
Jam 05.00 sore
Sheina masih sibuk di dapur membuat kan masakan untuk Barra yang sebentar lagi pulang kantor, ia yang dulu gadis manja bergelimang kekayaan kini sudah mulai berubah perlahan.
Bahkan sejak siang tadi ia mulai belajar membuat kue untuk mengisi waktu luang nya di apartemen agar tak merasa bosan.
" Selesai " ucap nya dengan raut wajah terlihat bahagia.
Ia segera menuju meja makan untuk menata beberapa masakan yang sudah matang, bersama beberapa kue yang ia buat tadi.
Tak lupa Sheina membuat kan segelas kopi untuk sang suami.
Dan lagi sebuah senyuman indah itu kembali mengembang di kedua sudut bibir nya.
" semoga saja dia menyukainya " ucap nya.
Kemudian Sheina kembali ke arah dapur untuk membereskan semua peralatan masak yang berserakan untuk ia cuci di sana.
JEG... GLEK...
Bunyi pintu terdengar nyaring,
" Sayang " panggil Barra yang baru saja kembali menutup pintu.
Sheina sedikit menoleh ke arah belakang dimana Barra baru saja masuk, setelah itu kembali menghadap cucian peralatan masak yang menumpuk di hadapan nya.
" kau sudah pulang " ucap Sheina yang masih sibuk membilas piring.
Senyuman nya lagi lagi kembali mengembang.
Tetapi tiba tiba sebuah piring yang baru saja ia bilas itu terlepas dari genggaman tangan nya.
dan
PYARRRR.......
AKKHH......
pecahan piring itu kini sudah berserakan di lantai di sertai teriakan Sheina akan dirinya yang merasa keterkejut.
Sheina segera membungkuk membereskan pecahan piring.
" Hei jangan membereskan pecahan piring itu nanti jari mu bisa terluka Shei " teriak Barra sambil melangkah cepat ke arah Sheina berada.
Sheina tak menghiraukan ia tetap membungkuk dan perlahan mengumpulkan pecahan piring itu.
Barra baru saja mendekat, dan...
" AW.. " pekik Sheina kesakitan.
Jari jemari nya kini sudah terkena pecahan piring.
" Shei " Teriak Barra seketika.
Kini pria tampan tersebut langsung berjongkok meraih tangan Sheina agar segera berdiri mengimbangi dirinya.
Dan langsung menyesap jari manis milik Sheina yang sudah berdarah.
" Aw...sudah, itu hanya luka kecil " ucap Sheina menyepelekan.
" Diam " sahut Barra.
Sheina langsung terdiam dan membiarkan apa yang di lakukan pria di samping nya itu saat ini, pandangan nya terus menatap wajah Barra yang terlihat serius membersihkan luka di jari manis milik nya.
Sheina seolah di buat kagum dengan perlakuan pria yang dulu nya menyebalkan kini begitu hangat, sosok pria yang ia idamkan selama ini.
__ADS_1
Seutas senyuman kembali muncul di kedua ujung bibir nya.
" Sayang apa masih sakit " ucap Barra sambil membersihkan jari sang istri dengan kucuran air di wastafel dapur.
" ti... ti.. tidak " ucap Sheina terbata.
" hei... kenapa nada suaramu terbata bata Shei " tanya Barra.
" ak... aku tidak apa apa, sudah ayo kita makan " Sheina mengalihkan pembicaraan.
" baiklah lain kali hati hati " ucap Barra sambil mengelus lembut pucuk kepala sang istri sambil tersenyum.
kau sangat menggemaskan Shei gumam nya.
Sedangkan Sheina hanya mengangguk ngangguk seolah mengiyakan perkataan sang suami.
" ayo kita makan " ajak Barra.
kemudian menggandeng pergelangan tangan Sheina menuju meja makan.
Keduanya kini sudah duduk di kursi masing masing.
Barra mengedarkan pandangan nya menatap seluruh isi meja makan.
'' kau membuat nya sendiri semua sayang " tanya nya.
" ya, dan aku juga membuatkan kue untukmu " jawab Sheina dengan raut bahagia.
" wah benarkah, baiklah selesai makan aku akan mencicipi nya bersama segelas kopi yang kau buatkan "
" hehehe... ya sudah ayo makan " ajak Sheina
Barra mengangguk dan menunggu Sheina yang mulai mengambil kan sepiring nasi untuk nya.
" terimakasih " ucap Barra setelah sepiring nasi kini sudah berada di hadapan nya beserta lauk.
Barra tersenyum mendengar jawaban Sheina.
*
Pukul 06.15
Barra baru saja selesai membersihkan tubuh nya di dalam kamar milik nya, ia segera keluar dengan pakaian santai ala rumahan tapi seperti biasa ia selalu terlihat tampan.
Ia mulai duduk di sofa ruang tamu sambil mencicipi kue kecil dan kopi buatan Sheina.
Sejak kapan dia bisa membuat kue seenak ini sepertinya sekarang dia sudah mulai serius dengan hubungan ini hehehe... gumam Barra
dengan sedikit tawa kecil di dalam hati nya.
JEG... GLEK...
pintu kamar Sheina baru saja terbuka, Barra sedikit melirik ke arah pintu kamar itu.
Menampilkan Sheina dengan wajah polos tanpa make up nya dengan gaun selutut berwarna putih bermotif bunga bunga kecil yang ia pakai, serta rambut nya yang kini terlihat basah namun tertata rapi.
Barra lagi lagi tersenyum menatap gadis kesayangan nya itu.
" Sheina kemarilah "
" ah iya, tapi aku mau membersihkan pecahan piring tadi "
" sudah aku bereskan sekarang kemarilah " sambil menepuk pelan bantalan sofa di samping nya.
Sheina tak menjawab tetapi langsung menuju ke arah Barra dan kini keduanya duduk sejajar.
__ADS_1
Barra sedikit mendekat ke arah Sheina, membuat yang di dekati merasa bingung sendiri dan tak tau apa yang harus di lakukan.
" kau baru selesai mandi ya hem " ucap Barra sambil membelai rambut basah yang terurai milik Sheina.
" iya memang nya kenapa " sahut Sheina yang mencoba menetralisir perasaan dag dig dug nya itu.
dengan tangan nya yang kini mulai meraih remot tv kemudian menyalakan nya, entah acara TV apa yang tonton Sheina, ia terus memencet tombol remot nya karena di landa kebingungan sejak Barra mulai mendekati nya.
" rambut mu sangat wangi " ucap Barra yang mulai menciumi rambut Sheina dari samping, sedangkan tangan satunya mengalung di bagian belakang punggung Sheina.
" Bar.. Barra ... ap... ap... apa yang kau lakukan sih "
" aku hanya ingin mencium rambut istri ku apa tidak boleh hem " goda Barra.
hahaha... kau menggemaskan sekali Shei jika terlihat sedang kebingungan seperti ini, membuatku rasanya tak tahan gumam Barra.
" ya.. ya.. ya boleh, tapi... tapi " sahut Sheina yang terus terbata bata sedari tadi.
" tapi apa sayang " goda Barra lagi dan lagi.
" ah sudah lah aku mau ke kamar " Sheina seolah-olah tak menemukan jawaban untuk menjawab perkataan Barra.
" hei.. kau mau kemana Sheina " ketika mendapati Sheina yang mulai berdiri dari sofa.
Barra langsung menarik kembali tangan putih mulus itu, membuat Sheina kembali terduduk seperti semula.
Dan kini tubuh itu sudah berada di dalam pelukan Barra, pelukan yang begitu sangat erat.
" Barra apa yang lakukan lepas "
" aku menginginkan mu " bisik Barra dengan nada sensual di telinga Sheina membuat gadis itu begidik ketakutan, dan seketika membuat kedua mata Sheina membulat sempurna.
" ak... ak... aku aku emm.... anu... em.. Barra lepaskan " lagi lagi Sheina terbata bata sambil berusaha untuk lepas dari pelukan Barra.
" tidak aku tidak mau Shei " Barra tambah mengeratkan pelukan itu.
Sesaat
Sheina perlahan mencoba berusaha tenang, kemudian menatap kedua mata milik Barra.
Ia berusaha memberanikan diri untuk bicara pada pria tampan di hadapan nya.
" Ba.. Barra aku.. em.. aku aku belum siap, aku takut " jelas Sheina yang sesekali menundukkan kepala nya tak berani lagi untuk menatap wajah sang suami.
Sheina terdiam setelah menjelaskan nya.
Perlahan kini Barra mulai mengangkat dagu Sheina agar menatap kedua matanya bersamaan.
" tatap aku " ucap Barra dengan nada serius.
Sheina mulai memberanikan diri menatap kedua mata milik Barra dengan lelehan air mata yang terlihat mulai keluar dari kedua ujung matanya.
Perlahan tangan Barra mulai terulur untuk mengusap lembut lelehan air mata itu.
" kau tak boleh menangis, aku tidak akan memaksakan semua nya Shei percayalah padaku "
Sheina yang mendengar jawaban Barra kini langsung membalas pelukan itu, sedangkan Barra tambah mempererat pelukan nya sesekali ia mencium pucuk kepala Sheina.
" aku mencintaimu, sudah diam jangan menangis Shei kau tidak malu apa heh "
" kau jangan menggodaku terus " ucap Sheina di sela sela tangis nya.
" hehehe.... iya iya baiklah, shtttt... sudah diam sayang " ucap Barra mencoba menenangkan Sheina yang kembali terisak tangis .
Kemudian merenggangkan pelukan nya setelah itu mengangkat kembali dagu Sheina agar menatap nya, dan mulai mencium bibir tipis milik Sheina dengan sangat lembut.
__ADS_1
Ya keduanya kali ini kembali berciuman, tetapi sudah tak ada lagi penolakan dari Sheina, Barra dan Sheina terlihat sangat menikmati ciuman itu, ciuman yang begitu hangat.