
Bima terus melangkahkan kakinya memasuki mansion besar miliknya, dan kini mulai menaiki anak tangga menuju lantai atas kamarnya.
Bima sedari tadi tersenyum melihat istrinya yang tertidur dan menaruh kepalanya di dada bidang miliknya.
beberapa saat kemudian
kini Bima telah berada di depan pintu kamar nya bersama Zahra.
dan sekertaris Revan sudah siap membukakan handel pintu kamarnya tersebut.
dan juga sesampainya di dalam kamar, keadaan kamar sudah kembali seperti semula siapa lagi kalau bukan tugas pak Tejo yang merapikan semuanya.
" tuan semuanya sudah rapi "
" bagus "
setelah itu kedua lelaki bawa hanya itu masih tetap sigap menunggu perintah dari tuan mudanya itu.
" kalian keluarlah, dan kau sekertaris Revan kembalilah ke kantor kau urus semua di sana " perintah Bima kepada sekertaris nya itu.
" baik tuan " jawab sekertaris Revan
dan juga peka Tejo, kini kedua lelaki itu telah keluar dari dalam kamar pribadi milik atasannya itu.
sedangkan Bima mulai menaruh tubuh Zahra perlahan dan sedikit memiringkan tubuh istrinya itu, karena takut jahitan di belakang kepalanya robek kembali.
setelah itu Bima perlahan melangkahkan kakinya ke arah ruang ganti, yaitu mengambilkan baju ganti untuk istrinya.
karena gaun pendek yang di kenakan Zahra sudah banyak bercak darah di bagian belakang punggung nya.
dan juga Bima mengganti pakaian formalnya yang sedari tadi pagi ingin berangkat ke kantor itu, kini dirinya mengganti pakaiannya dengan setelan kaos santai dan celana pendek selutut.
setelah Bima mengganti bajunya dengan yang baru, kemudian Bima mengambilkan pakaian ganti untuk istri tercintanya itu.
setelah mendapatkannya Bima kemudian keluar dari ruangan gantinya untuk segera kembali ke arah ranjang, dan mengganti pakaian istrinya yang masih basah bekas darah itu.
kini Bima berada di sisi ranjang, sejenak ia memandangi wajah Zahra.
sayang tetaplah tertidur aku akan mengganti bajumu perlahan ucapnya kemudian mengecup sekilas bibir istrinya yanng masih terlihat pucat itu.
kemudian Bima mulai mengganti pakaian istrinya perlahan, karena takut mengenai jahitan Zahra yang berada di belakang kepalanya, dan juga takut istrinya terbangun.
__ADS_1
beberapa saat kemudian
Bima telah selesai mengganti baju milik Zahra, kemudian Bima menyelimuti tubuh istrinya itu perlahan, dan setelah itu Bima ikut berbaring di dekat istrinya kemudian memeluk perut rata Zahra dan setelah itu Bima berucap sedikit sesuatu di sana sambil mengelus perut yang masih rata milik istrinya itu.
aku tau kau punya alasan tersendiri tentang semua ini, dan aku akan menunggu sampai kau sudah siap menjelaskan semuanya kepadaku Zahra, aku mencintaimu, dan jangan tinggalkan aku ucap Bima kemudian ikut memejamkan matanya.
beberapa saat kemudian Bima merasa tak bisa memejamkan matanya meskipun dirinya mencobanya beberapa kali, dan akhirnya Bima memutuskan untuk pergi ke ruang kerjanya, untuk mengerjakan semua pekerjaan nya yang sempat tertunda karena sebenarnya dirinya saat ini akan pergi ke kantor.
Berhubung ada hal yang lebih penting maka dari itu dirinya mengerjakan semua pekerjaannya di ruang kerja.
setelah sesampainya di sana Bima mulai membuka perlahan benda layar tipisnya di atas meja kerjanya saat ini, kemudian mulai mengotak ngatiknya.
dan kini pikirannya teralihkan dengan istrinya.
Bima terdiam sejenak.
apa sebenarnya alasan Zahra, kenapa dia mengkonsumsi obat pencegah kehamilan itu, kenapa.., apa dia tidak menginginkan anak dariku, atau.... akhhh... sebaiknya aku menunggu penjelasannya saja, aku tidak ingin semua keadaan yang mulai membaik ini, menjadi kacau lagi seperti semula, dan Zahra, ya.. dia hanya milikku dan akan tetap menjadi milikku ucapnya sambil memandangi layar tipis di depannya dengan tatapan kosong.
sebaiknya aku menunggunya di sana saja sebentar lagi pasti dia bangun ucapnya lagi kemudian kembali menutup benda layar tipisnya itu kemudian segara menjunjung bokongnya dari kursi kebesarannya itu.
setelah itu melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerjanya itu, kemudian kembali lagi ke kamarnya untuk melihat keadaan istrinya yang sudah tersadar ataukah belum.
dan sesampainya di sana Bima mulai membuka perlahan pintu kamarnya dan melihat ke arah ranjang, dan mendapati istrinya yang mencoba menegakkan tubuhnya di sana.
" sayang kau sudah bangun, sini biar aku yang akan membantumu hem "
Zahra hanya diam tak menanggapi ucapan suaminya itu.
sedangkan Bima langsung membantu istrinya yang ingin bersandar di sandaran ranjang itu dan menegakkan sedikit tubuh milik Zahra.
" apa sudah enak dengan posisi mu yang seperti ini sayang "
Zahra menganggukkan kepalanya pelan, yang langsung membuat Bima tersenyum dan bernafas legah meskipun istrinya hanya memberikan jawaban sekedar menganggukkan kepalanya saja.
" sayang apa kau lapar hem "
ucap Bima sambil menaruh anak rambut ke telinga Zahra
Zahra menggelengkan kepalanya pelan.
" lalu kau menginginkan apa sayang, bicaralah "
__ADS_1
ucap Bima lagi memandangi wajah pucat istrinya dan memandangi dagu Zahra yang sedikit membiru itu akibat kelakuannya.
Zahra terdiam sejenak
" aak.. akk.. aku "
" sayang bicaralah, aku tidak akan marah lagi padamu "
" aku.. aku.. aku sebenarnya, sebenarnya aku ingin menjelaskannya padamu "
" jelaskan lah jika kau ingin menjelaskan nya padaku, aku akan mendengarnya Zahra, dan aku tidak akan marah lagi padamu "
ucapnya dengan memegang kedua tangan istrinya seperti meyakinkan Zahra kalau dirinya tidak akan marah marah lagi.
" baiklah aku akan menjelaskannya semua kepadamu " ucap Zahra kepada suaminya dengan nada suara yang masih lemah.
Bima mengangguk nganggukkan kepalanya sambil sesekali memejamkan matanya pelan.
" sebenarnya aku melakukan itu semua karena aku,....."
jelas Zahra dengan sedikit kata katanya terhenti, dan kedua matanya yang kini mulai mengembun dan akhirnya air matanya itu mulai membanjiri pipi mulusnya, karena Zahra sudah tidak bisa lagi membendung rasa ketakutannya itu saat ini mengingat artikel yang pernah ia baca di mesin pencarian ponsel pintarnya itu.
" akk... akk...aku takut "
'' sayang pelan pelan saja aku tidak akan memarahi mu Zahra percayalah padaku sayang"
jelas Bima sekali lagi dengan memegang kedua tangan Zahra yang bertambah erat saat ini.
" aku takut jika aku hamil di umurku yang masih belia seperti saat ini, aku takut akan mempengaruhi anak yang masih berada di dalam kandungan ku, aku takut dia cacat dan kau akan menjauhkannya dariku, dan umurku yang masih delapan belas tahun adalah umur yang yang masih sangatlah rawan untuk mengandung, dan di usia yang masih terbilang sangat muda, itu juga mempengaruhi keselamatan ku sewaktu aku melahirkannya, dan aku takut tidak bisa menemuinya lagi setelah aku melahirkannya kelak hiks..hiks..hiks.."
jelas Zahra dengan air mata yang sudah menganak sungai, Zahra kembali histeris dia tidak bisa membayangkan itu semua jika terjadi dalam hidupnya.
deg
sedangkan Bima yang mendengarkan penjelasan istrinya itu, kemudian dirinya langsung memeluk tubuh Zahra begitu sangat sangat erat sampai tak ada cela di antara keduanya.
dan keduanya kini menangis bersamaan,
" sayang maafkan aku yang terlalu egois, aku tidak pernah memikirkan semuanya yang menyangkut dirimu Zahra, selama ini aku hanya mementingkan diriku saja, sayang maafkan aku"
jelas Bima dengan air mata yang sudah menganak sungai sampai ingusnya pun menetes di bahu istrinya.
__ADS_1
" sayang aku tidak akan lagi memaksamu untuk segera mempunyai seorang bayi Zahra, aku akan menunggu beberapa tahun lagi, agar kau siap sayang, aku berjanji padamu, dan jangan tinggalkan aku Zahra "
ucap Bima yang masih memeluk tubuh istrinya yang begitu sangat erat.