
Ke esokan harinya.
Di perusahaan Sinaga group.
Kini hubungan sekertaris Revan dan Adinda semakin dekat sesekali keduanya senyum senyum tak jelas, entah apa yang membuat keduanya seperti orang tak waras, yang pasti intinya tentang cinta.
Keduanya mungkin tengah kasmaran tingkat dewa, sesekali saling lirik dan sesekali juga saling panggil ujungnya tak ada yang di pertanyakan.
Ah... mungkin kedua insan itu sudah ingin segera di nikahkan, atau memang sekertaris Revan ingin segera mengajak Adinda menikah dalam waktu yang singkat, entahlah tak ada yang tau.
Dan ya satu lagi apa pernikahan keduanya akan di laksanakan dengan resepsi mewah, atau mungkin sekertaris Revan akan meniru sang atasan, yang hanya dengan pesta sederhana saja bahkan tertutup.
Hah.... itu semua terserah sekertaris tampan itu dan Adinda, mungkin Adinda akan memilih pernikahan yang sederhana karena sepertinya sifat Adinda rendah hati tak suka kemewahan seperti Zahra istri dari sang atasan yaitu tuan Bima.
Kini jam kantor tengah menunjukkan pukul 11.30 wib di mana seluruh karyawan mulai berhamburan untuk segera mengisi perutnya di dalam perusahaan pencakar langit tersebut.
Begitu juga sekertaris Revan dan Adinda, kini kedua pasang kekasih itu tengah membereskan meja kerja.
sesaat keduanya telah selesai.
Sedangkan Dinda kini baru saja mengeluarkan kotak bekal dirinya dan sang kekasih.
" Din " panggil sekertaris Revan.
" iya " jawab Dinda
" ayo kita makan siang di luar "
" tapi bekalnya "
" Dinda " ucap sekertaris Revan dengan penekanan.
" iya iya baiklah " jawab Adinda yang sudah merasa ucapan atasan sekaligus pacar nya itu tak ingin mendengar kata penolakan.
" begitu kan enak dengarnya " sahut sekertaris Revan santai seperti tak melakukan kesalahan.
" terus bekalnya " tanya Dinda sambil mengangkat satu kotak bekal kepada sekertaris Revan.
" kita bawa balik ke apartemen nanti, ayo sekarang kita keluar "
" baiklah "
Keduanya pun kini beriringan untuk segera mencari makan di luar karena jam istirahat kantor pun baru saja tiba.
********
Di sebuah restoran.
Sepasang kekasih itu kini tengah duduk berhadapan di sebuah meja makan restoran.
sesekali sepasang itu saling pandang kemudian senyum senyum tak jelas.
" Din kenapa kau senyum senyum sendiri sedari tadi, kau ingin membuatku terpesona ya" tanya sekertaris Revan sedikit menggoda.
__ADS_1
" hehehe... untuk apa, sekarang kakak kan sudah jadi pacar ku " jawab Adinda dengan santai nya.
" hehehe.... kau sangat mencintai ku Dinda " tanya sekertaris tampan itu
" iya aku sangat mencintaimu " jawab Adinda.
" benar kau sangat mencintaiku " tanya sekertaris Revan untuk yang kedua kalinya.
" iya aku sangat mencintaimu kak " jawab Adinda lagi.
" baiklah kalau kau memang mencintaiku, aku menginginkan hal yang lebih dari sekedar ciuman " ucap sekertaris Revan tiba tiba yang membuat Adinda sedikit penasaran dengan ucapan pacarnya tersebut.
" maksud kakak " tanya gadis bermata bulat yang tak lain adalah Adinda.
" kenapa kau masih bertanya maksudnya, aku ingin hal lebih dalam sebuah hubungan, aku ingin melakukan itu bersamamu " jelas sekertaris Revan.
" melakukan itu bagiamana maksudmu " tanya Dinda lagi
" making love " ucap Revan setelah itu.
sesaat Adinda terdiam seperti baru menangkap inti pembicaraan sekertaris Revan sedari tadi.
" inikah aslinya dirimu sekertaris Revan, jika kau menjadikan ku pacar hanya untuk menginginkan sekedar hal seperti ini, lebih baik mulai sekarang kita putus, lupakan aku dan aku mengundurkan diri dari perusahaan "
jelas Adinda yang merasakan kekecewaan di dalam hatinya pada pria tampan yang selama ini ia cintai itu.
" Hei... Hei... Hei... Dinda apa yang kau katakan hehehe..... aku... aku bercanda sayang " ucap sekertaris Revan dengan mimik wajah yang sedari tadi di buat nya serius akhirnya dirinya mulai tertawa atas reaksi Adinda yang membuatnya berhasil mengerjai pacar barunya tersebut.
" apa ini maksud mu bercanda hah, aku bukan gadis murahan, silahkan cari gadis lain untuk kau ajak making love, tetapi itu bukan aku permisi " jelas Adinda dengan keseriusan kemudian bergegas pergi meninggalkan sekertaris Revan.
" Dinda maaf kan aku, Hei duduk lah sebentar, apa kau tidak ingin mendengarkan aku,aku hanya bercanda " ucap sekertaris Revan santai seperti tak terjadi apa apa
Berbeda dengan Adinda yang saat ini kekesalan nya seperti sudah berada di ubun ubun.
" lepaskan " ucap Dinda kemudian menarik kasar pergelangan tangan nya dari tangan sekertaris Revan dan setelah itu melanjutkan langkahnya untuk keluar dari dalam restoran.
" Dinda tunggu " ucap sekertaris Revan kemudian berdiri untuk segera mengejar pacar nya yaitu Dinda.
Sedangkan dari arah belakang pelayan restoran sedikit berteriak
" Tuan ini pesanan anda bagaimana " ucap pelayan restoran sambil membawa satu nampan berisi beberapa olahan seafood.
" hah......" sekertaris Revan membuang nafas beratnya.
" ini ambilah " ucap sekertaris tampan itu sambil mengeluarkan beberapa lembaran uang kertas merah ke arah pelayanan restoran.
kemudian segera melanjutkan langkahnya menyusul Adinda yang mulai menjauh
" tapi tuan " ucap pelayan resto yang lagi lagi menghentikan langkah sekertaris tampan tersebut.
" akhh... " sekertaris itu mulai mengeram kesal
" iya iya Terima kasih banyak tuan " ucap pelayan restoran tiba tiba.
__ADS_1
Dan setelah itu sekertaris Revan pun kemudian melanjutkan langkahnya untuk mengejar Adinda yang kini sudah menjauh entah kemana.
kemana dia lagi, akkhh... aku kan tadi hanya berniat menggodanya saja, kenapa jadi seperti ini monolog nya.
sambil clingak clinguk kanan kiri mencari keberadaan Adinda.
Sedangkan Adinda terus berjalan berniat untuk pergi ke kos kos an yang dulu ia tempati, dengan air mata yang sedikit demi sedikit mulai merembes di kedua pipinya.
Hah... ternyata dia pria bejat, andai saja dulu aku tidak menyukainya, dan sekarang setelah aku tak mau di ajaknya untuk hal seperti itu dia minta maaf padaku di bilang hanya bercanda supaya aku memaafkan nya kan,
dan di lain waktu pria seperti itu akan terus membujuk ku agar aku mau di ajaknya bercinta, kau pikir aku wanita seperti apa sekertaris gila, gila, gila monolog Adinda panjang lebar
sesekali kaki putih mulus yang memakai sepatu heels itu terlihat sedikit berjalan pincang karena dirinya tadi sempat keseleo di trotoar.
Sedangkan sekertaris Revan kebingungan mencari Adinda, menyetir mobil mewahnya seperti seseorang tak tau arah untuk mencari gadis yang ia cintai itu.
Dinda kau di mana Din, apa mungkin dia ke arah kos kos an nya dulu, sebaiknya aku ke arah sana saja monolog nya.
Kemudian sekertaris Revan yang berada di kendali setir segera memutar balik arah menuju arah dimana kos kos an Adinda berada.
sesaat kemudian.
pandangan sekertaris Revan menyapu tepian jalan aspal di siang terik seperti saat ini, panas begitu seperti menyeruak di seluruh dalaman mobil, apalagi di luar pikirnya.
Kemana lagi aku mencarinya, apa semarah itu dirimu Dinda padaku, aku kira kau tidak se sensitif itu monolognya.
sambil menjalankan mobilnya begitu pelan.
bukankah itu Dinda, ya itu Dinda... akhirnya aku menemukan mu Din monolognya lagi.
kemudian segera menancapkan pedal gasnya dengan cepat untuk mengejar langkah Adinda.
tin ... tin... tin
bunyi klakson mobil menghentikan langkah gadis berparas ayu itu saat ini.
Adinda tak menghiraukan nya
kemudian kembali melangkah
" Dinda berhenti aku bilang, kau tidak malu di lihat orang " teriak sekertaris Revan dari dalam mobil hitam mewahnya.
" untuk apa berhenti dan untuk apa malu,kau dan aku sudah tidak ada apa apa,kita sudah putus " jawab Adinda
" aku tidak mau "
" terserah " ucap Adinda tak menghiraukan ucapan pria tampan di dalam mobil yang terus mengikutinya dari samping jalan aspal.
JANGAN LUPA BACA NOVEL AKU LAINYA KAK :
- PERBUDAKAN KU BERAKHIR DI PELAMINAN ( on going)
- DUNIAKU TAK SELEBAR DAUN KELOR ( karya masih baru banget, on going )
__ADS_1
KAK JANGAN LUPA LIKE, VOTE, SAMA KOMENTAR NYA βΊβΊππππ, πππ