
sesampainya di depan ruangan Zahra, sekertaris Revan dan Adinda kini perlahan membuka pintu kamar pasien di mana istri dari atasannya itu di rawat.
JEG GLEK........
bunyi pintu kamar pasien yang di buka oleh sekertaris Revan.
Menampilkan seluruh keluarga yang kini tengah berkumpul di dekat ranjang pasien yang di tempati oleh Zahra.
yang sudah di perbolehkan masuk oleh pihak rumah sakit ke dalam ruangan istri dari pemilik Sinaga Group itu.
" selamat sore semua nya " ucap sekertaris Revan kepada semua keluarga yang saat ini tengah berada di ruangan istri dari atasannya tersebut.
" Sore " jawab semua nya.
" silahkan masuk sekertaris Revan " ucap papa Brandon kepada sekertaris Revan.
" oh kalian berdua " ucap Bima sambil menoleh ke belakang di mana sekertaris kepercayaannya itu mulai masuk ke dalam ruangan.
" iya tuan, saya bersama Dinda kesini, bagaimana keadaan nona tuan " jawab sekertaris Revan.
" kau lihat sendiri Van, dia masih belum sadarkan diri " jawab Bima yang sedari tadi menggenggam tangan istrinya yang tak kunjung ia lepaskan itu.
" sayang bangun ada sekertaris Revan dan Adinda menjenguk mu, bukan kah kau ingin melihat mereka berdua " ucap Bima kepada istri kesayangan nya itu yang seolah olah menyuruh istrinya bangun dari tidurnya.
" tuan sabar pasti nona sebentar lagi akan sadar " Jawa sekertaris Revan.
" ya nak Bima pasti istrimu akan sadar sebentar lagi bersabar lah " ucap bu Fatma juga kepada menantu nya tersebut.
" iya bu, tapi sampai kapan " jawab Bima.
" sayang, kita sudah mempunyai bayi, bangunlah dia ingin segera berada di dekat mu Zahra " ucap Bima kepada sang istri yang tak kunjung membuka kedua matanya saat ini.
" sayang tenang, istri kamu pasti akan sadar, kita tunggu waktunya saja " ucap mama Alisya yang juga ikut menenangkan putra nya.
" iya tuan benar apa kata nyonya, tenangkan dulu hati anda " ucap sekertaris Revan yang kembali menenangkan atasan nya itu.
semua keluarga seperti kembali meneteskan air matanya melihat pria yang berada di samping gadis yang sedang terbaring lemah itu, terlihat begitu menyayangi sosok Zahra istri nya sendiri.
sedangkan Dinda sedikit menyenggol lengan sekertaris Revan seperti mengisyaratkan sesuatu dengan wajah yang ikut terlihat bersedih.
" tuan bersabar lah saya tau nona adalah wanita yang kuat pasti dia bisa melewati semua ini " ucap Adinda yang juga ikut menyemangati atasannya tersebut.
" terima kasih " jawab Bima.
sesaat kemudian.
tangan Zahra perlahan bergerak.
" Ma... Zahra ma tadi tangan nya bergerak "
" sayang kamu jangan berhalusinasi "
" tidak ma, tadi tangan nya memang sedikit bergerak "
" sayang kau mulai sadar bukan, ayo tunjukkan pada mereka Zahra tangan mu benar-benar bergerak tadi "
dan memang benar tadi tangan putih mulus milik istrinya itu kini kembali bergerak, sedangkan di ujung kedua matanya mulai menetes lelehan air mata yang membasahi kedua pipi mulus nya itu.
dan sontak saja membuat semua orang yang berada di dalam sana ikut bahagia.
__ADS_1
" ma benar kan Zahra sadar tangan nya bergerak lagi ma, dan lihat dia sedikit meneteskan air matanya di sudut matanya " ucap Bima seperti kegirangan melihat keadaan istrinya yang kini mulai ada perubahan.
" iya kau benar Bima " ucap mama Alisya sambil mengembangkan senyum nya sesekali dirinya mengusap lelehan air matanya yang membasahi pipi.
" Zahra kau sadar nak " ucap bu Fatma yang begitu ikut bahagia saat ini.
" nona anda sadar " ucap Adinda juga ikut berbahagia atas sadarnya istri atasannya.
" sekertaris Revan cepat panggil dokter '' perintah Bima kepada sekertaris kepercayaan nya saat ini.
" baik tuan ''
sekertaris Revan pun kini langsung keluar dari dalam ruangan tersebut, untuk segera memanggil dokter Toni dan dokter Rani agar segera memeriksanya.
sesaat kemudian sekertaris Revan kini telah kembali bersama dokter Toni dan dokter Rani menuju ruang khusus istri dari pemilik rumah sakit tersebut.
JEG GLEK......
suara pintu yang baru saja di buka oleh dokter Toni.
sedangkan Bima langsung menoleh ke arah belakang saat pintu ruangan di buka dari luar.
" Toni, cepat periksa istriku, tadi ia menggerakkan tangan nya dan dia mengeluarkan sedikit air mata dari ujung matanya " up Bima
" iya tenang kan dirimu Bima kami akan memeriksanya " ucap dokter Toni kena atasan sekaligus atasannya tersebut.
perlahan dokter Toni yang di dampingi dokter Rani, perlahan memeriksa keadaan Zahra.
sesaat kemudian.
" nona Zahra mengalami kemajuan Bima, mungkin sebentar lagi akan sadar, tunggulah beberapa saat lagi "
" terimakasih Ton "
dokter Toni pun kini keluar bersama dokter Rani, meninggalkan ruangan khusus pasien milik keluarga pemilik rumah sakit tersebut yang tak lain adalah Sinaga group.
kini tinggal lah seluruh keluarga yang masih setia berada di dalam ruangan di mana Zahra di rawat.
" sayang kata dokter Toni keadaan mulai membaik, sayang bangunlah aku menunggumu di sini "
sedangkan yang lain nya saling pandang dan kemudian berniat meninggal kan kedua pasang suami istri itu untuk berdua saja.
" Bima mama keluar dulu sama papa ya, mama mau lihat cucu mama di ruangan sebelah " ucap mama Alisya kepada putranya.
" iya ma, beri dia susu formula dulu jika dia haus ma "
" iya sayang jangan khawatir "
" ibu juga keluar sama ayah nak Bima " ucap bu Fatma juga kepada menantunya tersebut.
" iya bu " jawab Bima.
" saya juga tuan dan Dinda ingin melihat putri anda tuan " ucap sekertaris Revan yang juga ikut keluar saat ini.
" ya silahkan Van "
Kini tinggal lah sepasang suami istri itu, dengan setia Bima tetap menggenggam tangan Zahra tanpa melepaskannya.
Sayang bangunlah, kau tidak lelah istirahat terus menerus, aku menemanimu di sini Zahra, kau tidak ingin melihat putri kita, dia sangat cantik mirip sekali dengan dirimu sayang monolog Bima.
__ADS_1
sesekali Bima kembali meneteskan air matanya, melihat wajah sang istri yang masih terlihat pucat dan juga bantuan selang oksigen yang masih menempel di hidungnya.
beberapa saat kemudian
Zahra tetap setia tak berniat membuka kedua matanya.
JEG GLEK
bunyi pintu yang tiba tiba dibuka sekertaris Revan dari luar bersama Dinda yang setia mengekor di belakangnya.
" tuan saya tadi sudah melihat putri anda ya kan Din " ucap sekertaris Revan kepada tuan nya itu kemudian beralih menyebut Dinda.
" iya dan putri anda begitu sangat cantik tuan, semoga saja jika saya mempunyai anak laki-laki saya akan menjodohkan anak saya dan anak anda " sahut Adinda seperti membayangkan kehidupan nya kelak.
" Dinda jaga bicaramu " ucap sekertaris Revan kemudian.
" apa sih aku hanya bercanda dengan tuan Bima " jawab Dinda sedikit cemberut.
" biarkan saja Van tidak apa apa " jawab Bima sambil sedikit tersenyum.
sedangkan Adinda kemudian menjulurkan lidahnya keluar seperti berniat mengejek sekertaris tampan di samping nya itu.
gadis ini memang benar sedikit menyebalkan, tetapi juga menggemaskan sih, aku jadi ingin menciu...... heh Revan kau gila gila gila gumam sekertaris Revan dalam hati.
seperti merutuki kebodohannya sendiri.
" ya sudah kalau begitu tuan, saya dan Dinda pamit pulang, dan semoga nona cepat sembuh, kalau butuh apa apa segera hubungi saya tuan" ucap sekertaris Revan kemudian.
" ya sekertaris Revan terimakasih " jawab Bima.
" nona semoga cepat sembuh, aku ingin sekali berbincang dengan mu, dan kelak saya ingin menjodohkan anak saya dan putri anda yang cantik itu hehehe.... " ucap Adinda yang ikut berpamitan sambil sedikit tertawa dengan kata katanya.
" Dinda " panggil sekertaris Revan penuh penekanan supaya gadis itu berhenti untuk berbicara.
" apa sih, saya hanya ingin mengajak bercanda nona " jawab Dinda yang sedikit memanyunkan bibirnya.
sedangkan Bima tersenyum sambil geleng geleng kepala melihat perdebatan kecil keduanya, yang menurut Bima sedikit menghiburnya.
" ya sudah tuan, saya pamit undur diri "
" ya baiklah sekertaris Revan hati hati "
" ya tuan "
" ayo Din " ucap sekertaris Revan kepada Adinda.
" iya tuan jangan tarik tarik, saya bisa jalan sendiri " jawab Adinda
" permisi tuan " ucap Adinda kepada atasannya.
" ya Din Terima kasih, pasti istriku senang kalau melihat kalian berdua datang kemari " ucap Bima setelah itu.
Sekertaris Revan dan Adinda kembali tersenyum mendengar perkataan dari atasannya tersebut.
Dan setelah itu keduanya pun perlahan keluar dari dalam ruangan istri dari atasan dengan sedikit acara tari tarikan.
KAK JANGAN LUPA BACA NOVEL AKU LAINYA :
- PERBUDAKAN KU BERAKHIR DI PELAMINAN.
__ADS_1
- DUNIAKU TAK SELEBAR DAUN KELOR.
KAK JANGAN LUPA LIKE, VOTE, SAMA KOMENTAR NYA βΊβΊππππ