
" Terima kasih sayang, aku sangat merindukan kamar ini, sayang kucing kecil ku dimana, aku tidak melihatnya sedari tadi "
tanya Zahra celingak celinguk tetapi tak mendapati keberadaan kucing pemberian suaminya itu.
" itu dia di dalam kandangnya sayang " ucap Bima yang juga melihat kanan kiri mencari keberadaan kucing yang baru saja sekertaris Revan temukan itu.
" oh iya bisakah kau mengambilkan nya untuk ku sayang " ucap Zahra meminta tolong kepada suaminya.
" ya baiklah " kemudian Bima mulai bangkit dari duduknya dan mengambilkan anak kucing berwarna putih bersih yang sedang tertidur pulas di dalam kandangnya itu.
setelah mengambilnya kini Bima memberikannya kepada istrinya.
" pus.. bagaimana keadaanmu " ucap Zahra sambil mengelus bulu kucing mungil itu yang seperti merindukan dirinya.
" apakah kau sebahagia itu bertemu dengan anak kucing itu sayang "
" iya sayang, aku menganggapnya sebagai teman ku, saat aku sendirian waktu dirimu keluar negri, aku bahagia sekali mendapatkan hadiah ini darimu, kau tau sekali jika dia bisa menghilangkan rasa kesepian ku suamiku " ucapnya begitu sangat bahagia dan berterima kasih pada suaminya.
" aku bahagia jika kau menyukainya sayang " ucapnya lembut kepada Zahra sambil mengelus pipi istrinya itu.
untung saja sekertaris Revan, dengan cepat menemukan anak kucing kesayangan Zahra ini, kalau tidak aku tidak tau harus bagaimana membayangkan wajah Zahra yang begitu sangat bersedih nya kehilangan anak kucing sialan ini enak sekali dia bermanja manja kepada istiku gumam Bima dalam hati.
beberapa saat kemudian.
tok
tok
tok
" siapa " tanya Bima
" saya tuan " jawab sekertaris Revan dari balik pintu
" masuk " sahut Bima
kemudian sekertaris Revan masuk dengan membawakan kursi roda milik nona mudanya.
" tuan ini kursi roda milik nona muda " ucap sekertaris Revan.
" kau taruh saja di situ "
" baik tuan "
__ADS_1
" oh ya Van kau ikut aku ke ruang kerja "
" baik tuan "
" sayang aku ke ruang kerja sebentar, kau istirahat saja ya " ucapnya kemudian mengecup pelan kening istrinya.
Zahra tersenyum tanpa menjawab perkataan suaminya itu.
kini Bima bersama sekertaris Revan melangkahkan kakinya dan mulai meninggalkan Zahra sendirian di kamar, dan menuju ruang kerjanya.
sedangkan Zahra kini sendirian di kamarnya dan hanya bersama kucing kecil kesayangannya itu yang kini sedang tertidur pulas di dekatnya.
Zahra terdiam sesaat mengingat dirinya beberapa hari ini tidak meminum obat penunda kehamilannya, sejak ia masuk rumah sakit.
kemudian perlahan Zahra mencoba turun dari ranjangnya meskipun dengan sangat pelan, kemudian Zahra perlahan melangkahkan kakinya menuju lemari kecil yang ada di dekat ranjang king size nya itu.
Kemudian ia mengambil kantong plastik berwarna hitam di dalamnya dan mulai membuka dan mengambil satu persatu obat penunda kehamilan itu kemudian menaruh di tangannya, dan setelah itu Zahra mengembalikan kantong plastik warna hitam tersebut ke tempatnya semula, agar Bima tidak mengetahuinya.
setelah itu Zahra perlahan kembali duduk di tepi ranjang kemudian segara memasukkan obat itu ke dalam mulutnya dan ia mengambil air putih yang sudah tersedia dibatas nakas di dekat ranjangnya itu, kemudian ia langsung meminumnya perlahan.
dan saat ini zahra kembali membenarkan tubuhnya ke posisi semula dan mulai memejamkan matanya di ranjang king size itu di samping kucing kecilnya yang tertidur pulas.
sedangkan, tepatnya di ruang kerja Bima kini kedua lelaki itu sedang membicarakan sesuatu hal.
" semuanya aman tuan "
" bagus "
" oh iya Van dimana kau temukan anak kucing sialan itu "
" saya mendapatkan dari seseorang orang yang baru saja membelinya tuan, awalnya dia tidak mau memberikan kepada saya kemudian saya tawarkan dengan harga sepuluh kali lipatnya tuan, kemudian orang itu dengan senang hati langsung menyerahkannya kepada saya "
" untung saja kau menemukan nya Van, kalau tidak, aku tidak tau harus membayangkan wajah Zahra yang begitu bersedih kehilangan anak kucing kesayangannya itu, ya walaupun aku membenci anak kucing itu tetapi mau bagaimana lagi Zahra begitu menyayanginya aku tidak bisa berbuat apa apa, meskipun itu pemberianku sendiri "
sedangkan sekertaris Revan sebenarnya ingin tertawa mendengar penjelasan atasannya itu, tetapi juga sekertaris Revan begitu lucu melihat tuan mudanya itu yang begitu bucin terhadap istrinya.
" oh iya tuan muda, apakah nyonya dan tuan Brandon kemudian orang tua nona Zahra kita kasih tau saja atau bagaimana "
" sebaiknya tidak usah Van, karena aku tidak ingin mereka khawatir berlebihan, sedangkan kau tau sendiri istri ku sudah membaik sekarang bukan cukup Hendra saja yang tau "
" iya anda benar tuan "
" mengenai kenaikan gaji Toni sudah kau atur sekertaris Revan "
__ADS_1
" sudah tuan "
" bagus "
" ya sudah kalau tidak ada lagi yang Anda perlukan saya pamit undur diri tuan, untuk segera kembali ke perusahaan "
" baik kau pergilah "
kemudian sekertaris Revan pun sedikit membungkukkan badannya kemudian segera keluar meninggalkan ruang kerja milik tuan mudanya itu dan segera menuju perusahaan, karena masih banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan.
Apalagi sekarang perusahaan di ambil alih olehnya selama tuan mudanya sibuk dengan istrinya yang baru pulang dari rumah sakit itu.
sedangkan Bima kini tengah sendirian di ruang kerjanya, ia terdiam sejenak mengingat sedikit tentang istrinya yang sepertinya mengalihkan pembicaraan ketika dirinya membahas tentang bayi.
apa ada sesuatu yang dia rahasiakan dariku, apa mungkin, tapi tidak.. tidak.. dia sekarang sangat mencintaiku dan aku juga sangat mencintainya. Hey.. Bima hilangkan pikiran negatif mu itu kepada Zahra, tidak mungkin Zahra tidak mencintaimu selama ini.
Bima bermonolog sendiri di dalam ruangannya itu.
ah sudah lah sebaiknya aku membuang jauh jauh pikiran negatif itu, Zahra tidak mungkin membohongi ku monolognya lagi.
kemudian Bima memutuskan untuk kembali ke kamarnya menemani istrinya yang sedang sakit di sana.
dan Bima sekarang mulai keluar dari kamarnya kemudian melangkahkan kakinya ke arah kamarnya tersebut.
Setelah di depan pintu kamar Bima langsung membuka handel pintu, dan menampilkan istrinya yang tengah beristirahat dengan damai di sana.
kini Bima melangkah ke arah ranjang king size nya itu untuk menemani Zahra yang tengah tertidur itu.
enak sekali anak kucing ini tidur di dekat Zahra, sebaiknya aku segera menyingkirkannya enak saja gumam Bima dalam hati.
dan sekarang dirinya mulai mengambil anak kucing yang sedang tertidur itu, kemudian Bima langsung menaruhnya dalam kandang kecil di sisi pojok kamarnya.
kau tidak bisa mengalahkan ku meskipun kau hanya se ekor kucing imut menurut istiku gumamnya lagi.
kemudian Bima meninggalkan anak kucing itu, dan Bima kembali ke arah ranjang istrinya dan menemani Zahra di sana.
Zahra kau tertidur sayang, ucapnya kemudian Bima mengecup bibir istrinya singkat.
selalu saja aku tidak tahan jika di dekatmu sayang ucapnya lagi kemudian mengecup sedikit lama bibir tipis milik istrinya itu.
sebaiknya aku ikut tidur saja, aku tidak bisa jika berlama lama memandangnya seperti ini Bima kembali bermonolog sendiri.
kemudian Bima mulai memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Zahra dan memeluk perut rata milik istrinya.
__ADS_1
dan perlahan Bima mulai tertidur bersama istri kesayangannya itu.