Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
episode 44


__ADS_3

kini tak terasa sudah satu minggu lebih Bima meninggalkan istrinya, dan sekarang Bima masih berada di luar negeri, entah kapan dia pulang yang pasti sebentar lagi karena dia juga di sana sangat merindukan istri kesayangannya itu.


Dan saat ini Zahra tengah berada di depan televisi di dalam kamarnya bersama kucing kesayangannya, hadiah dari Bima suami posesifnya itu.


Hari sudah larut malam jam dinding di kamarnya pun sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


tetapi Zahra belum juga tertidur, karena memikirkan suaminya yang tak pulang - pulang sedangkan nomor ponselnya tak bisa di hubungi nya sampai saat ini.


seperti nya aku sangat merindukan dia saat ini, meskipun terkadang menyebalkan sih, sudah satu minggu lebih dia di sana, kenapa dia belum pulang ya pus.


ucap Zahra kepada kucing kesayangannya itu yang ia jadikan sebagai teman curhatnya saat ini, sambil mengelus kucing kecil berwarna putih bersih itu yang sekarang berada di sofa depan televisi bersamanya.


Zahra mencoba menghubungi ponsel Bima yang sejak dua hari yang lalu tak bisa di hubungi nya, dan sekarang Zahra mencoba menghubunginya kembali tetapi hasilnya tetap nihil.


Kemudian Zahra mengirim sebuah pesan kepada Bima karena ingin tahunya keadaan suaminya sekarang.


* kau kemana tuan muda dinginku, kau tau aku merindukan mu disini, meskipun kau sering menyebalkan aku tetap merindukanmu, kapan kau pulang hah kau jahat sekali padaku *


begitulah kira - kira isi pesan Zahra kepada suaminya.


kemudian Zahra pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya dengan air untuk menghilangkan rasa kantuknya yang mulai menyerang.


Setelah itu Zahra melangkahkan kakinya ke arah ranjang king size itu, kemudian Zahra duduk di samping ranjang sambil membuka lemari kecil di dekatnya untuk mengambil sesuatu dari sana, Zahra mengambil sebuah kantong plastik berwarna hitam dari dalam sana yang berisi sebuah obat yang pernah ia belinya di apotik sewaktu keluar mansion bersama mama Alisya.


dan obat itupun sekarang berada di kedua tangannya, sejenak Zahra memandanginya.


aku sudah berniat dari hatiku, aku akan mengonsumsi obat ini, tetapi suatu saat aku akan menjelaskan kepadamu maafkan aku melakukan ini tanpa sepengetahuan mu.


Zahra terus bermonolog sendiri sambil memandangi obat kontrasepsi yang ia pegang saat ini, kemudian Zahra mulai mengambil satu butir kapsul kemudian meminum nya bersama air putih yang sedari tadi ada di atas nakas dekat ranjangnya itu.


setelah meminumnya Zahra mengembalikkan bungkusan kantong plastik hitam itu kedalam lemari kecil di tempatnya semula.


dan Zahra pun mulai merebahkan tubuhnya di ranjang besarnya itu.


dan beberapa saat kemudian Zahra pun tertidur dengan lelapnya, karena sedari tadi Zahra sudah tidak kuat lagi menahan kantuknya,


dan kini jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Zahra pun sekarang sudah berada di alam mimpinya entah dia bermimpi apa malam ini.


sedangkan di lantai bawah pak Tejo sedang memeriksa seluruh keadaan mansion karena waktu sudah begitu larut malam, dan pak Tejo melangkah kan kakinya ke arah pintu mansion dan akan menutupnya.


dan pak Tejo dikagetkan dengan kedatangan mobil mewah yang sekarang tengah berhenti di pekarangan mansion.


kemudian pak Tejo pun berlari untuk segera mendekat ke arah mobil mewah itu yang tak lain mobil milik tuan mudanya yang baru sampai dari luar negri.


cek lek


suara pintu mobil yang di buka oleh sekertaris Revan.

__ADS_1


" silahkan tuan muda " ucap sekertaris Revan


" selamat datang tuan muda " sambut pak Tejo kepda tuan mudanya.


" hem " jawab singkat Bima.


" sebaiknya kau langsung pulang sekertaris Revan, kau pasti sudah lelah "


" baik tuan muda "


kemudian sekertaris Revan langsung memasuki mobil dan menancapkan pedal gasnya dan mobil pun berjalan ke arah luar mansion.


sedangkan Bima langsung melangkahkan kakinya memasuki mansion, sedangkan tasnya langsung di bawakan oleh pak Tejo.


" maaf tuan kenapa anda pulang mendadak sekali, biasanya anda mengabari supaya saya bisa mengasih tahu nona muda "


" aku memang sengaja Pak Tejo, karena aku ingin memberi kejutan kepada istri ku "


ucap Bima tersenyum kepada pak Tejo dan sambil mengaktifkan ponselnya yang ia matikan sejak kemarin, karena ingin membuat Zahra khawatir padanya.


kemudian ponsel Bima menyala dan menampilkan beberapa panggilan masuk ke dalam ponselnya beserta satu pesan dari * istri tercinta *.


tiga puluh panggilan tak masuk, dan satu pesan yang belum di buka, begitulah kira - kira yang berada di ponsel Bima saat ini.


setelah itu Bima tersenyum dengan hati yang sangat sangat bahagia, kemudian membuka isi pesan dari Zahra .


* kau kemana tuan muda dinginku, kau tau aku merindukan mu disini, meskipun kau sering menyebalkan aku tetap merindukanmu, kapan kau pulang hah kau jahat sekali padaku *


saat ini Bima sudah menaiki anak tangga menuju kamarnya.


" Pak Tejo sebaiknya kau tidurlah aku akan membawa tas ku sendiri ke kamar, kau pasti lelah "


ucapnya sambil tersenyum kemudian mengambil tasnya dari tangan pak Tejo kemudian menepuk pelan lengan pak Tejo.


" baiklah tuan muda kalau begitu " kemudian pak Tejo membalikkan badannya menuju pintu depan mansion untuk menutup serta mengunci nya karena memang saat ini sudah larut malam.


sedangkan Bima sudah tidak tahan lagi ingin segar sampai di kamarnya, karena memang saat ini dia sangat merindukan istri kesayangannya itu.


setelah Bima menaiki anak tangga itu, kini ia telah sampai di lantai atas kemudian membuka perlahan pintu kamarnya.


dan di sana menampilkan Zahra yang tengah tertidur pulas.


sayang aku sekarang sudah pulang hanya untukmu,


ucapnya setelah mencopot sepatu dan jasnya kemudian melangkahkan kakinya ke arah ranjang king size itu pelan sambil tersenyum,


setelah itu Bima mengelus pipi Zahra yang tertidur dan mencium sekilas bibir dan keningnya.

__ADS_1


Zahra menggeliat pelan, karena di rasa seperti ada yang menyentuhnya kemudian Zahra membuka sedikit kedua matanya.


" sayang ini kau "


" iya sayang ini aku "


" sayang aku tidak ber mimpikan "


" tidak sayang, ini benar suamimu, apa kau tidak merindukanku hah "


ucapnya lembut sambil merentangkan kedua tangannya supaya Zahra memeluknya.


" sayang kenapa kau jahat sekali padaku, kau tidak pernah mengabari ku keadaanmu di sana, kau tau meskipun kau sering sekali menyebalkan, aku tetap merindukanmu di sini "


jawab Zahra sambil menangis sesenggukan sambil memukuli dada bidang bima.


kemudian Bima menarik tubuh Zahra ke dalam pelukannya, dan memeluk tubuh Zahra dengan sangat erat ketika ia mendengar perkataan istrinya itu.


setelah itu Bima mencium i pucuk kepala istrinya, kemudian melepaskan pelukannya dan memegang kedua pipi Zahra dengan lembut nya serta menatap kedua bola mata Zahra secara intens.


" aku juga sangat merindukanmu sayang, kau tau aku di sana mempercepat pekerjaan ku, supaya aku cepat pulang dan bertemu denganmu lagi "


" tapi kenapa kau tak menghubungiku sama sekali "


" aku sengaja ingin membuatmu khawatir sayang "


" kenapa kau jahat sekali padaku "


kemudian Zahra kembali menangis lagi mendengar perkataan suaminya itu.


" karena aku ingin membuat kejutan untukmu dengan aku pulang larut malam seperti ini "


kemudian Zahra pun memeluk erat tubuh Bima.


Bima yang melihat istrinya seperti manja itu, kemudian memeluk tubuh istrinya balik.


" aku mencintaimu Zahra "


" aku juga mencintaimu suamiku " jawab Zahra sambil melepaskan pelukannya kepada Bima


kemudian Zahra mulai menghapus sisa air matanya yang membasahi pipi putihnya itu dangan matanya yang kini sudah sembab.


Bima yang sangat merindukan istrinya itu, kini melihat Zahra sangat gemas, kemudian Bima menarik tengkuk Zahra tanpa aba - aba kemudian Bima mulai mencium bibir Zahra dengan lembut dan keduanya pun mulai menikmatinya.


Ciuman mereka pun berdurasi sangat lama, kemudian Bima beralih ke leher jenjang Zahra dan memberi tanda kepemilikan di sana, keduanya sangat menikmati, setelah itu Bima mulai memasukkan tangannya kedalam piyama Zahra yang sedikit terangkat di bagian perutnya.


Bima pun mulai meremas kedua gunung kembar milik Zahra yang berukuran sedang itu, keduanya terbawa suasana dan juga rasa rindunya kini menjadi satu, sejenak Zahra melupakan rasa ketakutannya dan tergantikan dengan rasa nikmat yang begitu mempengaruhi dirinya saat ini.

__ADS_1


Dan Bima juga memberi tanda kepemilikan di sana entah itu sudah berapa tanda karena sudah tak terhitung.


__ADS_2