Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
pergi ke mall


__ADS_3

Kini dua bulan lamanya Sekertaris Revan dan Adinda menjalin hubungan suami istri, rumah tangga nya sering di penuhi drama.


Keduanya hidup dengan harmonis meskipun sesekali di warnai pertengkaran kecil di antara sepasang suami istri itu.


Keseharian Adinda menjadi istri seorang yang berpengaruh di perusahaan raksasa Sinaga. group.


Dirinya sering di landa kebosanan tat kala rumah yang ia tempati sangatlah besar sedangkan dirinya hanya sendirian jika sang suami tengah berangkat ke kantor.


Sesekali Adinda sering bepergian ke mansion besar milik sang atasan untuk sekedar berbincang bincang dengan istri dari atasannya tersebut yaitu Zahra.


Keduanya wanita itu kini telah menjadi sahabat dekat, sejak Adinda sudah tak lagi bekerja di perusahaan Sinaga. group.


Seperti siang ini Adinda tengah berada di Mansion bagaikan istana dongeng milik sang atasan yang tak lain adalah Bima.


Gadis bermata bulat itu tengah serius mengobrol dengan sang istri atasan di halaman belakang mansion.


" Baby Sheina nyam....nyam...nyam kau lucu sekali sayang, kau sangat cantik " ucap Adinda menatap wajah cantik bayi perempuan yang berada di gendongan nya itu saat ini.


" nona putri mu sangat cantik, benarkan nanti kau akan menjodohkan anak kita jika anak ku kelak laki laki " ucap Adinda penuh harap pada Zahra.


" hehehe.... "


tawa kecil Zahra saat mendengar ucapan wanita yang lebih tua dari nya itu.


" iya Din kita kan sekarang sahabat dekat, jadi begitu mudah kan menjodohkan anak kita berdua nanti " jelasnya dengan senyuman


" iya nona benar "


" Din kau jangan memanggilku nona, panggil aku Zahra karena umur kita berbeda beberapa tahun, dan aku akan memanggil mu kakak karena umurku masih sembilan belas tahun " pinta Zahra.


" tak apa nona kau kan istri atasan ku, tak masalah bagiku, asal nanti kau benar benar menjodohkan anak kita hehehe.... ''


" astaga Dinda sepertinya kau ingin sekali berbesan dengan ku " ucap Zahra.


" iya nona karena saya yakin, putri nona ini akan tumbuh menjadi gadis berparas cantik nan baik nantinya " ucap Adinda dengan sangat yakin.


" kau yakin sekali, bagaimana kalau sifatnya turunan dari suamiku yang sangat dingin itu heh.... "


" hahaha... nona kau mengatai suami mu sendiri ya bukan aku yang memulai nya " jawab Adinda dengan tawa nya yang terdengar renyah.


Sambil dirinya mengayun ayunkan bayi milik Zahra di gendongan.


" dia tidak akan marah Din meskipun aku bilang seperti itu, karena dia telah berubah menjadi pria hangat "


" ah.... nona so sweet... " ucap Adinda seperti ikut bahagia mendengar nya.


" kalau suami mu bagaimana pasti dia sama dingin nya dengan suamiku jika di luar "

__ADS_1


" hahaha... iya kau benar mereka memang sebelas dua belas belas ya ''


" Dinda jangan kencang kencang, nanti terdengar mertuaku "


" maaf nona "


" Dinda kau mau mengantarku mencari baju bayi untuk Sheina "


" benarkah....tentu saja mau nona dengan senang hati "


" baiklah, sebentar aku akan meminta izin suamiku dulu " ucap Zahra kemudian menggapai ponsel nya yang berada di atas meja yang terbuat dari kayu ukiran tersebut.


Kini Zahra mulai mengirim sebuah pesan kepada sang suami posesif nya itu.


" nona apa kau bilang pada tuan berangkat bersama ku ke mall "


" iya... tenang suamiku akan bilang pada suamimu Din "


" ya baiklah jadi aku tidak usah izin padanya "


" apa suamimu juga posesif seperti Bima suamiku " tanya Zahra.


" benar sekali nona "


" berarti kita berdua memang di takdir kan sama Din memiliki suami yang menyayangi kita dengan cara nya sendiri "


" ya sudah ayo kita berangkat Din, suamiku telah mengizinkan "


" baiklah ayo, Sheina gendong aunty ya, emm.... gemas nya cayang.....cayang.... nyum... nyumm" ucap Adinda sambil menggoda bayi kecil yang sedari tadi berada gendongan nya itu.


Sedangkan Zahra geleng-geleng kepala sambil tersenyum, menatap sahabat dekat yang sepertinya sangat menyayangi putri kecil nya.


*


*


*


Di mall.


Saat ini kedua wanita yang tak lain Zahra dan Adinda baru saja sampai di area mall terbesar,


keduanya di antar oleh sopir pribadi keluarga Sinaga, Zahra dan Adinda mulai menyusuri dalam mall sedangkan baby Sheina ia titipkan kepada sang mertua yaitu nyonya Alisya.


Keduanya di ikuti oleh beberapa pengawal berbaju serba hitam yang jarak nya sedikit jauh dari ke dua wanita tersebut,


Karena Zahra tak ingin terlihat mencolok di depan semua orang.

__ADS_1


seperti biasa semua itu adalah kelakuan Bima sang suami posesif nya.


Di sisi lain para pegawai mall kini satu persatu mulai menunduk hormat kepada Zahra.


Zahra pun tersenyum membalas nya.


Sedangkan Adinda jadi merasa di atas awan sendiri melihat menampakan yang seperti tak biasa itu.


" nona nona " panggil Dinda di sela sela langkah nya.


" iya Din " jawab Zahra.


" mall terbesar ini milik tuan Bima ya non " tanya gadis bermata bulat.


" iya kau benar " jawab Zahra santai sambil menoleh ke arah gadis dua puluh tiga tahun di samping nya itu.


" hehehe.... pantas saja mereka sedikit memberi hormat di tengah keberadaan mereka" ucap Dinda


" ya begitulah Din, kau lihat empat pria berbaju serba hitam di ujung sana " tunjuk Zahra kepada empat pria bertubuh gempal di pojokan mall.


" ah iya nona kenapa " tanya Adinda setelah mengikuti arah pandang Zahra.


" mereka di tugaskan mengawal ku Din " jelas nya santai.


" nona tuan so sweet sekali, tuan Bima sangat menyayangi anda ya " sahut Dinda sambil mengembangkan senyum dengan kedua tangan ia kepal kan menjadi satu di depan dada.


" hehehe... ya kau benar kau tau dulu dia menyukai ku pada pandangan pertama "


" astaga nona kau gadis yang sangat beruntung sekali "


" ah kau bisa saja, bukan kah kau juga wanita beruntung bisa di sukai sekertaris Revan pria yang memiliki sebelas dua belas belas sifat nya dengan suamiku "


" hehehe.... iya nona saya juga merasa beruntung, di luar dia bersikap dingin dan di dalam dia sedikit.. "


" sedikit apa hangat maksudnya "


" bukan tetapi sedikit menyebalkan hehehe.... terkadang juga hangat sih hahaha.... dia juga menyukai saya saat pertemuan pertama kali kita sama seperti anda,tetapi berpura-pura seperti tak peduli dengan saya "


" benarkah "


" ya nona...tapi sekarang dia posesif sekali " ucap Dinda dengan bibir memanyun ke depan.


" hehehe... itu berarti dia sangat mencintaimu Din, percayalah padaku dulu aku juga mengira suamiku sangat menyebalkan dengan semua sifatnya tetapi perlahan aku memahami nya, dia mencintai ku dengan cara nya sendiri " jelas Zahra sambil tersenyum menatap sahabatnya.


Dinda tersenyum mendengar penjelasan Zahra.


Nona pemikiran mu sangatlah dewasa ketimbang diriku yang umur nya lebih dewasa darimu, kau sungguh-sungguh gadis yang sangat baik aku bangga bisa bersahabat dengan dirimu gumam Adinda.

__ADS_1


Keduanya pun kini melanjutkan langkah nya untuk mencari baju baju bayi yang ingin Zahra beli di sana.


__ADS_2