Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
episode 36


__ADS_3

Sedangkan di dalam mobil mewah itu Bima yang merasa kesal, hanya bisa melihat bayangan istrinya dari kaca spion mobil yang mulai menjauh dari pekarangan mansion, dan Bima melihat istrinya yang sesekali menundukkan kepalanya.


sedangkan di dalam mobil kini hanya ada keheningan seperti biasanya, bima hanya melihat kesamping kendala kaca mobil yang mulai membela keramaian kota.


di sela - sela keheningannya Bima mulai bergumam dalam hatinya, tiba - tiba teringat istrinya.


Bima menyesali perbuatannya karena telah mengabaikan Zahra seperti orang asing, karena hal sepele di meja makan sebelum keberangkatannya ke luar negri.


apa yang aku lakukan padanya, pasti saat ini dia meringkuk di kamar dan menangis karena sifat ku yang seperti ini, dan di meja makan tadi juga bukan salahnya, kenapa aku seperti mengasingkannya, sayang maafkan aku gumam Bima dalam hatinya.


sekertaris Revan yang melihat tuan mudanya diam dan seperti memikirkan sesuatu hal itu, ia mengerti apa yang harus ia lakukan saat keadaan seperti ini.


sekertaris Revan mulai mengambil benda tipis di saku jasnya itu, kemudian mulai mengetik sesuatu di dalam sana dan mengirimkan kepada seseorang, dan seseorang itu adalah pak Tejo.


sedangkan di mansion besar bakal istana itu, kini pak Tejo yang sedang sibuk dengan pekerjaan nya itu mendapati ponselnya yang tengah berbunyi di saku celananya.


tring


tring


bunyi pesan masuk yang tertulis di layar benda pipihnya itu. dan pak Tejo pun mulai membuka pesan tersebut dan ternyata pesan itu dari sekertaris Revan.


* pak Tejo pantau terus semua kegiatan nona muda selama di mansion dan laporkan setiap beberapa jam sekali,dan bilang pada nona Zahra tuan muda mungkin bisa satu minggu lebih di sana kau mengerti *


* baik tuan saya mengerti * balas pak Tejo


kira - kira seperti itulah isi percakapan pesan sekertaris Revan kepada pak Tejo.


sedangkan masih di dalam mansion tepatnya di kamar nona muda, yang tak lain nona Zahra.


Kini ia tengah meringkuk di lantai tepatnya di samping ranjang king size itu, sambil menghadap ke arah jendela kecil yang di hiasi tirai putih di depan kamarnya, yang sesekali meneteskan air mata karena mengingat sifat suaminya yang selalu saja berubah-ubah itu.


Yang dia sendiri tak tau salahnya dia dimana, karena Zahra merasakan tidak melakukan kesalahan apapun terhadap suaminya.


kenapa dia selalu seperti itu sih, salahku apa padanya, kenapa dia seperti menganggap ku orang asing tadi, selalu saja seperti itu.

__ADS_1


apalagi mama Alisya saat ini sangat menginginkan seorang cucu, apa aku bisa di usia ku yang masih 18 tahun ini mengandung dan melahirkan seorang bayi, apa itu mungkin, aku sangat takut dan sepertinya itu semuanya mustahil. Dan andai saja aku mengandung anaknya suatu saat,aku takut dia meninggalkan aku dan memisahkan aku dengan anak yang telah aku kandung kelak.


sedangkan dia selalu seperti itu padaku entah itu sifatnya yang tidak bisa hilang, atau memang ke posesifan nya dia karena saking sayangnya kepadaku aku tidak tau itu.


aku takut akan semua ini aku harus bagaimana sekarang Zahra terus saja bergumam dalam hatinya .


Zahra sesekali meneteskan air matanya mengingat sifat Bima yang tidak bisa di tebak nya itu.


sedangkan pak Tejo yang telah mendapatkan tugas dari atasannya itu, kini mulai melangkahkan kakinya menuju kamar nona mudanya, untuk melihat aktifitas nona mudanya selama di dalam kamar dan juga ingin memberi tahukan kalau tuan mudanya akan sedikit lama dalam urusan bisnisnya.


pak Tejo melangkahkan kakinya menuju lantai atas dan berniat untuk ke kamar nona mudanya yaitu Zahra, dan beberapa saat kemudian pak Tejo pun telah sampai di depan pintu nona mudanya itu kemudian mengetuk pintu kamar perlahan.


tok


tok


tok


beberapa saat kemudian pintu telah di buka dari dalam, dan pak Tejo yang melihat wajah nona mudanya yang tengah membukakan pintu itu kini sudah sembab mungkin saja karena terlalu lama menangis di dalam.


" Oh iya pak Tejo terima kasih pak " sahut Zahra sambil sesekali menundukkan kepala kepada pak Tejo seperti menutupi kalau dirinya habis menangis sadari tadi.


" ya sudah saya ke belakang nona kalau tidak ada yang di perlukan " kemudian pak Tejo pun membungkukkan badannya kemudian membalikkan badannya dan meninggalkan kamar atasannya itu, setelah itu melangkahkan kakinya menuruni anak tangga menuju taman depan mansion.


setelahnya sampai di taman depan mansion pak Tejo mulai mengeluarkan benda pipih dari saku celananya dan menghubungi seseorang, yang tak lain adalah sekertaris Revan.


" halo tuan saya ingin memberitahu tentang nona Zahra " ucap pak Tejo kepada atasannya itu.


" katakan " ucap sekertaris Revan singkat.


" nona Zahra sepertinya sehabis menangis tuan kedua matanya sembab, tadi waktu saya ke kamarnya dan berniat memberi tahunya tentang tuan muda " sahut pak Tejo menjelaskan secara terperinci kepada atasannya itu.


" hanya itu saja "


" iya tuan muda "

__ADS_1


" baiklah lanjutkan tugasmu "


" baik tuan muda " setelah itu panggilan pun terputus. kini pak Tejo melangkahkan kakinya menuju ke belakang mansion.


sedangkan sekertaris Revan yang tadi mendapat telfon dari pak Tejo itu, kini sudah berada di dalam pesawat yang sebentar lagi akan melakukan penerbangan.


ini pasti ada sangkut pautnya dengan tuan muda yang sedari tadi hanya diam dengan tatapan kosong.


sebaiknya aku tidak mengatakan nya dulu ini bisa berdampak pada pekerjaan nya gumam sekertaris Revan.


Beberapa saat kemudian


pesawat yang mereka tumpangi Bima dan sekertaris Revan pun kini telah sampai di tujuannya yaitu singapura, kedua lelaki itu kini telah memasuki mobil mewah yang sedari tadi menjemput mereka, sedangkan Bima sedari tadi tetap diam saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


sedangkan di mansion kini Zahra bingung apa yang harus dilakukannya saat ini karena diam di kamar saja adalah hal membosankan bagi zahra.


kini Zahra mulai keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga menuju lantai bawah, dan sesampainya di lantai bawah Zahra melihat mama Alisya sedang bercengkrama di ruang tamu bersama Hendra dan papa Brandon


" siang Ma " ucap Zahra


" sini sayang duduk di sebelah mama " ucap mama Alisya dengan senyum mengembang di wajahnya.


" iya Ma " kemudian Zahra pun ikut duduk di sebelah mama Alisya itu dan ikut bercengkrama bersama.


" kamu sekarang ada kegiatan apa sayang? " tanya mama Alisya kepada menantunya itu.


" Zahra tidak ada kegiatan apa - apa Ma " sahut Zahra.


" bagaimana kalau kita ke mall aja sayang, biar kamu tidak bosan di rumah terus " ajak mama Alisya kepada Zahra.


" ya sudah Zahra ikut ya Ma " jawab Zahra dengan senyum manisnya.


" Ma Hendra juga ikut ya Hendra juga bosan di rumah terus " tanya Hendra kepada mama Alisya.


" baiklah kita bertiga ke sana " ucap mama alisya dengan penuh semangat nya.

__ADS_1


__ADS_2