Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
mimisan lagi


__ADS_3

Kini jam sudah menunjukkan pukul tiga sore, tetapi adina tak berniat sama sekali membuka pintu kamar.


Ya memang Adinda tak berniat bangun bangun karena tubuh nya demam ia memilih untuk beristirahat seharian agar segera pulih pikir nya.


Perlahan matanya mulai sedikit terbuka melihat sekeliling tak mendapati sang suami.


Astaga aku baru teringat aku dan dia kan sedang marahan, tapi perutku sangat lapar tapi tidak mungkin aku keluar dari kamar aku kan sedang kesal pada nya monolog Adinda.


Adinda perlahan bangun dari ranjang dengan dirinya yang kini sudah memakai kaos lengan pendek berwarna abu abu dan celana pendek sepaha berwarna senada.


Dirinya perlahan akan melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi untuk mencuci muka di dalam sana.


Sesaat.


Semampai nya di dalam kamar mandi,tepat nya ia tengah berada di depan kaca besar di depan wastafel.


hidung ku mimisan lagi, akhh.. ada ada saja tidak ada tissu lagi monolog nya.


Kini Adinda mulai membuka saluran air kemudian membersihkan perlahan di bagian bawah hidung nya.


Akhh... tak berhenti henti lagi, hei... mimisan kenapa kau harus datang di waktu yang tak tepat sih monolog nya.


Karena di rasa darah terus mengalir bahkan semakin banyak hingga menetes ke lantai kamar mandi.


Adinda kini berniat duduk di lantai kamar mandi sambil menyandarkan punggungnya ke dinding dengan posisinya saat ini menaruh kepala nya di lutut dengan satu punggung tangan nya ia taruh di bawah hidung agar darah tak keluar lagi dari dalam sana.


seperempat jam Adinda sibuk sendiri dengan hidungnya yang tak kunjung mampet itu dengan sedikit menahan nafas, noda darah kini sedikit merembes ke tangan dan kaos abu abu nya.


Sesaat


seperti biasa gadis itu telah pingsan dengan keadaan yang kini sudah tergeletak di lantai marmer kamar mandi, sedangkan hidung mimisan nya sudah berhasil ia taklukkan.


Ya dari dulu itu lah satu satunya cara agar mimisan nya bisa berhenti.


Sedangkan di kamar sebelah sekertaris Revan baru saja membuka kedua matanya karena sedari tadi dirinya tak tau akan apa yang harus ia lakukan.


Jam berapa sekarang, Dinda belum sarapan sama sekali monolog nya.


Sekilas ia menoleh ke atas nakas dimana ada sebuah jam bulat kecil berwarna hitam di sana.


Kedua matanya sedikit terbelalak karena tak percaya jam beker kecil tersebut sudah menunjukkan pukul setengah lima sore.


APA, ternyata ini sudah sore, Dinda Dinda bagaimana keadaan nya sekarang, aku harus segera melihatnya, ASTAGA aku lupa dia menguncinya dan pasti tak akan di buka nya dia kan sedang marah padaku, tidak mungkin kalau pintu itu tak ada kunci cadangan nya, aku cari saja di kamar ini pasti ada.

__ADS_1


Kini sekertaris Revan mulai membuka laci nakas satu persatu.


Sesaat senyum nya mengembang kita tangan nya meraih sesuatu yang di cari nya,


Seperti nya ini yang aku cari monolognya.


Dengan segera sekertaris Revan langsung berlari ke arah kamar pribadi yang kini di tempati sang istri.


perlahan tangan nya mulai mengotak atik kunci pada pintu kamar.


JEG GLEK......


hehehe..... benar kan monolog nya dengan sedikit tertawa.


kemudian perlahan dirinya mulai masuk ke dalam kamar, pandangan nya langsung menyapu seluruh ruangan kamar yang begitu sangat luas tersebut.


" Din.. Dinda kau kemana, sayang aku tau kau marah tapi jangan sembunyi sembunyi seperti ini Din " teriak Revan sambil terus melangkah mencari keberadaan Adinda.


Dilihat di ruang ganti tak ada, kemudian Revan berniat menggedor pintu kamar mandi.


JDORR....


JDORR...


JDORR....


tak ada sahutan.


Kini Revan mencoba membuka handel pintu kamar mandi mewah nya tersebut.


JEG GLEK.....


" tak di kunci " ucap nya.


perlahan sekertaris Revan masuk dan langsung saja kedua matanya di buat terbelalak kaget,


akan keadaan Adinda gadis yang sangat ia cintai itu kini sudah tergeletak tak berdaya di lantai marmer kamar mandi mewah nya tersebut dengan kedua tangan dan pakaian nya sudah berlumuran darah yang perlahan mulai mengering.


" Dinda " teriak pria tampan itu.


Dengan cepat sekertaris Revan langsung mendekat dan menggendong tubuh Adinda ke dalam dekapan nya kemudian langsung membawa ke arah ranjang.


Sesampainya di ranjang sekertaris Revan perlahan menaruh tubuh Adinda dan setelah itu melepas semua pakaian milik Adinda termasuk dalamnya nya yang sudah berlumuran darah tak karuan akibat mimisan nya tersebut.

__ADS_1


Dengan telaten pria tampan itu kini mulai mengambil lap serta air hangat dengan wadah ember.


Kemudian mulai mengelap tubuh Adinda dengan air hangat tersebut, membersihkan seluruh tubuh Adinda hingga bagian yang di jangkau, sungguh pria idaman bukan kalau seperti ini.


Pria yang dulu berwatak dingin seperti sang atasannya tersebut, kini telah menjadi pria hangat karena seorang wanita yang begitu berarti dalam hidup nya, dan wanita itu Adinda.


Sesaat setelah membersihkan tubuh Adinda, tak lupa sekertaris Revan membawa pakaian kotor milik sang istri untuk ia taruh di tempat nya, kemudian dengan segera mengambil baju ganti untuk Adinda.


Dan satu lagi Revan tak lupa mengambil minyak kayu putih, untuk ia usap kan di tubuh Adinda agar segera sadar.


Sesaat ia kembali dengan membawa baju ganti untuk sang istri.


Sekertaris Revan mulai memakaikan nya di tubuh Adinda meskipun sedikit kesulitan ia tetap saja dengan sabarnya memakaikan pakaian di tubuh sang istri yang tak kunjung sadar tersebut.


Sesaat setelah selesai memakaikan pakaian dan mengoleskan minyak tersebut di seluruh bagian tubuh Adinda, Revan berniat kembali menggendong tubuh Adinda yang belum sadar itu untuk menuju sofa single mewah di depan TV yang tepat nya masih berada di dalam kamar mewah nya yang berukuran luas tersebut.


Kini posisi Adinda tengah berada di pangkuan Revan, Revan tau kalau sang istri sebentar lagi akan sadar karena dirinya sudah mengoleskan minyak tersebut di bagian bawah hidung milik Dinda.


Pandangan Revan kini tertuju pada gadis yang tengah berada di pangkuan nya itu, Revan menatap lekat wajah Adinda yang masih terlihat pucat tersebut.


" Sayang maaf kan aku, andai kau tak mengunci pintu nya kau tak akan sendirian di dalam kamar mandi tadi " ucap Revan sambil mempererat dekapannya pada tubuh sang istri dan mulai menciumi ujung kepala Adinda sangat dalam dengan kedua mata terpejam.


" maafkan aku, semua salahku Din.. sekarang bangunlah kau belum makan sama sekali " ucap nya lagi.


*


*


Lima belas menit kemudian.


Adinda baru tersadar dari pingsan nya, perlahan mata bulatnya mulai terbuka pelan.


" Adinda kau sudah sadar sayang " ucap Revan.


Dinda tetap diam karena kesadarannya tak sepenuhnya kembali.


" Dinda " Ucap Revan lagi sambil menatap gadis yang berada dia atas pangkuan nya itu.


Kini kedua mata bulat milik Adinda menatap wajah sekertaris Revan.


Ya keduanya kini saling pandang tak beberapa lama perlahan wajah sekertaris Revan mulai mendekat ke arah wajah Dinda ketika pandangan keduanya seperti sudah menyatu dan tiba tiba ketika adegan ciuman akan di mulai....


" Kak aku lapar " ucap Dinda dengan wajah polos nya yang sesekali mengedipkan kedua mata bulat nya.

__ADS_1


Padahal pria di hadapan nya saat ini itu, sedari tadi sudah seperti terhipnotis oleh wajah ayu nya.


__ADS_2