
beberapa saat kemudian
sekertaris Revan datang bersama dokter Toni dan mereka berdua mulai memasuki mansion dan melangkahkan kakinya menuju kamar atasannya itu,
dan sesampainya di lantai atas kedua laki-laki itu berjalan ke arah kamar pasangan suami istri itu. Dan sekertaris Revan mulai membuka handel pintu tersebut.
Setelah itu mata sekertaris Revan menangkap gerak gerik tuan mudanya itu yang saat ini sedang mondar mandir tak tidak jelas, dengan keadaanya yang tak karuan, dan kedua matanya yang sembab.
" cepat masuk kenapa kalian masih di sana hah, kalian ingin aku pecat hah " ucapnya dengan nada menakutkan bagi kedua laki-laki itu yang berada di depan pintu kamar.
" baik tuan " jawab keduanya yang merasa ketakutan itu.
" cepat periksa istriku, jangan bertele-tele " ucap Bima tak sabaran.
" ya bim, sabarlah "
" sabar, sabar bagaimana " Bima mulai emosi
kemudian dokter Toni mulai mengeluarkan alat medisnya itu dan mulai memeriksa istri tuan mudanya itu.
" jalan terlalu lama kau menyentuh tubuh Zahra" ucapnya kepada sahabat nya itu.
" diam lah sebentar, lihatlah keadaan istri mu yang pucat pasi itu "
" tuan bersabarlah "
Bima tak berniat membalas perkataan sekertaris nya itu sama sekali.
sedangkan dokter Toni baru saja telah selesai memeriksa Zahra.
dan akan memasukkan alat medisnya lagi kedalam tasnya.
" bagaimana keadaannya Ton, cepat katakan jangan diam saja " amuk Bima
" iya, iya aku akan menjelaskannya "
" cepat katakan " ucap Bima yang memang tak sabaran ingin mengetahui keadaan istrinya itu.
" apakah kau tetap suka menggodanya Bim sehingga membuatnya lelah dan dia kepikiran, dan juga apakah kau juga sering sampai membuatnya ketakutan berlebihan " tanya dokter Toni.
__ADS_1
" ya Ton, aku tetap sering menggodanya karena dia terlalu menggemaskan untukku, kau lihat saja di saat dia memejamkan matanya seperti ini saja sudah menggemaskan, apalagi waktu dia membuka matanya, bagaimana aku tidak ingin menggodanya " jelas Bima
sedangkan sekertaris Revan sedari tadi juga ikut memandang wajah istri bosnya itu karena ucapan Bima yang membuat dirinya mengikuti arah pandang atasannya saat ini.
Dan untung saja tidak ketahuan tuan mudanya itu, kemudian sekertaris Revan langsung menundukkan kepalanya kembali.
" hey kau jangan terlalu lama melihatnya seperti itu " ucapnya kepada dokter Toni yang sedikit merasa cemburu itu.
dan sekarang sekertaris Revan mentertawakan dokter Toni dalam hatinya yang ketahuan memandang istrinya lebih lima menit itu.
hahaha... kena kau Ton, tawa sekertaris Revan dalam hatinya.
" ah..iya maaf " jawab dokter Toni yang gelagapan.
" dasar.. ." pekik Bima.
kemudian Bima melanjutkan kembali melanjutkan perkataan nya,
" aku juga membuatnya ketakutan tadi Ton, aku tau pasti ini semua salahku " ucapnya penuh sesal.
" kenapa kau tetap saja sih, hah, sebenarnya kau mencintainya atau bagaimana " tanya dokter Toni yang mulai emosi sendiri kepada temannya itu.
" kenapa kau masih tanya hah, kau tau sendiri aku sangat mencintainya Ton, tadi aku memang memarahinya sampai dia menyembunyikan tangisannya dariku dan tak ingin ia tunjukkan padaku Ton karena dia tidak mau aku yang memandikannya sore tadi.
jelas Bima kepada Toni tetapi sekertaris revan jika ikut mendengarnya.
" astaga Bima kenapa kau sejahat itu padanya " dokter Toni merasa kaget dengan perlakuan temannya itu, yang menurutnya memang sangat berlebihan dan menyebalkan.
" aku hanya ingin dia menurut padaku itu saja, dan aku sebenarnya hanya ingin bercanda saja dengan nya Ton " ucap Bima seperti menjelaskan kepada dokter toni.
" kau benar benar ya, itu bukan bercanda, bercanda mu itu terlalu kelewatan Bim apa kau tau itu, kau sangat membahayakan nyawanya "
dokter Toni merasa kesal pada teman satunya itu.
" iya Ton aku tau, dan aku tidak akan mengulanginya lagi, aku akan meminta maaf padanya setelah dia sadar "
" bagus lah kalau begitu, ingat istrimu mempunyai jantung lemah apa kau masih ingat" dokter Toni kembali mengingatkan tanya itu.
" iya aku masih mengingatnya Ton " jawab Bima sambil mengusap rambutnya kasar
__ADS_1
" bagus, aku tau istrimu sangat cantik, dan juga aku tau kau sangat mencintainya, dan bahkan kau sangat bucin padanya, aku saja sampai terpesona pertama kali melihatnya, ups.. maaf keceplosan"
ucap dokter Toni tanpa di filter membuat Bima merasa sedikit kesal.
" apa kau bilang, coba ulangi lagi " tanya Bima seperti menakutkan.
" ah tidak, tidak, tidak.. maksudku mungkin bukan aku saja yang terpesona oleh kecantikan istrimu, tetapi sekertaris Revan dan juga adikmu mungkin juga sama seperti ku karena kami lelaki normal, maka dari itu jangan kau sia siakan nona Zahra, karena masih banyak lelaki yang mengantri di belakangmu yang ingin menjadi suaminya " dokter Toni menjelaskan secara terperinci, karena merasa takut atasannya itu sampai marah-marah
" termasuk dirimu maksudnya " ucap Bima berniat memojokkan dokter Toni.
sekertaris Revan sejenak sedikit tertawa, karena tidak tahan menahan tawanya, karena ingin sekali mentertawakan dokter Toni saat ini yang ada di hadapannya itu.
" kau juga Van, apa yang kau tertawa kan hah " tanya Bima dengan nada ketusnya.
" tidak ada tuan "
" diam kalian semua kalau masih ingin gaji kalian utuh " ancam Bima kepada keduanya.
dan keduanya terdiam.
" ekhemm.....baiklah, aku tidak memberikan obat untuk sementara karena takutnya bercampur dengan obat yang di konsumsi istrimu dari rumah sakit tadi siang " ucap dokter Toni yang merasa ruang kamar itu mulai di selimuti hawa panas.
" ya baik lah " ucap Bima yang terlihat sudah lega.
sedangkan sekertaris Revan sedari tadi hanya diam saja mendengarkan perkataan dua sahabat itu. Tetapi di hatinya paling dalam sekertaris Revan sebenarnya juga ingin sekali memarahi tuan mudanya itu, karena terlalu bucin berlebihan kepada nona mudanya.
" sekarang pergilah " ucap Bima setelah dokter Toni selesai memeriksa istrinya itu.
" kalau begini saja kau mengusir ku " jawab dokter Toni.
" apa masih ingin gaji mu tetap utuh hah " ancam Bima
" ah.. iya iya masih, masih, masih " jawab dokter Toni merasa ketakutan.
" Van antara dia " ucap Bima lagi kepada sekertaris Revan.
" baik tuan " jawab singkat sekertaris Revan kemudian melangkahkan kakinya mengikuti dokter toni dari belakang.
" ya sudah aku pamit " ucap dokter Toni lagi
__ADS_1
" hem " sahut Bima singkat.
sedangkan dokter Toni geleng geleng kepala sambil melangkahkan kakinya menuju arah luar kamar Bima itu, dan di temani oleh sekertaris Revan di belakang.