Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
episode 96


__ADS_3

sesampainya di gedung pencakar langit milik Bima.


kini jam sudah menunjukkan pukul 01.00 wib


akhhh... kapan pulang kerja, kenapa sehari ini lama sekali rasanya, aku ingin sekali segera bertemu dengan Zahra monolog Bima sambil menghentikan kan pekerjaannya dari benda layar tipis di depannya saat ini.


apa sebaiknya aku menelfon Zahra saja monolognya lagi.


kemudian segera mengeluarkan ponsel pintar miliknya dari saku jas dan mulai mengotak atik nya di sana.


sesaat kemudian.


penggilan pun terhubung.


" halo sayang " ucap Bima kepada Zahra di seberang telepon sana.


" iya halo sayang " jawab Zahra dengan nada santai.


" apa kau sudah makan siang " tanya Bima.


" aku malas makan, aku hanya menginginkan rujak buah yang kau beli nanti sepulang kerja " jelas Zahra kepada sang suami.


" sayang, jangan seperti itu, nanti perutmu sakit Zahra, apa kau sudah meminum vitaminnya sayang "


" sudah,.. sayang cepatlah pulang aku menunggumu "


Bima tersenyum mendengarnya.


" iya sayang sebentar lagi aku akan pulang membawakan mu rujak buahnya " jawab Bima dengan senyuman mengembang setelah mendengar perkataan istrinya yang menyuruhnya pulang itu.


" sayang, badanku sepertinya tidak enak, aku matikan telfonnya tidak apa apa kan " ucap Zahra yang memang saat ini tubuhnya sedikit berbeda.


" sayang kenapa bisa, aku akan pulang sekarang ya, kita akan ke dokter " jawab Bima yang mulai


" jangan pulang sayang, hanya tidak enak badan sedikit saja, aku malas jika ke dokter "


" sayang aku khawatir padamu "


" hiks.. hiks.. hiks.. kenapa kau memaksa sih, aku tidak mau " jawab Zahra yang mulai menangis seperti anak kecil di seberang telepon.


kenapa dia menangis, Zahra ada apa dirimu kenapa kau sedikit aneh dan sensitif seperti ini gumam Bima.


" ah... maaf sayang iya, iya, aku tidak akan mengajakmu ke dokter " sahut Bima agar istrinya menghentikan tangisannya itu.


" kau janji ya, jangan lupa bawakan rujak buahnya ya sepulang kerja " ucap Zahra setelah dirinya berhenti menangis.


" iya sayang aku akan membawakannya untukmu, sekarang istirahat lah " ucap Bima yang kepikiran dengan keadaan Zahra istri kesayangannya itu.


" sayang sebelum kau istirahat minumlah susu hangat ya biar perutmu tidak kosong sayang "


" jangan memaksa ku lagi, aku tidak mau " jawab Zahra yang seperti anak kecil saat di paksa meminum obat oleh ibunya.

__ADS_1


" ah, iya maaf aku tidak akan memaksamu lagi sayang, yasudah istirahat lah " ucap Bima yang mulai menenangkan istrinya saat ini.


" iya suamiku, da...da...aku mencintaimu " ucap Zahra kemudian.


" aku juga mencintaimu sayang da...da..." jawab Bima dengan sedikit senyuman.


dan panggilan pun terputus.


sedangkan Bima yang saat ini telah mematikan telfon nya itu , kini dirinya terdiam memikirkan istrinya yang sedikit berbeda sedari pagi.


apa benar Zahra hamil, ah aku tidak tau dan semoga saja iya, kenapa bisa hal sepele saja dia menangis dan tingkah nya seperti anak kecil yang harus di turuti, lucu juga sebenarnya melihat nya merengek seperti anak kecil itu, membuatku tambah gemas mendengar nya apalagi melihatnya di depanku monolog Bima.


beberapa jam kemudian.


waktu menunjukkan pukul 05.00 wib.


semua para karyawan kini telah berhamburan untuk pulang menuju area parkir di perusahaan pencakar langit milik Bima tersebut, yang masing-masing akan menuju ke rumah mereka karena jam sudah menunjukkan waktu pulang para pekerjanya.


sedangkan di ruang lantai atas khusus Presdir pemilik gedung pencakar langit tersebut.


akhirnya... tunggu sayang sebentar lagi aku pulang, dan membawakan mu rujak buah untukmu monolognya bima sambil tersenyum.


sesaat kemudian datanglah sekertaris Revan.


" ayo tuan " ajak sekertaris Revan


" hem "


dan kedua laki laki tampan antara atasan dan bawahan itu kini mulai melangkahkan kakinya untuk menuju lantai bawah dan untuk segera meninggalkan area gedung pencakar langit milik Bima tersebut.


sesampainya di lantai bawah.


" Van nanti kita berhenti si salah satu penjual rujak buah pinggir jalan " ucap Bima di sela sela langkahnya.


" baik tuan " jawab sekertaris Revan.


dan saat ini sekertaris Revan telah siap membukakan pintu mobil hitam mewahnya itu, untuk atasannya tersebut.


" silahkan masuk tuan " ucap sekertaris Revan kepada atasannya yaitu Bima.


" hem " jawab Bima singkat.


setelah tuan mudanya itu masuk ke dalam mobil, kemudian sekertaris Revan mengitari mobilnya dan masuk di bagian kemudi dan segera menancapkan pedal gas nya meninggalkan area gedung pencakar langit miliknya.


sepuluh menit kemudian.


mobil yang mereka tumpangi masih berada di padatnya keramaian kota, sedangkan sekertaris Revan sedari tadi menoleh ke arah kanan kiri untuk mencari penjual rujak buah yang akan di beli tuan mudanya itu untuk sang istri.


" tuan itu penjual ada rujak buah di sebelah kiri jalan "


" baiklah belikan satu porsi saja "

__ADS_1


" apa tidak kurang tuan "


" jika kau menginginkannya, belilah "


" tidak tuan terima kasih, ya sudah saya ke sana sebentar untuk membelinya "


setelah itu sekertaris Revan segara keluar dari dalam mobil hitam mewah itu, untuk membeli rujak buah atas perintah tuan mudanya.


lima menit kemudian


sekertaris Revan kini telah kembali ke arah mobil dengan membawa kantong kresek berwarna putih, yang berisikan rujak buah permintaan dari istri atasannya itu.


" tuan ini rujak buah nya " ucap sekertaris Revan sambil menyodorkan kantong kresek putih kepada Bima


" sini berikan padaku " jawab Bima yang mengambil bungkusan kantong kresek putih dari sekertaris nya itu.


setelah memberikan pesanan tuan mudanya itu, kini sekertaris Revan mulai menancapkan pedal gas mobil yang mereka tumpangi saat ini dan mulai melaju menuju arah pulang ke mansion besar bak istana tersebut.


berbeda saat di dalam mansion tepatnya di dalam kamar pribadi milik pasangan suami istri itu.


akhh.. kenapa lama sekali dia pulang ucap Zahra dengan dirinya yang saat ini tengah memakai kemeja putih yang sedikit kebesaran milik suami tampan nya, dengan panjangnya sampai paha saja, memperlihatkan paha putih miliknya mulus itu, bahkan terlihat tambah sexy meskipun terlihat kebesaran.


dan saat ini, dirinya mulai mondar mandir menunggu sang suami pulang,


dan juga menunggu rujak buah yang sedari pagi dia inginkan itu.


sedangkan mobil mewah hitam yang saat ini di tumpangi sekertaris Revan dan juga Bima kini mulai memasuki area mansion.


sesaat kemudian mobil mewah itu berhenti tepat di depan pintu besar mansion besar milik Bima.


sekertaris Revan mulai membukakan pintu mobil mewah tersebut untuk tuannya.


" silahkan tuan " ucap sekertaris Revan mempersilahkan tuannya untuk turun.


" hem " jawab Bima seperti biasa hanya deheman saja.


sedangkan Pak Tejo dan seluruh para pelayan mansion sudah siap menyambut kedatangan tuannya itu.


" sekertaris Revan, pulanglah pekerjaan tidak ada lagi hari ini "


" baik tuan, terima kasih "


Bima pun mulai melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam mansion, sedangkan sekertaris Revan mulai pergi dari area mansion milik atasannya itu.


" selamat datang tuan " ucap seluruh pelayan mansion dan juga kepala pelayan yang tak lain adalah pak Tejo.


sedangkan Bima tak berniat menjawabnya sama sekali, dan memang sudah biasa menurut para pelayan.


sedangkan pak Tejo mulai mengambil tas kerja milik tuannya itu dari tangan Bima yang sedari tadi ia ulurkan ke pria paruh baya tersebut, dan pak Tejo sedikit melirik ke arah tangan satunya lagi milik tuannya yang saat ini sedang membawa satu kantong kresek berwarna putih.


tetapi dirinya tak berniat menanyakan langsung kepada atasan nya karena itu merupakan hal yang sangat lancang.

__ADS_1


setelah itu pak Tejo mengekori tuannya dari belakang yang mulai memasuki ke dalam mansion sambil membawakan tas kerja milik tuan mudanya itu.


__ADS_2