
" Zahra jaga batasan bicaramu kepadaku "
Zahra hanya diam karena masih merasa kesal sedari tadi kepada suaminya.
" jawab Zahra " ucap Bima sedikit mengeraskan nada suaranya.
" iya maaf sayang aku memang selalu salah padamu, dan kau selalu benar, meskipun kau yang selalu memulainya duluan padaku "
jawab Zahra setelah selesai memakai pakaian gantinya itu, dengan dirinya yang masih merasa kesal.
kemudian Zahra perlahan melangkahkan kakinya ke arah pintu kamar dan meninggalkan Bima sendirian.
" hey kau mau kemana hah "
Zahra tetap tidak memperdulikannya membuat Bima kebingungan lagi dan merasa emosi saat ini karena merasa di diamkan oleh Zahra.
" berhenti di tempatmu Zahra, atau kau.. "
ucap Bima tak melanjutkan perkataannya itu.
kemudian Zahra berhenti saat mendengar perkataan suaminya itu.
" kau mau kemana hah, jawab aku "
ucap Bima yang melangkahkan kakinya ke arah Zahra saat ini.
dan ucapnya lagi lagi membuat hati Zahra perih mendengar perkataan nya dengan nada tinggi, membuatnya sedikit ketakutan.
" kenapa kau diam, selalu saja seperti itu "
Zahra tetap saja diam, dan menahan air matanya yang ingin jatuh itu dengan tubuhnya yang terasa dingin menahan rasa takutnya kepada Bima .
" hey apa kau tak mendengar ku "
kemudian Zahra berbalik arah kembali ke ruang ganti, dan tak menghiraukan Bima yang berada di hadapannya itu.
Zahra sudah beberapa langkah meninggalkan Bima dari hadapannya itu dan Bima mulai lagi dengan perkataan nya yang semakin membuat Zahra sangat ketakutan.
" ZAHRA, jaga batasan mu sebagai seorang istri "
sedangkan Zahra tetap melanjutkan langkahnya memasuki ruang ganti, dan sudah beberapa kalinya Zahra tak menghiraukan suaminya itu, dia terus melangkah, dan sesampainya di ruang ganti Zahra langsung mengambil koper dan mulai mengambil sedikit pakaiannya sendiri yang ia bawa sejak ia datang ke mansion Bima itu.
Kemudian menutup koper itu perlahan dan Zahra mulai keluar dari kamar ganti itu sambil menyeret koper yang saat ini dia bawa dengan berjalan perlahan, karena lututnya belum sepenuhnya kering.
sedangkan Bima yang sedang duduk di sisi ranjang itu, kemudian mendongakkan kepalanya melihat ke arah Zahra yang baru saja keluar dari dalam ruang ganti tersebut dengan membawa koper.
" kau mau kemana hah "
" aku akan pulang ke rumah ibu "
" hey apa yang kau lakukan Zahra " ucapnya mulai lembut dengan memegang kedua pipi Zahra dan mulai merasa ketakutan istrinya meninggalkannya.
__ADS_1
" untuk apa aku di sini, disini bukan tempat ku "
" Zahra apa yang katakan, aku tidak akan membiarkanmu pergi "
" bukannya kau sudah tak menginginkan aku lagi "
" apa maksud mu Zahra, hey lihat aku sayang "
" untuk apalagi, semua ini, untuk apalagi aku tanya padamu, sepertinya aku tidak ditakdirkan untukmu "
" sayang apa maksud mu "
" apa katamu, apa maksud ku "
" justru aku yang bertanya seperti itu padamu, kenapa kau selalu memarahiku sesuka hatimu, kenapa kau selalu menyalahkan aku, dan kenapa kau yang selalu benar hah, jawab aku kenapa, padahal semua itu kelakuanmu sendiri, tetapi kenapa aku terus yang kau salahkan "
jelas Zahra yang mulai menangis histeris dan mengeluarkan semua unek unek dalam hatinya yang mulai ia keluarkan karena Zahra merasa tidak kuat untuk menyangganya sendiri.
Bima langsung memeluk istrinya erat, karena melihat Zahra yang semakin histeris itu.
" sayang maafkan aku yang selalu seperti ini tanpa mendengarkan mu "
ucap Bima melembut kemudian memegang kedua tangan Zahra.
" lepaskan tanganku "
" tidak, aku tidak akan melepaskan tanganmu, sebelum kau mendengarkan penjelasan ku "
" penjelasan apa lagi hah, aku lelah mendengar penjelasan mu, kau akan tetap mengulanginya "
" aku tidak ingin melihatmu, lepaskan aku "
kemudian Zahra dengan sekuat tenaga melepaskan tangannya dari genggaman Bima,
dan kini melanjutkan langkahnya untuk keluar dari kamar sambil menyeret koper miliknya.
berbeda dengan Bima setelah tangannya dihempaskan oleh Zahra itu, kini Bima kembali menariknya tetapi tangan nya tak menjangkau pergelangan tangan Zahra, sehingga Bima menarik koper milik istrinya itu.
sedangkan Zahra yang merasa di tarik kopernya itu kemudian langsung menghentikan langkahnya.
" apalagi yang kau inginkan, ini "
ucap Zahra sambil menunjuk koper, dan memang Zahra yang sudah sangat merasa kesal pada suaminya dan juga merasa kecewa pada lelaki di depannya saat ini.
Zahra mulai membuka koper miliknya. dan menunjukkan kepada Bima.
" lihatlah aku tidak membawa barang barang mahal milikmu aku hanya membawa baju baju butut ku saja, dan aku juga tidak membawa selembar pun uang milikmu "
ucapnya dengan berderai air mata yang sudah menganak sungai, dan Zahra bertambah histeris menagis sejadi-jadinya hingga matanya sangat sembab.
setelah itu Zahra hanya mengambil tiga helai baju miliknya yang butut itu dan meninggalkan koper yang sedari tadi ia seret dan meninggalkannya di atas ranjang king size.
__ADS_1
sedangkan Bima terdiam sejenak melihat apa yang di lakukan istrinya saat ini.
kemudian Zahra kembali melangkahkan kakinya yang sudah gemetaran tak karuan itu, karena tubuh Zahra saat ini sudah panas dingin karena terlalu lama bergerak dengan kondisinya yang baru saja sembuh.
" Zahra kau jangan pergi dariku " ucapnya mulai lemah kepada istrinya dengan kedua matanya yang mulai mengembun dan Bima berlari menghadang langkah istrinya itu.
" biarkan aku pergi "
" tidak, itu tidak akan terjadi, kau hanya milikku sayang, hanya milikku, kau dengar aku, aku tidak akan pernah bisa membiarkanmu pergi dari hidup ku Zahra "
ucap Bima dengan kedua bola matanya yang sudah basah sedari tadi demi gadis yang sangat ia cintai yang akan meninggalkan dirinya itu.
kemudian Bima memeluk erat tubuh Zahra sangat erat sampai tak ada jarak di antara keduanya, detak jantung keduanya pun kini terdengar sangat jelas di diri mereka masing masing.
" kau jahat padaku, kau jahat " ucap Zahra ketika berada di pelukan suaminya itu
" maafkan aku sayang, aku terlalu egois " ucap Bima dengan ketulusan hatinya itu.
" kau jahat " ucap Zahra lagi sambil memukul mukul dada bidang milik suaminya
" kau jahat hiks.. hiks... hiks " ucapnya lagi lagi semakin menjadi jadi tangisannya.
" maafkan aku " ucap Bima lagi sambil menciumi pucuk kepala Zahra berkali kali.
dan beberapa saat kemudian tangisan Zahra sudah tak terdengar lagi.
" sayang kenapa kau diam hem " ucap Bima lembut kepada Zahra.
sedangkan tangan Zahra sudah jatuh dari pelukannya itu.
" Zahra apa kau tertidur " ucap Bima yang merasakan tangan Zahra yang sudah jatuh dari pelukannya itu.
kemudian Bima perlahan melepaskan pelukannya itu dan melihat wajah istrinya sudah pucat pasi, tubuhnya lemas, dan kedua matanya telah terpejam dan tak sedikitpun merespon suaminya sama sekali.
Bima mencoba menepuk pelan pipi Zahra.
sayang bangun, hey....jangan menakuti ku seperti ini Zahra, ini tidak lucu.
sayang bangunlah, ucap nya lagi.
dan karena tak ada respon Bima mulai ketakutan dan mulai membopong tubuh istrinya ke atas ranjang king size itu
beberapa saat kemudian Bima langsung menghubungi sekertaris Revan
dan panggilan pun terhubung
" halo "
" halo tuan ''
" cepat bawa dokter Toni kesini sekarang, keadaan Zahra menghawatirkan "
__ADS_1
" baik tuan "
dan panggilan pun terputus.