Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
pengantin baru


__ADS_3

tap...


tap....


tap....


Langkah sekertaris tampan itu semakin mendekat ke arah Adinda.


Dan perlahan sekertaris Revan mulai memasang kan selimut putih tebal tersebut di bahu Adinda kemudian menggulung kan pelan menutupi seluruh tubuh sang istri,


dan perlahan juga tangan berotot nya mulai memeluk tubuh Adinda yang sudah berbalut selimut tebal itu dari belakang sambil dagunya yang ia taruh di pundak sang istri.


" kak " ucap Adinda dengan pandangan nya yang masih menatap ke arah pintu yang berada di hadapan nya tersebut.


" iya " jawab Revan.


" aa... aku... aku " ucap Adinda terbata bata, dengan dada nya yang terasa dag dig dug saat ini.


" aku apa hem " goda Revan.


" aku... aku... emmm... " ucap Adinda lagi seolah olah bibir nya tercekat untuk mengucapkan sebuah kata kata saja.


" sudah tidak usah di lanjutkan, aku sudah tau maksud mu Dinda " sahut Revan lembut.


" tau apa " tanya Adinda dengan kening yang mengerut.


" aku tau kalau kau merasa malu saat ini pada suami mu sendiri iya kan " jelas Revan.


Dinda mengangguk pelan.


karena memang itulah kenyataan nya.


Sedangkan Revan tersenyum.


Kemudian melepaskan perlahan pelukan nya dari tubuh Adinda dan membalikkan tubuh berbalut selimut tebal itu untuk menghadapnya.


Adinda sedikit menunduk, karena masih sedikit malu.


Sekertaris Revan kembali tersenyum.


Dan setelah itu perlahan tangan nya mulai mengangkat dagu Adinda ke atas supaya menatap nya.


Sesaat pandangan keduanya bertemu.


Sekertaris tampan itu lagi dan lagi mengembangkan senyum nya pada sang istri, begitu juga Dinda yang kini membalas senyuman lembut suami barunya itu.

__ADS_1


Perlahan sekertaris Revan mulai menarik pinggang Adinda ke dalam pelukan nya dengan sangat erat sehingga keduanya tak ada jarak sedikitpun, kini tubuh Adinda yang berbalut selimut tersebut menempel pada dada bidang yang masih telanjang milik Revan.


Sesaat dada nya kembali dag dig dug dengan perlakuan sang suami.


Sedangkan tangan Revan satunya lagi memegang tengkuk leher sang istri dengan gerakan cepat sekertaris tampan itu langsung menyambar bibir tipis milik Adinda.


Ya kedua nya saat ini tengah berciuman, ciuman yang begitu lembut, keduanya terlihat sangat menikmati dengan bibir yang saling bertautan ******* demi ******* di antara bibir keduan nya siang hari itu.


sesaat ciuman terhenti.


Dengan tiba tiba Revan menggendong tubuh Adinda menuju ke arah ranjang.


Sedangkan Adinda langsung mengalungkan tangan nya di leher Revan.


sekertaris Revan tersenyum, ketika tak ada penolakan apapun dari Dinda.


Keduanya masih di selimuti aura aura romantis, dengan mata keduanya yang saling pandang sedari tadi.


Adinda masih terdiam tak bergeming membiarkan sang suami menggendong nya,


kedua bola matanya masih tetap bertatapan dengan kedua bola mata milik sekertaris Revan.


Sesaat


Pandangan keduanya seperti tak lepas, dan akhirnya pria berhidung mancung itu kembali mencium lembut bibir sang istri.


Tak terasa ciuman itu seperti berubah menjadi gairah saat selimut tebal di tubuh Adinda sedikit terbuka menampilkan dua bukit gunung kembar yang terlihat melambai lambai kepada nya saat ini.


ciuman itu kini seperti meminta hal lebih tak sekedar ciuman biasa, sekertaris Revan semakin memperdalam ciuman tersebut sedangkan tangan nya kini mulai menjelajah.


Sejenak Adinda menghentikan ciuman nya.


" Kak aku.. aku... emmm... ak... ak... aku takut " ucap Dinda dengan terbata bata.


" apa yang kau takutkan sayang " jawab Revan lembut sambil posisinya berada di samping Adinda.


" apa harus me.. me.. melakukan itu sekarang " tanya Adinda.


" iya kita kan sudah Sah suami istri " jelas Revan.


" tapi... tapi.. aku takut " ucap Adinda sambil sedikit meringis.


" aku akan melakukan nya dengan lembut, aku ingin memilikimu seutuh nya Dinda " ucap sekertaris Revan sambil menatap kedua mata bulat milik Adinda saat ini.


Dinda bahagia mendengar nya , seutas senyuman kembali mengembang di bibir tipis nya.

__ADS_1


" Lakukanlah " ucap Adinda lembut yang juga menatap kedua mata sang suami.


Kedua sudut bibir milik sekertaris Revan langsung terangkat ke atas menampilkan senyuman bahagianya.


Dengan segera Sekertaris tampan itu kembali menyergap bibir tipis milik Adinda.


Ya bibir itu kembali bertautan satu sama lain, ***** ******* dengan lembut,


Sedangkan tangan Revan mulai menarik selimut yang menutupi tubuh Adinda melemparnya ke sembarang arah.


Dan kini menampilkan tubuh indah berbalut lingerie merah tipis seperti saringan tahu di tubuh indah itu,


memperlihatkan jelas bentuk tubuh Adinda yang putih mulus seperti susu, dua bukit gunung kembar yang terlihat melambai lambai seperti ingin keluar dari wadah nya, sedangkan di bawah sana terlihat seperti gundukan mungil yang begitu menggoda meskipun masih berbalut kain tembus pandang tersebut.


Sekertaris tampan itu seperti tak kuasa melihat tubuh indah milik Adinda,


membuat sesuatu miliknya tegang di bawah sana saat ini.


Dengan segera sekertaris Revan mulai melepas lingerie merah yang menempel di tubuh sang istri dan lagi lagi setelah melepasnya sekertaris tampan itu kembali membuangnya ke sembarang arah.


Kini tubuh indah itu sudah polos tanpa sehelai benang pun,


Sedangkan sekertaris Revan kini juga langsung membuang handuk putih yang sedari tadi melilit di pinggang nya.


Ya keduanya kini telah sama sama polos, berbeda dengan Adinda yang sesekali menutup kedua matanya karena urat malu nya seperti ingin segera putus, menahan malu yang teramat dalam melihat tubuh nya sendiri yang sudah polos, dan juga kini melihat tubuh atletis sang suami yang juga polos sama seperti dirinya.


Kini keduanya pun mulai melakukan hal yang selayak nya di lakukan oleh sepasang suami istri itu,dengan penuh rasa sayang yang saling menyatu satu sama lain.


Sedangkan tangan Adinda sudah meremas sprei putih ranjang, dengan dirinya sedikit meringis kesakitan, akan sesuatu benda keras yang ingin menerobos bagian intinya.


sesekali Dinda menggigit bibir bagian bawah nya, merasa tak kuat akan suatu hal yang di lakukan sang suami pada tubuh nya saat ini,


tak terasa buliran bening kini mulai keluar dari ujung kedua mata Adinda karena di rasa nya sangat sakit,


dan sesaat rasa sakit itu kini berubah menjadi sebuah kenikmatan tiada tara.


Dua jam keduanya baru selesai dengan adegan percintaan nya.


Fara kini sudah terlelap di bawah selimut tebal putihnya, mungkin karena merasa sangat kelelahan.


Sedangkan sekertaris Revan sedikit menoleh ke arah Adinda yang tengah terlelap saat ini.


Terimakasih Din, aku mencintaimu ucap nya kemudian mengecup lembut kening Adinda.


Dan setelah itu sekertaris Revan tak lupa menghubungi seseorang alias bawahan nya untuk segera mengirimkan beberapa barang yang ia butuhkan bersama sang istri.

__ADS_1


__ADS_2