sejenak.


" ya aku tau itu, dan aku ingin mengakhiri semua perjanjian itu Shei "


Sheina sedikit memejamkan kedua matanya sambil memijit kening nya yang sedikit terasa pusing itu meladeni perkataan pria tampan di hadapan nya tersebut.


" lupakan saja perjanjian itu, aku akan tetap pulang nikmati saja liburan mu di sini selamat tinggal " jawab Sheina kemudian melenggang pergi dari hadapan Barra.


Barra masih terdiam di tempat tak mengejar langkah Sheina yang mulai keluar dari dalam vila itu.


Ia merasakan seolah batas kesabaran nya sudah di ubun ubun menghadapi Sheina yang menurutnya sangat susah untuk di taklukkan.


Barra sedikit membuang nafas berat nya, seolah ingin menenangkan sedikit otak nya yang mulai mendidih saat ini.

__ADS_1


" heh " membuat nya sedikit lega sambil memejamkan kedua mata nya.


Semangat Barra monolog nya seolah menyemangati dirinya sendiri.


Dengan segera ia berlari sekencang mungkin untuk mengejar langkah Sheina.


Sesaat.


Tangannya mulai menggapai tangan Sheina yang hendak membuka pintu gerbang besar vila.


" Bar apalagi lepaskan tangan ku " ucap Sheina kemudian membalikkan tubuhnya ke arah belakang berhadapan dengan Barra.


" Shei kau benar benar menguji kesabaran ku pagi ini, diam dan kita masuk ke dalam " ajak Barra masih dengan nada pelan nya.


" Aku tidak mau " kekeh Sheina


Barra yang sudah habis kesabaran nya dengan gerakan cepat ia langsung memikul tubuh Sheina bak karung beras.


" AKHHH.... " teriak Sheina terkejut.


" turun kan aku Barra " ucap Sheina dengan tubuhnya yang tengah tergelantung di pundak Barra sebelah kanan sedangkan satu tangan nya terus mencubit punggung milik Barra berharap dirinya segera di turun kan oleh sang suami sah nya itu.


Sejenak membuat Sheina terdiam sesaat karena merasa takut, kemudian beberapa saat lagi ia kembali meronta ronta ingin segera di turun kan.


Langkah Barra mulai menaiki anak tangga, Sheina kembali ketakutan dengan pikiran nya yang mulai kemana mana membayangkan hal yang tidak tidak yang akan Barra lakukan padanya.


" Turunkan aku cepat Barra, aku janji tidak akan pulang "


" Diam aku bilang, aku tidak mempercayaimu"


" bukan kah kau mulai mencintai ku, kenapa tak percaya dengan ku "


Barra diam tak berniat menjawab nya.


Kini sampai lah di depan pintu kamar yang Sheina tempati, Barra mulai membuka pintu tersebut kemudian segera masuk ke dalam dengan Sheina yang masih bergelantungan di pundak nya.


Ia kembali menutup pintu kamar dan menguncinya.


Sedangkan Sheina tambah di landa ketakutan mendengar bunyi pintu yang tengah Barra kunci.

__ADS_1


Apa yang dia akan lakukan padaku gumam nya.


Setelah mengunci pintu kamar Barra perlahan menurunkan tubuh Sheina kemudian menggiring tubuh gadis itu ke arah pojok pintu yang baru saja ia kunci itu.


Sheina terus memundurkan tubuh nya sampai menempel ke dinding.


Ia menelan ludah nya kasar, dengan rasa ketakutan yang mulai menjalar di sekujur tubuhnya.


DUGHH...


Ya tubuh itu kini menempel sempurna dengan dinding, Barra perlahan mulai mengunci pergerakan Sheina dengan tatapan yang takut teralihkan dari wajah cantik milik sangat istri.


Berbeda dengan Sheina yang lagi lagi kembali menelan ludahnya melihat tatapan pria di hadapan nya itu.


" ap.. ap... apa yang ingin kau lakukan Bar " ucap Sheina dengan sisa sisa keberanian nya.


Barra hanya tersenyum smirk menatap Sheina.


Gadis itu tambah ketakutan dan mulai memejamkan kedua matanya dengan erat.


Barra tersenyum melihat ekspresi Sheina, ia ingin sekali menertawakan nya yang terlihat sangat polos itu, tetapi ia urungkan ketika tatapan nya beralih menatap bibir tipis berwarna pink alami milik Sheina.


Bibir yang pernah cium untuk kesekian kalinya.


Dan kini ia kembali terbuai oleh tatapan nya sendiri, dan terjadilah sebuah ciuman pagi ini.


Barra mulai ******* bibir Sheina dengan sangat lembut.


Sheina yang mendapat ciuman tiba tiba itu langsung berusaha menolaknya, tapi ia kalah dengan tenaga Barra sebagai pria.


Hatinya ingin sekali menolak apa yang Barra lakukan padanya, berbeda dengan tubuhnya yang begitu sangat merespon.


Sheina dan Barra terlihat begitu menikmati ciuman itu, ciuman yang begitu sangat lembut.


Beberapa saat.


Barra perlahan melepaskan pangutan bibir itu, ia tersenyum menatap Sheina yang sedang menundukkan kepala di hadapannya.


" kau menikmatinya ya heh " goda Barra.

__ADS_1


Sheina sedikit mendongakkan kepala menatap Barra dengan pipi bersemu merah.


__ADS_2