
Perlahan Sheina mulai membuka kedua matanya karena di rasa tubuhnya gatal, mungkin karena gaun pengantin yang hampir seharian menempel di tubuh nya.
Seketika dirinya yang sedikit terkejut mulai teriak dengan suaranya yang memenuhi seisi ruangan kamar ketika mendapati tubuh nya yang baru saja Barra letakkan di atas ranjang.
AAKKKKHHHHH.......
teriak nya.
" apa yang kau lakukan " ucap Sheina sambil memundurkan tubuhnya sedikit ke belakang.
" hei kecilkan suaramu, kau lupa sedari tadi kau tertidur di dalam mobil " sahut Barra sedikit emosi dengan posisi dirinya berdiri.
" benarkah " tanya Sheina sedikit mengingat ingatnya.
" kau pikir saja sendiri " jawab pria tampan itu sedikit kesal.
Kemudian Barra segera meninggalkan Sheina yang masih mematung di atas ranjang.
" Hei tunggu sebent.. " ucap Sheina terhenti ketika ingin meraih tangan Barra tapi sepertinya tak sampai dan.....
AKHHH.......
GEDEBUG.....
tubuh Sheina kini sudah tersungkur di lantai.
" Aw... sakit " pekik Sheina sambil meringis kesakitan mengusap sedikit bokong nya.
" Hahaha....pasti itu sakit " ucap Barra mentertawakan.
" kau memang benar pria pria menyebalkan ya awas saja " sahut Sheina yang terlihat sangat kesal.
" bukan kah itu salahmu sendiri kenapa menyalahkan aku "
" ingat aku atasan mu " memperingatkan
" dan ingat juga sekarang aku suami mu " jawab Barra.
Sheina langsung terdiam ia seperti kalah telak oleh perkataan Barra yang kemudian meninggalkan kamar begitu saja tanpa membantu nya untuk bangun.
AKKHH..... kenapa bisa aku menjadi istri pria seperti nya, apa begini jadi korban perjodohan ucap nya.
Sheina kini mulai berdiri berniat ingin segera membersihkan tubuh nya di dalam kamar mandi, karena ia rasa tubuh nya sangat lengket dengan gaun pengantin yang masih ia pakai itu.
Kenapa susah sekali membuka pengait nya, aku sudah sangat gerah dan ingin sekali segera mandi monolog nya.
Sheina terus mencoba membuka pengait gaun pengantin bagian punggung nya, tetapi tetap saja tak ada hasil.
Sheina mulai berjalan menuju kamar Barra untuk meminta bantuan, karena ia sudah tak tau harus bagaimana lagi.
Tok.... tok... tok...
" Barra buka bantu aku sebentar saja " teriak Sheina
" tunggu " sahut Barra dari dalam kamar.
__ADS_1
Beberapa saat Barra membuka pintu kamar nya perlahan menampilkan dirinya yang hanya memakai handuk sepinggang, memperlihatkan jelas dada bidang milik nya serta rambut yang masih terlihat basah menambah kesan sexy pada pria yang sudah berstatus suami itu.
Sontak membuat Sheina kembali berteriak sambil menutup kedua mata dengan pergelangan tangan nya.
AKKHHHH.......
teriaknya.
Seketika Barra langsung membekap mulut Sheina dengan tangan putih berotot nya.
" shhttt.... kau bisa diam kan, ini sudah malam " ucap Barra
Sheina mengangguk angguk mengiyakan, dengan kedua mata nya yang kini sudah ia buka bahkan terlihat membulat sempurna ketika jarak keduanya kini sangat dekat.
Tatapan mereka bertemu.
Hening seketika tak ada pergerakan keduanya masih tetap saling pandang satu sama lain.
kenapa kedua mata nya terlihat sangat indah sekali gumam Barra.
Sesaat
emm... em... emm...
Deheman isyarat Sheina supaya Barra melepaskan tangan berotot nya dari mulut yang masih ia bekap.
Sekilas Barra langsung melepaskan nya.
Setelah itu keduanya seperti salah tingkah sendiri.
" tak bisakah kau memakai baju dulu " sahut Sheina kembali memejamkan kembali kedua matanya.
" tunggu sebentar " Barra kembali menutup pintu kamar kemudian sesaat kembali membuka nya.
" sudah buka kedua matamu " ucap Barra datar.
Sheina mulai membuka kedua mata nya.
kemudian mengusap dada nya pelan.
akhirnya dia memakai baju juga, tapi dada ku kenapa berdegup sedikit kencang begini gumam nya.
" cepat katakan " ucap Barra membuyarkan gumam man Sheina yang masih dada nya.
" iya iya bawel sekali, begini... em.... apa kau bisa membuka pengait gaun bagian belakang punggung ku " ucap Sheina sedikit ragu ragu.
" kau berniat menggodaku ya heh " tanya Barra datar seperti aspal.
" ti...ti...tidak... tadi aku sudah mencoba membuka nya dan tidak bisa terbuka " jawab Sheina polos sedikit terbata bata.
lucu sekali melihat ekspresi wajah nya hehehe... terlihat menggemaskan, sepertinya dia akan menarik gumam nya.
" baik lah itu hanya hal sepele bukan, cepat berbalik lah " perintah nya.
" bukan di sini tetapi di kamar ku "
__ADS_1
" kau ingin sekali menggodaku ya, ayo jujur "
" tidak, sudah ayo ikut, aku juga sangat gerah jangan mengajakku bercanda "
Barra pun memilih mengiyakan perkataan Sheina dan mengikuti langkah nya sampai kamar yang Sheina tempati.
Sheina kembali membalikkan tubuh nya menghadap Barra.
" hei kau harus menutup kedua mata mu, kau tidak boleh mengintip " ucap Sheina serius.
" bagaimana bisa aku menutup mata, sedangkan kau menyuruh ku membuka pengait gaun mu " jelas Barra.
" Barra " sahut Sheina dengan nada penekanan.
" iya iya baiklah cepat berbalik, dasar " ucap Barra sambil memutar kedua bola mata nya malas.
Sheina pun kembali berbalik membelakangi Barra.
" ingat tutup kedua mata mu " ucap Sheina kembali mengingatkan lali.
" iya iya "
Barra pun akhirnya mulai mencoba membuka pengait gaun Sheina yang memang sedikit sulit, membuat Barra sedikit lama.
" cepatlah sedikit " ucap Sheina yang sudah merasa tak tahan akan rasa gerah nya.
" Diam ini sedikit susah nona S H E I N A " jawab Barra dengan penekanan agar Sheina sabar sedikit.
Sheina hanya mengerucutkan bibir nya ke depan.
Beberapa saat pengait resleting gaun bagian belakang punggung Sheina berhasil Barra buka.
Memperlihatkan jelas punggung mulus putih milik Sheina, sedangkan kedua bola mata Barra kini langsung membulat sempurna kemudian sedikit menelan ludah nya kasar, sedangkan bagian bawah milik nya sedikit menegang.
Sial melihat bagian punggungnya saja aku sudah bergairah seperti ini gumam Barra.
" hei sudah belum " tanya Sheina yang langsung membuyar kan lamunan Barra.
" ah iya ini baru saja berhasil, ya sudah aku ke kamar tubuhku sangat lelah " sahut Barra mencari alasan.
Kemudian ia segera keluar dari kamar Sheina.
*
Di dalam kamar Barra.
BROKK.....
suara pintu kamar yang baru saja Barra tutup.
Kemudian ia bersandar di balik pintu sambil memejamkan kedua matanya, kemudian pandangan nya beralih menatap bagian bawah miliknya yang masih sedikit menegang.
Kenapa kau bisa bangun, sudah tidur lah ini sudah malam ucap nya pada pedang samurai milik nya.
Aku benar benar bisa di buat gila jika seperti ini terus, ini belum seminggu sepertinya aku sudah di buat kalah oleh nya monolog Barra.
__ADS_1