
Hari hari terus berlalu Sheina lewati tanpa keberadaan Barra di samping nya, hari hari yang ia lalui tak seperti hari hari kemarin semenjak dirinya di vonis mengidap penyakit serius oleh dokter.
Dirinya lebih sering berdiam diri di dalam kamar, duduk termenung di dekat jendela yang tengah terbuka lebar sambil menatap langit malam yang seolah menemani nya dalam keheningan malam ini.
Ia merenungi nasib yang entah bagaimana akan ia lalui kedepannya dengan penyakit yang bertambah hari semakin memburuk dalam tubuh nya.
Sedangkan Barra beberapa hari ini tak ada kabar nomor ponselnya pun tak pernah aktif, Sheina semakin yakin akan keputusan nya itu untuk tak memberitahukan keadaan nya kepada Barra,
ia berfikir kalau Barra terlalu banyak pekerjaan maka dari itu sang suami sampai menonaktifkan ponsel nya, dan satu lagi Sheina tak ingin menambah beban pada sang suami jika dirinya tengah mengidap suatu penyakit ujung ujungnya ia hanya menyusahkan.
Toh nantinya ia akan meninggal kan Barra suatu hari itulah yang ada di benak Sheina.
Kapan kau akan pulang ucap nya terdengar sangat pelan.
Perlahan lelehan air matanya mulai turun dengan deras membasahi kedua pipi mulus nya.
Terlalu lama menangis sampai kedua matanya sembab perlahan ia mulai memejamkan kedua matanya, dengan kepala yang bersandar pada pinggiran jendela.
Sedangkan wajah cantik nya tersapu angin sepoi sepoi malam membuatnya cepat terlelap dalam keheningan.
Berbeda dengan Barra yang seharusnya saat ini tepat satu minggu ia pulang, tetapi sedari kemarin kemarin pria itu tak ada kabar sedikitpun.
*
Kini jam sudah menunjukkan sepuluh malam, Sheina masih terlelap di depan jendela.
Tak ia sadari pintu kamar nya perlahan terbuka, seseorang pria tampan yang ia rindukan satu minggu yang lalu baru saja kembali pulang untuk dirinya.
Barra mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kamar luas nya.
Ia tahu pasti jam segini istrinya telah tertidur pulas, tetapi keadaan ranjang kosong.
Pandangannya kini langsung tertuju ke arah jendela yang masih terbuka lebar dengan gorden putih nya yang menyembul ke dalam tertiup angin malam menutupi separuh wajah cantik Sheina.
" Sayang " ucap nya penuh kerinduan.
Barra segera menaruh tas kerja nya kemudian berjalan ke arah sang istri yang kini tengah tertidur pulas sambil bersandar di pinggiran jendela itu, Ia segera meraih tubuh yang mulai terasa dingin tersebut ke dalam dekapan nya.
__ADS_1
Sedangkan Sheina perlahan sedikit mengerjapkan kedua matanya di rasa ada seseorang yang tengah memeluk tubuh nya erat dari samping.
Seutas senyuman terlihat jelas dari bibir tipis nya, tatkala penglihatan nya tak begitu jelas dan ia tak begitu sadar separuh mengigau.
" Sayang kau pulang hiks... hiks... hiks " ucap nya di sertai isak tangis tetapi kedua matanya kembali terpejam.
" iya aku pulang sayang " jawab Barra
" hiks... hiks... hiks... kau jahat, kau jahat, kenapa kau tak ada kabar sama sekali beberapa hari ini AAA....hiks.... hiks... " ucap Sheina dengan separuh kesadarannya sambil memukul mukul pelan dada sang suami.
" Shttt.... Shttt.... maafkan aku " sahut Barra menenangkan sambil menghentikan tangan Sheina yang terus memukuli dada nya, dengan mata terpejam, kemudian mempererat pelukan nya pada tubuh sang istri, mengecup pelan pucuk kepala Sheina dalam.
Seutas senyuman terbit dari kedua ujung bibir Barra,
mengingat kelakuan sang istri yang tak begitu sadar sepenuh nya atas keberadaan dirinya yang memang benar-benar ada di hadapan nya saat ini itu.
Dengan segera setelah adegan yang Sheina buat, Barra segera menggendong tubuh itu menuju ke arah ranjang dan menyelimuti nya perlahan dengan selimut tebal.
CUP
Satu kecupan mendarat singkat di kening Sheina.
Kini Barra juga ikut tertidur di samping Sheina sambil memeluk tubuh bagian sang istri dari samping.
*
*
Pukul 06.30 pagi.
Sheina perlahan mulai mengerjapkan kedua mata nya, tetapi serasa ada yang berbeda di bagian atas perut nya serasa berat ia meraba nya sekilas.
Kemudian tatapan nya menatap ke arah samping.
Kedua matanya membulat sempurna ketika mendapati pria tampan yang sudah satu minggu ini ia rindukan berada pas di samping nya sambil tersenyum menatap nya dalam.
" Sayang kau...." ucap Sheina terhenti seolah tak percaya akan keberadaan sang suami.
__ADS_1
" kapan kau datang kenapa kau tak membangunkan ku " ucap nya lagi sedikit kesal dengan posisinya miring menghadap ke arah Barra, keduanya kini saling berhadapan.
" hehehe.... bagaimana bisa aku membangunkan istri ku yang tengah tertidur pulas di samping jendela, sampai air liurnya menetes ke lantai " goda Barra sambil tertawa.
" hahaha..... Sayang kau meledek ku ya heh, kau tau aku sangat merindukanmu kenapa kau tak ada kabar " sambil menoel noel bagian dada bidang di hadapan nya.
" aku sengaja agar kau khawatir padaku " sahut Barra santai.
" AA... kau jahat, aku tau kau sangat sibuk kan di sana"
" sedikit " jawab nya singkat.
Sheina sedikit memanyunkan bibir nya ke depan mendengar jawaban Barra.
Keduanya masih posisi berhadapan saling menatap dalam.
Perlahan Barra sedikit mendekat kan wajahnya ke arah Sheina.
Sheina tau sang suami akan mencium bibirnya saat ini dengan segera ia membungkam bibir itu.
" Stop... ini masih pagi sayang kau belum mandi, kau sangat bau hehehe..." sambil tertawa cekikikan.
Barra tak menghiraukan ia berusaha melepaskan tangan Sheina dari bibirnya.
Gadis itu tau kalau dirinya akan kalah tenaga dengan sang suami, segera Sheina membangunkan tubuh nya dan secepat kilat ia berlari ke arah kamar mandi kemudian menutup pintu tersebut dengan rapat.
Barra tak mau kalah pria tampan itu pun berlari mengejar sang istri.
" Sayang tunggu, kau nakal ya menolak keinginan suami mu sendiri, bukan kah kau sangat merindukan aku Shei " teriak Barra yang sudah berada di depan pintu.
" sayang aku mau mandi sebentar, tunggulah di situ " sahut Sheina dari dalam kamar mandi
" ya.. ya... ya baiklah " tiba tiba Barra mengembangkan senyum mendengar jawaban sang istri.
" apa kau perlu bantuan honey " goda Barra
" Dasar suami mesum " sahut Sheina dengan suara lantang dari dalam.
__ADS_1
Pria tampan itu hanya senyum senyum sendiri mendengar teriakan sang istri yang sampai sekarang tetap terlihat malu malu di hadapan nya jika menyangkut hal hal yang intim dengan nya.
Sesekali Barra menggeleng geleng kan pelan kepalanya melihat tingkah Sheina.